GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Riswan


Meskipun menolak percaya nyatanya air mata Nurul tak bisa ia bendung. Kisah yang cukup tragis dan membuatnya merinding. Ia tidak akan mampu jika berada di posisi itu dan ia juga berharap Alvaro yang diam-diam mulai ia simpan di hatinya itu memiliki tabiat buruk seperti itu.


Tidak!


Alvaro yang ia kenal tidak seperti itu.


Alvaro yang ia kenal adalah cowok jenaka yang suka menggombalinya dengan gombalan receh yang sayangnya itu sangat ia sukai.


Tapi Flora?


Dinda?


Dan semua bukti ini tidak mungkin hanya sebuah karangan cerita dari Flora hanya agar dirinya tidak menyukai Alvaro.


Hati Nurul menjerit. Ia menolak percaya tapi ia juga tidak bisa abai dengan ini semua. Mungkinkah Alvaronya palsu?


Mungkinkah ia juga merupakan gadis taruhan Alvaro? Atau mungkin Alvaro sudah berubah dan jatuh cinta padanya dengan tulus.


Nurul bimbang.


Tanda tanya besar menyelimuti benak Nurul. Ia takut jika benar seperti cerita Flora dan ia juga takut jika Alvaro tulus padanya namun ia tidak percaya.


"Sebenarnya ini semua alasan gue kenapa gue ngelarang lu dekat sama Alvaro. Gue nggak mau lu ngalamin hal seperti Dinda. Gue nggak mau!"


Suara Flora membuyarkan lamunan Nurul.


"Dulu, gue sempat bingung. Waktu Alvaro ngedeketin lu sebenarnya gue punya rencana gila. Gue pingin lu bantu gue buat balasin sakit hati Dinda karena gue lihat lu selalu nolak dia. Gue pikir lewat lu, Alvaro bakalan ngerasain yang namanya ditolak. Sakit hati dan patah hati. Tapi--"


"Tapi apa Flor?" tanya Nurul yang mulai menguasai dirinya.


"Tapi ketakutan gue akan kehilangan Dinda itu sama takutnya gue akan kehilangan lu. Gue takut lu hanya salah satu mainan Alvaro. Gue nggak mau lu jadi kayak Dinda. Cukup gue kehilangan Dinda, lu jangan. Lu sama kayak Dinda, kalian dari panti asuhan dan jika terjadi apa-apa, kalian nggak akan bisa melawan karena nggak ada kekuatan apapun yang mendukung kalian. Alvaro itu penguasa. Dengan kekuasaan keluarganya, memutarbalikkan fakta pun mereka mampu," jawab Flora yang membuat Nurul tertegun.


Flora, makasih lu udah sayang banget sama gue.


"Gue harap lu nggak main hati sama Alvaro. Gue harap lu masih Nurul yang nolak Alvaro. Lu dengerin gue Nur, gue nggak mau lu sakit hati dan berakhir kayak Dinda," ucap Flora sambil menggenggam tangan Nurul.


"Lu tenang aja Flor, gue bahkan sampai detik ini belum punya jawaban untuk Alvaro. Gue nggak mikir ke arah sana. Gue belum jatuh cinta ke Alvaro."


Tapi mungkin gue udah mulai suka sama dia. Kedepannya mungkin gue udah jatuh cinta. Sorry Flor.


Nurul hanya bisa menggumamkan perasaannya dalam hati. Ia tidak mau Flora kecewa padanya karena mulai bermain hati pada Alvaro.


"Gue harap lu bisa megang kata-kata lu. Gue hanya takut. Lu kemakan gombalan Alvaro. Gue tahu pasti sulit banget buat nggak tertarik sama Alvaro. Seorang Alvaro Genta Prayoga, siapalah yang nggak tertarik jika cowok itu mendekati. Tapi gue harap lu nggak."


"Iyeee. Sekarang gue mau sholat dulu. Lu tenang aja, setelah semua yang lu ceritain ini, apa masih ada cela buat gue suka sama Alvaro?" tanya Nurul. Ia ingin menyudahi percakapannya dengan Flora karena pada kenyataannya, hatinya menolak percaya akan hal yang dialami Dinda. Alvaronya tidak seperti itu.


Flora tersenyum. "Ya udah, lu sholat aja. Nanti kita gantian," jawab Flora.


Sorry Flor, karena ternyata cela itu masih terbuka lebar.


......................


Riswan menatap Nurul yang sedang serius melayani pembeli. Sudah lama ia memendam perasaannya kepada gadis imut ini namun ia tidak berani menyuarakannya. Bukan takut ditolak, ia hanya tidak ingin ada suasana canggung jika nantinya Nurul tidak membalas perasaannya. Biarlah ia menjalani cinta sendiri. Jika nanti sudah waktunya, maka ia akan mengutarakan cintanya.


"Ditatap mulu, emang lewat tatapan Nurul bisa tahu gitu kalau lu suka sama dia?" ledek Tina.


"Apaan sih lu, Na. Mata-mata gue kok lu yang sewot. Heran deh," gerutu Riswan.


"Lu mau sampai kapan nahan perasaan lu. Emang lu nggak pengen gitu jadian sama Nurul? Kalau diambil orang, lu bisa patah hati. Sakit nggak berdarah tuh nggak enak lho," imbuh Tina lagi.


"Berisik lu. Kerja gih, nggak usah gangguin gue. Ntar gue bilangin sama Sofyan kalau lu gombalin gue," ancam Riswan.


"Lah dia ngancem gue. Pakai bawa-bawa cowok gue lagi. Tapi nih ya gue kasih tahu lu, jangan lu tunda deh. Dengerin kata gue, lu bakalan nyesal kalau sampai lu terlambat ngomong. Urusan lu ditolak atau enggak itu urusan belakang karena setidaknya lu udah utarakan perasaan lu ke dia. Jangan sampai lu nyesal. Jangan menunda," nasihat Tina sebelum ia kembali ke pekerjaannya.


Riswan terdiam. Dalam hati ia membenarkan ucapan Tina.


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore yang menandakan waktu bekerja Nurul dan kawan-kawannya sudah usai dan akan bergantian dengan yang lainnya. Beberapa diantaranya sudah datang.


Nurul yang baru saja melangkah keluar langsung dicegat oleh Riswan. Cowok itu nampak gugup.


"Ada apa, Kak?" tanya Nurul.


"Boleh ngomong bentar?" tanya Riswan.


"Boleh Kak," jawab Nurul.


"Kita duduk disana yuk," ajak Riswan menunjuk bangku yang berada tak jauh dari mereka berdiri.


Nurul dan Riswan pun melangkah bersama. Jika Nurul bersikap biasa saja, berbeda dengan Riswan yang semakin gugup.


"Kak Riswan mau ngomong apa?" tanya Nurul.


Riswan berdehem pelan, ia mencoba untuk menguasai dirinya agar tidak terlihat memalukan di depan Nurul.


"Nurul, aku mau buat sebuah pengakuan. Aku harap kamu mendengarkan sampai aku selesai ngomong ya," ucap Riswan lembut.


Nurul mengangguk. Ia jadi penasaran dengan pengakuan Riswan.


"Aku minta maaf jika ini salah, tapi aku nggak tahu entah sejak kapan perasaan ini hadir dan maksa aku buat segera beritahu kamu kalau aku suka sama kamu. Aku jatuh cinta sama kamu dan aku harap kamu mau jadi kekasih aku. Tapi aku nggak bakalan maksa kamu buat nerima aku. Aku hanya ingin mengutarakan perasaanku saja. Ditolak nggak apa-apa, diterima Alhamdulillah."


Nurul terkejut, ia menjadi salah tingkah sendiri karena ternyata pengakuan ini adalah pengakuan cinta. Jujur saja ia tersanjung dengan cara Riswan mengungkapkan perasaannya.


"Kak, maaf bukan maksud Nurul nolak. Tapi ... sebenarnya sebentar lagi Nurul udah nggak disini lagi," lirih Nurul yang teringat akan kepindahannya yang tinggal menghitung hari.


"Maksudnya?"


"Nurul sebenarnya bingung mau cerita ini--"


"Kamu ceritain ke aku. 'Kan biasanya kamu suka berbagi ke aku. Aku siap mendengarkan," potong Riswan.


"Kak, aku emang udah lama pingin cerita ini. Aku butuh seseorang yang bisa mendengarkan. Kak, panti kami akan digusur dalam beberapa hari ini. Sebagai gantinya, kami diberi uang untuk mencari tempat baru. Sebentar lagi kami akan pindah jauh dari tempat ini. Adik-adik panti yang bersekolah semuanya sudah diurus surat pindahnya dan kami hanya menunggu hari wisuda Nurul dan setelah itu kami akan pindah. Nurul sebenarnya nggak mau, Kak. Tapi Nurul nggak mungkin melawan orang-orang berkuasa. Siapalah Nurul ini.


"Panti itu sangat berharga buat Nurul, Kak. Kenangan masa kecil kami ada disana dan mereka dengan teganya menghancurkan itu semua. Nurul juga kasihan sama ibu, panti itu satu-satunya tempat yang menyimpan banyak kenangan bersama Ayah dan mereka dengan tega merampasnya. Hiksss ... maaf ya Kak, Nurul cengeng tapi hati ini benar-benar sakit, Kak."


Riswan meraih Nurul dan memeluknya. Memberikan kekuatan untuk gadis yang ia cintai.


"Kenapa nggak pernah cerita ke aku? Kenapa masalah sebesar ini dipendam sendiri? Tapi sebagai yang tertua di panti kakak paham kalau kamu yang harus jadi penguat mereka. Kakak juga tahu sebenarnya kamu nggak mampu untuk itu tapi berusaha demi adik-adik kamu. Kamu harus kuat Nur, kamu bukan gadis lemah," hibur Riswan.


Riswan melupakan pernyataan cintanya tadi karena ia lebih terkejut lagi dengan cerita Nurul. Ia bahkan merutuki dirinya yang harusnya lebih tahu masalah Nurul bukannya menambah beban pikirannya dengan pernyataan cintanya.


"Kak, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud buat nolak, tapi aku bakalan pindah dari sini dan kita mungkin nggak bakalan ketemu lagi. Kak, jangan lupain Nurul ya. Jika Tuhan menakdirkan berjodoh, kita pasti akan bertemu lagi. Kakak sangat baik selama ini ke Nurul. Aku nggak bakalan lupain Kak Riswan," ucap Nurul yang masih sesenggukan.


"Kamu ngomong apa sih Nur. Siapa yang bakalan lupain kamu. Kita masih bisa komunikasi juga, 'kan? Jangan bilang kamu pindah ke tempat yang nggak ada listrik, sinyal dan susah air ya," ledek Riswan agar Nurul kembali ceria.


Nurul tertawa renyah. "Ya kali sampai segitunya Kak."


Asal bisa buat kamu tertawa, aku bahagia.


"Aku pulang duluan ya Kak, tadi ibu berpesan aku harus segera pulang karena masih ada beberapa hal yang akan kami urus," pamit Nurul.


"Mau kakak antar?" tawar Riswan.


"Nggak usah Kak, Nurul hanya ingin menikmati sisa-sisa waktu disini. Mau menyapa warga yang sudah akrab dengan Nurul dan berpamitan pada mereka juga," tolak Nurul dengan alasan yang memang sesungguhnya.


Riswan paham dan tak memaksa. Ia pun berpamitan lebih dulu. Setelah Riswan pergi dengan motornya, Nurul pun bergegas pulang.


"Jadi lu nolak gue selama ini karena lu udah punya pacar?"