GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Hal Tak Terduga


Axelle masuk ke ruang rawat sang grandma sambil senyam-senyum membayangkan kebersamaannya dengan Nurul. Melihat kemajuan hubungan mereka dan Nurul yang sudah mau membuka diri, ia berniat menyampaikan kepada seluruh keluarganya agar mereka segera melamar Nurul. Ia tidak ingin lagi menunda karena menunda sesuatu yang baik itu tidak baik. Axelle khawatir jika nanti Nurul berubah pikiran dan kembali menolaknya. Axelle harus bergerak cepat, jangan sampai Nurul menjauh atau parahnya jangan sampai ia ditikung seseorang.


Mata seluruh anggota keluarga tertuju pada Axelle yang baru masuk. Mereka semua terutama Madava menatap sinis padanya namun senyuman seperti seseorang tengah mengejek ia berikan pada Axelle.


"Lho, grandma belum tidur?" tanya Axelle yang langsung duduk di kursi yang ada di samping ranjang grandma-nya.


Wanita tua itu mengangguk, ia tersenyum lembut pada Axelle, "Kamu kenapa lama sekali?" tanya grandma.


Axelle terkekeh, "Grandma seperti tidak pernah muda saja. Axelle tadi mengantar Nurul tapi mengajaknya jalan-jalan dulu juga mengajaknya makan dulu sebelum pulang. Oh ya, grandma dapat salam dari om Deen," jawab Axelle.


Bibir tua itu tersenyum, "Apa kau benar-benar mencintainya?"


Axelle mengangguk mantap, namun bukan tatapan kagum yang ia dapatkan namun justru tatapan penuh kegetiran dari sorot mata sang nenek.


Seluruh keluarganya mendekat, grandma menggeleng namun Madava yang tidak bisa diajak kompromi pun membuka suara.


"Kak, kau tahu tidak grandma masuk rumah sakit karena ulahmu sendiri!" ucap Madava yang sudah tidak sabar menjatuhkan Axelle.


Axelle terkejut mendengar ucapan Madava. Mana mungkin ia penyebabnya sedangkan ia berada di Jakarta saat sang nenek masuk rumah sakit. Madava pasti mengada-ada dan hanya ingin menjatuhkannya di depan seluruh keluarga.


"Kau bersikap sopanlah sedikit, dia itu kakakmu," tegur ayah Axelle.


Madava membuang muka, ia tidak suka pembelaan omnya terhadap Axelle.


Kini Axelle menatap grandma untuk mencari jawaban namun wanita tua yang ia sayangi itu juga sama, membuang muka. Axelle jadi bingung juga menerka-nerka apa gerangan sehingga ia yang menjadi penyebab sang grandma masuk rumah sakit.


Dari sorot mata grandma-nya itu Axelle bisa melihat jika memang dialah penyebabnya tapi entah bagaimana bisa.


"Daniyal Axelle Farezta, bagaimana bisa kau membuat kami malu?" tanya mommy-nya yang kali ini angkat bicara. Grandma ini adalah ibu mertuanya yang sangat ia sayangi jadi ia yang berinisiatif untuk membahasnya dengan sang anak.


Axelle beralih menatap mommy-nya yang berada di samping ayahnya--yang berada di depannya bersama seluruh keluarganya. Hanya ia satu-satunya yang berada di sisi kanan brankar grandma.


"Bisa jelaskan padaku sebenarnya ada apa? Jangan berbicara sepotong-sepotong dan membuatku menerka-nerka. Kalian semua itu berpendidikan tinggi jadi tolong berbahasa lah dengan baik," tekan Axelle yang mulai kesal.


"Bagaimana bisa, bagaimana bisa kau mau menjadikan wanita beranak satu tanpa menikah itu sebagai calon nyonya Farezta, Axelle?" tanya ayahnya dengan penuh penekanan.


Axelle terkejut--sangat terkejut mendengar pertanyaan ayahnya. Ia tahu masalah ini cepat atau lambat akan muncul tapi Axelle berharap dirinya lah yang akan mengatakan pada keluarganya, bukan mereka yang tahu dari orang lain atau mencari tahu sendiri.


Axelle bahkan tidak melihat lagi wajah bahagia mereka saat pertama kali ia mengenalkan Nurul pada mereka. Jawaban atas pertanyaan Axelle mengapa semua anggota keluarganya tidak ada yang menyapa Nurul tadi pun kini sudah ia dapatkan.


"Apakah tidak ada wanita lain yang bisa kau jadikan istri, Axelle? Dia memang anak Deen Emrick tapi bukan berarti semua aibnya itu bisa ditutupi dengan status orang tuanya. Kita ini keluarga besar dan nomor satu di negara ini, kehidupan kita menjadi sorotan dan kau malah mau membuat skandal. Kami tidak setuju kau menikahinya!" tegas om Suseno, ayah Madava.


Axelle langsung berdiri mendengar ucapan pamannya yang tegas dan tidak ingin dibantah. Ia tidak suka dan ini masalah hati, tidak bisa ia biarkan siapapun mengatur perasaannya.


Axelle tertawa sumbang, ia menatap satu per satu anggota keluarganya. Semuanya menatap kesal padanya bahkan grandma-nya pun enggan menatapnya. Ia sadar semua keluarganya tidak ada yang merestui hubungannya.


"Jadi kalian tidak mau aku bersama Nurul karena dia memiliki anak diluar nikah?" tanya Axelle, kali ini suaranya terdengar begitu dingin. Aura yang keluar dari tubuhnya itu mampu membuat mereka yang berada di dalam ruangan bergidik ngeri. Tak ada yang berani menjawab ucapannya kecuali Madava.


"Kak, silahkan kau cari wanita lain. Di luar sana banyak dan kau bebas memilih tapi harus sesuai standar keluarga Farezta. Kenapa seleramu turun drastis. Apa kau sudah mendapat DP darinya makanya kau memilihnya?" tuding Madava, ia sengaja membuat Axelle semakin marah.


Tangan Axelle terkepal kuat, ia hendak maju untuk memukul Madava tapi dihalangi oleh ayahnya. "Kau mau memukul adikmu demi wanita murahan itu? Atau jangan-jangan yang diucapkan Madava itu benar makanya kau rela memukul adikmu karena dia. Kau boleh bersenang-senang dengannya tapi tidak untuk menikahinya. Tidak ada restu untuk kalian dan kau, jangan harap bisa menikah dengannya!" tegas ayahnya yang semakin membuat Axelle geram.


"Ini adalah hidupku dan aku yang menjalani. Siapapun pilihanku itu adalah hakku, kalian semua tidak berhak mengaturku. Dari semua yang kalian katakan wanita terbaik aku tidak memilihnya karena aku tidak tertarik. Aku hanya mau dia dan akan menikahinya baik ada atau tanpa restu kalian. Aku tidak peduli karena aku hanya mau dia," tegas Axelle, ia harus mengatakan ini karena ia tidak mau disetir lagi oleh keluarganya apalagi ini adalah masalah hati.


Suara tangis grandma Delila terdengar di dalam ruangan tersebut. Semua atensi teralih padanya dan Axelle yang tadi begitu berang kini segera menenangkan diri lalu mendekati sang nenek.


"Lihat sendiri, ucapanmu itu sangat melukai grandma. Sadar tidak!" sentak Madava.


Axelle tidak peduli, ia duduk sambil menggenggam tangan keriput wanita tua itu. Ia sibuk mengucapkan kata maaf sedangkan sang nenek masih terus terisak-isak.


"Maaf grandma," lirih Axelle. Ia kecupi berulang kali punggung tangan yang sudah keriput itu.


Grandma menghapus air matanya kemudian ia balas menggenggam tangan Axelle. Mata beningnya itu menatap Axelle dengan lekat, "Cucu grandma apa sudah jatuh cinta sejauh itu padanya?" tanya grandma Delila dengan suara serak.


Axelle mengangguk mantap, ia tidak takut kembali bertengkar dengan keluarganya, ini masalah hati tidak bisa ditoleransi.


"Lalu bagaimana dengan grandma, apa kau juga sayang pada grandma?" tanya grandma lagi.


Axelle mengangguk lagi. Ia sudah feeling ucapan selanjutnya akan sangat menyakitkan. Axelle menghela napas frustrasi.


"Lalu diantara kami berdua, siapa yang akan kau pilih Nak?"


Axelle tertawa sumbang, "Pertanyaan macam apa ini? Kalian tentu dua orang yang aku sayang tapi dalam konteks yang berbeda. Jangan katakan kalau grandma juga tidak merestui cintaku pada Nurul." Axelle mengusap wajahnya dengan kasar, ia benar-benar frustrasi saat ini apalagi melihat grandma langsung memalingkan wajahnya.


Genggaman tangan itu terlepas dan Axelle berdiri lalu berjalan ke arah dinding. Dengan sekuat tenaga ia meninju dinding itu hingga tangannya memerah. Ia berteriak frustrasi namun tidak bisa melampiaskan kekesalannya pada sang nenek yang paling ia sayangi.


"Kamu kenapa keras kepala sekali, kamu nggak mikir ini bukan hanya tentang kamu dan aku. Ini tentang kesepakatan dan persetujuan dari dua keluarga. Kalau keluarga kamu nggak bisa menerima maka nggak akan bisa bersama dan kamu nggak mikirin gimana perasaan keluarga aku kalau sampai kembali malu saat semua yang diperjuangkan terhalang restu. Aku nggak bisa Axelle, aku takut memulai sesuatu yang baru apalagi itu bersamamu, pria yang nyaris sempurna. Kamu nggak memiliki celah apapun sebagai kelemahanmu dan dengan kamu masukin aku ke dalam hidupmu, maka kamu dengan sengaja membawa masalah yang akan membuatmu lemah nantinya. Aku nggak bisa, aku benar-benar takut Axelle. Kamu terlalu sempurna untuk aku!"


Ucapan Nurul kembali terngiang dan sialnya ucapan yang ia bantah dengan keras kepalanya itu kini terbukti.


Hubungan yang baru saja akan ia bina kini terhalang restu.


"Aku, ada atau tanpa restu akan tetap memilih dia. Dari semuanya, aku menjatuhkan hatiku padanya. Dan kalian, tidak ada yang bisa menghalangiku. Aku memilihnya!" tegas Axelle kemudian ia keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan kesal, sedih dan juga geram.