GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
115


Ikram melajukan mobilnya setelah berhasil kabur dari sahabatnya yang ingin melihat Tara di kantornya. Ikram tidak mungkin membawa dua cecunguk itu dan mengacau disana. Dalam hal ini, Ikram masih cinta sendiri, Tara belum membalasnya dan ia juga masih harus menyelesaikan masa lalunya bersama Farah. Ikram tentu setuju dengan ucapan kedua sahabatnya itu apalagi Alvaro yang sudah pernah mengalami situasi ini, ia tidak mau bernasib sama seperti sahabatnya itu.


Dulu sekali saat mereka masih duduk di bangku SMP, Ikram jatuh cinta pada seorang gadis cantik bernama Farah. Sayangnya ketika lulus, Farah melanjutkan sekolahnya di luar negeri dan berjanji akan pulang jika liburan untuk menemui Ikram. Setiap hari pria itu menunggu dalam rindu tetapi Farah tak kunjung datang sampai detik ini. Mereka dulu sempat berkomunikasi lewat telepon tetapi begitu keduanya lulus dari bangku SMA, Farah hilang di telan bumi padahal Ikram berniat menyusul gadis itu untuk kuliah di kampus yang sama dan keduanya bahkan sudah sepakat untuk menikah di usia muda.


Namun sayang perjalan cinta itu tidak berakhir indah atau mungkin belum berakhir karena tidak ada yang tahu seperti apa takdir yang sudah Tuhan siapkan untuk mereka. Sampai akhirnya Ikram bertemu Tara. Gadis manis dan jujur yang pipinya selalu bersemu merah saat Ikram menatapnya. Membayangkannya saja sudah membuat Ikram merindukan gadis itu. Namun ia harus bisa menahannya sebelum urusannya selesai.


Mobil Ikram berhenti di depan rumah megah yang dulunya ia ketahui sebagai rumah Farah sebelum mereka berangkat ke luar negeri. Ikram menatap rumah itu yang kini sedikit berbeda. Ia memutuskan untuk turun dan mengajak satpam rumah itu untuk mengobrol.


"Maaf mas, pemilik rumah ini sudah bukan tuan Darwin karena beberapa tahun yang lalu mereka sudah menjualnya dan mungkin mereka kembali ke luar negeri," ucap satpam tersebut ketika Ikram bertanya tentang keluarga Darwin.


Ikram harus menelan kekecewaan karena ia kehilangan petunjuk terakhir. Ia mengira rumah ini belum di jual karena satpamnya masih sama. Ikram juga merutuki dirinya yang melupakan Farah karena sibuk dengan urusan keluarganya dan juga kuliahnya serta kesenangan dan kenalan bersama sahabat-sahabatnya walau ia tidak sampai kebablasan seperti Alvaro dan Nandi. Ikram tipe pria yang sangat menghargai wanita apalagi wanita yang menjaga dirinya.


Satpam tersebut juga mengatakan bahwa ia tidak memiliki kontak dari keluarga Darwin karena kontak terakhir pun sudah tidak dapat dihubungi lagi. Ikram pun pamit undur diri karena walau sampai ia jamuran ia tidak akan mendapatkan petunjuk lagi di rumah ini.


Ikram masuk ke dalam mobilnya. Ia harus kembali ke perusahaan karena ia sudah melewatkan satu jam setelah makan siang. Ia bisa mencarinya lagi jika ia memiliki waktu senggang.


Ciiiittttt ….


Ikram mengerem mobilnya mendadak saat melihat seorang wanita yang berdiri di depan mobilnya dan Ikram hampir menabraknya. Dengan cepat ia turun karena tahu ini adalah kesalahannya yang mengemudi sambil melamun.


"Anda tidak apa-apa nyonya?" tanya Ikram menghampiri wanita paruh baya itu.


Wanita itu menggeleng kemudian ia menatap Ikram. Keduanya terkejut karena nyonya itu seperti mengenal Ikram sedangkan Ikram sangat mengenalnya.


"Tante Rosa?"


Wanita itu mengangguk dan mencoba mengingat Ikram karena wajah pria ini sangat familiar. Ikram sendiri heran karena Tante cantik ini sekarang terlihat jauh berbeda dari beberapa tahun terakhir yang ia lihat.


"Maaf nak, saya seperti mengenalmu tetapi saya lupa," lirihnya tak enak hati.


Ikram bisa melihat wanita itu memang jelas tahu dirinya tetapi memang melupakan namanya. Ikram tersenyum sambil mengibaskan tangannya.


"Tidak apa Tante, kita sudah sangat lama tidak bertemu dan itu terhitung belasan tahun. Hal wajar. Oh iya, saya Ikram temannya Farah," ucap Ikram dan kini wanita paruh baya dengan tubuh ringkih itu tersentak.


"Nak Ikram? Oh nak Ikram anaknya Safira?" tanya Tante Rosa memperjelas dan Ikram mengangguk.


Ikram mengajak wanita itu untuk masuk ke dalam mobilnya. Sungguh Ikram sangat senang. Ia bahkan menyebutnya sebagai serendipity, kebetulan yang menyenangkan.


Di dalam mobil Ikram mulai menanyai Tante Rosa dan akhirnya wanita itu mulai menceritakan kehidupannya.


Ia menceritakan bahwa setelah mereka pindah ke luar negeri, awalnya kehidupan mereka semakin makmur namun setelah tiga tahun mereka terlibat investasi bodong dan akhirnya mereka jatuh miskin hingga ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke tanah air dan tinggal di sebuah kontrakan kecil yang sangat jauh berbeda dari huniannya dulu.


"Lalu Farah dimana Tante?" tanya Ikram yang sudah tidak sabar untuk mengetahu dimana kekasih masa remajanya itu berada.


Tante Rosa tersenyum kecut, "Aku tidak tahu. Sejak kami jatuh miskin dia meninggalkan kami dan papinya yang terkena serangan jantung pun meninggal dunia di London. Kabar terakhir yang Tante dengar dia sudah menikah dengan pengusaha kaya di Rusia. Mungkin dia sudah melupakan kami," ceritanya dengan bibir yang masih tersenyum walau senyum itu sarat akan kegetiran.


What? Farah sudah menikah? Kok bisa? Terus gue?


Ikram menggalau, selama ini ia terus menantikan kabar dari wanita itu dan kini kabar yang datang justru malah mengatakan wanita itu sudah menikah. Ikram benar-benar merasakan dipecundangi oleh dunia.


"Lalu sekarang Tante tinggal dimana? Sama siapa?" cecar Ikram. Biarlah ia ikhlas walau sebenarnya hatinya masih tidak rela dengan Farah yang mengingkari janji.


"Tante tinggal tidak jauh dari sini. Sama Rara, adiknya Farah. Untung masih ada dia yang mau menemani Tante dan tidak mengeluh dengan keadaan," jawabnya.


Rara? Oh iya, adiknya Farah yang waktu itu masih SD kalau nggak salah.


Ikram menganggukkan kepalanya. Ia pun memutuskan untuk mengantar wanita ini pulang tetapi justru Tante Rosa mendadak pingsan hingga akhirnya Ikram memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.


Ikram tidak jadi kembali ke kantor dan tidak jadi melihat Tara. Baginya, pertemuan dengan Tante Rosa yang tidak disengaja ini adalah sebuah anugerah untuknya. Ia sudah menemukan jawabannya walaupun terasa sakit karena orang yang selama ini dicintai dan dinanti justru sudah memilih orang lain dan berkhianat.


Ikram sendiri maklum karena mungkin pada saat itu mereka masih remaja dan belum berpikir kedepannya akan seperti apa karena yang ada di kepala hanyalah jatuh cinta dan ingin memiliki. Dengan begini juga, Ikram bisa melenggang dengan mudah untuk menjalin hubungan dengan Tara yang sudah membuatnya terTar-Tara.


.


.


Ikram membawa Tante Rosa yang memaksa untuk pulang daripada menginap di rumah sakit. Padahal Ikram sudah meyakinnya akan membantu biaya berobat hingga sembuh tetapi wanita ini menolak karena tidak ingin merepotkan. Ikram pun membelikan obat untuk Tante Rosa juga memintanya untuk sering kontrol kesehatan dan Ikram juga janji akan membantu untuk biaya pengobatan asalkan Tante Rosa sembuh.


Selain wanita ini adalah ibu dari wanita yang pernah ia cintai, secara tidak langsung wanita ini juga sudah memuluskan jalannya menuju ke hati Tara.


Ikram mengernyit, ia seperti pernah melewati gang ini tetapi entah kapan. Ia seperti familiar tetapi ia lupa kapan pernah datang ke tempat ini.


Tante Rosa mengajak Ikram masuk ke dalam kontrakannya dan Ikram menurut saja karena sangat tidak sopan apabila hanya berdiri di luar dan Ikram tidak ingin membuat Tante Rosa mengira ia tidak sudi masuk ke kontrakan miliknya. Ikram bukan orang yang picky akan tempat tinggal seseorang.


Berusaha menolak tetapi Tante Rosa memaksa Ikram untuk menunggunya membuatkan teh. Akhirnya Ikram duduk diam sambil menunggu wanita itu datang dan membawanya minuman. Ikram sebenarnya tidak ingin merepotkan karena ia tahu Tante Rosa sedang tidak sehat. Tetapi wanita itu yang memaksanya.


"Assalamu'alaikum mi, Rara pulang!!"


Ikram yang sedang sibuk dengan game di ponselnya terperanjat kaget mendengar seseorang masuk ke rumah dengan mengucap salam. Ikram segera menoleh dan matanya membulat sempurna mendapati seorang gadis berdiri di depan pintu begitupun sebaliknya.


"Lho bos, kenapa bisa di kontrakan saya? Bos mencari saya? Apa ada masalah bos?"