GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
111


Ikram pun berpamitan kepada Tara, sepertinya Ia memang harus kembali ke rumah. Kemungkinan ayahnya sudah tidur dan ia bisa menghindari segala macam pertanyaan ayahnya ketika ia sampai nanti. Ia belum mau berbicara sendiri, harus ada sang tersangka utama jika ayahnya ingin menghakiminya.


Begitu Ikram berbalik hendak masuk ke mobilnya, Tara dengan ragu-ragu memanggilnya. Gadis itu sudah tidak sabar ingin mengatakan segala kejahatan Miranda, ia siap dihukum oleh Miranda. Ia tahu posisinya yang salah, karena ia memiliki begitu banyak hutang pada Miranda. Namun Ikram sama sekali tidak bersalah dan tidak terlibat dalam masalah mereka. Tara tidak ingin membuat bosnya menjadi korban dalam hutang piutangnya ini.


"Bos Ikram, boleh saya bicara sebentar?" tanya Tara dengan ragu-ragu, kepalanya menunduk. Ia begitu takut untuk menatap wajah Ikram padahal Ikram sama sekali tidak menampilkan wajah yang menakutkan.


Ikram berbalik, ia kemudian menghampiri Tara dan mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil. Ia tidak mau ada orang yang lewat dan mengira mereka sedang melakukan hal tidak senonoh di pinggir jalan ini. Ia harus membawa Tara masuk ke dalam mobil agar mereka bisa berbicara lebih aman dan tenang. Menurut feeling Ikram, sepertinya office girl-nya ini hendak mengatakan sesuatu yang penting.


Tara mengikuti keinginan Ikram, memang akan lebih baik jika mereka berbicara di dalam mobil agar tidak ada yang memandang aneh pada mereka atau tidak ada yang mendengar percakapan mereka tersebut. Tara juga ingin berbicara serius kepada Ikram, ia tidak ingin disangka hanya membual saja, entah apakah Ikram percaya dengan ceritanya atau tidak, itu terserah pada bosnya ini. Yang penting Tara sudah mau membantunya dari Miranda dan agar Ikram bisa lebih hati-hati agar terhindar dari rencana busuk Miranda ini.


"Ada apa Tara? Ada yang serius?" tanya Ikram ketika mereka sudah berada di dalam mobil


"Itu bos, Ada hal penting yang ingin saya sampaikan. Saya tidak tahu apakah bos Ikram akan percaya atau tidak, Tapi saya berbicara yang sejujur-jujurnya," ucap Tara dengan sorot mata yang memancarkan kesungguhan.


Sejenak Ikram merasa terpana oleh binar mata tersebut.


Kening Ikram mengkerut, "Gimana gue mau tahu lu bicara jujur atau enggak, gimana gue mau percaya atau enggak sama lu kalau lu belum cerita apapun ke gue. Udah lu cerita aja, urusan gue percaya atau enggak biar itu belakangan aja. Sekarang lu cerita gue bakalan dengerin," kata Ikram.


Dalam hati ia merasa sepertinya apa yang hendak Tara sampaikan ini cukup penting untukya. Dan jika tidak penting setidaknya ia mau mendengar keluh kesah dari anak buahnya di kantor ini. Sebagai image bahwa ia adalah seorang pemimpin yang baik tidak seperti Ben Elard yang di pandangan para karyawannya merupakan bos sadis, iblis berkedok pengusaha.


"Sebenarnya, ini adalah masalah saya sendiri. Tapi karena saya terlibat dengan seseorang yang ingin memasukkan Anda ke dalam masalah saya ini, mau tidak mau saya harus menceritakan kepada anda. Saya meminta maaf sebelumnya bos, mungkin ini kedengarannya agak mustahil tapi seseorang bernama Miranda–"


"Tunggu apa lu bilang Miranda?" potong Ikram, jika saja ini tentang Miranda, pasti akan ada sangkut pautnya dengan dirinya. Dan ia yakin pasti ada rencana busuk di baliknya


Tara mengangguk, ia sempat kaget karena bosnya ini langsung memotong pembicaraannya dan sepertinya bosnya ini mengenal sosok Miranda ini.


"Nyonya Miranda meminta saya untuk membayar hutang saya, saya berhutang begitu banyak padanya karena saya dan ibu saya harus memenuhi kebutuhan begitupun dengan pengobatan ibu saya yang tidak sedikit jumlahnya. Saya awalnya mengira nyonya Miranda ini adalah seorang malaikat tak bersayap yang datang ke tengah-tengah kehidupan kami untuk mengulurkan tangannya dan memberikan bantuan. Awalnya memang ia mengatakan boleh jika saya ingin mencicil angsuran padanya, tetapi mendadak ia merubah isi perjanjian. Ia menginginkan saya menjebak anda, hingga anda terlibat skandal dan akhirnya keluarga anda entah itu keluarga yang mana kata nyonya Miranda akan membuat Anda jatuh dan membuat nama Anda keluar dari harta warisan."


Ikram berdecih lalu ia mendengus kasar. Ia sudah menduga jika ini tentang Miranda maka akan ada sangkut pautnya dengan dirinya dan itu adalah hal yang tidak baik. Untung saja office girl-nya ini bertemu dengannya malam ini, kalau tidak ia tidak akan tahu apa yang akan Miranda lakukan padanya. Dengan begini ia bisa mewanti-wanti suatu saat ketika Miranda mulai melancarkan aksinya itu.


"Lu tahu dari mana, apa Miranda sendiri yang bilang sama lu? Gue sih kenal sama Miranda, dia saudara ipar gue. Tapi kita nggak akur. Tapi thanks ya karena lu udah ngasih tahu ke gue semua ini. Lu juga harus hati-hati sama dia, dan yang paling penting gue mau nanya ke lu, emang berapa sih hutang lu ke Miranda?"


Tara menundukkan kepalanya, ia malu jika harus mengatakan berapa banyak hutang-piutangnya terhadap Miranda. Ia merasa hal ini tidak perlu diketahui oleh bosnya, karena tidak mungkin juga akan meringankan beban hutangnya jika bercerita kepada orang lain.


Tara terharu, kedua matanya berkaca-kaca. Ia tidak menyangka memiliki bos yang berhati baik seperti ini. Image-nya saja yang buruk tetapi pribadinya sendiri merupakan orang yang baik. Tapi Tara sangsi, ia tidak mungkin mengatakan berjumlah hutangnya kepada Miranda ini. Bekerja selama 10 tahun menjadi office girl pun tidak akan sanggup untuk menutup seluruh hutangnya.


"Tara speak up! Gue butuh lu bicara sekarang, gue nggak butuh diam dulu ini. lu nggak usah merasa gue ada niatan sendiri ke elu ya tapi lu itu karyawan gue, lu harus disejahterakan. Sekalian juga ucapan lu barusan ini adalah sebuah kabar baik buat gue, walaupun isi ceritanya buruk. Gue mau berterima kasih dengar benar ke elu. Ya udah ayo sebutin berapa utang lu biar gue bantu sekarang. Kalau lu nggak mau merasa berhutang budi ke gue maka lu bayar aja dengan jadi istri gue, hehehe."


Sejurus kemudian Ikram merutuki dirinya karena keceplosan bicara. Sejujurnya sejak tadi Ia terus memandangi Tara. Wajah gadis ini begitu cantik dan manis. Ikram tidak merasa bosan untuk terus memandangnya. Apalagi ketika ia malu-malu, terkejut atau salah tingkah, sikapnya itu terlihat begitu menggemaskan untuk Ikram.


Gue udah ketular Alvaro, apa ini karma? Apakah jatuh cinta sama mengerikan ini? Kok mendadak gue merasa diri gue jadi bego? Ngomong ngelantur gitu persis kayak Alvaro. Nggak! Nggak boleh kayak gini, masa iya gue ketular sifat Alvaro. Nggak mungkin!


Tara tersentak mendengar penuturan Ikram barusan, Ia tidak menyangka saja bosnya itu bisa berkata demikian. Tapi ia tidak memasukkannya ke dalam hati, karena biasanya hal seperti ini hanyalah menjadi sebuah lelucon di antara para pria kaya. Apalagi mereka masih muda, tidak mungkin mau memilihnya sebagai pendamping hidup yang hanya seorang office girl biasa. Tara tersenyum kepada bosnya, dengan cepat ia menepis ucapan Ikram barusan. Ia mendoktrin dirinya untuk tidak memikirkannya, yang paling penting adalah ia harus menyelamatkan bosnya ini. Sikap manis bosnya ini membuat Tara yakin jika ia harus melindungi bosnya ini.


"Bos ternyata suka bercanda. Saya harus segera pulang, bos. Nanti ibu saya mencari saya karena terlalu lama keluar. Mengenai hutang saya, biar itu menjadi urusan saya. Jujur saya sangat tersanjung karena bos begitu baik ingin membantu saya. Tapi sekali lagi, saya tidak ingin membebani orang lain. Asalkan bos Ikram bisa selamat dari rencana nyonya Miranda maka saya sudah merasa senang. Saya pamit ya bo, anda juga harus pulang dan berhati-hatilah."


Ucapan Tara barusan mampu menyentuh hati Ikram. Gadis ini begitu tangguh dan tidak mau merepotkan dirinya. Jika itu gadis lain, mungkin akan dengan senang hati akan menerima tawaran Ikram. Dan yang paling membuat Ikram kagum, Tara sama sekali tidak menyinggung soal perkataannya tentang menjadikan Tara sebagai istri. Ikram tahu, Tara memang tidak mau membahasnya karena merasa ia hanya bercanda saja. Tapi gadis ini cukup dewasa menyikapi semuanya. Dan Ikram mulai terTar-Tara saat ini.


"Mau gue antar?" tawar Ikram. Entah mengapa ia ingin terus menempel pada gadis ini.


Tara menggeleng, "Rumah saya dekat dan mobil nggak bisa masuk ke dalam gang," tolak Tara halus.


"Ya nggak masalah, gue bisa jalan kaki."


Ikram langsung membuang muka, ia merasa dirinya sudah begitu aneh saat ini. Ia langsung terpikirkan Alvaro yang entah sedang apa saat ini. Ingin curhat tapi khawatir bukan mendapat solusi tapi bully-an dari Alvaro.


Mulut sama hati gue kenapa mendadak jadi aneh gini?


Tara membulatkan matanya, bosnya ini begitu perhatian atau ada maksud lain, pikir Tara. Namun karena tidak enak terus menolak semua keinginan bos tampannya ini, Tara akhirnya mengangguk.


"Ya udah bos, mari ikut saya. Sebelumnya terima kasih karena sudah begitu peduli," ucap Tara diiringi senyuman yang sialnya hampir membuat Ikram sesak napas.


Gue sudah gila!