GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Jadi dia?


Nurul hanya bisa mengikuti Axelle karena saat ini keadaan adiknya lebih penting. Nurul tidak ingin dianggap sebagai orang yang tidak tahu terima kasih karena sudah diberi tumpangan ke Jakarta tapi justru lebih mementingkan egonya sendiri untuk pergi mencari Alvaro. Ia juga tahu jika saat ini Axelle lebih membutuhkan dirinya tetap berada di jarak pandangnya dan Nurul berusaha untuk sabar karena sudah sejauh ini ia bersabar maka bersabar sedikitpun tidak jadi masalah untuknya. Yang penting ia sudah berada di Jakarta dan masih ada waktu yang tersisa untuk bertemu dengan Alvaro.


Langkah keduanya begitu cepat menyusuri lorong-lorong rumah sakit untuk mencari keberadaan ruangan Clarinta. Orang suruhan yang menjaga Clarinta sudah memberitahukan jika Clarinta sudah di pindahkan di ruangan rawat. Untung saja pisau tersebut tidak mengenai organ vital Clarinta sehingga lukanya tidak sampai mendapat penanganan lanjutan. Info ini di dapatkan oleh Axelle dari orang suruhannya karena hampir satu jam ia terjebak macet di jalan.


"Axelle, apa boleh aku ke toilet dulu?" tanya Nurul yang memang sedari tadi menahan rasa ingin buang air kecil.


Axelle yang sedang melangkah terburu-buru langsung menghentikan langkahnya itu dan menoleh pada Nurul yang berada di sampingnya. "Tentu saja. Kenapa tidak bilang dari tadi," kekeh Axelle yang membuat Nurul mengerucutkan bibirnya dan itu sangat menggemaskan. Tiba-tiba saja Axelle ingin mencium bibir itu.


Oh sialan! Kenapa sampai mikir kesana segala.


Axelle mengumpat dalam hati, bisa gawat jika Nurul bisa membaca pikirannya saat ini. Bisa-bisa ia akan ditinggal dan Nurul tidak mau lagi bertemu dengannya.


"Ya, tapi ini ...." Nurul menggoyang-goyangkan tangannya yang masih bertaut dengan Axelle. Ia saja baru sadar jika sedari turun dari mobil keduanya saling berpegangan tangan.


Axelle langsung salah tingkah dan melepaskan tautan tangan mereka. Ia sendiri pun juga sama, baru menyadari jika sedari tadi ia menggenggam tangan Nurul.


Saking nyamannya menggenggam tangan Nurul, aku bahkan nggak sadar. Ya ampun!


Nurul berpamitan dan Axelle hanya bisa melihat punggung Nurul yang menjauh. Sebelumnya ia sudah menawarkan untuk mengantar Nurul ke toilet tapi ditolak oleh Nurul. Ia juga memberitahukan dimana kamar rawat Clarinta sehingga Nurul bisa mencarinya ke sana.


Axelle kembali berjalan menuju ke kamar rawat Clarinta. Ia ingin masuk tetapi hatinya masih meresahkan Nurul. Jangan sampai Nurul hilang di tempat ini. Mendadak ia menertawakan pikiran konyolnya itu, Nurul mana mungkin hilang di rumah sakit ini. Lagi pula ini adalah kampung halaman Nurul.


Di dalam ruangan itu sendiri, Clarinta masih memejamkan matanya karena pengaruh obat bius yang tadi diberikan padanya. Bu Yani sendiri sedang keluar untuk mencari makanan dan kini tinggal Alvaro yang menemani Clarinta di dalam ruangan.


"Clarinta bangunlah, aku mohon," lirih Alvaro. Matanya berkaca-kaca, wanita gila yang selama ini ia hindari kini bahkan rela berkorban nyawa demi maminya yang bahkan Clarinta sendiri tidak mengenalnya.


Alvaro menyesali selama ini ia selalu bersikap judes dan bahkan lebih sering menganggap wanita ini sebagai makhluk tak kasat mata. Tapi Clarinta justru tetap setia berada di sisinya. Tidak pernah lelah mengejar dan juga Clarinta tidak pernah mempermalukan harga dirinya sendiri hanya untuk mendapatkan Alvaro. Tapi balasan yang ia berikan justru lebih sering menyakiti hati dan perasaan Clarinta.


Alvaro juga tidak tahu jika sebenarnya luka Clarinta tidak begitu serius namun karena maminya mengatakan bahwa Clarinta kritis maka ia begitu merasa bersalah pada wanita yang ia anggap gila ini. Padahal maminya hanya menakut-nakuti Alvaro dengan tujuan agar Alvaro mau menerima keberadaan Clarinta. Sikap Clarinta sudah cukup mencuri hati nyonya Prayoga ini. Ia berniat menjodohkan keduanya agar Alvaro bisa melupakan cintanya pada Aina.


Dan akhirnya Alvaro berada disini, dengan jebakan yang maminya buat dan dengan segala drama yang menguras air mata hingga hati Alvaro dipenuhi rasa bersalah.


.


.


Nurul berjalan keluar dari toilet dan berniat ke kantin rumah sakit untuk membeli minuman untuknya dan Axelle. Namun saat hendak masuk ke kantin, ia melihat dua orang yang hendak mencelakai seorang wanita paruh baya yang sedang menenteng paper bag dan tanpa pikir panjang Nurul langsung menarik wanita itu hingga lengannya kini yang terkena goresan pisau.


Nurul tidak mempedulikan darah segar yang mengali dari lengannya, ia memutuskan untuk mengejar dua orang itu namun sayang ia tidak berhasil karena mereka berlari lebih kencang. Wanita itu ternyata turut mengejar Nurul karena mengkhawatirkan keselamatan dan luka di lengannya itu.


Wanita itu menggeleng, "Harusnya saya yang bertanya seperti itu padamu. Ayo kita obati dulu lukamu itu," ajaknya.


Nurul mengangguk, wanita itu langsung membawa Nurul ke ruang UGD untuk mendapatkan pertolongan pertama. Nurul merasa ini agak berlebihan tetapi jika lukanya tidak mendapat penanganan maka pasti darahnya tidak akan berhenti dan ia khawatir akan infeksi. Ia bahkan melupakan rasa sakit di lengannya karena sibuk menatap wajah wanita ini.


"Nyonya, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Nurul dengan suara tercekat, ia sebenarnya malu bertanya seperti ini tetapi ia penasaran karena wajah wanita ini begitu familiar.


Wanita paruh baya yang terlihat sangat cantik ini pun tersenyum. Bukan seorang dua orang yang sering mengatakan ini tetapi sudah banyak dan kebanyakan dari pawa wanita. Ia tahu benar sebenarnya siapa yang mereka maksud tapi dia diam saja.


"Oh ya?"


Nurul mengangguk pelan, "Saya dulunya tinggal di Jakarta tapi karena suatu hal saya pindah ke Kalimantan dan karena ada kerjaan saya kembali lagi ke sini tapi hanya untuk sehari saja," ucap Nurul menceritakan tanpa diminta.


Wanita itu mangut-mangut, "Mungkin saja dulu kita pernah bertemu," jawabnya diplomatis.


Nurul mengangguk, seiring dengan lukanya yang sudah selesai diperban dan kini ia teringat akan Axelle dan ia harus segera ke tempat adiknya agar Axelle tidak berpikir macam-macam.


"Terima kasih nyonya, anda sudah membantu saya mengobati luka," ucap Nurul tulus.


Wanita ini mengibaskan tangannya, "Justru harusnya saya yang berterima kasih karena kamu sudah menyelamatkan saya. Ah, entah nasib siap apa yang sedang menerpa saya, dua kali hampir dicelakai orang dan dua kali orang yang menolong saya harus terkena imbasnya. Saya berterima kasih padamu Nak ....?


"Nurul Tante," sambung Nurul yang paham akan ucapan menggantung wanita ini.


"Oh ya Nurul. Kalau begitu ayo kita keluar. Sekali lagi terima kasih untuk bantuannya," ucapnya lagi.


Hati Nurul berdebar-debar, entah dorongan dari mana ia sampai berkata, "Nyonya, apakah saya boleh memeluk anda? Entah mengapa saya merasa begitu ingin memeluk anda. Wajah anda mengingatkan saya pada seseorang yang sangat saya rindukan. Apakah boleh?"


Wanita ini sedikit terkejut namun ia mengangguk pasti. Nurul langsung memeluknya erat, merasakan kehangatan wanita ini bahkan ia menitikkan air matanya.


Setelah hampir satu menit ia memeluk wanita ini, akhirnya Nurul melepaskannya. "Maaf nyonya, saya tidak bermaksud lancang meminta memeluk orang asing, tapi entah mengapa hati saya berdebar-debar begitu melihat anda. Sekali lagi terima kasih, saya harus pamit karena seseorang sudah menunggu saya," ucap Nurul.


Wanita ini mengangguk, ia sedikit heran namun sebelum Nurul hilang dari pandangannya, ia sempat memanggilnya. "Nurul, boleh saya tahu siapa nama lengkap mu?"


Jantung wanita ini berdebar-debar, ia ingat akan seseorang yang bernama Nurul, seseorang yang selama ini menjadi beban pikiran anaknya.


Nurul tersenyum, "Nurul Aina, Tante," jawabnya kemudian pergi meninggalkan wanita yang kini memegangi dadanya karena terlalu syok.


Jadi dia orangnya, pantas saja Alvaroku begitu mendambanya.