
Para karyawan di perusahaan langsung menundukkan kepalanya begitu sosok Ben Elard berjalan memasuki kantor. Auranya masih begitu kuat hingga setiap yang menatapnya langsung menundukkan kepala. Mereka tentu hafal dengan perangainya dan tidak ada satu pun dari karyawannya yang berani membantah atau membuat ulah pada iblis berwujud pengusaha ini. Mereka sangat segan dan menghormati karena walau sejahat itu watak seorang Ben Elard, beliau tetap begitu royal dan baik pada karyawannya.
Lift terbuka tepat di lantai dimana Ikram menjalankan kerajaan bisnis keluarga Elard. Ia sudah diberitahu jika sang ayah akan datang dan ia memang sudah menunggu. Begitu pintu di buka dan masuk sosok yang ia tunggu, Ikram segera berdiri dan menyambut ayahnya dengan hangat.
Dulu sekali, Ikram tidak mau walaupun ayahnya memaksa untuk memeluk. Tapi setelah hubungan keluarganya semakin membaik, kedua pria yang baik pinang dibelah dua ini selalu saling memeluk ketika mereka bertemu. Benar-benar terlihat seperti keluarga bahagia pada umumnya.
Ikram mengajak ayahnya untuk duduk di sofa, ia tahu kalau ayahnya sudah datang ke perusahaan seorang diri itu berarti ada hal penting yang harus dibicarakan.
"Ada apa Yah?" tanya Ikram menatap lekat sosok tampan yang mulai menua ini.
"Kriss Griffin membuat ulah!"
Jawaban singkat namun Ikram tahu, ada masalah lebih panjang dari jawaban singkat ayahnya itu.
"Apa lagi kali ini Yah? Bukannya ibu sudah memberikan apa yang mereka inginkan beberapa tahun yang lalu? Kenapa lagi?" tanya Ikram cukup geram. Ia mengira sudah tidak akan berurusan dengan Kriss setelah prahara harta warisan tempo hari.
Ben menggeleng pelan, "Dia diam-diam mengajukan tuntutan untuk merebut semua harta milik keluarga Griffin dan dengan bodohnya dia malah nyasar pada Deen Emrick. Dia memilih Danish Emrick sebagai pengacara mereka. Mereka memang sangat licik karena memilih pengacara hebat di negara ini, tetapi mereka cukup bodoh karena tidak tahu Deen Emrick adalah sahabat baik ayah," ucap sinis Ben, ia juga menyertai senyuman penuh kesinisan diakhir kalimatnya.
Ikram tertawa sumbang, menertawakan kebodohan Kriss yang kali ini tentu saja tidak akan berhasil. Ikram bisa menjamin informasi ini ayahnya dapatkan dari Deen Emrick. Dalam hati Ikram pun turut mencemooh tindakan Kriss yang ingin menang nyatanya malah kalah bahkan sebelum masuk ke tahap persidangan.
"Dan ayah mendapatkan info ini dari om Deen?" tebak Ikram dan ayahnya langsung mengangguk. Ikram pun tersenyum penuh ejekan. "Ya ampun Kriss, kenapa anak itu semakin bodoh?! Tapi ayah, tadi Alvaro menghubungiku dan hari ini Tante Yani dua kali diserang orang tidak dikenal dan untung saja beliau selamat dan justru orang-orang yang dua kali menyelamatkannya yang terkena imbasnya. Menurut ayah, siapa dalang dibalik kejadian ini? Belum lagi beberapa waktu yang lalu ada yang menyabotase produk tekstil dan garmen keluarga Prayoga. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya dan kata Alvaro, Kriss pernah memperingatkannya untuk berhati-hati karena ia sudah memulai gencatan senjata," cerita Ikram panjang lebar.
Tangan Ben terkepal kuat. Ia tidak tahu kalau Yani mengalami kejadian seperti ini. Jika pun itu berasal dari saingan bisnis keluarga Prayoga, tentu saja bisa tercium dengan cepat rencana tersebut mengingat keluarga Prayoga memiliki orang-orang yang handal apalagi kelompok yang diketuai Felix, semua tidak bisa diremehkan.
"Yah, kalau seandainya ini semua ulah Kriss, ayah harus lebih menjaga ibu. Tante Yani yang barbar gitu aja sampai hampir kena serangannya, apalagi ibuku yang super lembut itu. Ikram takut Yah," imbuh Ikram yang semakin membuat sang ayah geram.
"Kau benar son. Ayah pasti akan menjaga ibumu dengan baik. Berani menyentuhnya maka kematian adalah balasannya. Ayah datang kemari untuk mengatakan jika kau harus berangkat ke Kalimantan malam ini juga, langsung ke rumah om Deen karena tadi dia berpesan agar kau langsung saja ke rumahnya dan tinggallah disana untuk beberapa saat sampai pembahasan masalah ini selesai. Ayah harus pulang, ibumu butuh perlindungan ekstra dari ayah," ucapnya buru-buru, ia baru sadar jika ia meninggalkan istrinya sudah lebih dari tiga puluh menit.
"Bilang saja ayah rindu. Tidak perlu mencari alasan lain. Cih, sudah tua tingkah seperti remaja," cibir Ikram namun sang ayah justru tertawa.
"Maka kau menikahlah. Ayah dan ibumu sudah tidak sabar menggendong cucu. Siapapun dia asal sebaik dan selembut ibumu, pasti kami setuju. Atau kau mau dicarikan jodoh?" goda Ben dan dengan cepat Ikram menggeleng.
"Aku masih bisa mencari sendiri ayah. Cepatlah pulang, kekasihmu pasti sudah merindukanmu. Dan ingat, jangan terlalu sering menyiksa ibuku. Heran juga, setiap hari ayah menyiksa ibu tapi tidak ada tanda-tanda kalau aku akan memiliki adik!"
Begitu Ikram selesai berucap, sebuah bantal sofa mendarat di wajah tampannya. "Dasar anak durhaka. Ayah itu tidak menyiksa ibumu melainkan membawanya ke nirwana. Hahahaha!"
"Ya sudah ayah, sekarang ayah pulang dan hati-hati. Aku tidak mau jika kecurigaanku jika semua ini adalah ulah Kriss, pasti cepat atau lambat keluarga kita dan keluarga Nandi pun akan mendapat giliran. Tolong ayah lindungi ibuku. Aku akan berangkat malam ini ke rumah om Deen. Katakan juga pada ibu untuk menolong mengemas beberapa pakaian untukku," ucap Ikram, ia harus menyudahi candaan mereka karena saat ini mereka harus tetap waspada.
"Baiklah son, ayah akan pulang sekarang. Ayah juga akan ke rumah Genta untuk membahas ini bersama ibumu. Kau juga berhati-hatilah dan hubungi Cael jika terjadi sesuatu. Dia selalu bisa diandalkan," ucap Ben menyertakan nama tangan kanannya.
Ikram mengangguk, kemudian keduanya sama-sama berdiri dan kembali berpelukan sebelum Ben pulang.
Begitu ayahnya pergi, Ikram kembali duduk di kursi kebesarannya dan sibuk dengan pikirannya. Pekerjaannya sudah begitu banyak dan kini ditambah beban dari Kriss. Jika saja Ikram tidak ingat keluarganya sudah begitu harmonis saat ini, ia mungkin sudah gila bahkan lebih gila dari ibunya dulu. Untung saja senyuman hangat sang ibu dan dorongan semangat dari sang ayah selalu menyertainya hingga Ikram kuat dan tahan banting. Apalagi ia harus menghadapi sisa-sisa kejahatan ayahnya saat dulu memimpin perusahaan, Ikram harus ekstra sabar mendapatkan sikap sinis serta siap menjadi sasaran balas dendam para kolega bisnis yang dulu selalu dibuat sakit hati oleh ayahnya.
Tokk … tokk … tokk …
Ikram meminta seseorang dibalik pintu untuk segera masuk. Nampak seorang office girl sedang membawa nampan berisi kopi pesanan Ikram beberapa menit yang lalu.
"Kau siapa? Aku meminta Mbak Mola yang bawa kopi. Aku belum pernah melihatmu sebelumnya," cecar Ikram pada gadis cantik berseragam office girl di hadapannya ini.
Gadis itu menunduk takut, "Maaf tuan muda, sa-saya karyawan baru di kantor ini. Mbak Mola sedang sangat sibuk dan beliau meminta saya untuk mengantarkan pesanan anda," jawabnya terbata-bata karena takut.
Ya Tuhan, jadi ini tuan Ikram. Sangat tampan dan menakutkan.
Ikram mengangkat sebelah alisnya.
Perasaan gue nggak se-menyeramkan ayah, tapi kenapa gadis ini begitu takut sama gue?
"Nama?" tanya Ikram.
"Tara tuan muda, nama saya Tara," jawabnya.
Ikram ber-oh panjang, "Ya sudah, letakkan saja minuman itu di atas meja," titahnya.
Tara langsung mengerjakan perintah Ikram, kemudian ia pamit undur diri. Tatapan tajam Ikram padanya seakan membuat Tara mati berdiri. Untung saja ia bisa secepatnya melarikan diri dari ruangan tersebut. Nyatanya, walaupun pria itu sangat tampan tapi tatapannya sangat menusuk. Tara ketakutan.
Di dalam ruangannya, Ikram tersenyum kecut. Ia menatap kopi yang tadi dihidangkan oleh Tara kemudian terkekeh geli. "Ternyata gue semengerikan itu dimatanya ya? Apa karena gue keturunan Ben Elard sampai siapapun takut pada gue? Padahal gue nggak sejahat ayah. Dan wajahnya itu, sungguh manis dan cantik," gumam Ikram. Sesaat kemudian ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Gue sudah gila! Kenapa harus memikirkan gadis itu!"