GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Belimbing Wuluh


Di kediaman Prayoga saat ini tengah dilanda kepanikan pasca penerus mereka menelepon dan mengatakan jika dirinya sedang sakit. Bagaimana tidak panik, anak mereka di negara orang sendirian dan belum lagi suaranya tadi terdengar begitu lemah.


Yani yang menerima telepon dari Alvaro hanya bisa mondar-mandir sambil menangis. Genta yang melihatnya pun panik sekaligus pusing. Harusnya istrinya ini bersiap tetapi yang ada justru ia malah mondar-mandir sambil menangis juga tak hentinya bergumam tak jelas.


"Mi, diam dan tenanglah. Kapan kita perginya kalau mami terus seperti ini?" tegur Genta yang sudah tidak tahan melihat kelakuan istrinya.


Yani menghentikan langkahnya, ia baru tersadar jika dirinya sedari tadi hanya di dalam kamar tanpa melakukan tindakan apapun. Ia menatap kesal pada suaminya dan berkata, "Mengapa nggak dari tadi papi kasih tahu? Udah lihat mami cemas gini papi malah asyik nontonin mami. Harusnya ditegur bukan dibiarin."


Yah, salah lagi sang suami. Ia yang bertingkah aneh suaminya yang kena getahnya. Genta hanya bisa mengelus dadanya.


Untung aku sayang dan cinta banget sama dia.


Yani langsung mengambil beberapa perlengkapannya dan memasukkannya ke dalam koper kecil. Ia tidak banyak membawa barang, baginya itu hanya akan membuatnya repot. Lagi pula suaminya masih kaya dan masih sangat sanggup untuk membelikannya beberapa potong pakaian di negeri paman Sam itu.


"Yuk Pi."


Genta menghela napas kemudian bergegas ia gandeng tangan istrinya dan keduanya keluar dari kamar. Sopir mereka pun sudah siap mengantar ke bandara.


Di dalam mobil Yani menelepon Alvaro dan keadaan putranya itu masih lemas namun ia sudah tidak merasakan pusing seperti tadi dan mulanya mulai berkurang.


"Udah mendingan, Mi. Mi, boleh Varo minta tolong?"


"Katakan sayang, pasti mami tolongin," ucap Yani dengan sesenggukan.


"Tolong bawain Varo manisan pala dan belimbing wuluh."


Yani terlanjur kaget sehingga tak bisa merespon apapun. Apa ia tidak salah dengar? Kenapa tiba-tiba putranya meminta oleh-oleh yang nyeleneh seperti itu? Alaro sedang mengigau atau otaknya tidak bekerja dengan baik karena sakit?


Genta yang melihat reaksi istrinya yang aneh seperti itu pun mengerutkan keningnya.


"Mi, mami dengar Varo nggak sih?"


Yani mendapatkan kembali kesadarannya kemudian menjawab iya dan Alvaro langsung menutup teleponnya.


Yani meringis pelan sambil menyimpan ponselnya di dalam tas. Ia kemudian menatap suaminya dan melirik jam tangannya.


"Pi, masih kurang dari satu jam untuk jadwal keberangkatan. Varo minta nitip sesuatu dan mami mau carikan dulu. Kasihan dia, sepertinya anak itu terlalu lemah bahkan mengigau hal yang tidak-tidak. Tapi demi Varo, mami bakalan cariin deh apa yang dia minta," ucap Yani. Ia tengah berpikir keras untuk apa anaknya itu memesan dua makanan yang dirinya saja sudah merinding membayangkan betapa asamnya belimbing wuluh tersebut.


Genta melirik pergelangan tangannya kemudian ia mengangguk menyetujui. Ia menanyakan apa sebenarnya yang diminta oleh Alvaro dan begitu Yani mengatakannya, Genta langsung tersedak ludahnya sendiri.


Dimana harus mencarinya?


Yani meminta sopirnya untuk mengemudi dengan perlahan. Ia berharap menemukan yang ia cari di pinggir jalan karena biasanya jajanan seperti itu sering di jual di pinggir jalan.


Nasib baik berpihak pada mereka karena disisa waktu yang harus mereka tempuh, Genta tak sengaja melihat manisan yang diinginkan Alvaro. Ia langsung meminta sopirnya berhenti dan menyuruhnya untuk membelikan bahkan pedagang itu kaget karena semua manisannya langsung diborong habis.


Setelah pesanan Alvaro siap, mereka kembali melanjutkan perjalanan.


.


.


Alvaro kembali menatap bintang dan mencoba menghitung berapa banyak jumlahnya walaupun ia terus gagal karena lupa bintang mana saja yang sudah ia hitung. Ia tidak kesal tetapi merasa lucu karena ia bertingkah aneh.


"Akhir-akhir ini gue punya hobi aneh. Gue ngitungin bintang tiap malam, sesuatu yang nggak pernah gue lakuin bahkan waktu gue kecil dulu. Tapi anehnya justru ini membuat hati gue senang. Gue ngitung bintang sama kayak gue lagi ngitung takaran cinta gue ke Aina yang nggak bisa gue tahu berapa banyak jumlahnya saking banyaknya cinta itu buat dia."


Alvaro mendesah, ia tersenyum melihat langit cerah yang dipenuhi bintang-bintang. Rasa rindunya pada Nurul seperti tersampaikan lewat para bintang yang bersinar. Baginya, bintang itu bisa menyampaikan rindunya pada Nurul.


"Aina, kita emang nggak bisa bertemu. Gue nggak tahu lu dimana dan lu kabarnya gimana. Tapi gue masih bisa bersyukur karena gue yakin dimana pun lu berada, lu masih natap langit yang sama dan bintang yang sama kayak gue. Gue harap langit dan bintang-bintang ini bisa sampaikan ke elu bahwa gue rindu banget dan gue cinta, Aina."


Alvaro kembali terdiam sambil memikirkan dirinya yang sudah beberapa hari ini sering sakit di pagi hari dan menjadi normal di malam hari. Ia bingung, mengapa setiap waktu pagi menjelang, dirinya merasakan pusing dan mual yang begitu hebat. Dirinya sampai terkapar dan tak bisa sembarangan makan karena ia bisa memuntahkan kembali makanannya. Tetapi setelah itu dan bila malam menjelang, ia tidak merasakannya lagi. Dan begitu pagi kembali menyapa, pusing dan mual itu pun ikut serta.


Alvaro berusaha meyakinkan dirinya jika ia tidak kenapa-napa. Ia baik-baik saja dan ia hanya begitu lelah belajar dan sangat lelah memikirkan nasib cintanya. Kepalanya mungkin pusing karena terlalu memikirkan rasa sesalnya. Penyesalan yang akan terus ia bawa sampai mati apabila ia tidak berhasil menemukan Nurul.


"Lu dimana Nurul Aina? Gue kangen," lirihnya.


Alvaro mengambil ponselnya kemudian ia memesan makanan yang ada di pikirannya saat ini. Ia tidak berani sembarangan memesan yang berujung ia muntahkan. Setelah selesai memesan, ia kembali memandangi foto Nurul yang menjadi wallpaper ponselnya itu.


Ia tersenyum sambil mengusap lembut wajah cantik itu. Wajah yang selalu ada dalam ingatannya bahkan dalam mimpi sekalipun.


Begitupun seseorang yang berada ribuan kilometer jauhnya dari tempat Alvaro berada, ia tengah menatap langit. Jika di tempatnya berada Alvaro tengah menatap bintang malam, maka ia saat ini tengah menatap langit yang mulai menurunkan rintik hujan di pagi hari.


Nurul menatap jendela yang kini mulai berembun karena hujan perlahan-lahan mulai deras dan ia tidak jadi berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk Bu Dianti. Nurul kembali masuk ke dalam selimutnya padahal ia sudah siap untuk berangkat.


Ia menatap hujan yang kian deras lalu mengusap perutnya yang masih terlihat rata. Membayangkan dirinya yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu membuat jantungnya berdebar-debar. Ia bahagia dan cemas diwaktu yang bersamaan. Ia takut kehamilannya ini akan mempengaruhi keluarganya. Ia belum berani menceritakan ini pada Bu Uswa.


Nurul tidak ingin menyakiti hati Bu Uswa dan membuat wanita itu terbebani. Ia sudah memutuskan untuk bekerja bersama Bu Dianti yang jelas tahu kondisi dan juga masalahnya saat ini. Ia tidak perlu khawatir akan mendapatkan perilaku tidak menyenangkan dari bosnya karena yang ia hadapi kali ini sudah mengetahui seluruh kisah kepahitannya.


Nurul juga sudah berencana akan menyewa kamar saja untuk dirinya tinggali sendiri selama ia mengandung. Jika ia tetap tinggal di panti, ia khawatir mereka akan mendapat cacian dari para tetangga. Ia akan meminta bantuan Bu Dianti atau Danish untuk mencarikan dirinya tempat tinggal baru yang tak jauh dari tempat ia bekerja.


Memikirkan hal itu membuat Nurul teringat perbincangan mereka di rumah sakit kemarin. Ia teringat akan pria tampan itu. Nurul merasakan bahwa Danish sering kali mencuri pandang kepadanya dan Nurul merasakan ada hal yang aneh dari Danish. Pria itu terkesan seperti tengah mendekatinya tetapi bukan mendekati untuk dijadikan kekasih.


Nurul mulai mawas diri, pernah sekali menjadi bahan permainan pria kaya membuatnya tak ingin dengan mudah masuk ke permainan lainnya. Ia harus menjaga hati dan dirinya karena hanya itu yang bisa ia lakukan.


"Nak, tumbuh dengan baiklah di perut ibu. Ibu sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu. Kau akan menjadi satu-satunya teman ibu, cahaya dalam hidup ibu dan sumber kebahagiaan dan kekuatan ibu. Ibu akan memberikan semuanya untukmu. Apa yang ibu tidak dapatkan di hidup ini tidak akan ibu biarkan terulang lagi padamu. Walaupun nantinya kau tidak akan memiliki figur seorang ayah, tapi ada ibu yang akan menjadi sosok itu untukmu. Bertumbuh lah dan kita akan segera bertemu."


Nurul kembali menutup mulutnya sambil menenangkan pikirannya lewat alunan suara hujan yang turun deras. Nurul tidak lagi mau mengeluarkan air matanya. Ia tidak ingin kesedihannya mempengaruhi kehamilannya. Memikirkan tentang kehamilan, Nurul mendadak teringat sesuatu.


"Udah memasuki tiga bulan tapi kenapa gue nggak ngalamin apa yang biasanya ibu hamil? Gue nggak mual nggak muntah-muntah bahkan gue nggak ngidam sesuatu. Aneh!"


Nurul berpikir keras tentang hal tersebut. Jika saja ia mengalaminya maka ia sudah tahu lebih awal jika dirinya tengah mengandung tetapi justru ia tidak merasakan apapun sehingga ia tidak tahu jika dirinya tengah mengandung. Mendadak mata Nurul berbinar.


"Wah, gue yakin sekali anak gue ini adalah anak yang sangat baik. Buktinya dia nggak nyusahin gue, nggak bikin gue sakit dan nggak bikin gue kesulitan untuk mencari sesuatu yang dia inginkan. Ya Tuhan, terima kasih. Semoga anak ini akan menjadi anak yang berbakti dan anak yang berakhlak mulia. Aamiin."


Nurul sangat bahagia memikirkan hal ini. Dalam kandungan saja, bayinya begitu ramah. Bagaimana jika nanti sudah lahir, ia yakin bayinya akan tumbuh menjadi anak yang baik.


Nurul hanya tidak tahu saja, jika ada seseorang yang jauh disana mengalami kepayahan karena janin dalam kandungannya itu.