GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
110


"Bagaimana?"


Pertanyaan Ben Elard membuat Ikram menghela napas. Ia sudah sampai sejak tadi sore dan sekarang ia sudah berada di rumahnya. Entah Ikram harus mulai bercerita darimana. Ia bingung dan jika ia tidak membagi pemikirannya dengan sang ayah maka ia justru akan terjebak dalam kebingungannya sendiri.


"Ada yang aneh, Yah," jawab Ikram.


Ben mengernyit, Ikram yang paham pun langsung menceritakan tentang apa yang terjadi disana. Antara Danish dan Kriss, dimana Kriss mendadak menyetujui pembatalan kerja dan berkata tentang merindukan sahabatnya. Semua terasa janggal dan Ben pun mengakuinya. Firasat seorang Ben Elard tidak mungkin salah, ia mencium adanya rencana licik yang sedang dimainkan oleh saudara iparnya itu.


Hal yang tidak mungkin jika Ruri Griffin mendadak tidak berminat untuk merebut seluruh hartanya. Pasti ada serangkaian rencana dalam rencana yang mereka susun.


Ben juga membenarkan pemikiran Danish tentang Kriss yang mungkin saja sudah tahu tentang kedatangan Ikram ke kalimantan juga tentang persahabatan Ben Elard dan Deen Emrick. Jika tidak seperti itu, sungguh mustahil jika Kriss langsung sepakat untuk membatalkan pekerjaan.


"Saran ayah, jangan dulu bertindak gegabah. Mari kita lihat rencana apa yang sedang mereka mainkan. Tetapi kita harus tetap waspada. Yani sudah dua kali hampir tertusuk pisau. Ada yang mencoba bermain-main dengan nyawanya. Pelaku sudah tertangkap tapi dia mengaku jika seseorang menyuruh mereka dan enggan mengatakan siapa orangnya karena mereka hanya berhubungan lewat telepon.


"Mungkin saja itu berasal dari saingan bisnis keluarga Prayoga, tapi sepanjang ayah mengenal Genta, dia adalah pria bijaksana. Hampir tidak memiliki musuh, tapi musuh dalam selimut pun kita tidak akan pernah tahu sebelum mereka menyembulkan kepalanya. Berhati-hatilah."


Ikram mengangguk, ia pasti akan tetap selalu waspada, bahaya bisa datang kapanpun itu apalagi dari keluarga Kriss. Ikram tahu jika sang ayah lebih sadis dibandingkan Ruri Griffin, tapi mengingat sang ayah yang lebih memprioritaskan ibunya membuat Ikram harus menjaga ayahnya juga. Pria bengis itu kini menjelma menjadi seorang budak cinta, ada kemungkinan ia lengah.


"Oh ya, apa kau sudah bertemu dengan anak perempuan Deen?" tanya Ben.


Ikram mengangguk, bahkan ia hampir saja kecoplosan mengatakan jika Nurul adalah temannya, jika saja ia tidak ingat tentang taruhan mereka waktu itu mungkin saja saat ini Ben Elard akan mengeksekusinya. Ia tentu tahu apa yang mungkin akan ayahnya lakukan pada dirinya, Alvaro dan Dandi nanti.


"Hmmm … dia hilang sejak bayi dan ayah turut senang karena akhirnya Danissa bisa ditemukan. Oh ya, apakah orangnya cantik? Katanya sekarang namanya udah bukan Danissa lagi tapi Nurul Aina?" tanya Ben dengan tatapan yang langsung bisa Ikram baca.


"Nggak usah berharap Ikram mau dijodohkan dengan dia. Alvaro sudah curi start," jawab Ikram yang kemudian tersentak. Dengan cepat ia mengalihkan perhatian ayahnya dengan berpura-pura mengangkat telepon.


"Ya, halo … maaf sebentar, sinyal di tempat saya buruk. Ayah maaf Ikram harus menerima telepon penting," dengan cepat Ikram berlari melipir menjauh dari Ben Elard, ia takut jika sampai salah bicara nanti.


Ben hanya menatap punggung Ikram yang menjauh darinya. Ben mengendus ada hal yang disembunyikan oleh putranya. Bagiamana bisa ia mengatakan jika Alvaro sudah mencuri start sedangkan mereka baru pertama kali bertemu dengan keluarga Emrick. Lama Ben berperang dengan pikirannya hingga akhirnya ia memutuskan untuk menelepon Genta.


Di kantornya, Genta sedang bersiap-siap untuk pulang. Karena Alvaro dan Clarinta sedang tidak masuk kerja, Genta dan Billy harus lembur dan kini sudah pukul delapan malam dan ia sudah menyelesaikan seluruh pekerjaan. Saat Genta hendak membuka pintu, ponselnya berdering.


"Halo Ben, tumben lu nelepon gue," sapa Genta kemudian ia menarik gagang pintu lalu melangkah keluar dimana Billy sudah menunggunya.


"Gue mau nanya, siapa nama anak yang dulu Alvaro naksir di kampusnya," tanya Ben yang membuat Genta sedikit heran.


"Lu kenapa nanyain dia? Namanya Nurul Aina, gue juga udah ketemu sama orangnya," jawab Genta.


"Sial! Gue harus ngomong apa sama Deen Emrick kalau udah kayak gini coba!" sentak Ben yang membuat Genta semakin heran.


"Deen? Apa hubungannya dengan Deen?" tanya Genta penasaran.


"Dia anaknya Deen, bro. Kita dalam masalah jika dia tahu anaknya adalah korban dari kenakalan anak-anak kita!"


"What? Lu yang benar?" pekik Genta, ia sungguh sangat terkejut.


"Lu pikir gue bercanda. Besok kita kumpul dan ajak juga Alvaro, Nandi dan si Ezio."


Panggilan terputus, Genta langsung menyapu dadanya yang baru saja terasa sesak juga jantungnya terasa sakit. Ia tidak habis pikir jika kenakalan Alvaro akan nyasar pada anak temannya sendiri, Deen Emrick.


Alvaro, apa yang sudah kau perbuat. Papi harus bilang apa sama Deen nanti?


.


.


Berusaha menghindar dari ayahnya kini Ikram keluar dan mengendarai mobilnya entah kemana arah dan tujuannya. Intinya ia hanya ingin menghindar dan akan pulang jika situasi sudah aman.


Ikram mengerem mobilnya mendadak manakala ia hampir menabrak seseorang yang hendak menyeberang jalan. Ikram mengusap wajahnya kasar, menghela napas dengan kasar kemudian ia segera keluar.


Ia bisa saja disalahkan jika sampai menabrak gadis ini padahal kebenarannya adalah gadis ini yang melakukan kesalahan.


"Gue tahu gue salah, tapi gue cuma kasihan nanti lu sampai nabrak kucing ini," ucapnya kemudian ia berdiri karena sejak tadi ia berjongkok untuk melindungi seekor kucing.


Wajah gadis itu langsung pias melihat siapa orang yang sedang berbicara dengannya.


Oh my God, bos Ikram!


Melihat gadis di depannya ini menatap ketakutan padanya membuat Ikram mengernyit. Ia heran saja, tadi gadis ini menjawabnya dengan berani tapi begitu melihat wajahnya justru mendadak langsung ketakutan.


Apa ada yang salah dengan gue? Ada sesuatu di muka gue atau ada setan di dekat gue dan dia indigo sampai bisa ngelihat tuh makhluk halus?


"Kenapa lu?" tanya Ikram.


"Ti-tidak bos, maaf tadi saya tidak tahu," jawabnya.


Bos? Apa gue kenal dia?


"Tidak tahu apa? Terus kenapa lu manggil gue bos?" tanya Ikram lagi.


Eh? Dia nggak ingat sama gue? Kok bisa? Ya bisalah, lu 'kan cuma Office girl, mana mungkin bos Ikram ingat.


"Maaf bos, saya salah satu office girl di perusahaan anda," jawabnya kemudian menundukkan kepala sambil tangannya terus mengelus kucing yang tadi ia selamatkan.


Ikram baru paham mengapa gadis ini memanggilnya bos, rupanya ia adalah karyawan di kantornya. Namun jika dipandang lagi, Ikram seperti mengenal wajahnya namun dengan pakaian santai ini ia terlihat sedikit berbeda.


"Oh, sorry gue nggak tahu. Gue cuma tahu mbak Mola doang. Tapi kayaknya gue tahu lu deh, siapa nama lu?"


Ya ampun bos Ikram, bilang aja lupa kek, nggak kenal kek, nggak usah pakai alibi bilang tahu gue terus tanya nama. Kalau tahu gue ya lu tahu lah nama gue, 'kan gue udah pernah ngasih tahu. Tapi ya wajar sih, gue ketemu dia sekali doang dan siapalah gue ini, cuma babu!


"Saya Tara, bos," jawabnya.


Ikram mengusap dagunya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sebenarnya tidak ingat tetapi ia berkata, "Oh lu, ya gue ingat sekarang!"


Tara? Tara yang mana ya? Gue kok nggak ingat. Tapi gue tahu satu OG cantik yang pernah nganterin gue minuman. Itu siapa namanya ya? Gue lupa juga.


Tara tersenyum, ia sebenarnya bisa melihat jika bosnya ini hanya berpura-pura ingat agar tidak dinilai sombong oleh bawahan. Namun sikap Ikram ini membuat Tara cukup kagum karena biasanya para bos besar apalagi yang masih muda, mereka cenderung tidak mempedulikan bawahan mereka, tidak menghargai atau masa bodoh saja.


Namun pria muda, tampan dan kaya raya ini berbeda. Dia cukup ramah dan berbicara pun tidak menggunakan bahasa yang membuatnya terlihat seperti atasan, terlalu santai. Image buruk Ikram yang merupakan CEO tampan tapi sadis keturunan satu-satunya Ben Elard ini runtuh seketika di mata Tara. Ia tidak melihat ikram sedemikian rupa seperti yang selalu jadi topik pembicaraan di kantor. Ikram sangat ramah menurut Tara dan berbicara padanya pun tidak merendahkan atau menganggap dirinya terlalu tinggi. Tara seolah sedang berbicara dengan temannya saja.


"Ya udah, gue mau balik. Rumah lu dimana? Dekat atau jauh nggak dari sini? Lu mau gue anterin? Ini sudah malam dan kalau rumah lu jauh biar lu bareng gue aja," cecar Ikram.


Sosok yang selalu terlihat dingin saat berkumpul bersama tapi namanya juga geng Alvaro Cs, mana ada pria tampan dari mereka yang tidak tengil dan tidak lambe turah. Termasuk Ikram yang selalu sok cool padahal aslinya tetap sama saja seperti Alvaro. Sayangnya ia belum sebucin Alvaro, sehingga ia masih bisa mengontrol kewarasannya.


"Ngg … nggak jauh kok bos, masuk di gang ini saja. Tidak perlu di antar. Saya bisa pulang sendiri dan saya tidak mungkin merepotkan anda," jawab Tara.


Bos Ikram sangat baik, apa gue kasih tahu aja soal Miranda?


"Oh bagus deh, biar gue juga nggak capek. Lu pulang gih, nanti lu disangka PSK yang lagi nungguin pelanggan. Masuk sana!" titah Ikram.


Mata Tara membulat sempurna. Belum satu menit ia memuji pria ini namun dalam beberapa saat rasanya Tara ingin kembali menarik pujiannya. Ucapan Ikram menjadi begitu pedas namun memang ada benarnya juga.


"Baik bos, terima kasih sudah perhatian," ucap Tara masih memaksakan senyumannya.


Ikram berdecih, "Senyum itu yang ikhlas, kayak gue nih," ucap Ikram kemudian ia tersenyum manis membuat Tara hampir saja pingsan.


Oh my God, bos Ikram sangat tampan. Gue pingsan nggak ya?