GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
174


Cici dan Riani terpana melihat bagaimana Frey menggendong Aluna masuk ke kelas. Cowok tampan itu juga menenteng sepatu milik Aluna yang tidak sempat ia kenakan. Bukan hanya dua siswi itu, tapi satu kelas dibuat meleleh melihat perlakuan Frey terhadap saudaranya ini. Beberapa siswi yang memang pengagum garis keras Frey langsung berharap menjadi Aluna.


Frey menurunkan Aluna dan membantunya untuk duduk di bangkunya dimana sudah ada Cici yang duduk di sebelahnya dan Riani yang duduk di belakang mereka. Ia kemudian berjongkok dan langsung memasangkan sepatu Aluna. Wajah gadis itu merona, bibirnya tersungging senyuman yang bahkan sangat lebar hingga pipinya terasa sakit. Ingin mencoba mengalahkan senyuman lebar mbak Kunti, tapi tentu Aluna tidak bisa.


Frey Abirsham Griffin, gue meleleh. Mleyot gue Frey, tanggung jawab lu ya. Awas lu matahin hati gue setelah ini. Gila! Frey sweet banget!


Cowok tampan dan cool itu sudah selesai memasangkan sepatu Aluna dan juga mengikat talinya. Ia kemudian mendongak menatap Aluna yang sedang tersenyum manis padanya namun senyuman itu langsung hilang ketika melihat tatapan dingin Frey seperti biasanya.


"Jangan sakit lagi. Gue nanti kena hukuman dari papi. Gue capek tahu nggak jadi sasaran di rumah kalau lu sampai kenapa-napa. Jadilah gadis baik, jangan nakal. Nanti susah dapat jodoh!" ucap Frey dengan tatapan dan wajah datarnya.


Aluna rasanya ingin melempar Frey dengan kotak pensilnya. Bisa-bisanya cowok ini berubah dalam hitungan detik. Lalu apa artinya ciuman Frey tadi?


"Frey!" pekik Aluna, ia kesal, kesal, kesal.


Frey hanya tersenyum miring kemudian ia kembali ke bangkunya yang berada di depan Aluna.


Aluna ingin protes lagi namun guru mereka sudah memasuki ruang kelas dan akhirnya ia hanya bisa mengumpat dalam hati.


Suasana kelas langsung hening saat pak guru yang membawakan mata pelajaran fisika itu mulai menerangkan. Hanya ada sahutan-sahutan dari Frey karena fisika adalah pelajaran yang sangat ia minati dan begitu mudah dieksekusi olehnya. Sejak SMP pun Frey sudah banyak mendapatkan medali OSN mata pelajaran fisika.


Berbeda halnya dengan Aluna, ia kurang meminati fisika dan ia lebih suka biologi dan bahasa entah itu bahasa Inggris ataupun bahasa Indonesia. Namun begitu ia tetap berprestasi dengan berada di peringkat ke dua setelah Frey yang selalu mendapatkan peringkat pertama.


Aluna sebenarnya bisa lebih cerdas dari Frey, namun karena ia menganggap dirinya adalah calon makmum Frey, maka ia harus mengalah dan berada di belakang Frey. Bagi Aluna, Frey harus tetap menjadi pemimpin.


Sambil memperhatikan Frey yang sedang mengerjakan soal di papan tulis, Aluna tersentak begitu Cici menyodorkan bukunya di hadapannya.


[Lu tadi pergi bareng Jasson, terus kenapa bisa kembali bersama Frey? Lu ketahuan sama Frey?]


Aluna langsung menatap Cici. Sahabatnya itu memang tahu tentang ia dan Frey yang bersaudara, namun tidak tahu tentang perjodohan diantara mereka dan memang tidak ada hubungan darah diantara mereka.


Gadis cantik itu memanyunkan bibirnya, ia kemudian membalas surat Cici.


[Gue nggak tahu, tapi emang siapa sih yang ngasih tahu Frey kalau gue di UKS? Padahal sebentar lagi gue bisa taklukin Jasson]


Aluna menyodorkan buku tersebut ke meja Cici tanpa menatap sahabatnya itu. Ia sibuk menatap Frey sambil bertopang dagu.


Frey, kapan sih lu nembak gue? Apa gue aja yang nembak lu? Tapi kata papi, cewek itu tinggal menunggu dan cowok yang bakalan bertindak. Tapi masalahnya, Frey nggak bakalan bertindak. Terus apa coba maksudnya tadi nyium bibir gue? Bibir lho ini Frey! Kalau dia cuma cium jidat, gue nggak bakalan mleyot kayak tadi dan nggak bakalan panas dingin kayak gini. Huu ... Frey, kenapa lu susah banget ditebak?!


Aluna sibuk dengan pikirannya. Ia kemudian menerima kertas lagi dan membacanya.


[Kenapa melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan?]


Aluna mencebikkan bibirnya, ia kemudian membalas surat tersebut.


"Danissa Aluna Guzelim Emrick Prayoga, sekarang kamu berdiri di depan dan gantikan Frey menyelesaikan soal!"


Aluna terkejut, ia lalu menatap ke sampingnya dan ternyata sedari tadi yang memberikan catatan itu adalah Pak Bagas, guru fisika. Wajah gadis itu langsung pias, ia bahkan menunduk saat semua menertawakannya terlebih lagi saat ini Frey menatapnya dengan datar dari depan kelas.


Mau tidak mau Aluna berdiri, ia kemudian berjalan ke arah Frey sambil dan menarik dengan kasar spidol yang ada di tangan Frey.


"Semua karena lu. Dasar cowok brengsek! Gue aduin sama papi kalau lu tadi udah nyuri first kiss gue!" bisik Aluna, ia menatap sengit ke arah Frey, "Tapi kalau lu bantuin gue jawab soal ini, gue nggak bakalan laporin lu ke papi, gimana?" sambung Aluna.


Ia yang tadinya ingin mengancam justru mengubah rencananya setelah ingat kalau soal ini sangat sulit dan hanya Frey yang bisa membantu untuk menyelesaikannya.


Frey menyeringai, "Lu mau laporin gue? Yakin lu? Coba aja, maka lu bakalan dapat perlakuan lebih dari yang tadi. Lu bukan cuma dapat hukuman dari pak Bagas, melainkan dari gue juga! Sekarang mendingan lu kerjain nih soal, gue mau duduk!" ucap Frey yang tentu saja tidak berhasil dibujuk oleh Aluna.


Mau tidak mau Aluna berusaha mengerjakan soal tersebut. Soal fisika yang rumit itu bisa ia kerjakan namun hanya sampai setengah saja sebab ia yang tidak mood dan juga lupa rumus pun memilih menyerah.


"Pak, saya menyerah!" ucapnya tanpa malu karena ia memang tidak bisa menjadi sok genius di depan kelas.


Pak Bagas menggeleng, tapi ia cukup senang karena Aluna ternyata memahami pelajarannya walaupun sering diselingi dengan melamun.


"Ya sudah, duduk sana. Lain kali jangan melamun lagi kalau tidak mau saya hukum lari keliling lapangan. Sudah kelas dua belas itu harusnya fokus belajar karena sebentar lagi kalian akan ujian. Empat bulan lagi kalian akan ujian, jadi harus fokus pada pelajaran terutama konsentrasi jurusan kalian," ucap pak Bagas panjang lebar kemudian ia menyelesaikan soal yang tadi Aluna kerjakan.


Aluna bernapas lega, ia bisa kembali duduk tanpa drama. Saat melewati Frey, Aluna menatapnya sengit dan Frey hanya membalas dengan tatapan datarnya saja. Sikap keduanya tentu diperhatikan oleh Riani dan Cici.


Entah mengapa gue merasa hubungan mereka ada yang aneh!


Riani hanya bisa bergumam dalam hati, sejujurnya sejak lama ia mencurigai kedekatan Frey dan Aluna. Marga mereka yang berbeda dan usia mereka yang hanya terpaut satu bulan saja dimana Aluna yang lebih tua dari Frey. Namun buru-buru ia tepis pemikirannya tersebut sebab ia harus percaya pada Frey dan juga Aluna.


.


.


Bell pulang berbunyi, seluruh siswa-siswi berhamburan keluar kelas untuk bisa segera sampai di rumah mereka masing-masing.


Aluna sedang merapikan alat tulisnya, ia bahkan tidak peduli pada sikap Riani terhadap Frey saat ini dimana gadis itu menggandeng tangan Frey.


Ia bahkan melewati keduanya dan berjalan bergegas keluar dari kelas bersama Cici.


"Aluna, pulang bareng yuk!"


Suara yang cukup familiar di telinga Aluna membuat atensi gadis itu beralih pada sosok cowok yang sedang duduk di bangku yang ada di depan kelas.


"Jasson?"