
Aleesha datang terburu-buru ke kediaman keluarga Emrick dengan membawa pesanan Alvaro. Di depan rumah ia yang masih mengenakan seragam kerjanya sebagai seorang dokter di sambut oleh Dianti. Merasa kasihan dengan istri dari keponakannya ini, Dianti langsung mengajak Aleesha untuk segera masuk.
"Sebenarnya ada apa sih, Tan? Kenapa Alvaro mesan kayak ginian?" tanya Alee setelah mereka duduk di ruang tamu. Ia juga melihat beberapa orang sibuk berlalu lalang di dalam rumah tersebut.
"Malam ini Alvaro dan Nurul bakalan nikah--"
"What?" Alee memekik mendengar jawaban dari Dianti. Pantas saja adik nakalnya itu meminta barang-barang seperti ini, rupanya dugaannya tidak salah. "Mami sama Papi tahu nggak, Tan?"
Baru saja Dianti hendak membuka suara, dari arah pintu masuk Genta dan Yani dengan raut wajah geram.
"Dianti, dimana anak kurang ajar itu?" tanya Genta yang sudah tidak sabar ingin memarahi Alvaro.
Yani berusaha menahan Genta dari amarahnya, ia langsung mengajak suaminya itu untuk duduk. Keduanya terkejut karena sudah ada Aleesha di rumah itu. Tak lupa beberapa barang yang datang bersama Genta dan Yani turut dimasukkan ke dalam rumah.
"Mas Genta kenapa marah-marah?" tanya Dianti yang heran karena Genta datang dengan membawa amarahnya.
Genta menghela napas kemudian ia menatap nanar pada Dianti. "Aku minta maaf jika putraku berulah lagi. Apa kesalahan besar yang sudah dilakukan sampai-sampainya jadi seperti ini Dianti? Tolong maafkanlah dia," ucap Genta sedikit lirih.
Kini Dianti paham dengan maksud Genta yang datang dengan membawa kemarahannya, rupanya di sini ada kesalahpahaman. Sedangkan Deen yang baru saja datang dan mendengar ucapan Genta tersebut justru tertawa.
Jelas saja kedua orang tuanya dan juga saudarinya ini salah paham, cara Alvaro menghubungi mereka itu singkat-padat dan jelas. Alvaro juga tidak menunggu untuk mendengar tanggapan mereka atau memberikan alasan pada mereka. Sudah tentulah hal itu menjadi pemicu dari ketegangan kedua orang tuanya.
"Deen, apalagi yang dilakukan anak bajingan satu itu pada Nurul?" tanya Genta.
Deen kemudian menatap Genta, "Yang dia lakukan hanya satu, membuat aku dan Danish setuju untuk menikahkan mereka malam ini," jawab Deen sambil memasang senyum sejuta watt.
Yani Genta dan Aleesha saling berpandangan, jawaban dan cukup ambigu bagi mereka.
"Maksud kamu apa Deen? Tolong jelaskan dengan sejelas-jelasnya padaku," pinta Genta yang diangguki oleh Yani dan Aleesha.
"Aku yang meminta mereka menikah malam ini dan Alvaro siap melakukannya demi aku," jawab Deen.
Ia kemudian menceritakan duduk permasalahannya, amarah yang sudah dari tadi ditampung oleh Genta pun perlahan surut. Ia justru kini merasa iba dengan nasib Nurul, jika saja Alvaro tidak melakukan kejahatan padanya di masa lalu maka Nurul tidak akan mengalami hal buruk seperti hari ini.
"Aku minta maaf untuk kejadian ini Deen, Dianti. Kalau bukan karena kesalahan Alvaro di masa lalu, mungkin hal ini tidak akan terjadi," sesal Genta.
"Tidak perlu disesali. Mungkin kejadian itu adalah sebuah cara Tuhan membuat mereka belajar dari pengalaman dan menjadikan mereka menjadi lebih baik lagi. Aku yakin setelah kejadian itu, kau tentu merasakan perubahan dari Alvaro," ujar Deen menanggapinya dengan bijak.
Genta mengangguk, memang benar setelah kejadian tersebut Alvaro berubah menjadi lebih baik walau sikapnya semakin dingin. Tetapi Genta bersyukur karena setelah kejadian itu, Alvaro tidak lagi bermain wanita dan melakukan kenakalan-kenakalan yang dulu sering ia lakukan.
"Oh ya, dimana mereka?" tanya Yani.
"Nurul sedang di kamarnya, sedang melakukan sedikit perawatan seperti yang diminta oleh Alvaro. Sedangkan calon menantuku itu sedang pergi ke butik bersama Danish untuk membeli pakaian yang akan dikenakan malam ini. Sekali lagi kami mohon maaf karena semua ini terjadi begitu tiba-tiba," ucap Deen merasa tidak enak hati kepada keluarga Prayoga karena melaksanakan pernikahan secara tiba-tiba seperti ini tanpa persetujuan mereka.
Genta dan Yani kini merasa lega dan akhirnya mereka pun akan menyaksikan Alvaro menikah. Mereka juga membahas tentang resepsi pernikahan yang nanti akan dilangsungkan setelah acara Danish, kedua pihak keluarga pun sepakat dan mereka akan merahasiakan pernikahan ini sampai di resepsi nanti.
.
.
Alvaro terlihat begitu gagah dengan setelah jasnya. Walau pakaian yang ia kenakan adalah hasil dari pencarian dadakan, tetapi ia tetap puas karena melihat sosok di pantulan cermin itu terlihat sangat tampan.
"Ck! Ini nih yang bikin gue betah kalau lagi ngaca, orang di dalam cermin itu ganteng banget soalnya. Jadi gue nggak bosan ngelihatnya. Tuhan emang baik sama dia, wajahnya sangat sempurna dan ketampanannya level maksimal pokoknya!" ucap Alvaro yang membuat Danish memutar bola matanya jengah.
Ingin menimpali atau menyanggah ucapan Alvaro, tetapi Danish memilih diam dan mencari aman saja daripada harus berdebat dengan Alvaro si raja debat.
Sedangkan di kamar Nurul, ia ditemani oleh Dianti, Aluna, Yani dan Aleesha yang sudah berganti pakaian. Tak lupa keluarga Aleesha juga datang untuk menyaksikan pernikahan Alvaro.
"Calon mantuku memang sangat cantik. Mami sangat bahagia untuk kalian. Mami harap Nurul bisa menerima segala kekurangan Alvaro dan bisa tahan dengan kelakuan ajaibnya," ucap Yani merasa terharu.
"Hmm ... rasanya baru sebentar aku bersama anakku dan kini sudah harus diambil lagi. Tapi mama bahagia atas kamu nak, semoga kalian selalu bahagia," ucap Dianti, ia tidak marah dan kecewa karena Nurul akan pergi darinya, ia hanya merasa waktu begitu cepat berlalu.
Nurul segera memeluk Dianti, ia hampir menangis tetapi Aleesha mencegahnya karena khawatir make up di wajah Nurul akan rusak.
"Ini adalah waktu yang bahagia, mengapa kalian semua menangis sih?" tegur Aleesha tapi dia juga hampir menangis.
Dengan diapit oleh Dianti dan Yani, Nurul berjalan menuruni anak tangga sedangkan Aleesha menggandeng tangan Aluna.
Alvaro terpana melihat Nurul yang untuk pertama kalinya ia lihat dipoles dengan make up. Genta sempat menggeplak kepalanya karena tidak senang melihat raut wajah Alvaro yang terlihat begitu mendamba tapi juga terselip tatapan mesum di dalamnya.
"Bisa tidak jangan membuat malu dulu. Ini hari pentingmu," tegur Genta sedangkan Alvaro mengerucutkan bibirnya karena kesal dan malu oleh tindakan papinya yang asal menggeplak kepalanya di muka umum.
"Papi bikin Varo malu, tahu," cicitnya.
"Ya makanya jangan nunjukin wajah kayak gitu. Memalukan. Bukannya kalian sudah pernah unboxing ya. Bersikaplah sewajarnya," bisik Genta dengan geram.
Alvaro langsung terdiam, ia sadar kalau kali ini bukan waktunya untuk berdebat. Ia menatap Deen yang sedang menahan tawa melihat ke arahnya. Alvaro langsung menormalkan ekspresi dan sikapnya.
Tibalah Nurul duduk di sampingnya. Mendadak jantung Alvaro berdetak dengan kencang. Ia yang tadinya begitu santai tiba-tiba saja menjadi demam panggung. Apalagi melihat Nurul yang begitu cantik yang juga terlihat begitu gugup.
"Lu cantik," bisik Alvaro.
Nurul hanya menatap lurus ke depan, sempat-sempatnya Alvaro menggombal disaat Nurul tengah gugup setengah mati.
"Aina, gue gugup," bisik Alvaro lagi.
Nurul menoleh ke arah Alvaro, "Lu pikir cuma lu doang yang gugup, gue juga. Mending lu diam deh, jangan bikin gue makin demam panggung," ujar Nurul.
"Lho, kenapa lu yang gugup, 'kan bagian eksekusinya gue. Harusnya lu santai aja, doain gue biar lancar ijab qobul dan kita sah jadi suami istri abis itu lu tinggal nunggu enaknya dari gue. Kita bakalan ke bulan malam ini."
Kesal dengan ucapan Alvaro, Nurul langsung menyentil bibir Alvaro yang membuat pria itu meringis kesakitan. Semua atensi kini beralih pada mereka.
"Papa mertua, lihat nih calon istri saya, baru juga mau sah dia udah KDRT. Minta dihukum di ranjang nih kayaknya," adu Alvaro yang membuat wajah Nurul merah padam. Ia merasa malu juga merasa kesal pada mulut Alvaro yang sangat suka sekali berbicara tanpa disaring.
"Alvaro Genta Prayoga!" sentak Genta yang kesal dengan anaknya itu sedangkan yang hadir di rumah itu justru tertawa.
Kenapa gue merasa begitu malu di pernikahanku sendiri ya? Ya Tuhan, apakah sudah benar memilih menikah dengan Alvaro?
Danish menatap sinis pada Alvaro, ia sudah menduga sejak awal bahwa Alvaro memang sangat mesum dan ia yakin Nurul pasti akan dibuat sudah oleh calon suaminya ini.
"Sudah, sudah, mari kita mulai saja ijab qobulnya," lerai Pak Penghulu.
Semua tamu termasuk calon mempelai pun kini fokus pada bacaan doa yang dilantunkan oleh penghulu di depan mereka, seketika Alvaro menjadi gugup luar biasa tetapi melihat Nurul yang duduk di sampingnya sebagai calon istrinya membuat Alvaro mengesampingkan rasa gugupnya.
Nggak, gue nggak boleh gugup dan sampai salah nanti. Ini harapan gue selama ini, ini yang gue impikan. Momen sakral ini harus berlangsung dengan baik. Aina I love you.
"Mari silahkan jabat tangan saya," ucap Deen yang akan menikahkan Nurul dengan Alvaro.
Dengan mantap Alvaro menyambut tangan calon mertuanya itu.
"Wahai Alvaro Genta Prayoga bin Genta Prayoga, saya nikahkan engkau dengan anak saya yang bernama Nurul Aina Emrick dengan mahar seperangkat alat sholat dan cincin berlian dua carat dibayar tunai, terima."
"Saya terima nikahnya Nurul Aina Emrick binti Deen Emrick dengan mahar tersebut dibayar tunai lillahi ta'ala."
"Bagaimana para saksi, sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah ...." Penghulu tersebut pun memanjatkan doa panjang untuk kedua pasangan yang baru saja sah menjadi suami istri.
Seluruh keluarga kini tersenyum haru menyaksikan Nurul dan Alvaro kini sudah sah menjadi pasangan suami istri. Sama halnya dengan pria yang sedari tadi berdiri di ambang pintu, ia pun turut menitikkan air matanya karena menyaksikan sang pemilik hati kini sudah sah menjadi milik orang lain.
Di samping Alvaro ada Danish sang kakak ipar lucknut--mengutip dari julukan Alvaro terhadap Danish, Ia kemudian berbicara sendiri.
"Akhirnya, aku menyaksikan ada anak yang menyaksikan pernikahan kedua orang tuanya," gumam Danish dan hanya bisa di dengar oleh Alvaro.
Ck! Untung kakak ipar!
Prosesi pembatalan wudhu telah selesai dan kini Nurul mencium punggung tangan Alvaro dan Alvaro mengecup dahi Nurul seraya berbisik, "Malam ini lu abis ditangan gue. Siap-siap aja wahai istriku."