GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Bukan Aku


...Semenjak gue mengenal cinta, gue hanya tahu cinta itu Alvaro. Gue nggak tahu ada yang lain selain dia, tapi satu hal yang gue tahu, hati ini cuma mau dia seorang. Gue cuma mau Alvaro, meskipun dunia menolak tapi hati dan cinta ini sudah dikunci untuknya. Alvaro gue cinta sama lu ~ Nurul Aina...


...****************...


Alvaro menghubungi Billy untuk memastikan perkataan Ikram tadi. Bagaimana bisa mereka memasukkan wanita gila itu di perusahaannya–menjadi sekretaris pula. Akan jadi seperti apa hari yang akan Alvaro lalui di kantor jika wanita gila itu terus bersamanya.


"Dia kandidat terkuat dari semua pendaftar, tuan. Kami memilihnya karena secara objektif dan latar belakang pendidikannya juga tidak di ragukan lagi. Dia juga lulusan di universitas yang sama juga fakultas yang sama dengan anda, tuan. Mungkin saja anda mengenalnya."


Alvaro meremas ponselnya mendengar jawaban Billy. Ia tahu Clarinta memang cerdas, wajar jika ia diterima bekerja. Tapi masa harus dia juga, seperti tidak ada orang lain saja, pikir Alvaro.


Alvaro mematikan ponselnya kemudian ia duduk bersandar di sofa. Hatinya kembali berdebar-debar karena ia akan segera bertemu dengan Nurul. Sudah lama sekali rindunya ini bersarang dan menggerogoti hatinya, ia ingin melepas rindunya pada Nurul walaupun harus memaksa keadaan.


"Meskipun ternyata lu sudah dimiliki orang lain, gue nggak peduli. Gue bakalan datang dan meluk lu sampai hati ini puas. Terserah lu mau marah ke gue atau enggak, gue nggak peduli! Toh gue udah sering memaksakan kehendak gue ke elu. Kalau pun kali ini gue harus membawa lu pergi gue pasti siap. Sekali lu ngomong kalau lu cinta ke gue, seluruh dunia pun bakalan gue lawan. Cuma lu satu cinta di hati gue!" Alvaro sudah membulatkan tekadnya, apapun yang terjadi ia akan tetap memaksakan kehendak.


Jika saja Nurul sudah bahagia dengan pria lain tetapi ternyata pernah cinta sama dia, maka Alvaro akan membawa Nurul pergi tanpa peduli jika wanita itu sudah menikah dan apapun tanggapan suaminya. Pria ini sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya karena rindu yang terus menggerogoti hati dan jiwanya. Alvaro merana.


Tak jauh berbeda dengan wanita yang sedang ia rindukan, wanita itu pun juga kini tengah memikirkannya. Merindukannya setiap saat dan mencintainya setiap waktu. Tiada hari tanpa merindu dan mencinta walau hati terasa sakit dan hidupnya hancur tetapi cinta itu tidak pernah padam dan justru malah semakin hari semakin bertumbuh. Apalagi setelah ia tahu sang pria pernah datang mencarinya, rasanya ia ingin segera terbang ke pelukan Alvaro dan mendekapnya erat, menyalurkan rasa rindu yang teramat sangat ini pada sang pemilik hati.


Ia menatap lekat wajah anaknya yang selalu bisa mengobati sedikit rasa rindunya. Ia berharap kelak Alvaro akan menerima Aluna sebab Nurul sudah berkhayal memiliki keluarga kecil yang bahagia. Dimana ia akan menyiapkan segala keperluan Alvaro dan Aluna, lalu ia akan mengantar Alvaro hingga ke teras rumah sebelum berangkat kerja, memasak untuk makan malam dan bersiap menyambut Alvaro pulang dan memberikannya kecupan dan pelukan hangat. 


Nurul sudah berkhayal sejauh itu. Hidup bahagia dengan pria yang ia cintai, menebus semua waktu yang mereka lalui tanpa bertemu dan menyalurkan segala rindu yang sudah menggebu ini. Hanya dengan berkhayal senyuman Nurul sudah terbit di bibirnya.


"Harapan akan selalu ada ketika kita mau berusaha. Setidaknya ketika kenyataan itu tidak sesuai dengan ekspektasi, setidaknya rasa yang selama ini terpendam di dada udah gue salurin. Gue hanya minta satu menit saja buat peluk dia, dan tolong lu jangan nolak gue untuk satu menit itu, Ro. Setelah itu gue janji nggak bakalan ganggu kebahagiaan lu lagi walaupun gue rasa itu sulit!" gumam Nurul sambil membelai wajah Aluna.


Perlahan-lahan mata Nurul mulai terpejam tetapi baru saja setengah tertidur, ponselnya sudah berbunyi nyaring yang langsung menarik Nurul ke alam sadar. Nurul mengambil ponselnya dan mendapati panggilan dari nomor yang tidak di kenal. Ia menggerutu, sudah mengganggu khayalan dan rasa kantuknya dan ternyata peneleponnya entah siapa. Ingin membiarkannya tetapi khawatir mungkin saja ini adalah panggilan penting.


"Halo," sapa Nurul.


"Ini aku. Aku menunggumu di luar, cepatlah datang!"


Nurul langsung tersentak begitu tahu siapa yang meneleponnya itu. Pria menyebalkan nan arogan itu bahkan sudah menunggunya. Nurul sangat malas untuk menemuinya tetapi ia baru ingat jika dirinya sudah setuju membantu Axelle. Dengan malas Nurul masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Ia juga tidak perlu berdandan karena yang ia temui ini bukanlah orang penting sepenting jabatan pria ini. Bagi Nurul, mulai detik ini Axelle tidak lagi ia anggap sebagai orang terpandang melainkan pengganggu ketenangannya.


Nurul keluar dan mendapati Axelle sedang duduk menunggunya di teras. Hari ini di rumah hanya ada dirinya dan Aluna serta ART mereka. Bu Dianti berada di butik, Danish masih di Sumatra dan Pak Deen berada di kantor. 


"Ada apa?" tanya Nurul sarkas, hilang sudah rasa hormat Nurul dan juga kekaguman mengingat pria ini adalah orang terkaya nomor satu di negaranya.


Axelle tersenyum miring, ia yang begitu bahagia datang ke tempat ini justru disambut dengan tidak hangat. Tapi ia menyadari jika memang wajar Nurul tidak bersikap ramah padanya mengingat tiga pertemuan mereka yang berkesan buruk.


"Malam ini kau harus ikut aku. Pekerjaanmu dimulai malam ini, usahakan jangan sampai gagal. Aku bergantung padamu Nurul Aina," ucap Axelle.


Satu-satunya pria yang pernah ia cintai dan masih ia cintai itu adalah Alvaro Genta Prayoga.


Dengan ragu Nurul menjawab, "Aku takut gagal. Aku tidak berpengalaman soal hubungan dan aku juga belum pernah sekalipun berpacaran. Aku sangsi jika nanti bisa membantumu. Yang ada mungkin aku hanya akan mempermalukanmu," ucapnya dengan jujur karena Nurul memang seperti itu, selalu apa adanya.


Axelle sedikit terkejut mendengar Nurul yang mengatakan jika dirinya tidak pernah pacaran. Ia menelisik, mencoba mencari tahu kebenarannya lewat bahasa tubuh Nurul dan ia tidak menemukan kebohongan apalagi wanita itu juga sudah menundukkan kepalanya. Ia heran saja, bagaimana mungkin wanita cantik dan bahkan sudah memiliki anak ini tidak pernah berpacaran. Apalagi dia tinggal lama di Jakarta, sangat mustahil jika tidak pernah berpacaran.


"Kau pasti memikirkan yang tidak-tidak tentangku. Aku memang tidak pernah berpacaran dan aku tidak peduli kau percaya atau tidak. Mungkin saja kau berpikir jika aku ini berbohong, mana mungkin aku tidak pernah pacaran sedangkan aku saja sudah memiliki anak tanpa suami. Jika kau tidak percaya, itu urusanmu. Aku tidak perlu membeberkan masa laluku padamu," ucap Nurul tegas.


Axelle tertegun, ia menyesal karena sempat berprasangka buruk pada Nurul. Ia bisa melihat kejujuran dari wanita yang diam-diam mulai mengambil tempat di hatinya ini. Ia juga tidak mungkin menanyakan lebih lanjut karena situasinya sudah tidak kondusif untuk membahas masa lalu yang mungkin akan membuat Nurul terluka lagi. Biarlah nanti ia menanyakan pada Danish tentang masalah ini.


"Maaf jika sikapku membuatmu tersinggung. Aku tidak bermaksud untuk itu. Aku hanya heran saja karena kau tidak mungkin tidak pernah memiliki kekasih. Tapi biarlah, itu justru lebih bagus lagi karena aku yang akan menjadi kekasih pertamamu," ucap Axelle sambil mengedipkan sebelah matanya.


Nurul menatap Axelle tajam, "Ingat kekasih kontrak lebih tepatnya," sungut Nurul.


"Axelle tertawa renyah, "Ya, ya, kekasih kontrak. Kau ini, bercanda saja tidak bisa. Dasar pemarah!" ejek Axelle.


Nurul hanya mencebikkan bibirnya, yang benar saja ia dikatakan pemarah. Yang ada justru sebaliknya. Tetapi melihat Axelle tertawa seperti itu sempat membuat Nurul terpesona sesaat. Pria ini memang sangat tampan dan berkharisma. Jika saja Nurul tidak mengingat Alvaro, mungkin saja ia akan membuka hatinya untuk pria tampan ini.


"Nah karena tadi kau bilang tidak berpengalaman dalam berpacaran, kalau begitu ayo kita belajar. Aku akan mengajarimu sampai kau pintar dan lupa jika kita hanya sebatas kekasih kontrak. Mungkin saja kau khilaf dan lupa lalu bermain hati denganku," goda Axelle yang membuat pipi Nurul merona.


"Axelle!"


"Apa sayang?" 


Mata Nurul melotot, ingin rasanya ia membungkam mulut pria ini. Berani sekali dia memanggil sayang, Nurul 'kan takut baper.


"Daniyal Axelle Farezta!" pekik Nurul, ia belum siap. Tolong jangan buat dia baper lalu menjadikannya pengecut karena kembali membenci seseorang yang membuatnya jatuh cinta.


Axelle tertawa, ternyata membuat Nurul kesal itu justru membuat hatinya merasa senang. Dalam hati ia berniat akan membuat Nurul sering kesal agar ia terus bahagia. Wajah Nurul itu sangat menggemaskan ketika sedang marah. Axelle menyukainya.


Setidaknya jika hari ini belum ada tempat untukku di hatimu, aku masih bisa berjuang untuk mendapatkannya. Jika pun pada akhirnya tidak bisa juga, setidaknya aku pernah bahagia memberikan hati padamu.


Sedangkan Nurul, ia membisikkan pada dirinya sendiri jika ia harus bisa menyelesaikan kerja sama ini agar ia bisa segera bertemu Alvaro.


Maaf Axelle, jangan bermain hati denganku karena hatiku sudah ada yang memiliki. Aku melakukan ini untuk bisa mengejar cintaku. Pertama kali aku mengenal cinta, itu adalah Alvaro. Aku hanya tahu cinta itu adalah dia. Semoga kamu bisa mendapatkan wanita yang kamu inginkan tapi bukan aku.