
"Jadi kita gagal memanfaatkan gadis itu?" tanya Kriss.
Miranda mengangguk pelan, sebelah tangannya ia gunakan untuk membelai rambut lebat anak kesayangannya yang kini sudah terlelap.
Saat ini mereka berada di apartemen mereka yang bertempat di Jakarta. Kriss memang jarang datang karena ia selalu bolak-balik ke Kalimantan untuk mengurus bisnisnya bersama Axelle. Suatu kesyukuran untuk Kriss karena mendapat kepercayaan dari pebisnis nomor satu di negara ini.
"Why?"
Miranda menghela napas, ia kemudian mengecup dahi Frey dan menarik selimut untuk anaknya itu. Miranda lalu berdiri dan menghampiri Kriss yang sedang duduk di sofa kecil. Ia duduk di atas pangkuan suaminya itu, lebih tepatnya suami siri karena keduanya berkomitmen untuk tetap bebas tanpa status di mata hukum. Dan Frey masuk ke dalam tanggungan Kriss. Ia menyayangi putranya itu karena begitu mirip dengannya.
"Gadis itu terlalu bodoh. Padahal dia bisa mengambil keuntungan jika melakukan perintahku. Kemungkinan saudaramu itu pasti akan menikahinya jika sampai kita berhasil menjebak mereka dengan hubungan terlarang. Tapi dia memilih menikahi rentenir demi bisa mengembalikan seluruh uang yang sudah kita berikan padanya," cerita Miranda.
Kriss mengepalkan kedua tangannya, matanya terlihat marah namun ada yang berbeda dari bahasa tubuh pria tampan beranak satu itu. Hanya dia yang tahu apa yang sebenarnya ia rasakan.
"Sudahlah, kita masih bisa melakukan cara lain," ucap Kriss kemudian ia mengecup leher jenjang Miranda. "Frey sudah tidur, sebaiknya kita kembali ke kamar kita," imbuh Kriss, Miranda yang paham maksud dari suaminya ini pun langsung menurutinya.
Gue nggak tahu harus mulai darimana, tapi apa iya gue bisa kembali mengubah semuanya? Gue juga tertekan bro! Gue juga nggak bisa ngelakuin apapun selain menghancurkan kalian semua. Sorry.
.
.
Axelle berjalan gontai ke arah unit apartemennya. Semenjak kejadian di rumah sakit ia lebih sering pulang ke apartemennya. Selain untuk menenangkan diri dan juga lebih dekat dari perusahaan, di dalam apartemen ini ia bisa menyendiri sambil merenungi nasibnya yang patah hati akibat gagal mendapatkan wanita yang ia cintai. Axelle memang belum sepenuhnya merelakan Nurul, cintanya masih sebesar itu tapi ia sadar jika berusaha pun akan sia-sia kecuali lewat tangan Tuhan.
"Ck! Dari tadi nungguin eh orangnya baru nongol. Gila ya, cewek cantik kayak gue yang super sibuk ini dibuat menunggu."
Suara yang begitu familiar di telinga Axelle membuat pria tampan nan arogan itu menatap ke arah asal suara. Axelle menghela napas, wajahnya langsung terlihat malas begitu melihat kedatangan Evelyn ke apartemennya.
"Kenapa kau bisa ada disini? Menguntitku?" sentak Axelle. Oh ayolah, dia sedang malas berdebat dan ia pulang ke apartemen untuk menenangkan diri, bukan untuk berdebat dengan wanita yang selalu membuatnya kesal ini.
Mendengar ucapan Axelle langsung membuat Evelyn melipat kedua tangannya di atas perut. Kedua matanya menatap Axelle dari atas ke bawah dengan tatapan mencemooh.
"Gue? Nguntit lu? Ya kali cewek secantik gue nguntit jomblo ngenes kayak lu. Halu!" cibir Evelyn.
Axelle menarik napas dalam-dalam, sepertinya ia harus menyiapkan nyawa cadangan dan kesabaran ekstra menghadapi Evelyn.
Belum dekat saja sudah membuat kesal, bagaimana kalau jadi istri. Bisa-bisa aku mati berkali-kali menghadapi wanita ini. Grandma yang benar saja, memberi calon cucu menantu model ini. Bukan bikin bahagia tapi bikin sengsara cucunya sendiri.
Tak ingin menggubris Evelyn, Axelle memilih menatap dengan tatapan bertanya. Sebelah alisnya terangkat dan wajahnya terlihat datar. Evelyn yang melihat ketampanan pria dingin ini dengan cepat mengubah ekspresi terpesonanya menjadi wajah jutek.
"Gue nggak mau lama-lama, gue cuma mau ngasih tahu lu kalau besok gue mau balik dan nenek lu yang udah tua dan maksa gue buat jadi istri lu itu pingin kita bertemu dengan beliau besok pagi. Gue sebagai cewek cantik yang baik, sayang orang tua, setia, rajin menabung dan nggak makan sabun tentu nggak tega buat nolak keinginan nenek lu. Jadi, jangan bikin gue durhaka dong! Kalau lu mau durhaka nanti aja setelah gue balik ke Jakarta. Gue nggak mau masuk neraka bareng lu. Masih di dunia aja lu udah kayak malaikat penjaga neraka, apa kabar kalau udah disana beneran. Ihh!"
Benar-benar keturunan Prayoga.
"Aww!" Evelyn memekik ketika Axelle dengan tiba-tiba mendorongnya hingga punggungnya membentur dinding.
Dua tangan Axelle mengurung tubuh Evelyn. "Mulut kamu itu terlalu pedas dan suka sekali meremehkanku. Mau ku beri hukuman?!"
Evelyn mengangguk pelan kemudian ia menggeleng cepat. Axelle rasanya ingin tertawa, rupanya wanita ini hanya tinggi di omongan saja tetapi aslinya cukup penakut. Bisa Axelle lihat seperti apa wajah Evelyn saat ini, cukup menggemaskan.
Sial!
Entah dorongan dari mana dengan cepat Axelle menempelkan bibirnya di bibir manis Evelyn. Mata wanita yang selalu mengaku cantik itu terbelalak saat Axelle ******* bibirnya.
Oh my God! Dia cium gue?
Ingin menikmati tetapi Evelyn terburu sadar kalau ia masih memasang mode jual mahal pada Axelle. Walau tak ikhlas menyudahi ciuman panas Axelle ini nyatanya Evelyn terpaksa mendorong tubuh Axelle dan memberikan sebuah tamparan di pipi bagus Axelle.
"Lu! Berani sekali lu cium gue. Hikss … first kiss gue dirampas jomblo ngenes. Mami, papi, bibir Evelyn udah nggak suci lagi."
Oh ya ampun, bibirnya manis banget. Bisa nggak sih replay? Nggak ada adegan ulangan nih? Gue nunggu lho Axelle.
Axelle memegangi pipinya yang terasa panas setelah mendapat tamparan dari Evelyn. Ia juga syok dengan dirinya yang mendadak mencium wanita ini dan bahkan sedikit menikmatinya. Awalnya ia hanya ingin menggertak tetapi justru keterusan.
Sial! Kenapa bisa cium dia sih?
Axelle memasang wajah datar dan tatapan yang seram ke arah Evelyn. "Itu balasan dan hukuman karena kau selalu meremehkan aku. Sekali lagi kau berbicara tidak sopan padaku, maka kau akan mendapatkan hukuman yang jauh daripada yang tadi. Jangan macam-macam!" ancam Axelle.
What? Kalau itu tadi hukuman maka gue siap bikin kesalahan dan pelanggaran terus deh. Siap lahir batin gue.
"Dasar brengsek! Awas aja lu, gue laporin ke polisi atas tuduhan pelecehan!" ucap Evelyn sok ketus. "Gue mau balik, jangan lupa besok. Kalau lu nggak datang, gue sumpahin lu nggak bakalan nikah seumur hidup. Gue sih nggak sama lu juga bisa cari cowok yang lebih ganteng dan lebih tajir. Bye!"
Evelyn melenggang pergi, wajah ketus dan garang itu kini berubah menjadi berseri-seri. Senyuman tak lepas dari bibirnya ketika mengingat bagaimana tadi Axelle menciuminya. Pikiran Evelyn langsung traveling hingga ke ranjang panas Axelle. Ia tertawa kecil dengan pikirannya tersebut.
"Ya ampun, gue udah nggak sabar jadi istri dia. Ciumannya aja hot gitu, gimana sama adegan malam pertamanya. Buruan nikahin gue dong!"
Evelyn terus tersenyum di dalam lift tersebut dan untung saja di dalam hanya ada ia sendiri sehingga ia benar melakukan atau berbicara apapun karena tidak ada yang akan mendengarkan.
Sedangkan Axelle, seusai Evelyn pergi, ia langsung terdiam. Dalam hati ia merutuki dirinya yang sudah tidak sadar menciumi bibir wanita cerewet dan sialnya adalah wanita yang hendak dijodohkan dengannya.
"Apakah harus dengan dia? Tapi kenapa harus dia? Aku tidak sanggup menghadapi hari jika dia yang jadi pendampingku. Aku yakin dia akan selalu membuatku kesulitan. Bagaimana bisa wanita segila dirinya menjadi seorang dosen. Oh aku lupa, dia itu keturunan Prayoga. Kata gila memang julukan untuk mereka. Dan aku tidak ingin menjadi bagian dari Alvaro dan Evelyn yang akan membuatku masuk rumah sakit jiwa. Besok aku harus membatalkan perjodohan ini, harus!"
Axelle pun masuk ke dalam apartemennya, ia harus menenangkan diri dan mewaraskan dirinya.