
Kriss dan Miranda gelagapan karena keduanya sama sekali belum memakai pakaian. Apalagi dihadapan mereka ada Alvaro dan Ikram yang siap mengamuk. Ini diluar rencana tapi sudah terlanjur. Mereka bisa apa. Hesti yang melihat keduanya tanpa sehelai benang pun langsung menutup matanya. Hatinya masih sakit tapi ia tahu, kedua orang yang membawanya ke tempat ini tentu akan membalaskan rasa sakit hatinya.
"Lu emang nggak tertandingi Kriss," sindir Alvaro.
Kriss dan Miranda langsung memakai pakaian mereka dan saat ini Kriss sudah siap untuk berperang melawan Alvaro.
"Itu karena emang lu-nya aja yang bego," cibir Kriss. "Lu hanya bisa sembunyi di balik ketiak Ikram selama ini. Dan lu Kram, lu cuma bisa jadi baby sitter tuan muda Alvaro Genta Prayoga. Lu nggak capek jagain bocah kayak dia?"
Alvaro hendak melayangkan pukulan namun ditahan oleh Ikram.
"Lu jangan terprovokasi sama dia. Lu yang tenang karena nggak semuanya bisa diselesaikan dengan kekerasan," ucap Ikram.
Ah, rasanya Alvaro ingin menelan Kriss hidup-hidup.
Kini giliran Miranda yang ketakutan karena Alvaro meliriknya dengan tatapan sinis. Miranda menciut dan ia juga tidak bisa berdalih lagi karena sudah ketahuan.
"Lu pikir gue segila itu mau bertahan sama lu? Gue masih waras Miranda. Dan soal sikap nyokap bokap gue, semua berasal dari keinginan gue. Mereka cuma mau menuruti keinginan gue. Lu cocoknya emang sama dia, sama-sama sampah!"
Miranda menatap nyalang pada Alvaro. Ia tidak suka dikatai dan ia juga kesal karena ternyata Alvaro sudah bekerja sama dengan orang tuanya.
"Lu emang brengsek!" umpat Miranda.
"Oh hallo ... lu nggak lihat situasi? Lu sama dia udah kedapatan dan bersekongkol gini dan lu malah ngatain Alvaro brengsek?! Lu waras, 'kan?" cibir Ikram.
"Udah nggak usah banyak basa-basi. Lu udah tahu siapa gue sebenarnya. Sekarang lu harus lebih waspada karena gue pasti bakalan nemuin Nurul dan jadiin dia istri gue. Nggak peduli lu udah nidurin dia, gue suka sama dia dan gue bakalan ambil dia dari lu. Oh salah ya, dia emang udah pergi dari hidup lu. Dia bebas dan gue berhak untuk mendapatkannya."
Kriss menuangkan minyak tanah di api yang sedang menyala. Tangan Alvaro terkepal kuat, matanya menatap sengit pada Kriss yang kini tengah tersenyum meremehkannya.
"Pergi aja lu sana ke Amerika. Gue juga yakin Nurul udah nggak mau sama lu terlepas dari lu yang udah ambil keperawanannya. Gue yang bakalan ada buat dia. Mending lu berangkat sekarang aja karena gue takut lu bunuh diri kalau lihat gue lamar Nurul," imbuhnya.
Alvaro tak lagi bisa menahan emosinya hingga satu pukulan mendarat tetap di batang hidung Kriss. Kriss terhuyung ke belakang dan ia memegangi hidungnya yang mengeluarkan darah. Ia tersenyum kecut kemudian balik menyerang Alvaro.
Pukulan Kriss dapat dielak oleh Alvaro namun tendangannya tepat mengenai perut Alvaro. Alvaro memegangi perutnya yang lumayan sakit kemudian ia berdiri tegak dan kembali menghajar Kriss.
Ikram, Miranda dan Hesti hanya menjadi penonton duel keduanya. Ikram tidak ingin membantu juga tidak ingin melerai. Ia sangat marah pada Kriss, ia pun sangat jijik terhadap Miranda.
Gue emang udah feeling kalau Miranda itu nggak baik. Ternyata emang benar dan gue bahkan nggak percaya kalau Kriss adalah musuh dalam selimut.
Pukulan dan tendangan mereka layangkan dan karena terlalu diliputi amarah, kekuatan Alvaro jauh lebih besar dibandingkan Kriss. Kini Kriss sudah terkapar di lantai dengan wajah yang sudah penuh dengan lebam. Alvaro duduk di atas perut Kriss dan mencengkram leher bajunya.
"Lu nggak usah halu mau jadiin Aina gue milik lu. Selangkah lu ngedeketin dia, maka saat itu juga gue pastiin kaki lu bakalan kehilangan fungsinya. Lu boleh coba kalau lu nggak percaya," ucap Alvaro dingin, bahkan wajahnya begitu menyeramkan.
Dalam kesakitannya Kriss masih bisa terkekeh.
"Lu terlalu percaya diri. Lu bahkan nggak bisa membuat dia jadi pacar lu, apalagi buat lu miliki dia. Disini yang halu itu elu bukan gue."
Bukkk ....
Alvaro kembali melayangkan satu pukulan ke wajah Kriss dan sialnya Kriss malah kembali menyulut api.
"Pukul gue sepuas lu. Bikin gue cacat dan gue bakalan datang ke Nurul dan bilang kalau ini semua berkat lu yang nggak terima Miranda suka sama gue. Dia pasti bakalan kasihan ke gue. Dan lu, lu bakalan jadi pria yang berada di daftar paling atas yang paling dibenci oleh Nurul. Nggak percaya? Kita akan mencobanya," ucap Kriss tak lupa memberikan senyuman mengejek.
"Alvaro cukup!" teriak Miranda.
Alvaro yang mendengar suara perempuan yang amat dibencinya itu pun beralih menuju ke arah Miranda. Wanita itu mulai ketakutan mana kala Alvaro terus berjalan ke arahnya dan kini tangan Alvaro berhasil mencengkram lehernya.
"Wanita busuk kayak lu itu cuma bisa jadi sampah di bumi ini. Mending lu mati aja daripada bikin bumi ini makin kotor," ucap Alvaro dingin, matanya menatap berang pada Miranda.
Alvaro tersenyum seringai, ia masih ingin bermain-main dengan Miranda. Ia ingin membalaskan sakit hatinya karena Miranda bermain dengan kehidupannya.
"Karena kedatangan lu, gue kehilangan dia. Jadi sekarang mending lu menghilang dari bumi untuk bertanggung jawab atas menghilangnya Aina dari hidup gue. Lu penyebab kekacauan ini!" sentak Alvaro.
"Ro, lepasin dia. Lu bisa bunuh orang!" teriak Ikram.
Dengan santainya Alvaro melepas cekikannya. Miranda terbatuk-batuk dan ia dengan rakus menghirup udara yang sempat hampir tak bisa ia lakukan lagi.
"Gue sebenarnya emang udah nggak mau sama lu. Lu pikir setelah gue ninggalin lu gue masih mau balik? Lu salah kalau lu mikir gitu. Gue datang buat Kriss. Buat menghancurkan hidup lu juga. Gue benci keluarga kalian yang mandang gue rendah--"
"Itu emang karena lu rendahan! Orang tua gue nggak salah melihat lu. Gue yang buta!" bentak Alvaro memotong ucapan Miranda.
"Alvaro!! Kalian yang terlalu meninggikan diri kalian. Lu dulu ngaku cinta ke gue tapi lu bahkan nggak ngedukung cita-cita gue dan kalau bukan karena Kriss gue nggak akan seperti sekarang ini. Kalian terlalu kaya tapi pelit memberi!" Miranda mencemooh, ia terkenang saat ia meminta bantuan Alvaro untuk menjadi model yang terkenal lagi sukses justru mendapat penolakan dari Alvaro yang dulunya mengaku cinta padanya.
"Pada saat itu gue cuma mau lu tahu kalau gue nggak mau lu capek-capek kerja karena lu nggak bakalan hidup susah kalau sama gue. Gue cuma mau lu hidup senang nggak perlu keluar keringat buat dapat duit. Tapi lu salah mengartikan semuanya dan akhirnya lu berada dititik ini. Titik dimana lu nunjukin kalau lu nggak lebih tinggi daripada sampah!"
Miranda meradang. Ia tahu ucapan Alvaro barusan benar adanya. Mau menyesali tapi sudah terlanjur terjadi. Hanya bisa berkata andai dalam hati.
"Sekarang lu milih mau hidup di negara ini tapi lu bakalan tahu apa itu neraka dunia atau lu pindah dari negara ini sejauh mungkin dan lu bisa menghirup udara dengan bebas?" ucap Alvaro menatap Miranda dengan sengit.
"Lu pikir lu siapa berani nentuin kehidupan gue?" bentak Miranda tidak terima dengan ucapan Alvaro.
"Gue Alvaro Genta Prayoga. Lu siapa? Perempuan ****** yang berkedok sebagai model? Lu harusnya malu! Bahkan lu ngorbanin perasaan asisten lu hanya karena rasa iri. Bahkan pria lain pun bisa melihat mana berlian asli dan mana sampah yang dibalut dengan perhiasan mahal. Sadar diri itu perlu Miranda Sairah Smith."
Miranda ingin sekali menampar wajah tampan Alvaro yang terlihat makin tampan dalam keadaan marah. Namun tangannya tak bisa menggapai pipi itu karena sudah ada Hesti yang menangkap pergerakannya.
Plakkk ....
Pipi Miranda tertoleh ke belakang manakala tamparan Hesti mendarat di pipi mulusnya. Hesti belum pernah melakukan ini sebelumnya akan tetapi ia begitu marah dan sakit hati pada Miranda yang selama ini ia temani sejak awal karier hingga sukses seperti ini.
"Gue dulunya sangat respect sama lu. Tapi itu dulu! Gue selalu mentingin lu dari segalanya tapi ternyata lu nggak pernah menganggap keberadaan gue. Lu bahkan pantas mendapatkan hukuman yang lebih dari ini. Gue sebagai perempuan merasa malu buat mengakui kalau lu sejenis sama gue. Lu udah mempermalukan nama perempuan dan lu sebenarnya emang nggak pantas jadi model internasional. Lu cocoknya jadi pemain sinetron dengan peran antagonis yang penuh dengan siasat kelicikan dan lu sangat pandai bersandiwara. Mending lu ganti profesi!"
Miranda tidak terima perlakuan Hesti padanya hingga ia berniat menjambak rambut Hesti namun dicegat oleh seseorang.
"Steve?" lirih Hesti.
"Jangan pernah menyentuhnya! Kau tidak akan melihat bulan malam ini jika kau berani melukainya. Dasar ******!" sentak Steve.
"Kenapa kamu bisa disini Steve?" tanya Hesti.
"I'm here for you. Ayo kita pergi dan aku akan membawamu bersamaku. Sebaiknya kau tinggalkan Miranda. Bekerja dengannya tidak baik untukmu. Kami permisi," ucap Steve membawa Hesti pergi dari gedung itu.
Ikram pun mengajak Alvaro untuk pergi. Tidak ada gunanya lagi mereka berada disini. Semua sudah selesai dan kini fokus Alvaro untuk mencari Nurul.
Namun baru saja keduanya melangkah, peluru sudah bersarang menembus perut keduanya hingga Alvaro dan Ikram terjatuh tak sadarkan diri.
"Kalian pikir segampang itu jatuhin gue? Kalian nggak kenal gue sedekat itu," ucap Kriss setelah melepaskan dua butir peluru pada kedua sahabatnya.
"Miranda ayo kita pergi dari sini. Besok lu bakalan dengar kabar kematian mereka," ajak Kriss.
Miranda tersenyum seringai kemudian ia berjalan memapah Kriss keluar dari gedung.
Sepeninggalan mereka, Alvaro yang masih berusaha untuk tetap tersadar langsung mengirim lokasinya pada ponsel Nandi hingga akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri.
Semoga Nandi segera datang.