
Seorang gadis terlihat sedang berlutut dan di hadapannya seorang wanita yang mengenakan gaun hitam selutut dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung bagusnya itu. Gadis itu terlihat ketakutan tetapi sang wanita justru tak berhenti mengoceh. Gadis itu tak berbicara sepatah kata pun hingga akhirnya ponsel wanita itu berdering dan ia langsung mengangkatnya.
"Gimana sayang, kapan pulang?" tanya wanita itu.
"Oh, jadi urusanmu disana sudah beres? Sesuai seperti rencana?"
"Oke, see you honey."
Panggilan berakhir, wanita itu menyimpan ponselnya ke dalam tas kemudian ia kembali menatap sinis pada gadis kecil yang masih berlutut di hadapannya.
Gadis kecil dengan pakaian biasa, atasan kaos lalu bawahan hanya mengenakan celana jeans selutut. Usianya gadis itu sekitar sembilan belas tahun dan wajah ketakutan itu tetap terlihat cantik hanya saja tidak begitu terawat.
"Jadi, apa lu siap ganti semua duit yang udah gue keluarin buat lu dan keluarga lu sekarang?" tanya wanita itu dengan sinis.
Gadis itu menggeleng lalu ia mulai menangis. Tubuhnya terguncang karena tangisnya. Tubuh mungil itu begitu sedih juga takut dengan wanita ini.
"Saya belum punya uang nyonya Miranda. Saya masih menunggu gaji saya," jawabnya.
"Gaji?" tanya Miranda dengan nada suara mengejek. "Berapa gaji sebagai cleaning service? Nggak bakalan sanggup. Udah gue bilang, lakuin yang gue mau Tara! Lu kenapa nggak nurutin gue? Kalau lu lakuin itu gue jamin semua utang lu ke gue bakalan habis-lunas-tuntas!"
Tara semakin menunduk. Mana mungkin ia melakukan permintaan Miranda. Memang risiko ia akan terjebak dalam rencana itu kecil, tapi yang ia takutkan justru ia terjebak dalam kemarahan dan kemurkaan bosnya. Tara takut, sekali melihat saja ia sudah takut, bagaimana mungkin ia bisa melakukan rencana Miranda yang sangat ekstrim menurutnya.
Lama Tara terdiam hingga akhirnya Miranda memutuskan untuk pergi. Baru beberapa langkah, Miranda menghentikan langkahnya. Tanpa berbalik ia pun berkata, "Gue nunggu keputusan lu malam ini. Lu mau lakuin apa yang gue minta atau lu siap-siap hidup di jalan dan menjadi gelandangan. Nyokap lu yang penyakitan itu bakalan mati di jalanan. Semua keputusan ada di tangan lu, Tara."
Sepeninggalan Miranda, tubuh Tara luruh di lantai. Ia merasa seolah tidak memiliki tulang lagi di dalam tubuhnya. Miranda begitu menakutkan dan ia juga tidak tahu bagaimana bisa ia berhutang pada wanita berhati iblis itu.
Opsi yang diberikan Miranda tidak bisa Tara pilih karena ia tidak bisa menyanggupi keduanya. Hutang puluhan juta tapi ia tidak punya uang sebanyak itu. Atau menjalankan rencana dengan menjebak bos di tempatnya bekerja dengan sebuah skandal yang akan merusak reputasi bosnya dan tentu saja dirinya juga. Tara begitu bingung, semua opsi sangat berat untuknya.
"Tuan Ikram, apa dia bisa membantuku menyelesaikan masalah ini? Apa aku beritahu saja dia? Tapi bagaimana caranya? Apa dia percaya padaku? Aku juga tidak bisa menjebaknya untuk tidur denganku. Selain dia dalam masalah aku pun akan kehilanhan kesucianku jika itu sampai terjadi. Apalagi kalau bos Ikram sampai tahu semua sudah di rencanakan maka aku pula yang akan terkena imbasnya. Ibarat udah jatuh tertimpa tangga pula. Udah kehilangan kesucian maka aku yakin bos Ikram juga akan membalas perbuatanku. Aku harus gimana sekarang?"
Setelah cukup lama melamun, Tara akhirnya memutuskan untuk pergi dari taman ini. Hari sudah semakin sore dan besok ia harus kembali masuk kerja. Apalagi ia sudah meninggalkan ibunya cukup lama hanya untuk menemui Miranda yang justru semakin menambah beban hidupnya.
Sesampainya di rumah, Tara mendapati ibunya yang sedang menunggunya di teras rumah. Rumah itu sederhana saja, rumah yang Tara dan ibunya kontrak selama satu tahun belakangan ini. Keduanya hidup berdua setelah ayahnya meninggal dunia beberapa tahun yang lalu saat Tara masih duduk di bangku sekolah.
"Assalamu'alaikum, mama kenapa diluar saja ma? Hari udah makin sore, masuk yuk. Nanti mama bisa sakit," ajak Tara yang langsung memapah mamanya masuk ke dalam rumah. Ia juga langsung menutup pintu rumah itu dan membawa mamanya ke dalam kamar.
"Wa'alaikum salam. Mama nungguin Tara, mama bosan berada di dalam," jawabnya.
"Ya udah, Tara mau mandi dulu. Nanti kita makan malam bersama," pamit Tara, tak lupa ia kecup pipi sang mama sebelum ia pergi.
.
.
Hingga pukul dua dini hari, Tara masih terus berpikir. Ia tidak bisa membawa mamanya tinggal di jalanan dengan keadaan sakit seperti ini. Ia juga tidak bisa melakukan permintaan Miranda yang terlalu berisiko. Ia harus mengambil jalan tengahnya.
"Ya, entah bos Ikram akan dengar aku atau tidak, tapi aku akan berusaha kasih tahu ke dia tentang rencana Miranda ini. Aku nggak mau terlibat skandal dengan pria mengerikan itu. Bisa habis aku dibunuhnya," gumam Tara.
Setelah mendapatkan keputusannya, Tara pun perlahan mulai memejamkan kedua matanya hingga tertidur pulas.
.
.
Alvaro membuka kedua matanya, yang pertama ia lihat adalah ruangan dengan nuansa putih. Lalu ia mengedarkan pandangannya dan yang terlihat hanya Ikram seorang. Ia juga tahu dimana ia berada sekarang. Ingin bangun tapi rasanya seluruh tubuhnya begitu remuk. Ia ingat terkahir kali ia berada di rumah Nurul dan berkelahi dengan Danish, tapi bagaimana bisa dia berada di rumah sakit dan berapa lama ia tidak sadarkan diri.
Mendadak Alvaro langsung teringat Nurul. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan pagi dan ia khawatir Axelle sudah datang untuk melamar Nurul. Ia tidak bisa diam begini saja, ia harus keluar dan memastikan semuanya.
"Kenapa lu? Masih mau gue tambah sakitnya?"
Eh?
Alvaro mengenali suara itu, begitu ketus dan siapa lagi kalau bukan calon kakak ipar lucknut kalau kata Alvaro.
Danish yang duduk sambil memeriksa pekerjaan di sofa itu pun meletakkan laptop lalu berjalan ke arah tempat tidur Alvaro. Ikram disana pun hanya diam sambil memeriksa beberapa email masuk di ponselnya.
Alvaro mengedarkan pandangannya, ia ebrhadap bisa menemukan sosok Nurul tapi kosong. Hanya ada dua pria ini di dalam ruangan.
"Lu nyari Nurul?" tanya Danish yang sudah duduk di bangku yang ada di dekat brankar.
Alvaro sontak mengangguk. Danish berdecih, ia kadang tidak suka melihat Alvaro yang terlalu membucin pada Nurul tanpa sadar dirinya pun sama terhadap Clarinta.
"Dia nggak ada! Nggak usah berharap bisa ketemu dia. Kalau lu udah baikan mending lu pulang aja, nggak usah lama-lama disini," ucap Danish dengan ketus dan raut wajahnya begitu datar.
"What?! Kok lu nyuruh gue pulang setelah lu mukulin wajah ganteng gue? Nggak adil dong kakak ipar. Harusnya tuh sekarang kita semua membahas rencana pernikahan gue sama Nurul. Ogah gue disuruh pulang setelah bonyok gini," ujar Alvaro tidak terima. Sudah sesakit ini bahkan sampai dilarikan ke rumah sakit, bukannya di ajak pulang ke rumah membahas persiapan pernikahan tapi malah mendapatkan pengusiran.
"Ro, bisa nggak lu kalau ngomong saring dikit. Gue tahu lu udah bego sejak lu jatuh cinta pada pandangan pertama sama Nurul, tapi nggak usah jadi nggak waras juga," ucap Ikram menegur sahabatnya ini. Rasanya Ikram ingin menenggelamkan Alvaro ke dasar samudera agar sahabatnya ini menjadi kembali waras.
Alvaro hanya mencebikkan bibirnya lalu mengangkat kedua bahunya. Apakah Alvaro peduli dengan ucapan Ikram, tentu saja tidak. Ia memang tahu dan sadar semenjak jatuh cinta pada Nurul ia menjadi pria kurang waras.
"Tiga bulan," ucap Danish tiba-tiba yang langsung membuat Ikram dan Alvaro menatap padanya. "Gue kasih waktu lu tiga bulan untuk merebut hati keluarga gue kalau emang bisa. Secara saingan lu berat, dia sahabat gue juga dan lu bukan siapa-siapa gue. Selai itu, gue nggak mau adek gue nikah duluan sebelum gue. Bisa-bisa dia udah punya anak dua atau tiga nah gue belum punya. Dalam tiga bulan ini gue mau nikah dan harus nikah. Setelah itu baru entah lu atau Axelle, Silahkan nain ke rumah buat melamar. Ingat, tiga bulan!"
Setelah mengatakan semua itu, Danish langsung pergi tanpa pamit menyisakan Alvaro dan Ikram yang saling pandang.
"Kram, kok gue kayak identik dengan kata tiga bulan ya?" tanya Alvaro merasa dongkol.