GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Hari Terakhir Ujian


Usai dibuat ternistakan oleh Frey, Cici semakin dendam kepada Aluna. Ia sangat lucu, harusnya ia membenci Frey karena selalu saja membuatnya sakit hati, akan tetapi yang terjadi justru baginya semua ini karena Aluna. Jika saja Aluna bukan siapa-siapa Frey, Cici yakin Frey pasti akan jadi miliknya. Belum lagi dengan mulut nyinyir Riani, Cici semakin dibuat frustrasi.


Dan terlambat, Cici bahkan sudah tidak bisa memperbaiki jawabannya karena pikirannya sudah buntu dan dipenuhi dengan dendam. Padahal ini adalah ujian kelulusan, ia tidak lagi peduli karena baginya yang saat ini harus ia lakukan adalah menghancurkan Aluna, itu lebih menyenangkan dibandingkan nilai ujiannya yang sempurna.


Setelah ujian di mata pelajaran pertama selesai, para siswa-siswi berhamburan keluar kelas untuk istirahat sejenak sebelum ujian mata pelajaran kedua dimulai. Dan lagi, kembali Aluna dan Frey menjadi pusat perhatian karena mereka tidak lagi menyembunyikan hubungan mereka dan bahkan terang-terangan mempertontonkan bagaimana mereka begitu mesra.


"Gue merasa jadi setannya," sindir Riani yang mengikuti pasangan tersebut berjalan ke arah perpustakaan.


Aluna dan Frey hanya tertawa kecil. Keduanya dengan kompak mengatakan, "Kita nggak minta diikutin sama lu!"


Mulut Riani menganga, kesal sudah pasti. Ia sebagai pembela garis terdepan pasangan ini justru dibuat nyesek dengan perkataan mereka tersebut. Dalam hati ia terus menggumamkan kata sabar agar dirinya tetap waras sampai ujian sekolah berakhir.


"Nggak masalah deh, asalkan tiap hari dapat contekan dari Frey, gue ikhlas," ucap Riani dengan bangganya dan Frey hanya bisa mencebikkan bibirnya saja.


Mereka bertiga beristirahat di perpustakaan, dengan bekal yang dibawakan langsung oleh Leon sebagai pesanan dari Aluna. Dan seperti biasa, Leon yang akan menyuapi Aluna dengan Frey yang terus-menerus memasang tampang masam dan tatapan tajam pada Leon.


Sedangkan Riani menganga tak percaya, kembali ia dibuat terkejut oleh pasangan ini. Ia tidak mengerti saja bagaimana bisa Aluna makan dari suapan Leon di hadapan Frey. Dan oh, oh, Frey tak ada tanda-tanda akan mengamuk.


"Ini gue yang lagi bego atau emang kalian bertiga menjalin cinta segitiga?" tanya Riani sambil mengedip-kedipkan kedua matanya.


"Diam!" sentak Frey dan Leon bersamaan dan Riani langsung membungkam mulutnya.


Lebih baik gue makan aja, mumpung gratis! gumam Riani dalam hati.


Aluna sendiri sangat menikmati perlakuan manis Leon terhadapnya, ia sambil membaca buku dan tanpa rasa berdosa pada sang suami, ia terus meminta Leon untuk terus menyuapinya.


Hari-hari gue jadi nggak menyenangkan banget selama Aluna hamil. Gue merasa mati tertusuk dengan tatapan Frey. Semoga anak ini nggak bakalan nyusahin gue sampai seumur hidup!


Leon meradang, ia hanya bisa mengeluh dalam hati karena jika ia mengeluh maka Frey pasti akan memberikan hukuman padanya serta beribu ancaman yang membuat nyalinya ciut.


Setelah makanan habis, Leon berpamitan untuk pulang. Dan karena mereka libur sekolah sebab ujian kelas dua belas sedang berlangsung, Leon sangat fokus pada restoran dan kafe milik Frey. Ia sangat senang mengelolanya dan bisa menyalurkan hobinya memasak.


Riani berpamitan lebih dulu ke kelas, ia begitu tak sabaran ingin mengejek Cici karena tadi ia yakin sekali gadis itu juga ikutan menyontek jawaban dari Frey. Riani masih ingat wajah syok Cici yang ia yakini pasti sedang merasa frustrasi karena merasa dicurangi oleh Frey.


"Nyonya Aluna Griffin, kau akan mendapatkan hukumanmu di rumah sepulang sekolah. Bersiaplah!" bisik Frey di telinga Aluna hingga membuat bumil itu melenan salivanya dengan susah payah.


Habislah gue, Frey pasti akan kurung gue di kamar. Ck!


....


Hari ini adalah hari terakhir kelas dua belas melangsungkan ujian kelulusan, mereka sudah tidak sabar untuk masuk ke mata pelajaran terakhir dan saat sedang menunggu kedatangan guru mereka, Cici maju ke depan kelas dan meminta seluruh teman sekelasnya untuk mengalihkan atensi padanya.


"Perhatian semua!" teriak Cici. "Hari ini adalah hari terakhir kita ujian sekolah dan gue juga mau bilang kalau hari ini tuh gue ultah. Kalian pasti tahu lah kalau gue ulang tahun hari ini. So, gue mau ngundang kalian semua ke pesta ulang tahun gue. Tempatnya di rumah gue aja, sekalian kita acara perpisahan karena setelah ini kita udah nggak sekolah lagi karena tinggal nunggu acara perpisahan sekolah dan pengumuman kelulusan," ucap Cici mengumumkan undangan ulang tahunnya.


Hampir semua dari mereka bersorak akan datang, terkecuali Aluna, Frey dan Riani yang hanya mendengar saja tanpa memberikan tanggapan.


Cici tersenyum penuh arti, ia kemudian melanjutkan lagi ucapannya. "Kalian bertiga juga wajib datang. Oh ya, sorry buat semuanya ya, Lun. Gue tahu gue bukan sahabat yang baik buat lu, tapi lu juga bukan sahabat yang sebaik itu sama gue karena lu turut nyembunyiin rahasia ini dari gue, padahal udah sejak SMP kita sahabatan ..."


Cici kemudian melangkah mendekati Aluna, ia berdiri di samping wanita yang sedang hamil itu sambil menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Lun, gue kangen kebersamaan kita. Lu mau 'kan maafin semua sikap buruk gue ke elu? Gue mau sebelum gue berangkat ke luar negeri, hubungan kita udah baik-baik aja. Hikss ..."


Cici menundukkan pandangannya, ia tidak berani menatap Aluna dan Aluna sendiri sebenanrya sangat ingin memeluk Cici, akan tetapi Frey tidak mengizinkannya karena pria yang menjadi suaminya itu baru saja menggelengkan kepalanya dan menahan tangan Aluna.


Awalnya Aluna hendak marah, akan tetapi Frey yang memperlihatkan wajah garangnya membuat Aluna menjadi ciut dan hanya bisa menuruti saja keinginan suaminya daripada ia harus mendapat hukuman tambahan jika tidak patuh.


"Gue udah maafin lu kok, Ci," ucap Aluna yang hanya bisa menggenggam tangan Cici dengan sebelah tangannya yang tidak dipegang oleh Frey. "Gue juga pasti datang ke acara ulang tahun lu. Oh ya, jadi lu beneran bakalan lanjutin kuliah lu di luar negeri?" tanya Aluna dengan antusias.


Cici mengangkat wajahnya sambil menyeka air matanya. Ia tersenyum manis dan mengangguk. "Iya, gue rencananya bakalan kuliah di luar negeri. Besok gue bakalan urus paspor dan gue bakalan kuliah di Seoul National University. Dan lu tahu artinya,'kan? Gue bakalan ke negara Bangtan, Lun. Gue bakalan usahain buat ketemu sama member BTS. Lu jangan iri ya," ucap Cici lagi dengan begitu bahagianya.


Aluna melongo, ia sejujurnya sangat ingin kuliah disana sambil mencari keberadaan tujuh pria tampan itu, namun sayang itu semua tidak akan terjadi mengingat status dan kondisinya saat ini.


Frey menelan salivanya susah payah saat sorot mata Aluna tertuju padanya. Ingin sekali Frey mengutuk atau mencekik leher Cici yang sudah berani menyebutkan kata sakral yang membuat Frey tidak bisa apa-apa.


Sial! Nih Cici kayaknya butuh dikasih pelajaran. Susah payah gue bikin Aluna lupa sama keinginannya itu dan sekarang dia dengan gampangnya bikin Aluna natap horror ke gue karena pasti lagi pengen ke Korea. Duh sialan! Bisa bahaya kalau nggak dipenuhi, masa anak gue nanti ileran. Tapi ini nggak wajar juga!!