
Hari berganti hari dan tak terasa kini sudah mendekati waktu pernikahan Danish dan Clarinta. Semuanya sibuk mempersiapkan pernikahan tersebut, tanpa terkecuali pasangan Nurul dan Alvaro yang semakin hari semakin lengket walau belum dikaruniai anak lagi.
Dan semenjak hari itu, hari dimana Yani dan Nurul hampir di culik dan Kriss Griffin yang entah dibawa kemana, mereka sudah tidak lagi mendapatkan kabar tentang Kriss maupun Miranda dan anaknya. Keluarga kecil itu hilang bagai ditelan bumi begitupun dengan kedua orang tua Kriss.
Tidak ada yang tahu di mana keberadaan mereka, begitupun dengan Axelle yang sama sekali kehilangan kontak dengan Kriss padahal perusahaan mereka sedang maju pesat dan ujung tombaknya itu menghilang entah ke mana.
Teror di keluarga mereka pun sudah tidak ada lagi atau mungkin belum ada karena mungkin musuh masih menyiapkan serangan-serangan selanjutnya. Pria yang mereka tahan waktu itu memilih bunuh diri begitu anggota Ben Elard lengah, hingga mereka tidak bisa mengetahui siapa dalang di balik sabotase dan juga perubahan sikap keluarga Griffin.
Kehidupan mereka kembali berjalan dengan sebagaimana biasanya, bisnis yang lancar, keluarga yang bahagia, persahabatan yang indah dan juga hubungan kekerabatan yang semakin hari semakin akrab.
Alvaro dan Axelle kini sudah semakin akrab, selain mereka adalah calon saudara ipar, mereka juga sudah lama menjalin hubungan bisnis dan kerjasama mereka itu terjalin semakin baik di mana Axelle menggandeng Alvaro untuk memajukan perusahaan yang dulunya sempat dipimpin oleh Kriss Griffin.
Rencananya seminggu setelah resepsi pernikahan Danish hari ini, mereka akan menggelar resepsi pernikahan Ikram. Kemudian diikuti dengan resepsi pernikahan Alvaro seminggu setelah Ikram dan Nandi yang akan melaksanakan akad nikah seminggu setelah resepsi Alvaro.
Pria itu berhasil meyakinkan Flora untuk menikah, ia memboyong seluruh keluarganya beserta keluarga Prayoga dan Elard untuk melamar Flora di hadapan kedua orang tuanya. Nandi tidak ingin ditinggal sendiri oleh sahabat-sahabatnya yang sudah memiliki pasangan hidup dan mungkin akan segera memiliki momongan sedangkan ia masih menggunakan status single di kartu tanda penduduknya.
Kadang-kadang terbesit dalam pikiran Genta, siapa sebenarnya dalang dari semua kejadian yang menimpa mereka. Begitupun dengan Alvaro dan Ikram, mereka terus berupaya mencari keberadaan Kriss ataupun Miranda sehingga mereka bisa menemukan titik terang. Mereka tidak ingin membiarkan sahabat mereka itu terjerumus ataupun dimanfaatkan oleh orang tersebut untuk membalas dendam.
Jika pun pada kenyataannya mereka sudah tidak lagi ada di dunia ini alias sudah dibunuh oleh orang tersebut karena ketahuan hampir membocorkan rahasia, tentu akan ada rekam jejak yang ditinggalkan. Tetapi sama sekali tidak ada dan Ruri Griffin bahkan meninggalkan cafe dan restoran yang ia bangun dengan segenap jiwa raganya itu terbengkalai hingga Ikram kembali mengambil alih dan membuat pekerjaannya semakin bertumpuk.
Namun sayang sekali, walaupun mereka sudah mengarahkan seluruh kekuatan dan orang-orang yang handal untuk mencari keberadaan keluarga Griffin itu, mereka sama sekali tidak menemukan jejak apapun. Mereka hanya bisa berharap dimanapun Kriss berada bersama keluarganya semoga mereka selalu dalam keadaan baik-baik saja.
Ataupun jika mereka memang sudah tiada lagi di dunia ini, semoga Tuhan menempatkan mereka di tempat yang terbaik. Mereka sudah memastikan untuk memaafkan segala kesalahan-kesalahan keluarga Griffin terhadap mereka.
.
.
Hari yang dinanti pun tiba, acara akad nikah yang dirangkaikan dengan resepsi di malam harinya untuk pasangan pengantin Danish Ganendra Emrick dan juga Clarinta Wistara saat ini pun sudah dimulai dan berlangsung dengan penuh haru dan juga suka cita.
Danish berhasil mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan juga teriakan sah menggema dari ruangan tersebut.
Mereka mengadakan pesta pernikahan mulai dari akad hingga resepsi di salah satu hotel milik keluarga Prayoga. Tentunya dengan budget yang lebih kecil karena pemilik hotel tersebut adalah besan sekaligus ipar dari keluarga Emrick dan juga calon besan keluarga Farezta dimana Evelyn akan segera menjadi nyonya Axelle Farezta.
Dari sudut yang berbeda, seseorang yang mengenakan kacamata hitam sedang duduk sambil memegang segelas minuman dan memperhatikan jalannya acara pernikahan dimana ada banyak kebahagiaan dalam ruangan ini.
Pria itu tersenyum miring, mata tajamnya walaupun ditutupi dengan kacamata hitam masih mampu mengenali mana-mana saja orang-orang yang ia targetkan untuk segera ia hancurkan.
Sebulan lebih ia memberikan waktu untuk para targetnya itu bersenang-senang dan lengah karena ia akan menjalankan rencananya begitu tahu tidak ada lagi dari targetnya yang memikirkan kejadian di masa lalu.
"Silahkan kalian bersenang-senang karena sebentar lagi masa kejayaan kalian akan segera berakhir. Aku rasa waktu satu bulan sudah cukup dan sudah sangat banyak untuk kalian menikmati hidup dan udara bebas. Tunggulah, tidak lama lagi satu persatu dari kalian akan bertemu dengan yang namanya kesengsaraan dan itu melalui tanganku."
Pria tersebut meminta anak buahnya untuk mengambil gambar dari masing-masing targetnya. Dengan cepat beberapa anggotanya melaksanakan perintah tersebut karena mereka sudah hafal mana saja target dari tuan mereka ini.
Mereka membagi tugas dan berhasil menangkap gambar dari orang-orang yang sudah ditargetkan oleh tuannya untuk dihancurkan.
Dari tempat Axelle berdiri bersama Evelyn saat ini, ia menangkap sosok pria itu cukup mencurigakan di matanya. Ia melihat beberapa orang yang tidak dikenal mengambil gambar orang-orang di sekitarnya yang tentu saja sangat ia kenali. Axelle yang tidak paham dengan kejanggalan tersebut memutuskan untuk mengikuti orang-orang itu, namun sayang sekali iya kehilangan jejak.
Siapa mereka? Dan ada urusan apa mereka di sini? Mengapa mereka terlihat sangat asing dan mencurigakan? Apa mereka adalah orang yang dulu yang memanfaatkan Kriss Griffin untuk melancarkan aksinya? Ini sudah cukup lama tak ada kabar dari Kriss dan tidak ada kejadian yang mencurigakan lagi terjadi di sekitar keluarga Prayoga dan kerabatnya. Atau orang itu sengaja menyusun rencana dan menunggu mereka lengah lalu mukai menyerang? Jika iya, maka mereka semua dalam bahaya dan aku harus memperingatkan mereka.
Axelle kembali masuk ke dalam gedung hotel tempat dilaksanakan acara pernikahan. Di sana sudah ada Evelyn yang menunggunya karena tadi Axelle keluar tanpa berpamitan pada calon istrinya itu. Setelah sebulan lebih mereka melakukan pendekatan, ternyata Axelle semakin jatuh cinta dibuatnya. Bayang-bayang Nurul perlahan mulai terkikis dari pikirannya dan bahkan saat ini justru Evelyn Prayoga Mahesa yang terus memenuhi pikirannya bahkan ketika ia bekerja pun ia sering teringat dengan ucapan ketus dan pedas dari bibir Evelyn yang sialnya begitu manis.
"Kamu dari mana saja?" tanya Evelyn.
"Aku tadi melihat seseorang, sepertinya aku kenal tetapi aku salah orang," jawab Axelle berdalih.
Evelyn hanya ber-oh ria, ia kemudian bergelayut manja di lengan Axelle sambil menatap kagum pada pasangan yang saat ini sedang dikerumuni banyak orang untuk mengantre berjabat tangan memberikan selamat.
Axelle memperhatikan arah pandang Evelyn, kemudian ia mengalihkan pandangannya lagi menatap Evelyn yang tak berkedip saat menatap lurus pada pengantin yang sedang berbahagia. Ia tersenyum, dari gelagat tunangannya ini, sangat jelas bahwa ia juga sangat ingin menikah secepatnya.
"Apakah kau ingin melanjutkan ijab kabul di sana? Jika kau siap saat ini, mari kita lakukan," ucap Axelle yang sebenarnya ia bersungguh-sungguh tetapi cara menyampaikannya terdengar bercanda hingga Evelyn mencubit pinggangnya.
"Ya sakit dong Eve!" ringis Axelle.
"Biarin, siapa suruh kau menggodaku. Aku memang sudah sangat ingin menikah tapi tidak saat ini juga. Kau tidak membawa persiapan ataupun maharnya. Siapa juga yang ingin menikah hanya dengan ijab kabul saja! Sorry ya, aku tidak mau meskipun aku jatuh cinta padamu!" sungut Evelyn.
Axelle tertawa terbahak-bahak, ia sangat suka sekali menggoda calon istrinya ini. Ucapannya yang selalu ketus dan tidak pernah jika tidak arogan itu membuat Axelle merasa sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Sifat Axelle sama persis seperti sifat Evelyn saat berbicara, mereka selalu meninggikan derajat mereka sendiri dan juga membuat mereka terlihat elegan dan sangat berkelas. Dan sampai detik ini Axelle belum tahu saja jika Evelyn sebenarnya adalah tipe wanita yang bar-bar. Evelyn sangat pandai menyembunyikannya. Apalagi Ia adalah seorang dosen, tentu saja image-nya harus ia bangun dengan kuat, hanya boleh keluarga atau sahabat terdekatnya saja yang tahu seperti apa watak aslinya.
"Nempel terus, nikah dong!" teriak Alvaro, saat ini menggandeng Nurul dan juga Aluna berjalan mendekati pasangan yang sedang dimabuk asmara itu.
"Salahin aja sepupumu tuh, udah diajak nikah tapi nggak mau," ucap Axelle sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Evelyn.
Evelyn mendengus lalu membuang muka. "Siapa juga yang mau nikah dadakan dengan dia di acara nikahan orang lain. Emang dia sudah jatuh miskin sampai tidak bisa membuatkan aku pesta sendiri?!" ucap Evelyn berapi-api yang membuat Alvaro tertawa terbahak-bahak diikuti oleh Axelle.
Nurul sendiri tersenyum, dalam hati ia begitu merasa lega setelah menyaksikan Axelle memiliki wanita yang baru dalam hidupnya. Nurul pernah diterpa rasa bersalah kepada Axelle setelah ia mematahkan hati pria itu dan memilih menikah dengan Alvaro, ia khawatir jika Axelle tidak akan bisa membuka hatinya untuk orang lain. Namun ternyata kekuatan Evelyn mampu menyihir pria arogan dan pemarah serta mendominasi itu menjadi pria hangat dan penuh dengan cinta.
"Alvaro, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Boleh kita berbicara berdua?" tanya Axelle dengan wajah serius.
Alvaro yang melihat gelagat tak biasa dari Axelle langsung menganggukkan kepalanya.
"Yang aku tinggal bentar ya, kamu sama Aluna di sini aja dulu sama Evelyn. Aku pergi bersama Axelle dulu, oke?" ucap Alvaro kemudian ia mengecup pelipis Nurul sebelum pergi bersama Axelle.
Alvaro membawa Axelle ke salah satu ruangan yang ada di hotel miliknya ini. Ia yakin sekali apa yang akan Axelle bicarakan ini adalah hal yang sangat pribadi dan mendesak sehingga ia mengambil tempat yang sepi dan tidak akan ada orang yang mendengarkan pembicaraan mereka.
"Ada apa?" tanya Alvaro.
"Tadi aku melihat orang yang mencurigakan di pesta ini, bahkan aku melihat sendiri mereka mengambil foto kalian. Tapi begitu aku mencoba untuk mengejar, aku kehilangan jejak. Aku merasa sepertinya mereka adalah orang-orang yang dulu pernah mencoba menyerang kalian. Mungkin mereka membiarkan kalian lengah untuk mereka bisa menyusun rencana dan menyerang kalian. Berhati-hatilah dan selalu waspada."