GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
165


Ikram menemani Tara menuju ke ruang perawatan, sedangkan Alvaro dan Nurul masih berada di depan ruang operasi karena menunggui Miranda. Alvaro sendiri meminta Nurul untuk kembali ke kamar perawatannya karena ingin sang istri beristirahat akan tetapi Nurul bersikeras untuk tetap bersama Alvaro.


"Atau jangan-jangan kau mau menunggui Miranda dan bisa bernostalgia dengannya ya? Apa kau masih terjebak di ruang nostalgia dengan mantan kekasihmu itu?" tuding Nurul yang membuat Alvaro terbengang dengan perasaan dongkol.


Yang benar saja tuduhan Nurul kali ini, sungguh menghadapi mood wanita hamil memang membuat Alvaro kadang-kadang kesal sendiri. Padahal dia yang mengidam dan tersiksa luar biasa, tetapi kenapa justru mood istrinya yang berubah-ubah seperti ini.


Betapa dua kali tersiksanya Alvaro setiap kali Nurul hamil.


Kalau kayak gini terus ya udah deh, dua aja cukup. Sekalian gue sama Ayang ikutan program keluarga berencana. Masa iya gue mulu yang ngidam. Emang sih waktu bikinnya enak, tapi nggak juga kali Nak kamu balas papi seperti ini. Huhuu ... dua anak cukup!


"Ya ampun Yang, kamu kok tega banget sih nuduh aku kayak gitu. Aku nggak ada ya niatan kayak gitu Yang. Tuduhan kamu kok nyelekit banget ya, aku tuh cuma bucin sama kamu doang lho Yang," ucap Alvaro memelas, wajahnya mengiba berharap sikapnya tersebut bisa membuat tatapan horor Nurul padanya menghilang.


Alvaro tidak mungkin meninggikan suara atau mengajak Nurul berdebat karena ia yakin istrinya itu pasti akan langsung menangis kejer. Alvaro cari aman saja dengan bersikap manis dan memelas.


Nurul mendengus, ia kemudian mengatakan jika ia akan tetap berada disini dan Alvaro pun mau tidak mau menuruti keinginan sang istri, daripada mendapat amukan. Sekalian saja ia bisa bermesraan dengan Nurul disini, bermanja-manja pada Nurul dengan mengandalkan luka memar di wajahnya agar Nurul mengelus-elus pipinya.


Tak lama kemudian, pintu ruangan kembali terbuka dan seorang dokter yang bertugas menangani Miranda pun keluar. Alvaro dengan cepat mendorong kursi roda Nurul mendekati dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan Miranda, Dok?" tanya Nurul.


Alvaro sempat ingin membuka suara akan tetapi ia bersyukur karena Nurul bertanya lebih dulu karena ia khawatir jika ia yang bertanya maka Nurul akan menuduhnya lagi sok peduli dan masih banyak lagi tuduhan tidak manusiawi dari istrinya itu.


"Mohon maaf tuan, nyonya, kami sudah berusaha semaksimal mungkin akan tetapi Tuhan berkehendak lain. Peluru tersebut menembus hingga organ vital nyonya Miranda hingga kami tidak bisa menyelamatkannya," ucap dokter tersebut membuat Alvaro dan Nurul syok.


Dokter tersebut kemudian berpamitan dan mengatakan bahwa jenazah Miranda akan diurus oleh para perawat. Alvaro dan Nurul saling bertatapan. Walaupun tidak begitu kenal dengan Miranda, nyatanya Nurul merasa begitu sedih apalagi teringat akan Kriss dan anaknya yang masih seusia Aluna.


Tak jauh berbeda dengan Nurul, Alvaro sendiri terdiam tanpa kata. Miranda adalah orang yang pernah ada di hati dan kehidupannya. Ia tidak menyangka wanita yang dulu pernah ia cintai setengah mati itu hari ini sudah berpulang.


Randa, semoga kamu tenang di alam sana.


Alvaro hanya bisa membatin, ia tidak mungkin menyakiti hati istrinya dengan menunjukkan rasa dukanya. Ia tidak ingin Nurul marah padanya. Namun justru Alvaro mendengar suara isakan tangis dari sang istri. Alvaro heran saja karena Nurul dan Miranda tidak saling mengenal satu sama lain akan tetapi istrinya itu terlihat sangat sedih.


Di belakang mereka terlihat Deen, Genta dan Frey yang sedang berjalan menghampiri keduanya sedangkan Ben sudah menuju ke ruang perawatan Tara karena ia sudah menghubungi Ikram terlebih dahulu.


Melihat Nurul yang menangis membuat dua pria dewasa itu keheranan. Frey sendiri hanya diam saja di gendongan Genta.


"Ada apa Nak?" tanya Deen khawatir.


Nurul dan Alvaro sedikit tersentak dengan kehadiran orang tua mereka. Nurul lalu menatap Frey yang ia ketahui sebagai anak Miranda dan Kriss, ia semakin mengencangkan suara tangisnya.


"Papi, berikan Frey padaku, hikss," isak Nurul.


Walaupun bingung, Genta pun menyerahkan Frey di pangkuan Nurul kemudian ia menatap Alvaro dan Alvaro pun mengatakan jika Miranda meninggal dunia.


Nurul menatap Frey kemudian ia menciumi wajah bocah tampan itu dan ia peluk erat.


Genta dan Deen sangat terkejut mendengar kabar tersebut, keduanya kemudian menatap Frey dengan tatapan iba.


"Kasihan dia, ibunya meninggal dunia dan ayahnya sekarang berada di kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya," lirih Genta.


"Tidak Pi, mulai sekarang Frey adalah tanggung jawabku karena Kriss sudah menitipkannya padaku. Aku yang akan merawatnya hingga dia tumbuh dewasa. Frey, mulai sekarang kau akan bersamaku. Panggil aku bunda ya," ucap Nurul mengesampingkan rasa dukanya.


"Kita akan membesarkannya bersama," ucap Alvaro kemudian ia mengusap rambut Frey dengan lembut.


Genta dan Deen tersenyum, terlebih Genta yang saat ini sudah memiliki sebuah rencana.


.


.


Dua hari pasca meninggalnya Miranda, Genta mengumpulkan anggota keluarganya di ruang keluarga. Disana ada Alvaro, Nurul, Yani, Aluna dan Frey. Mereka semua bertanya-tanya dengan maksud dan tujuan Genta mengumpulkan mereka.


Hanya Aluna dan Frey yang terlihat diam, oh ... oh ... lebih tepatnya Frey yang sedari tadi diam saja sedangkan titisan Alvaro itu tidak bisa diam sama sekali sejak tadi. Ia sibuk mengajak Frey bicara akan tetapi justru yang terlihat bocah tengil nan cantik itu sedang berbicara sendiri.


"Pi, kenapa papi ngumpulin kita semua disini?" tanya Alvaro.


"Ada hal penting yang ingin papi bicarakan dengan kalian semua dan papi harap kalian tidak membantah atau menyelah ucapan papi," jawab Genta.


Merasa hal ini sangat penting, mereka pun menatap Genta yang saat ini sedang mencoba mengambil sesuatu dari saku jasnya.


Genta kemudian mengeluarkan selembar foto yang selama ini selalu ia simpan di laci meja kerjanya lalu ia memperlihatkan kepada seluruh keluarganya.


"Namanya Rama, dia sahabat papi sejak pertama kali papi menggantikan kakekmu memegang perusahaan. Kami sangat dekat dan selalu saling membantu. Pernah suatu ketika kami berencana untuk menjodohkan anak kami yaitu kamu Alvaro dengan anak Rama yang tidak lain adalah Miranda," ucap Genta yang membuat kaget seluruh anggota keluarganya.


"Hah? Kok bisa?" tanya Alvaro dan Yani bersamaan.


Genta tersenyum mengangguk, "Papi sebenarnya tidak tahu jika Miranda itu anaknya Rama karena saat itu Rama meninggal dan papi tidak tahu apakah istrinya saat itu sedang mengandung atau tidak. Yang papi tahu Miranda itu anak dari Brianto Smith, adik dari Bramantyo Smith. Hingga akhirnya papi tahu semuanya. Namun papi juga tidak ingin melanjutkan perjodohan tersebut karena kamu sendiri sudah memiliki wanita pilihanmu dan baik papi maupun mami tidak ada yang setuju dengan Miranda karena sifatnya sangat jauh berbeda dengan ayahnya."


Cerita Genta tentu membuat kaget seluruh keluarganya, apalagi Alvaro yang terlalu syok dan ternyata Miranda sejak lama sudah dijodohkan dengannya akan tetapi ia bersyukur karena akhirnya ia berjodoh dengan Nurul, wanita pujaan hatinya yang tentu saja berjuta kali lebih baik dibandingkan Miranda.


Genta juga melirik ke arah Nurul, ia tahu menantunya itu cukup sedih, akan tetapi anak dari Deen Emrick ini pasti bisa bersikap bijak dalam menanggapi ceritanya.


"Nah, karena sekarang Miranda sudah tidak ada dan perjodohan itu memang mustahil untuk dilakukan, tapi demi mengenang sahabat papi, papi ingin agar janji perjodohan itu tetap dilaksanakan dan diteruskan," ucap Genta yang membuat mereka semua heran.


"Pi? Jangan gila dong. Miranda 'kan sudah tidak ada dan lagian Varo juga nggak mau ya!" tolak Alvaro.


Genta hanya tersenyum, ia kemudian menatap ke arah lain masih dengan bibirnya yang tersenyum manis. Semuanya kini mengikuti arah pandang Genta.


Alvaro yang menyadarinya langsung syok lebih dulu. "Maksud papi, Aluna sama Frey?" terka Alvaro sambil menatap tajam sang papi.


Genta tersenyum kemudian ia mencebikkan bibirnya dan mengangkat kedua bahunya. Ia kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan tersebut namun ia berhenti sejenak.


"Lagi pula mulai sekarang dia berada di bawah pengawasan dan didikan kalian. Hitung-hitung kalian menabung untuk membekali calon menantu kalian itu dengan akhlak yang mulia dan kecerdasan. Kalian bisa membentuk karakternya dengan baik. Dan ya, bukankah wajahnya sangat tampan? Dan kelihatannya Aluna juga nyaman sama dia," ucap Genta tanpa berbalik badan kemudian ia segera melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.


Alvaro semakin syok, ia kemudian melirik ke arah kedua bocah tersebut dimana Aluna sangat sibuk mengajak Frey bicara sedangkan Frey hanya menatap malas pada Aluna.


"Papii!! Ya nggak bisa dong Pi! Masa anak Varo mau dijodohin. Aluna itu cantik, dia masih kecil dan lagi pula dia juga harus merasakan yang namanya pacaran. Kalau lihat dari wajah anak Varo ya dia pasti bakalan punya banyak pacar kayak papinya. Masa iya dengan modal secantik itu harus dijodohkan! Aww--"


Alvaro meringis ketika kepalanya dipukul oleh Nurul. "Bagaimana bisa kau meramalkan masa depan Aluna dengan seburuk itu. Aku tentu tidak mau jika anak gadisku punya banyak pacar sepertimu. Kau harus ingat kalau karma itu berlaku dan aku takut karma perbuatanmu di masa lalu itu menimpa Aluna. Sudah, lebih baik dengan Frey saja agar Aluna ada yang menjaganya dari mata dan niat jahat para buaya buntung di luar sana!" ucap Nurul kesal dengan perkataan Alvaro tadi.