
Miranda mondar-mandir di dalam kamar hotelnya sambil menggenggam ponsel yang ia tempelkan ke dagunya. Semenjak mendengar percakapan Nandi di mall tadi, ia merasa tidak tenang. Alarm bahaya berbunyi di kepalanya. Memberi peringatan jika Alvaronya bisa saja lepas dari genggaman jika ia tidak buru-buru mengambil tindakan.
Cuma gue pokoknya! Nggak boleh ada yang lain antara gue dan Alvaro.
Miranda memutar otak mencoba mencari cara untuk menyelesaikan hal ini. Ia ingin mencaritahu siapa itu Nurul dan ingin mendatanginya untuk memberi peringatan. Miranda tidak sempat mendengar jika gadis itu hilang entah kemana karena setelah ia mendengar kalau Alvaro mencintai wanita lain kepalanya langsung pusing dan ia tidak bisa mendengar dengan jelas lagi percakapan mereka. Hanya nama gadis itu saja yang memenuhi otaknya.
Miranda mencoba menghubungi Alvaro namun masih sama, tidak mendapat jawaban. Panggilannya tersambung namun Alvaro tidak menjawabnya entah sengaja atau memang tidak tahu jika dirinya menelepon berkali-kali.
"Varo kemana sih? Jangan sampai dia sedang bersama dengan gadis itu. Tapi gue harus nyari dia kemana?" gumam Miranda sambil sesekali menggerutu.
Bayangan tentang Alvaro yang sedang bermesraan dengan perempuan lain membuat kepala Miranda berasap dan dadanya bergemuruh. Ia berteriak-teriak histeris mencoba mengusir bayangan buruk tersebut. Ia panik, ia tidak ingin kehilangan dan ia tidak ingin apa yang ia pikirkan benar-benar terjadi.
"Alvaro, lu kemana sih? Apa gue harus datang ke rumah lu?" gumam Miranda.
Itu adalah opsi kesekian yang akan ia pilih jika dalam beberapa waktu kedepan Alvaro belum juga memberinya kabar. Apalagi ia saat ini sedang terdesak karena besok ia harus kembali. Ia berharap hari ini Alvaro datang menjemputnya dan akan menegaskan tentang hubungan mereka pada kedua orang tua Alvaro. Ia yakin Alvaro akan datang. Ia berusaha menenangkan dirinya.
"Alvaro pasti bakalan datang. Dia udah sesetia itu sama gue dan menunggu gue pulang. Ini adalah saat yang paling dia tunggu, gue yakin dia bakalan datang."
Mendoktrin dirinya sendiri nyatanya tidak langsung membuat kecemasannya hilang. Berkurang pun hanya beberapa persen kecil saja. Ia tetap gusar. Membayangkan cintanya jatuh ke pelukan wanita lain sungguh bukan hal yang pernah diperhitungkan Miranda. Ia selalu percaya dirinya tidak akan mungkin mendapatkan saingan dengan apa yang ia miliki dan yang ia tahu Alvaro mencintainya begitu besar.
Sial! Cara ini tidak bekerja sama sekali.
Mengumpat dalam hati justru membuatnya sedikit tenang. Aneh tapi ia lebih suka mengumpat sesuatu yang menjadi masalahnya daripada berpikiran tenang untuk mendapatkan ketenangan.
"Gue akan coba menghubunginya sekali lagi. Jika tidak mendapat kabar, gue akan pergi ke rumah teman-temannya. Gue masih ingat alamat mereka, kayaknya," ucap Miranda pada dirinya sendiri.
Sekali panggilan tak terjawab.
Dua kali pun terabaikan.
Tiga kali bahkan tak ada tanggapan.
Dan jika kelima kali ia menghubungi Alvaro tetap tidak mendapat jawaban maka ia akan nekat.
"Halo."
Suara seseorang dari seberang saluran langsung membuat Miranda bernapas lega.
"Ya ampun sayang, kamu darimana aja? Dari tadi aku teleponin tapi kamu nggak jawab. Aku khawatir dan aku kangen sama kamu. Kamu datang kemari, please. Aku butuh kamu," ucap Miranda panjang lebar tanpa spasi seolah jika ia menjeda ucapannya maka panggilan tersebut akan terputus.
"Maaf tadi aku sangat sibuk. Aku lupa bawa ponsel dan sekarang aku lagi di rumah. Aku akan datang sebentar lagi. Kamu tunggu."
Miranda tersenyum senang. Hatinya yang tadi diselimuti rasa curiga, cemburu dan keresahan kini sirna sudah berganti rasa bahagia karena Alvaro akan datang menemuinya.
"Iya, aku menunggumu."
Meskipun enggan menyudahi panggilannya, ia pun merelakan kala panggilan tersebut sudah berakhir. Ia dengan cepat bergegas untuk mandi dan akan bersiap menyambut Alvaro. Ia ingin memikat kekasihnya itu malam ini. Ia yakin Alvaro tidak akan berpaling darinya karena tak ada satu pun yang kurang darinya. Ia model internasional. Wajahnya sangat cantik. Kulitnya putih bersih dan juga sangat terawat. Miranda yakin Alvaro tidak semudah itu berpaling darinya.
.
.
Sebenarnya ia tahu sedari tadi Miranda menghubunginya. Ia masih belum menemukan alasan yang tepat untuk menyudahi dan tidak mau lagi mempertahankan. Ia hanya ingin fokus pada Nurul namun ia ingat dirinya masih berstatus kekasih Miranda. Ia tidak ingin lagi menjadi pria jahat. Aina-nya pasti tidak akan terima akan hal ini.
"Ternyata mengambil keputusan ini sangat sulit. Bahkan lebih sulit dari mendapatkan cinta Aina. Gue hanya berharap kalau langkah yang gue ambil nggak akan salah," gumam Alvaro kemudian kembali melanjutkan perjalanannya dalam hening.
Suasana hening memang tercipta di dalam mobil, tapi tidak di dalam hati dan pikirannya. Disana sangat ramai dan kacau karena ia harus menentukan pilihan dan juga galau karena Nurul belum juga di temukan.
Gue lebih suka ngejar lu dan lu balas gue dengan judes daripada gue nyari lu yang hilang entah kemana. Ternyata gue lebih baik ditolak daripada ditinggal tanpa kabar kayak gini. Setidaknya kalau gue ditolak gue masih bisa berjuang sampai gue diterima. Daripada seperti ini, ditolak tidak justru ditinggal tanpa kabar. Gue sakit Aina, andai lu tahu kalau gue benar-benar menyesali semuanya.
Entahlah, entah mengapa ia berubah menjadi melankolis begini. Oh ayolah, dia adalah Alvaro Genta Prayoga, dia menggenggam segalanya. Dia juga seorang player tapi kali ini ia merasa dipermainkan dan dipecundangi.
"Gue benci mengakui ini tapi emang gue nggak bisa tanpa lu Nurul Aina. Balik please. Kasih gue hukuman asal lu tetap disini. Bahkan dipenjara pun gue nggak apa-apa asalkan lu tetap untuk gue dan gue adalah pemilik lu seutuhnya. Pulang lah Aina. Gue kangen. Gue rindu dan gue benar-benar merana tanpa lu."
Bukan hanya melankolis, ia bahkan berubah menjadi pria cengeng akhir-akhir ini. Apakah penyesalan itu selalu sesakit ini? Entahlah, baru kali ini ia merasakan yang namanya menyesal dalam hidup karena cinta.
"Sekarang bukan waktunya gue menyesali karena emang udah kejadian kayak gini. Gue harus bersiap menemui Miranda. Dia juga harus mendapat kepastian dari gue. Apa gue ajak dia jalan dulu agar nanti hatinya tidak begitu sakit ketika gue tiba-tiba mutusin dia. Sorry, tapi ini juga bukan sepenuhnya kesalahan gue yang nggak setia. Lu yang ninggalin gue saat gue sedang sayang-sayangnya sama lu. Lu harus terima kalau lu bukan lagi yang nomor satu di hati gue," ucap Alvaro kemudian ia membuka pintu mobilnya dan segera masuk ke dalam rumah.
.
.
Miranda yang awalnya mengira Alvaro akan datang ke kamarnya justru mengirimkannya pesan jika dirinya tengah menunggu di lobi hotel. Ia ingin mengajak Miranda jalan-jalan menikmati suasana malam kota Jakarta yang sudah lebih dari setahun lamanya tidak mereka lakukan.
Suasana hati Miranda berubah sangat senang luar biasa. Ia tidak bisa menggambarkan betapa ia sangat bahagia dan menyesal dalam satu waktu yang bersamaan.
Ia menyesal sudah meninggalkan Alvaro karena keegoisannya. Jika ia pada saat itu tidak keras kepala, mungkin saat ini ia dan Alvaro sudah menikah atau paling tidak mereka sudah bertunangan. Hanya menunggu waktu saja untuk mereka menikah.
"Varo, aku sangat bahagia dan menyesal saat ini," ucap Miranda sesaat setelah ia menggenggam tangan Alvaro yang sedang menganggur karena ia mengemudikan mobilnya hanya menggunakan satu tangannya.
Alvaro menatap Miranda dengan tatapan penuh tanya.
"Kok bisa?" Hanya itu yang lolos dari mulut Alvaro. Ia sebenarnya tidak merasa perlu bertanya.
"Aku bahagia karena aku bisa kembali berada di sisimu. Aku sangat bahagia karena akulah perempuan paling beruntung karena bisa mendapatkan kamu. Aku sangat ingin mengumumkan pada dunia kalau aku sangat bahagia memiliki kamu. Di sisi lain aku juga menyesal. Aku terlambat paham jika aku egois pada saat itu dan memilih meninggalkanmu hanya karena ingin membuktikan pada Brianto Smith kalau aku bisa mandiri dan menunjukkan padanya jika aku benar-benar bisa berdiri di kakiku sendiri tanpa embel-embel bantuannya.
"Aku sangat menyesal karena sudah meninggalkanmu. Dan sekarang aku harap aku bisa memperbaiki segalanya dan aku ingin kita memulai lagi semuanya seperti awal pertama kita pacaran. Aku butuh kamu dan aku takut kehilangan kamu. Aku harap kamu selalu setia padaku dan tidak akan ada siapapun dalam hubungan kita. Aku selalu memastikan itu untuk hubungan kita. Aku harap kamu juga melakukan hal yang sama."
Miranda nampak mengusap air matanya yang sempat menetes kala ia menceritakan betapa ia bahagia dan juga menyesali sikapnya.
Entah dorongan manusiawi atau karena ia masih begitu mencintai Miranda, Alvaro menghentikan mobilnya kemudian ia mendekap Miranda. Miranda terisak dalam dekapan Alvaro.
"Berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkanku. Aku bisa mati jika itu sampai terjadi. Jika kau tidak percaya, maka lakukanlah dan kau akan lihat bahwa ucapanku ini benar nyata adanya. Aku tidak ingin hidup tanpamu. Berjanjilah untuk menjadi milikku. Hanya aku yang ada di hatimu. Aku bisa mati jika kau sampai meninggalkan aku."
Lalu bagaimana dengan aku Miranda?