
Aluna dan Riani sudah berada di rumah sakit tempat dimana Cici dirawat. Sebelumnya mereka sudah meminta izin kepada petugas yang berjaga dan meminta diantar ke ruangan Cici, akan tetapi Aluna menolak untuk masuk karena ia tidak siap diamuk oleh Cici.
Bukan karena pernah bertarung dengan orang yang mengidap gangguan jiwa, Aluna hanya pernah menonton bagaimana orang seperti Cici pasti akan menyerang siapa saja yang datang, apalagi orang yang sangat ia benci. Aluna hanya khawatir dengan kandungannya saja.
"Terus ngapain dong kita udah jauh-jauh datang ke sini kalau nggak masuk?" tanya Riani.
Aluna memasang tampang sedang berpikir dan Riani dibuat gemas holehnya. Melihat Aluna yang terlihat gembul dengan perutnya yang sudah mulai membuncit itu semakin membuat gadis yang bukan gadis lagi ini terlihat imut.
"Gue takut diamuk Cici," ucap Aluna dengan suara yang lirih.
Riani terdiam sesaat kemudian ia kembali memikirkan tentang apa yang diucapkan Aluna barusan. Ada benarnya juga karena Cici sangat membenci Aluna terutama dirinya, mungkin saja ketika mereka nanti masuk ke dalam ruang rawat Cici, gadis itu pasti akan mengamuk pada mereka.
"Lu benar juga, terus gimana dong?" Riani kembali bertanya kepada Aluna, sedangkan ibu hamil itu hanya bisa mengangkat bahunya karena ia pun tidak tahu mereka akan melakukan apa di sini.
"Aluna ...! Frey ...! Riani ...! Keenan ...! Gue benci kalian! Benci! Hahaha ... gue benci! Gue benci! Hahaha ..."
Aluna dan Riani memekik kaget ketika mendengar nama mereka disebutkan dan mereka jelas tahu itu suara milik Cici. Mendengarnya saja sudah membuat mereka ketakutan, apalagi jika mendekat, bisa-bisa Aluna pingsan di tempat.
"Gimana dong Lun, jadi nggak kita masuk? Nggak masuk rugi udah datang, kalau masuk nggak tahu apa yang bakalan terjadi di sana," tanya Riani yang sudah mulai ketar-ketir.
Aluna diam sambil berpikir, sejujurnya ada rasa rindu ingin melihat sahabatnya yang selama enam tahun mereka bersama-sama walaupun ujung-ujungnya Aluna ternyata dikhianati. Tapi ia khawatir, baru saja namanya disebut oleh Cici dari dalam. Apalagi jika ia menampakan diri, mungkin Cici langsung menyerangnya.
"Eh itu 'kan pintunya, kita bisa ngintip dari sana. Kita lihat aja kondisi Cici gimana terus kita pulang," ujar Aluna ketika ia melihat pintu kamar Cici yang terbuat dari besi dengan ada celah-celahnya untuk mereka bisa melihat orang di dalam. Mirip seperti pintu di penjara.
Riani juga memikirkan hal yang sama, hanya saja jika mereka melihat Cici dari sana, Cici pasti akan langsung melihat juga pada mereka.
"Kita nggak bisa langsung nampakin diri kita dari depan, dia bisa aja teriak dan mengundang keributan di sini, walaupun emang tempat ini udah ribut sih," ucap Riani yang memberi usul dan juga mengatakan keadaan tentang di rumah sakit itu yang mana sedari tadi mereka mendengar adanya suara-suara ribut, dimulai dari nyanyian, tangisan, tertawa dan ada juga yang mengomel.
Aluna mengedarkan pandangannya kemudian ia mengangguk dengan sedikit perasaan takut. Beberapa saat kemudian Aluna mendapat ide. Ia kemudian membuka tasnya dan mengambil masker yang sudah ia sediakan. Di dalamnya juga ada kacamata hitam karena Aluna setiap kali keluar rumah pasti selalu membawanya.
"Gimana, boleh nggak dipakai buat ngintipin si Cici?" tanya Aluna setelah ia mengenakan masker dan juga kacamatanya.
Riani mengacungkan jempolnya kemudian ia melakukan hal yang sama dan untung saja ia juga sudah menyediakan kacamata di dalam tas. Dan mengenai masker, ia diberikan oleh Aluna karena ibu hamil itu selalu menjaga kebersihannya semenjak hamil.
Keduanya pun sudah siap dan berdiri di depan kamar Cici. Terlihat gadis yang tadinya berteriak itu kini sedang berbaring sambil menutup matanya. Riani dan Aluna mengira Cici sedang tertidur.
Lalu pandangan mereka tertuju pada tubuh Cici yang terlihat lebih gemuk dari biasanya dan juga di sana ada begitu banyak makanan serta buah-buahan segar.
"Kok si Cici gemukan ya tinggal di rumah sakit jiwa?" tanya Aluna bingung dan Riani hanya menggelengkan kepalanya dengan perlahan.
Beberapa saat kemudian terdengar suara isak tangis Cici dari dalam. Ia menyampingkan badannya menghadap ke dinding sehingga ia tidak melihat keberadaan dua mantan sahabatnya itu. Ah lebih tepatnya Aluna adalah sahabatnya sedangkan Riani adalah rivalnya.
Aluna dan Riani jadi tertarik mendengar curhatan Cici pada dirinya sendiri. Kata 'kamu' yang membuat langkah Cici terhenti untuk melanjutkan kuliah ke Korea itu membuat mereka penasaran dengan siapa yang dimaksud oleh Cici.
"Kenapa sih kamu harus hadir di dalam perutku dan kenapa bukan Frey yang menjadi ayahmu? Aku tidak suka Keenan? Kenapa harus Keenan?"
Duaaarrr ...
Aluna dan Riani terkejut bukan main mendengar ucapan Cici tersebut. Mereka tentu langsung paham kemana arah pembicaraan Cici. Keduanya sama sekali tidak menyangka dan tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan Cici hingga akhirnya dia hamil dan itu adalah anak dari Keenan.
Frey pasti tahu sesuatu, gumam Aluna dalam hati.
Baru saja keduanya akan pergi tetapi Cici langsung membalikkan badannya dan sepertinya ia mengenali dua sosok tersebut dari tatapannya kepada mereka. Riani gugp bukan main sedangkan Aluna terlihat menatap sendu pada Cici. Ia tidak menyangka mantan sahabatnya itu akan mengalami hal yang begitu buruk.
Mungkin karena hormon kehamilannya atau mungkin karena perasaannya selama bersahabat dengan Cici itu murni, Aluna merasa begitu kasihan kepala Cici yang tengah mengandung namun ia harus tinggal di rumah sakit jiwa dan Aluna yakin sekali jika Keenan pasti tidak bertanggung jawab padanya.
"Hei kalian berdua! Sini deh! Coba tengok gue lagi hamil tapi anak ini bukan anak dari cowok yang gue sukai," panggil Cici yang terlihat bangun dari tidurnya.
Riani menggenggam tangan Aluna. Gadis yang biasanya selalu sok berani itu terlihat ketakutan.
"Luna, versi dia gila kayaknya lebih menakutkan daripada versi dia waktu masih waras deh," bisik Riani yang membuat Aluna bingung entah harus tertawa atau bersedih.
Cici pun berjalan ke arah pintu sedangkan Riani dan Aluna memundurkan langkah mereka.
"Jangan jauh-jauh, sini dekat-dekat aja Gue cuma mau pamer nih gue lagi hamil. Pengennya sih gue hamil anaknya si Frey — cowok tampan di sekolah. Tapi sayangnya gue malah hamil anak si bajingan Keenan!" Ucap Cici lagi sambil mengangkat bajunya dan memperlihatkan perutnya yang mulai terlihat sedikit membuncit.
Aluna menutup matanya, ia merasa iba dan juga kesal pada Cici. Sudah hamil dan menjadi gila saja masih menginginkan suaminya. Dan entah bagaimana jika seandainya Cici tidak dirawat di rumah sakit jiwa, mungkin saja akan nyasar pada Frey.
"Gue itu suka sama si Frey, tapi sialnya sahabat gue si Aluna itu malah nikah sama dia. Jahat hiks ... Frey Itu milik gue! Milik gue!" teriak Cici histeris kemudian ia menangis lalu tertawa terbahak.
Aluna adalah orang yang sangat sensitif jika miliknya disebut oleh orang lain sebagai milik mereka. Tangan Aluna terkepal, rasanya ia ingin menghajar Cici namun karena mengetahui Cici sedang hamil dan juga sedang tidak waras Aluna pun hanya bisa memendam kekesalannya.
"Riani ayo kita balik, gue udah nggak tahan di sini. Males banget lihat Cici nyebut-nyebut suami gue sebagai miliknya," ajak Aluna dan Riani pun langsung mengiyakan karena sedari tadi ia menahan rasa takutnya melihat penampakan Cici yang menurutnya jauh lebih menyeramkan dari sebelumnya.
"Hay tunggu! Kenapa kalian pergi? Apakah kalian ingin membawakan Frey untukku?" teriak Cici ketika melihat Aluna dan Riani berlari meninggalkan tempatnya.
Ketika mereka sudah cukup jauh dari tempat Cici, keduanya pun mulai berhenti berlari dan Riani langsung mengecek kondisi Aluna. Sahabatnya itu saat ini tengah hamil dan tidak baik berlari-larian seperti tadi.
Dan untung saja tidak ada yang Aluna keluhkan mislanya perutnya sakit, itu karena kata dokter kandungannya sangat kuat. Keduanya pun memutuskan untuk pergi ke cafe milik Frey yang berada di dekat kampus karena Aluna ingin memata-matai suaminya itu.
"Kalau makan gratis sih ayo. Dan gue berharap semoga di sana kita bisa ketemu sama si calon pelakor itu, biar gue jambak rambutnya. 'Kan kata lu dia rekanbisnis si Frey dan mereka lagi mau membuka cafe di dekat kampus. Hari ini 'kan pembukaannya? Yuk kita ke sana, gue udah nggak sabar."