
Ucapan selamat membanjiri kedua mempelai yang sedang sibuk menyalimi para tamu undangan. Nampak jelas wajah Evelyn begitu bahagia, sama halnya dengan pria yang berdiri di sampingnya. Pria yang dulunya Evelyn pikir tidak akan menjadi suaminya akan tetapi saat ini mereka sedang melakukan acara resepsi. Sungguh, Evelyn masih merasa ini adalah mimpi belaka.
Sesekali Evelyn mencuri pandang pada Axelle yang sedang tersenyum menatap lurus kedepan. Evelyn tak menyangka pria arogan ini akan menjadi miliknya padahal dulu ia yakin sekali jika Axelle akan sangat sulit ditaklukkan terlebih lagi ia jatuh cinta pada wanita yang juga membuat sepupunya tergila-gila. Pikirnya Axelle akan sulit move on, akan tetapi ia berhasil membawa lelaki itu hingga naik pelaminan.
Evelyn dan Axelle berdiri ketika pasangan yang saat ini membawa dua anak ditangan mereka serta satu lagi di dalam perut yang mulai terlihat sedikit buncit itu naik ke pelaminan.
Alvaro memberikan ucapan selamat pada kakak sepupunya ini namun ia memberikan tatapan sengit pada Axelle. Walau bagaimanapun, ana dari keturuna Prayoga hanya ada tiga, dirinya, kak Alee dan juga Evelyn. Ia tetap mengawasi Axelle walaupun ia tahu pria itu sudah lama jatuh ke pelukan Evelyn dan menjadi pria budak cinta. Namun apa salahnya bagi Alvaro untuk tetap memastikan kebahagiaan sang sepupu.
"Kak, lu yakin di udah cinta sama lu? Dia benaran udah move on?" tanya Alvaro yang langsung mendapat tatapan horor dari dua orang sekaligus yaitu istrinya dan juga Axelle.
Namun Alvaro yang ditatap tentu saja tidak peduli. "Emang dia kenapa bisa jatuh cinta sama lu? Perasaan lu itu beda jauh deh sama kriteria yang disukai Axelle. Secara lu itu 'kan cewek peta--"
Evelyn langsung membungkam mulut Alvaro setelah ia melepas sembarangan bunga yang sedari tadi ia pegang. Aksinya itu tentu menjadi pusat perhatian semua tamu undangan tanpa terkecuali Axelle dan juga Nurul.
Evelyn tidak peduli dengan tatapan aneh dari para tamu undangan, bahkan saat ini mami dan papinya dengan menggelengkan kepala sebab mereka selalu tahu seperti apa kelakuan dua manusia yang tidak bisa diam itu.
"Lihat kelakuan mereka berdua Mi, bahkan sampai di pelaminan pun tetap saja mereka bertingkah semaunya. Ini Alvaro juga nggak mandang situasi. Selalu saja bikin malu," ucap Genta yang sedang menatap sengit pada anaknya dan juga keponakannya.
Yani hanya bisa menghela napas, sudah bukan rahasia lagi kelakuan Alvaro dan Evelyn. Namun ia sangat malu karena keduanya bahkan tidak malu menjadi tontonan orang.
Axelle dan Nurul pun membantu melerai, keduanya sudah cukup malu saat ini sedangkan dua pelakunya masih asyik saling menjerat dan melepaskan. Evelyn tidak mau membuka mulut Alvaro sedangkan Alvaro berusaha menarik tangan Evelyn.
"Eve, lepasin. Kamu nggak malu jadi tontonan orang? Kita lagi di acara resepsi lho, para tamu undangan pada ngelihatin kalian berdua," ucap Axelle, ia sendiri bingung dengan wanita elegan di sampingnya ini mengapa mendadak kehilangan urat malunya.
Biasanya, biasanya Axelle melihat Evelyn yang mengatasi masalahnya dengan cara yang baik, namun kali ini Evelyn menjadi aneh, pikir Axelle.
"Yang, jangan kayak gini dong, malu!" ucap Nurul yang mulai gelisah.
Setelah mendengar ucapan Axelle, Evelyn segera melepaskan tangannya dari mulut Alvaro sedangkan Alvaro langsung mendekati Nurul namun tatapannya tak lepas dari Evelyn.
Evelyn kembali memasang senyumannya, ia mencari bunga yang tadi ia lepaskan sembarang kemudian ia mengusir Alvaro dari pelaminan.
"Selamat bro, sebentar lagi hidup lu nggak bakalan baik-baik saja. Gue aja heran kenapa lu mau nikah sama dia," ucap Alvaro kepada Axelle setelah ia menyalimi tangan kakak iparnya itu.
"Alvaro Genta Prayoga!!" pekik Evelyn yang membuat Alvaro langsung bergegas turun dari pelaminan sambil menggandeng Aluna.
Nurul meringis, ia merasa tidak enak pada kedua mempelai atas kelakuan suaminya. Ia kemudian memberikan ucapan selamat kepada Axelle. Nurul merasa senang karena saat ini tatapan Axelle padanya sudah tidak sedalam dulu ketika Axelle datang memberi ucapan selamat padanya di acara pernikahannya dulu.
Nurul yakin sekali jika pria baik ini sudah sepenuhnya move on darinya dan sudah mencintai Evelyn dengan sepenuh hati. Ia kemudian mengajak Frey untuk turun karena Nurul memang selalu bersama bocah itu semenjak ia melihat Frey yang seperti menjaga jarak dari mereka.
Melihat gelagat Frey selama dua minggu belakangan ini yang terkesan dingin dan tidak mau berbaur membuat hati Nurul sedih dan bertanya-tanya. Walau entah Frey Dan Aluna nantinya akan berjodoh atau tidak, Nurul tidak mempermasalahkannya karena pada dasarnya ia memang menyayangi Frey layaknya anak kandungnya sendiri.
Dengan perhatian Nurul tersebut membuat Frey menjadi sedikit melunak dan sangat patuh serta menyayangi Nurul layaknya menyayangi orang tua kandungnya sendiri. Kelembutan dan kasih sayang Nurul membuat Frey merasa menemukan ibunya kembali. Apalagi Nurul tidak pernah mengatakan jika Frey akan menjadi suami Aluna nanti dan justru mengatakan jika Frey memang adalah anaknya semakin membuat Frey nyaman dengannya.
Namun walau begitu Nurul juga memberikan kasih sayangnya kepada Aluna sama besarnya. Ia tidak ingin ada rasa iri atau rasa cemburu terhadap dua bocah itu. Sebisa mungkin Nurul memperlakukan keduanya dengan sama.
.
.
Setelah membantu Evelyn, Axelle pun menyuruhnya untuk membersihkan diri sedangkan Axelle akan melakukannya setelah Evelyn. Tak memerlukan waktu lama Evelyn dan Axelle bergantian menggunakan kamar mandi.
Di depan cermin Evelyn menatap pantulan dirinya, ia sudah sangat cantik namun dadanya berdebar-debar mengingat malam ini adalah malam pertamanya. Selain itu, ia juga sedang dilanda kegalauan. Jika malam ini ia dan Axelle akan melakukan penyatuan, ia tidak ingin melakukan semuanya dengan perasaan mengganjal.
Bagaimanapun Evelyn tahu jika Axelle mencintainya karena sikap dan sifat palsu yang selama ini ia tunjukkan. Ia tidak ingin nantinya setelah mereka hidup bersama lalu Axelle melihat sifat aslinya hingga suaminya itu menjadi ilfeel.
Baiklah, sudah gue putuskan untuk mengaku saja. Sebelum semuanya terlanjur walaupun memang sudah terlanjur, gue akan mengaku saja pada Axelle. Toh kami juga sudah menikah, dia nggak mungkin 'kan langsung talak gue?
Pintu kamar mandi terbuka dan nampaklah Axelle yang hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Mata Evelyn membelalak. Ia menelan salivanya susah payah begitu melihat tubuh putih berotot itu basah dengan air yang masih menetes dari rambutnya.
Su-suami gue menggoda iman banget.
Axelle menyeringai, ia tahu saat ini istrinya itu tengah menatap penuh minat padanya. Axelle memang sengaja, ia tidak ingin membuang waktu lagi karena selama ini Evelyn begitu menggoda imannya sebagai seorang lelaki dewasa.
Ia kemudian mendekati Evelyn yang masih duduk di depan meja rias sambil menatapnya. Satu kecupan Axelle berikan pada dahi Evelyn hingga istrinya itu tersadar dari keterpanaanya.
"Emm ... Axelle, bisa kita bicara sebentar?" tanya Evelyn dengan ragu-ragu. Ia tidak bodoh, ia tahu saat ini Axelle sudah menginginkannya.
Axelle hanya menganggukkan kepalanya, ia membiarkan Evelyn berbicara karena menurutnya mungkin penting.
Apa dia ingin mengatakan tentang dirinya yang masih virgin atau tidak?
Beberapa saat Evelyn menunduk, ia ragu namun hatinya mengatakan ini adalah hal yang wajib ia bicarakan.
"Axelle, sebenarnya gue mau buat pengakuan. Gue selama ini nggak seperti yang terlihat. Gue bukan perempuan seelegan itu. Gue berbanding terbalik dengan sikap dan sifat yang selama ini gue tunjukkan di hadapan lu. Tapi semua itu gue lakukan untuk bikin lu jatuh cinta sama gue. Gue lihat lu suka sama Nurul karena sifat dia kayak gitu dan gue mikir gimana kalau gue juga kayak gitu. And see, lu jatuh cinta sama gue. Tapi gue sadar, itu semua palsu. Lu jatuh cinta sama perempuan palsu. Tapi cinta gue ke elu asli kok, nggak palsu nggak KW!"
Axelle nampak diam sejenak, ia kemudian menatap Evelyn dengan intens hingga membuat istrinya itu menundukkan kepalanya. Evelyn sudah siap dengan apapun tanggapan Axelle karena yang terpenting ia sudah jujur.
"Aku tahu."
Evelyn langsung mengangkat kepalanya, ia menatap penuh selidik pada Axelle.
"Kamu pikir aku bodoh sampai tidak menyelidik siapa calon istriku. Aku hanya menikmati saja permainanmu dan ternyata kau pandai berakting. Dan asal kau tahu, aku jatuh cinta bukan karena sikap elegan yang kau tunjukkan melainkan karena usahamu begitu keras. Kau tekun dan gigih hingga aku tidak bisa bilang tidak. Sangat tidak mudah untuk menjadi orang lain, tetapi kau mampu melakukannya dan sialnya aku justru jatuh cinta dengan semua usahamu," jawab Axelle sambil tersenyum.
Mata Evelyn membulat sempurna, "Ja-jadi kau sudah tahu?" tanya Evelyn terbata.
Axelle hanya mengangkat kedua bahunya kemudian ia kembali mendekatkan dirinya pada Evelyn. Ayolah, Axelle sudah ingin melakukan hajatnya di malam pertama.
"Aku pikir kau akan mengatakan jika kau sudah tidak perawan lagi," seloroh Axelle yang membuat Evelyn memberikan pukulan keras di perut Axelle.
"Kau pikir aku perempuan apaan! Dasar brengsek!" umpat Evelyn.
Axelle tertawa renyah, ia kemudian tanpa aba-aba langsung menggendong Evelyn dan membawanya ke atas tempat tidur.
"Sudah, tidak usah banyak bicara. Aku tahu kau sengaja mengulur waktu. Tapi sayang sekarang sudah waktunya karena acara sudah dimulai. Bersiaplah sayang," ucap Axelle menyeringai hingga membuat Evelyn kesulitan menelan salivanya.