
Genta Prayoga menggebrak meja kerjanya begitu mendapat laporan dari orangnya bahwa Alvaro semalam menginap di hotel bersama Miranda dan baru pulang subuh. Untung saja dari cctv yang sengaja ia pasang sebelum Miranda menempati kamar itu tidak menunjukkan adegan ranjang Alvaro dan Miranda. Namun ia geram karena Alvaro masih mendekati gadis itu.
Sebenarnya Genta Prayoga ingin memberi restu. Tapi ia kurang setuju dengan pekerjaan Miranda sebagai model. Ia ingin Miranda berhenti dan menjadi ibu rumah tangga atau membuka butik atau toko saja. Ia bukannya mengekang, tapi ia ingin Alvaro mendapatkan pendamping yang selalu ada untuknya dan tidak sibuk dengan dunianya sendiri karena pebisnis besar itu selalu memiliki beban pikiran yang bisa membuatnya lumpuh jika tidak mampu mengimbangi semuanya.
Ia ingin Alvaro memiliki pendamping yang ketika ia ingin berkeluh kesah dengan beban pekerjaannya, istrinya akan selalu ada. Ketika ia butuh tempat untuk membagi lelah dan dukanya, istrinya selalu siap disampingnya. Ia dan istrinya tidak menentukan apakah gadis itu dari kalangan atas atau menengah kebawah, yang penting mampu berdiri disamping putranya dalam situasi apapun dan menyediakan pundaknya untuk Alvaro menyandarkan segala bebannya.
"Saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya karena ini dunia saya. Saya juga bisa menjadi pendamping yang terbaik untuk Alvaro. Saya yakin saya bisa membagi waktu saya."
Ucapan Miranda kala itu dimana tuan Genta Prayoga mengajaknya bertemu untuk membahas pekerjaannya. Miranda bersikukuh bekerja dan tuan Genta Prayoga setuju dan bahkan memang berniat menjauhkan Miranda dari Alvaro. Ia tidak yakin dengan gadis itu.
"Jadi dia pulang untuk selamanya atau hanya sebentar, Billy?" tanya Genta Prayoga pada asisten pribadinya.
"Dia akan ada disini selama satu Minggu untuk urusan pekerjaan. Kontraknya di negara itu masih beberapa bulan lagi. Apa tuan ingin saya memperpanjang kontraknya?" tanya Billy.
Genta Prayoga masih diam sambil mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja.
"Apa kalian yakin gadis itu bersih dari skandal? Kalian sudah benar-benar memeriksanya atau ada yang tidak kalian ketahui?" tanya Genta, ia masih meyakini kalau Miranda itu tidak seperti yang terlihat.
"Hasil penyelidikan terakhir memang nona Miranda tidak memiliki kekasih atau teman kencan di negara itu. Nona Miranda hanya sibuk dengan pekerjaannya tuan," sahut Billy.
Genta menghela napas, ia kemudian menyuruh Billy untuk kembali dan ia akan bersiap untuk menghadiri acara wisuda Alvaro.
"Kau kembalilah dan terus minta mereka untuk memantau Miranda. Kau handle pekerjaan hari ini karena aku akan mendampingi Alvaro. Anak itu akhirnya menyelesaikan studinya," ucap Genta dengan sedikit senyuman di bibirnya.
Billy pun berpamitan sedangkan Genta masih berada di ruangannya. Ia ingin menyelesaikan pekerjaannya sebelum sarapan karena hari ini ia tidak datang ke kantor.
Tok … tok … tok ….
Pintu terbuka tanpa izin dari pemilik ruangan karena Genta tahu bahwa yang datang adalah belahan jiwanya.
"Pi, udah pagi lho ini. Siap-siap dong buat ke acaranya Alvaro. Mami aja udah siap nih," ucap Yani yang datang dengan membawa segelas kopi.
"Papi gampang lah Mi. Nggak kayak perempuan yang harus dandan," ledek Genta kemudian ia menyesap kopi buatan Yani yang sangat ia gemari.
"Papi ih. Ya udah mami keluar dulu. Ditunggu di meja makan. Pakaian papi udah siap," ucap Yani yang diangguki oleh Genta.
Seperti inilah yang aku inginkan untuk menjadi pendamping Alvaro. Pendamping dari penerus keluarga Prayoga haruslah yang seperti Yani. Sederhana dan tidak banyak tingkah. Yang pasti akan selalu ada dalam keadaan apapun dan siap berdiri bersama melawan apapun.
...****...
Alvaro bersenandung sambil merapihkan penampilannya di depan cermin. Raut wajahnya nampak sangat bahagia. Bagaimana tidak, hari ini ia akhirnya melepas status sebagai mahasiswa dan kekasihnya datang untuk mendampinginya.
"Gila! Ini orang di cermin kok ganteng banget ya. Gue sampai nggak percaya dia ini manusia, kayaknya dia ini dewa Yunani, hehehehe."
Alvaro tertawa kecil karena ucapannya sendiri. Ia selalu saja percaya diri dan karena itulah kenyataannya.
"Cocok juga ya gue pakai baju toga. Oke Alvaro Genta Prayoga, let's go."
Alvaro menuruni tangga sambil menenteng paper bag dan ia langsung bergabung di meja makan. Disana sudah ada kedua orang tuanya.
"Pagi Mi, Pi. Lihat, aku sudah keren bukan dengan baju toga ini. Akhirnya lulus juga," ucap Alvaro yang langsung duduk di kursinya.
"Tentu saja sayang," ucap Yani dengan bangga sedangkan Genta hanya melirik sekilas lalu ia kembali melanjutkan sarapannya.
Ketiganya pun memulai sarapan dan tak sengaja Genta melirik paper bag di depan Alvaro.
"Alvaro, apa yang kamu bawa itu?" tanya Genta menunjuk dengan gerakan matanya.
Alvaro yang sedang mengunyah nasi gorengnya langsung melirik ke arah papinya dan mengikuti arah pandang papinya. Yani pun ikut mengalihkan pandangannya.
"Ini?" tunjuk Alvaro pada paper bag itu dan papinya mengangguk.
"Oh … ini baju buat Aina pakai di acara wisuda," jawab Alvaro enteng kemudian ia melanjutkan sarapannya.
"Aina? Siapa Aina?" tanya Yani dan Genta bersamaan.
"Pacar Varo. Orangnya cantik banget dan pintar banget, udah gitu orangnya baik. Kemarin lupa ngasih, padahal udah ketemu sama dia," jawabnya masih fokus pada makanannya tanpa melihat raut wajah terkejut dari kedua orang tuanya.
"Pacar?"
"Mami sama Papi nanti nyusul aja. Varo mau ke Aina dulu," ucapnya yang langsung berjalan dengan cepat meninggalkan ruang makan.
Sepeninggalan Alvaro, Genta dan Yani saling memandang.
"Siapa Aina, Pi?" tanya Yani dan Genta menggeleng. Senyum tipis terbit di bibir Genta.
"Setahu mami, Alvaro itu cintanya sama Miranda. Mami nggak tahu ada cewek bernama Aina. Siapapun gadis itu pasti orangnya spesial karena Alvaro tadi menceritakan gadis itu dengan lancar tanpa beban takut mengenalkan seseorang kayak dulu dia mau mengenalkan Miranda," ucap Yani senyam-senyum sendiri dan Genta pun menganggukkan kepalanya.
"Udah lah Mi. Nanti juga kita akan tahu sendiri. Kata Alvaro si Aina itu juga wisuda hari ini. Kita lihat nanti saja," ucap Genta.
"Papi benar juga."
...***********...
Mobil Alvaro sudah terparkir di depan panti asuhan namun ia melihat panti itu sunyi dan pintunya masih tertutup. Ia ingin turun namun ia memilih untuk menghubungi Nurul.
"Kok nggak aktif? Apa Aina udah ke kampus?" gumam Alvaro setelah tiga kali ia menghubungi nomor Aina namun hanya operator yang menjawab.
"Ya udah deh, gue kasih di kampus aja dan kalau dia nggak mau pakai, gue bakalan paksa dia pakai. Dia nggak bisa nolak apapun yang diinginkan oleh Alvaro," ucap Alvaro kemudian mulai melajukan mobilnya.
Diperjalanan, ponselnya berdering dan itu adalah panggilan dari Miranda. Mereka semalam sudah berbagi nomor ponsel.
"Sayang maaf ya, aku nggak bisa ikut di acara wisuda kamu. Aku ada pemotretan dari pagi sampai jam lima sore. Tapi aku janji malam ini kita berdua akan ngerayain."
"Iya nggak apa-apa," jawab Alvaro dengan ekspresi datar.
"Makasih sayang, I love you."
Belum sempat Alvaro membalas ucapan cinta tersebut, panggilan sudah terputus. Alvaro mendadak menginjak rem mobilnya.
"****! Gue ini sebenarnya kenapa? Harusnya gue ke Miranda bukan ke Aina. Dan kenapa gue bisa lupa sama Miranda padahal tadi subuh gue masih sama-sama Miranda. Gue udah bego kali ya?"
Alvaro pun kembali melajukan mobilnya menuju kampus dan sekitar tiga puluh menit ia akhirnya sampai di parkiran kampus.
Kampus yang biasanya ramai kini terlihat semakin ramai karena acara wisuda. Alvaro keluar dari mobilnya sambil membawa paper bag dan lagi lagi tetap saja Alvaro menjadi pusat perhatian. Alvaro berjalan menuju ke gedung tempat penyelenggaraan wisuda sambil sesekali mencari keberadaan Nurul dengan matanya.
Mata Alvaro tak sengaja menangkap sosok yang selalu membuatnya kesal. Ia mendekatinya karena ia yakin dari sosok ini ia akan menemukan yang ia cari.
"Flora!!" panggil Alvaro.
Flora yang namanya dipanggil pun menoleh ke belakang. Ia mendapati Alvaro tengah berjalan ke arahnya dan itu membuatnya kesal.
"Lu lihat Aina? Dia bareng lu atau nggak? Dia udah di dalam atau mampir kemana dulu gitu?" cecar Alvaro yang langsung membuat Flora menatap tajam padanya.
"Lu nanya atau apa nih? Banyak banget pertanyaan lu," cibir Flora dengan tangan yang ia silangkan di atas perutnya.
Alvaro tersadar akan dirinya dan langsung membuang muka ke arah samping.
Gue lebay banget ya?
Alvaro berdehem dan kembali menatap Flora.
"Sorry. Soalnya tadi gue ke panti dan gue lihat disana sepi. Gue mikirnya Aina pasti udah ke kampus jadi gue kesini," jawab Alvaro dengan intonasi yang begitu datar, berbanding terbalik dengan sebelumnya.
"Ngapain lu nyari Nurul?" hardik Flora.
"Emang salah gue nyari pacar gue sendiri. Gue cuma mau ngasih ini. Kemarin gue lupa ngasih baju buat dia pakai hari ini," ucap Alvaro mengangkat paper bag yang ia pegang.
Flora tertawa kemudian ia memandang Alvaro dari bawah ke atas dengan tatapan mencibir.
"Mending lu buang aja deh. Orang yang lu cari nggak ada dan nggak bakalan datang. Sampai lu jamuran disini juga Nurul nggak bakalan datang," ucap Flora yang langsung meninggalkan Alvaro.
Alvaro terdiam namun baru saja ia akan bertanya maksud dari ucapan Flora, gadis itu malah sudah melenggang pergi.
Aina nggak ada? Maksudnya? Jangan bilang dia … nggak mungkin … Aina nggak mungkin …