
Di dalam mobil, nampak dua orang berlainan jenis tengah terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Mobil mereka sudah jauh dari tempat dimana mereka membuat masalah besar tapi keduanya sama-sama masih memikirkan kejadian tersebut. Kejadian yang mereka yakini pasti akan menjadi masalah besar dan akan membuat kehidupan mereka kedepannya menjadi sulit, bahkan bisa juga lebih daripada kata 'sulit' seperti menderita.
Miranda menoleh menatap wajah Kriss. Ia ingin menanyakan kenapa Kriss sampai nekat menembak Alvaro dan Ikram. Namun ia urungkan karena ia lebih takut lagi melihat wajah Kriss saat ini. Wajahnya begitu gelap dengan auranya. Miranda memilih memikirkan langkah yang akan ia ambil selanjutnya.
Gue nggak mau ditangkap polisi. Karier gue jadi taruhannya. Gue harus secepatnya pergi dari negara ini.
Miranda bertekad dalam hatinya. Ia tidak ingin menginjakkan kakinya lagi di negara kelahirannya ini. Lagi pula ia memiliki pekerjaan yang menjanjikan, ia tidak akan mati kelaparan berada di negara orang sedangkan dirinya terus bekerja dan menghasilkan uang.
"Arrgghh ... ****! Damned it!"
Teriakan Kriss membuat Miranda terkinjat kaget. Ia kembali mengatur napasnya. Ia ingin marah tapi Kriss terlihat lebih buruk dari sebelumnya.
"Kriss lu--"
"Diamlah atau lu juga bakalan mengalami hal yang sama kayak cowok lu itu. Mau?"
Dengan cepat Miranda menggelengkan kepalanya. Ia menutup rapat mulutnya namun hatinya begitu cerewet mengoceh dan mengumpati Kriss. Rasanya Miranda ingin turun dari mobil ini dan mencari taksi saja untuk mengantarnya ke bandara. Waktunya kurang dari satu jam sedangkan perjalanan ke bandara memakan waktu setengah jam. Miranda tidak ingin ketinggalan pesawat apalagi sampai tertahan di negara ini hingga akhirnya ia mendekam di penjara.
Miranda teringat akan Hesti yang selalu sigap membantunya. Ia hendak menghubunginya namun ia kembali teringat jika tadi Hesti disana bersama Alvaro dan Ikram dan kini asisten merangkap manajer itu sudah tahu kebusukannya dan sialnya lagi, Steve yang Miranda sukai itu memilihnya dan sudah membawanya pergi entah kemana.
Kenapa nasib gue sesial ini. Harusnya gue nggak balik ke negara ini. Semua karena Kriss! Kalau dia nggak minta gue datang buat halangin Alvaro sama si Nurul itu, gue pasti lagi enak-enak di Paris. Kembali ke negara ini selain membuka luka lama bersama Daddy, gue juga harus terlibat kasus kriminal. Ini jauh dari ekspektasi gue.
Miranda terus melirik jam di pergelangan tangannya. Sesekali ia mencuri pandang pada Kriss yang tetap nampak tenang namun tatapannya tidak bisa menipu jika pria itu tengah menahan emosinya yang meluap-luap.
"Lu bisa turun dan naik taksi. Gue masih banyak urusan dan itu kalau lu nggak keberatan. Gue bisa anterin lu sampai ke bandara tapi gue masih harus mengurus kejadian tadi. Lu balik ke Paris dan usahain jangan balik lagi ke sini. Lu bisa memperpanjang kontrak lu disana atau mencari job lainnya. Nanti gue bakalan kunjungin lu atau gue nanti bakalan kasih arahan lu dari sini. Lu tetap kerja sebagaimana biasanya. Anggap aja kejadian tadi nggak pernah lu lihat," ucap Kriss tanpa menatap Miranda.
Miranda mengoceh dalam hati. Yang benar saja ia disuruh melupakan kejadian tadi. Itu adalah kejadian yang tidak bisa ia lupakan. Belum lagi Miranda harus mencari asisten baru karena Hesti sudah tidak lagi bekerja dengannya. Tapi ini lebih baik daripada bertahan di negara ini bersama Kriss dan juga segudang rencana liciknya untuk menjatuhkan Alvaro.
"Biar gue naik tadi aja. Gue harus masuk ke dalam untuk mengambil barang-barang gue. Dan lu tenang aja, gue juga nggak mau datang lagi ke negara ini. Gue udah nggak punya siapa-siapa disini. Gue juga udah punya pekerjaan yang bisa menopang hidup gue. Gue pergi dan lu jaga diri. Sering-seringlah mengunjungi gue. Bye."
Miranda meninggalkan kecupan di pipi Kriss kemudian ia turun dari mobil dengan bernapas lega. Ia melenggang masuk ke dalam hotel kemudian ia mengambil barang-barangnya.
Miranda menyayangkan kebodohannya yang datang demi Kriss ke negara ini dengan alibi pekerjaan. Pekerjaan yang bukan pekerjaan sebenarnya. Ia meninggalkan pekerjaannya di Paris untuk membantu Kriss. Mengingat hutang budinya pada Kriss, Miranda tidak bisa menolak.
Hingga akhirnya ia ikut terseret dalam permainan gila Kriss, ia begitu menyesal. Namun sayang nasi sudah berubah menjadi bubur. Miranda harus berusaha keras mengolah bubur tersebut menjadi sajian nikmat ataupun berusaha kembali untuk memasak nasi yang baru. Miranda pusing dan ia ingin mengistirahatkan pikirannya.
"Selamat tinggal negaraku," gumam Miranda begitu ia memasuki taksi yang akan mengantarnya menuju ke bandara.
.
.
Kriss datang dengan topeng sebagai sahabat untuk menjenguk Alvaro. Ia yakin keluarga Genta Prayoga tentu tidak bisa melacaknya sebagai pelaku karena ia tidak meninggalkan jejak apapun dan juga di gedung tua itu tidak ada CCTV yang sudah dipastikan oleh Kriss. Hanya jika Alvaro dan Ikram selamat maka ia tahu posisinya akan sangat tidak aman.
Selagi keduanya belum dinyatakan sembuh atau dinyatakan berhasil melewati masa kritisnya, Kriss masih bisa memakai topeng persahabatannya untuk terus berada di rumah sakit dan memperlihatkan wajah khawatirnya.
Sehandal apapun orang-orang keluarga Prayoga tentu saja tidak akan menemukan bukti untuk saat ini. Saksi kuncinya hanya ada korban dan Miranda saja.
Gue harap kedatangan gue ke tempat ini nggak sia-sia. Gue datang hanya untuk memastikan kalian berdua mati.
"Lu kenapa baru ngabarin gue kalau Alvaro dan Ikram mengalami insiden ini?" amuk Kriss kepada Nandi yang masih mondar-mandir di depan ruang operasi.
Nandi menghentikan langkahnya kemudian ia menatap Kriss, "Gue juga baru tahu dari Alvaro. Untung aja dia sempat sharloc. Kalau enggak, gue nggak tahu apa yang bakalan terjadi sama Ikram dan Varo. Semoga mereka baik-baik saja," ucap Nandi.
Kriss menarik sudut bibirnya, ia patut mengacungkan jempol pada Alvaro yang masih bisa mengambil kesempatan untuk meminta bantuan pada saat dirinya sendiri sudah dalam keadaan sekarat.
Lu emang hebat maka dari itu gue selalu ingin lu jatuh. Gue pikir lu bakalan mati di sana tapi ternyata lu nggak semudah itu juga untuk mati, ya. Baiklah, biar sekali lagi gue bantuin lu buat ketemu malaikat maut.
Flora yang sedari tadi duduk memperhatikan, diam-diam ia memperhatikan sikap Nandi dan Kriss. Ia menangkap hal aneh dari raut wajah Kriss yang terlihat berubah-ubah. Aneh, pikirnya. Namun ia menepis pikiran negatifnya karena itu bukan hal yang masuk akal jika ia sampai berpikiran seperti itu.
Apa-apaan sih lu Flor, bisa-bisanya lu mikir yang enggak-enggak tentang Kriss. Dia itu sahabat Alvaro. Tapi gelagatnya aneh gitu. Ahh, gue ini lulusan fakultas hukum, tentu saja sedikit banyak gue ngerti lah gelagat pelaku sebenarnya itu kayak gimana. Tapi gue takut dan gue nggak berani ngomong soal asumsi gue ini. Takut gue yang salah dan kena getahnya. Ogah!
Tak lama kemudian perawat keluar dari ruangan operasi dan mencari keluarga pasien atas nama Alvaro. Di sana hanya ada tiga orang dan Genta Prayoga sedang menenangkan istrinya yang tadi pingsan dan harus di bawa ke ruang rawat.
"Pasien membutuhkan donor darah saat ini karena kami hanya memiliki persediaan satu kantung saja. Apalagi golongan darahnya sangat langka, kami harap secepatnya ada pendonor. Oh ya, dimana orang tuanya? Mereka pasti memiliki golongan darah yang sama," ucap perawat tersebut.
"Golongan darah Alvaro memangnya apa Sus?" tanya Flora.
"AB Rhesus positif."
Flora terbengang, golongan darah yang cukup langka.
Tak lama kemudian tuan Genta Prayoga datang dan ia menyodorkan diri untuk mendonorkan darah. Untung saja darah Alvaro mengikuti golongan dari sang papi, jika tidak mereka harus mencari lagi pendonor. Dan itu akan membuang banyak waktu hingga Alvaro mungkin tidak akan selamat.
Jika Nandi dan Flora bisa bernapas lega, maka lain lagi dengan Kriss. Ia begitu berang saat tahu Alvaro bisa diselamatkan. Ia harus menyusun siasat lagi untuk menghindari tertangkap polisi. Ia tidak ingin menghancurkan reputasi kelurganya. Sedikit banyak ia juga merutuki tindakannya tadi yang kelepasan dan kelewatan batas.
Tadi gue cuma mau jadiin senjata itu sebagai ancaman doang kalau gue sampai dalam keadaan terancam. Tapi gue nggak nyangka gue sampai menggunakannya sejauh ini. Sial! Kalau sampai gue ketahuan maka gue akan masuk penjara dan keluarga gue bakalan ada di ambang kehancuran.
Flora terus menerus memperhatikan Kriss. Ia baru tersadar bahwa lelaki itu dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ia merutuki dirinya yang baru tersadar bahwa wajah Kriss babak belur.
"Kriss, lu abis jadi samsak ya? Wajah lu ancur babak belur gitu," tegur Flora.
Kriss terkejut begitu pun dengan Nandi yang memang tidak memerhatikan sekitar karena ia fokus menunggu kabar tentang Alvaro.
"Eh iya lho. Muka lu kenapa?" tanya Nandi mendekati Kriss. Ia mengangkat dagu Kriss dan menatap dengan lekat wajah sahabatnya itu.
"Sakit bego!" umpat Kriss. "Gue tadi habis berantem sama kucing liar yang udah mencuri ikan gue," jawab Kriss asal.
Bisa gawat kalau mereka curiga. Gue bahkan sampai lupa mengurus wajah gue saking penasarannya gue sama kabar Alvaro.
"Hah? Apa sih lu. Ngomong yang jelas dong," keluh Nandi.
Kriss hanya cengengesan sedangkan Nandi khawatir bukan main. Dua sahabatnya berbaring di meja operasi sedangkan satunya lagi sayang dengan wajah babak belur.
Flora mendekati Kriss kemudian ia berkata, "Kriss, bukan lu 'kan yang nyebabin Alvaro sama Ikram masuk rumah sakit?"
Deggg ...