
Setelah dokter menyarankan Ikram untuk membawa Tara ke poli kandungan, hasilnya pun menyatakan bahwa Tara saat ini tengah mengandung dengan usia kehamilan memasuki tiga minggu. Hal tersebut tentu saja membuat keluarganya sangat senang, terlebih lagi Ben dan Safira yang memang menantikan kehadiran cucu untuk melengkapi kehidupan mereka.
Ben langsung membanjiri hadiah untuk sang menantu sedangkan Tara hanya bisa menerima saja sikap berlebihan ayah mertuanya. Ikram sendiri justru senang karena kedua orang tuanya begitu menyambut suka cita kehamilan Tara.
Disana juga masih ada Alvaro dan Nurul, wanita itu yang paling senang mendengar kabar ini. Ia menatap Alvaro sambil mengusap perutnya.
"Sabar, sebentar lagi pasti kamu juga akan hamil. Kita nikmati saja waktu kita bertiga dengan Aluna," bisik Alvaro.
Nurul hanya mengangguk lemah, ia kemudian menyandarkan kepalanya di dada bidang Alvaro.
Hari ini seharusnya Tara dan Ikram mengukur pakaian yang akan mereka gunakan untuk acara resepsi pernikahan mereka, tetapi rencana tinggal rencana. Ikram memilih menunda acara mereka karena tadi kata dokter, Tara harus banyak beristirahat sebab kandungannya cukup lemah dan Tara pun mengatakan keluhannya yang beberapa hari ini sering sakit kepala dan mual serta muntah-muntah.
Demi menjamin kesehatan sang istri, Ikram rela menunda. Begitu pun dengan kedua orang tuanya yang memilih untuk menjaga Tara saja daripada menggelar pesta resepsi. Ben mengatakan hal itu bisa dilakukan nanti, yang paling penting saat ini adalah kesehatan menantu dan calon cucu mereka.
Mami Rosa pun turut hadir di kediaman Ben Elard untuk memberikan selamat pada putrinya yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Tara merasa senang karena semua keluarganya berkumpul dan ia merasa semua keluarganya semakin melebihkan perhatian mereka padanya. Ia yang berada dalam dekapan Ikram tak hentinya mengucap syukur dalam hati karena semua kasih sayang yang berlimpah ini.
"Kira-kira nanti cucu kita akan diberi nama siapa ya?" celetuk Ben.
Safira yang mendengarnya hanya bisa mengusap wajahnya. Kandungan sang menantu baru tiga minggu dan suaminya sudah memikirkan nama untuk calon cucunya itu.
"Oh ya, ayah harap kalian memiliki banyak anak. Ayah menyesal hanya bisa menghamili ibumu sekali sehingga anak kami hanya ada satu. Rumah pasti akan semakin ramai kalau banyak anak-anak kecil. Harta kita juga sangat cukup untuk membiayai anak cucu kalian nanti. Kalau bisa setelah melahirkan ya hamil lagi," imbuh Ben yang langsung mendapat cubitan dari sang istri.
"Mas, jangan gila deh. Itu menantu kita, bukan pabrik cucu. Kamu pikir melahirkan itu gampang? Nggak Mas, proses pembuatannya saja yang nikmat. Dan kalian sebagai para pria hanya tahu enaknya saja! Tara, sebaiknya kau jangan mendengarkan ucapan ayahmu itu, dia memang gila!" ucap Safira bersungut-sungut.
Ben hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena terkena omel sang istri.
Memang apa salahnya sih kalau gue mau punya banyak cucu. Harta banyak, cucu gue pasti nggak bakalan kekuarangan satu hal pun!
"Nah, kalau kalian berdua, kapan rencananya untuk memberikan Aluna adik?" tanya Ben pada pasangan yang tak kalah mesranya di dekat mereka.
"Tiap malam usaha, Om. Cuma memang belum dikasih," jawab Alvaro dengan bangganya mengatakan bahwa ia setiap malam melakukan proses bercocok tanam.
"Itu artinya harus usaha lebih keras lagi. Kalau bisa sehari tiga kali," usul Ben yang kembali mendapat cubitan dari istrinya.
Gelak tawa pun terdengar dari ruangan tersebut karena lagi-lagi calon kakek itu mendapat kekerasan dari sang istri.
.
.
Seorang pria terlihat sedang menatap debur ombak dan hamparan lautan yang begitu luas dan entah dimana ujungnya. Pandangannya begitu lurus dengan matanya yang tajam tak berkedip itu seakan tengah mencari jawaban dari air laut biru dan langit biru. Tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya.
Dari belakang, seorang wanita berjalan dan memeluknya. Pria itu tersenyum, ia kemudian memegang tangan wanita yang memeluknya.
"Frey sudah tidur?"
"Sudah, dia memang selalu tidur siang. Kau kenapa terus berdiri disini? Apa tidak panas?"
Kriss melepas pelukan Miranda kemudian ia berbalik badan. "Ayo kita masuk," ajaknya.
Sambil bergandengan tangan keduanya masuk ke dalam vila yang sudah lebih dari sebulan mereka tempati. Mereka bahkan tidak kemana-mana selain berdiam di vila ini dan kalaupun ada kebutuhan mereka hanya akan berbelanja di sekitar vila.
Saat Kriss dan Miranda memaasuki vila, keduanya terkejut dengan kehadiran tamu yang tidak diundang, oh lebih tepatnya pemilik vila yang mereka tempati.
Pria itu dengan tiga bodyguardnya memperhatikan pasangan suami istri yang terlihat mesra itu. Kriss dan Miranda pun ikut duduk bersama mereka.
"Ada apa tuan, apa yang membawa anda datang ke tempat ini?" tanya Kriss to the point.
Miranda terlihat gemetar, ia sudah cukup trauma pada pria yang selalu hampir memperkosa dan sering kali menculiknya ini. Kriss yang merasa istrinya itu ketakutan, ia langsung menggenggam tangan Miranda, menyalurkan kekuatan agar Miranda tidak perlu merasa khawatir karena ia akan terus melindunginya begitu pula dengan anak mereka.
"Apa yang anda inginkan?" tanya Kriss.
"Keluar dari tempat ini dan hancurkan satu-satu target yang sudah pernah aku katakan padamu. Mereka sudah cukup bersenang-senang selama satu bulan lebih dan sudah waktunya kamu menuntaskan pekerjaanmu," jawabnya dengan suara yang begitu datar dan dingin.
Kriss mengepalkan tangannya, lagi dan lagi ia masih diminta untuk melakukan tugas yang sama, tugas yang ia hindari dan kini ia harus kembali di minta untuk melakukannya.
"Kau tahu sendiri apa akibatnya jika membangkang, kau ingin bernasib sama dengan kedua orang tuamu?" ancamannya.
Tatapan Kriss menggelap, ia tentu saja tidak akan pernah melupakan bagaimana pria ini membunuh kedua orang tuanya tepat di depan matanya, ketika kedua orang tuanya berusaha untuk menukar harta mereka agar pria ini tidak lagi meminta mereka untuk melakukan hal-hal buruk dan kotor dalam dunia bisnis.
Kriss tidak bisa melupakan bagaimana sadisnya pria ini membunuh kedua orang tuanya setelah memberikan tembakan di perut mereka lalu ia juga menusukkan pisau di dada kedua orang tuanya sedangkan saat itu tidak bisa berbuat apa-apa karena seluruh tubuhnya disuntikkan obat agar ia tidak bisa bergerak alias menjadi lumpuh sementara.
Satu-satunya kesalahan orang tuanya yaitu mau diajak bergabung kerjasama dengan pria ini karena dulu mereka begitu berambisi untuk mendapatkan seluruh harta keluarga Griffin dan akhirnya mereka mau menjadi anak buah dari pria yang berambisi menghancurkan lingkaran persahabatan keluarga Griffin.
"Dan kalau kau masih keberatan, istrimu yang cantik itu akan menjadi korban selanjutnya. Lalu anak tampanmu itu juga," imbuhnya dengan ancaman yang selalu saja sama, selalu membuat Kriss tidak berdaya.
Dalam hati Kriss mengumpat, tidak ada gunanya lagi melawan orang ini. Andaikan waktu itu ia tidak meminta Alvaro untuk keluar mengecek keamanan maka saat ini ia dan keluarganya pasti akan baik-baik saja setelah ia mengakui semua perbuatan yang ia lakukan selama ini di dalangi oleh seseorang.
Jika saja hari itu dia mengatakan semuanya pada Alvaro, pasti seluruh sahabatnya dan para orang tua akan membantu mereka terbebas dari pria gila yang menurut Kriss mengidap penyakit psikopat.
"Diammu berarti iya!" ucapnya.
Kriss tidak bereaksi apapun, karena memang semuanya hanya akan sia-sia. Entah ia diam atau membantah itu seakan sama saja. Jika ia tidak melaksanakan perintah, maka kehidupan mereka yang akan hancur. Dan jika ia melaksanakan perintah, bukan tidak mungkin Ia yang hancur lebih dulu dibandingkan keluarga yang ingin dihancurkan.
"Saya hanya sendiri Tuan, bagaimana bisa saya menghancurkan sebanyak itu?" ucap Kriss menatap datar pada pria yang saat ini masih betah mengenakan kacamatanya.
"Aku akan memberimu beberapa anak buahku untuk ikut bersama, kebetulan aku mendengar sendiri jika besok itu adalah acara resepsi sepupumu. Kau bisa datang ke sana untuk mengacau," jawabnya kemudian ia tertawa, tawa yang menggelegar karena ia berharap besok rencananya akan terlaksana dengan baik.
Ikram akan menikah dengan siapa ya? Gue sudah tidak pernah mendengar lagi kabarnya.
"Baiklah, tapi saya akan membawa seluruh keluarga saya untuk keluar dari villa ini. Kami akan menempati apartemen lama kami, saya tidak mungkin meninggalkan mereka berdua di tempat ini yang jauh dari kota dan sangat sulit untuk saya jangkau dalam waktu hitungan menit."
Pria tersebut mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menyetujui keinginan Kriss tersebut. Tidak ada masalah baginya jika Kriss memboyong keluarganya, selagi ia masih bisa memantau mereka dan terus mengawasi gerak-gerak mereka, maka semuanya akan aman untuknya.
"Baiklah jika sudah sepakat. Ayo kita pulang dan sampai jumpa besok," ucap pria itu mengajak anak buahnya untuk pergi, tak lupa ia menatap Kriss dengan tetapan tak terbaca sedangkan Kriss sama sekali tidak bisa melihat tatapan dari balik kacamata tersebut.
Begitu rombongan pria itu pergi, Miranda baru bisa bernapas lega. Ia kemudian segera berlari ke kamar untuk mengecek keadaan putra satu-satunya. Melihat Frey yang masih tertidur lelap, ia langsung membanjiri ciuman di seluruh wajah putra kecilnya itu. Ia sangat takut terjadi apa-apa pada anaknya sedangkan ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya.
Di belakang mereka ada Kriss yang menyusul ke kamar, ia kemudian mengusap bahu Miranda lalu beralih menetap wajah putranya yang sedang terlelap dalam tidurnya.
"Kriss," lirih Miranda.
"Semua akan baik-baik saja," ucap Kriss mencoba untuk meyakinkan Miranda padahal dia sendiri tidak yakin akan hal itu.
Miranda begitu mengkhawatir nasib putra satu-satunya ini, ia khawatir jika terjadi sesuatu padanya dan juga Kriss maka siapalah yang akan merawat dan membesarkan anaknya ini, sedangkan kedua mertuanya sudah tiada begitupun dengan kedua orang tuanya. Ia tidak mungkin menitipkan Frey kepada daddynya yang notabene bukanlah orang tua kandungnya walaupun pria itu adalah sosok ayah yang selama ini yang kenali.
"Semoga kita akan baik-baik saja Kriss. Aku khawatir dengan Frey," tutur Miranda.
Kriss merangkul Miranda dari samping, ia kemudian mengganggukan kepalanya seraya berkata jika semuanya akan baik-baik saja, ia akan menjaga mereka berdua dengan nyawanya sendiri.
Entah firasatku ini hanya sekadar firasat, tetapi jika terjadi sesuatu padaku dan Miranda semoga akan ada yang bisa merawat anak kami dengan baik.