GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
146


Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 18.00 dan kini di ruang tamu keluarga Prayoga, mereka tengah berkumpul karena nanti pukul delapan malam mereka akan pergi ke kediaman Wistara. Sudah ada keluarga Emrick disana, hanya saja sejak siang hari mereka tidak mengetahui dimana keberadaan Nurul dan Alvaro.


Aluna terus menanyai bundanya tetapi baik Genta dan Yani selalu beralasan bahwa mereka sedang pergi untuk membuat adonan adik bayi. Meskipun tidak paham dengan ucapan kakek neneknya, Aluna kecil hanya menganggukkan kepalanya karena ia senang setelah mendengar kalau orang tuanya akan memiliki adik bayi.


"Tapi ini sudah hampir malam dan mereka belum pulang. Nomor ponsel mereka juga tidak bisa dihubungi," tutur Dianti merasa gelisah.


Baru saja Dianti berucap demikian, dari arah pintu terdengar langkah kaki. Mereka spontan melihat siapa yang datang.


Disana ada Nurul yang tengah berjalan tertatih dengan wajah kusut sedangkan Alvaro di belakangnya tengah berjalan santai dengan bibirnya yang terus saja tersenyum.


Para orang dewasa langsung tahu apa yang baru saja terjadi. Pipi Yani dan Dianti memerah ketika melihat Nurul berjalan dengan pincang dan mencoba duduk bergabung bersama mereka. Apalagi ketika mereka menangkap jejak-jejak merah di leher Nurul, kedua ibu itu langsung memalingkan wajah mereka sedangkan Genta dan Deen saling menatap kemudian tawa mereka pecah.


"Bagaimana, berapa goal?" tanya Genta pada Alvaro yang kini duduk sambil merangkul Nurul sedangkan yang dirangkul terus menepis tangannya.


"Bunda, lehel bunda kenapa melah-melah? Digigit semut?" tanya Aluna yang sedang duduk di pangkuan Alvaro.


Nurul refleks memegang lehernya, ia tidak paham dengan apa yang Aluna bicarakan.


"Leher bunda baru saja digigit serangga besar dan menakutkan," jawab Deen yang merasa gemas. "Ya ampun, apakah putriku akan baik-baik saja dinikahkan dengan predator ini?" celetuk Deen sambil menatap menghiba pada Nurul namun sesaat kemudian ia tertawa.


Semua yang ada di ruangan tersebut tertawa sedangkan Alvaro justru tersenyum bangga karena ia berhasil menggagahi Nurul berkali-kali dan mendapatkan kepuasan berkali-kali juga.


Danish kemudian menanyakan mengapa Alvaro justru membiarkan Nurul berjalan padahal kondisinya sangat kesulitan untuk menggerakkan kakinya. Ia bahkan mengumpati adik iparnya ini karena tidak peka dan peduli pada adiknya.


Alvaro pun menjelaskan bahwa setelah mereka selesai bercinta, Nurul sama sekali tidak mau berbicara padanya bahkan tadi tangan Alvaro ditepis dan diancam jika Nurul akan tidur bersama mama dan papanya jika Alvaro masih mengganggunya.


Tidak ingin malam ini tidur sendirian, Alvaro pun mencari aman dengan menuruti keinginan Nurul.


"Kamu itu janji tidak akan mengulangnya lagi tapi kamu malah mengingkarinya!" gerutu Nurul yang kembali kesal pada sang suami. Ia belum memperhatikan lehernya saking kesalnya pada Alvaro.


Alvaro tergelak, "Mana ada aku berjanji padamu. Buktinya mana?" ledek Alvaro yang semakin membuat Nurul geram.


Nurul pun mengatakan bahwa tadi Alvaro mengatakan sendiri jika ia tidak akan mengulanginya namun sejak siang sampai sore ia bahkan hanya diberikan waktu beristirahat selama dua menit dan Alvaro kembali mengulanginya lagi dan lagi.


Wajah Alvaro memerah saat Nurul menceritakan kelakuan mereka tadi. Namun bukan Alvaro namanya jika tidak bisa mengatasi segala situasi.


"Ayang, zaman sekarang mah janji jangan dihafalin tapi di di screenshot dan juga direkam biar ada bukti akurat!" ledek Alvaro yang semakin membuat Nurul murka.


Sambil bersungut-sungut Nurul meninggalkan ruang tamu dan berjalan menuju ke kamar Alvaro yang kini menjadi kamar mereka berdua. Alvaro segera menyusul Nurul dan dengan sekali gerakan ia sudah menggendong Nurul. Ia tidak mungkin membiarkan istrinya itu berjalan menaiki tangga dengan keadaan yang sulit berjalan.


Walaupun terus Nurul terus meronta, Alvaro tidak peduli karena ia begitu sayang pada wanita ini. Ia kemudian mengecup kilat bibir Nurul sehingga sang istri langsung terdiam.


Sesampainya di kamar, Nurul meminta Alvaro untuk menurunkannya dan tepat di hadapan cermin besar Nurul bisa melihat jika di lehernya penuh dengan jejak-jejak cinta dari Alvaro hingga membuatnya berteriak kuat.


"Alvaro Genta Prayoga! Dasar brengsek!" umpat Nurul kemudian ia memberikan satu bogeman di perut Alvaro hingga suaminya itu meringis.


Baru saja Alvaro akan membalas Nurul dengan pelukan, pintu kamar mereka diketuk dan Alvaro segera membukanya. Di depan pintu berdiri Yani dan dua orang wanita yang tidak dikenali Nurul.


Dua wanita itu memperkenalkan diri dan mengatakan mereka dari salon yang sengaja Alvaro pesan untuk mempercantik istrinya. Tak lupa satu gaun yang ia pesan dari butik mamanya dan Yani sendiri yang mengantarnya.


Alvaro pun mempersilahkan dua wanita itu untuk membantu Nurul mandi dan bersiap sedangkan ia akan mandi di kamar yang lain saja. Waktu mereka kurang dari dua jam sehingga Alvaro mengambil gerakan cepat.


Nurul langsung menolak begitu dua wanita itu akan membantunya mandi. Ia hanya mengambil peralatan mandi yang diberikan dua wanita itu dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


"Yang benar saja, mandi pun harus dibantu!" gerutu Nurul saat ia sudah memulai mandinya.


Nurul sangat menikmati mandi tersebut karena aroma sabun dan shampo yang begitu lembut dan menenangkan. Jika saja Nurul berendam, ia pasti akan ketiduran di bathtub.


.


.


Nurul menuruni anak tangga dengan perlahan, Alvaro yang sedang menunggu di ruang keluarga itu terpana saat melihat sang istri. Dengan cepat ia berjalan ke arah tangga kemudian ia menyambut tangan Nurul. Ia memperhatikan istrinya itu dengan gaun yang dikenakan dan untung saja penata rias itu bisa menyamarkan kiss mark miliknya sehingga Nurul bisa percaya diri mengenakan gaun tersebut.



"Yang, kamu cantik banget. Kalau kayak gini mending nggak usah pergi ke rumah Clarinta. Ngamar yuk!" ajak Alvaro yang langsung merangkul Nurul dan mengajaknya untuk menaiki tangga lagi.



Dua karyawan salon yang berada di belakang Nurul hanya bisa tersenyum menahan tawa mendengar ucapan Alvaro tersebut.


"Kalau sampai lu ngelakuin itu, percaya tidak gue bakalan bawa adik gue balik ke rumah kami," ancam Danish yang langsung membuat Alvaro menghentikan aksinya.


"Ancam terooss!" gerutu Alvaro yang memang ia selalu saja mengalah pada Danish karena ancaman kakak ipar lucknut itu pasti akan terjadi jika dia berani membangkang.


Alvaro kemudian menggandeng tangan Nurul, tak lupa ia berbisik untuk memuji sang istri. "Istriku cantik banget, pulang nanti kita lanjutin lagi ya!"


Nurul langsung menjauh dari Alvaro setelah mendengar ajakan suaminya itu. Alvaro terkekeh, ia sangat suka menggoda Nurul karena wajahnya terlihat sangat menggemaskan saat sedang kesal begitu.


Tak ingin berlama-lama, rombongan mereka pun segera meluncur menuju ke kediaman Wistara. Saat sampai disana, rumah tersebut sudah begitu ramai dan di depan ada Clarinta dan mami papinya yang menunggu kedatangan tamu spesial mereka ini.


Beberapa bingkisan yang khusus dibawa oleh keluarga Emrick langsung diserahkan dan asisten rumah tangga keluarga Wistara langsung sigap mengambilnya dan membawanya ke dalam rumah.


"Kenapa repot-repot membawa bingkisan sih. Mari masuk, di dalam sudah ada banyak keluarga yang berkumpul. Ya ampun, mami nggak nyangka calon mantu idaman mami akhirnya akan menjadi mantu!" celetuk Baya Farezta – mami Clarinta.


Danish langsung mencium punggung tangan kedua orang tua Clarinta sebelum mereka masuk. Ia kemudian menatap Clarinta dan mengedipkan sebelah matanya hingga membuat Clarinta salah tingkah. Ia langsung bergelayut manja di lengan Danish.


"Ck! Anak ini! Tahan dulu, nanti juga bakalan nikah," cibir Ibnu Wistara – papi Clarinta. Ia sedikit malu dengan sikap Clarinta yang terang-terangan memamerkan kemesraan.


Clarinta tidak peduli, ia tetap menggandeng tangan Danish dan menyandarkan kepalanya di lengan kekar tersebut. Orang tuanya hanya bisa menghela napas lalu mereka mengajak rombongan Danish segera masuk.


Clarinta menahan Danish, ia mengatakan bahwa mereka sebaiknya masuk di belakang dan akan menjadi pusat perhatian. Danish ingin sekali mencubit pipi Clarinta yang selalu saja bertingkah aneh dan mirip seperti adik iparnya – Alvaro Genta Prayoga. Padahal Axelle dan Madava saja sangat menutup diri dan terkesan sebagai pribadi yang dingin.


Baru saja keduanya hendak masuk, dua mobil mewah berhenti tepat di depan rumah Wistara. Clarinta dan Danish menoleh. Tiga orang keluar dari mobil yang berbeda dan berjalan ke arah Danish dan Clarinta.


Nurul digandeng Alvaro dan Axelle berjalan seorang diri. Danish menatap iba pada Axelle yang tadi terlihat salah tingkah saat berpapasan dengan Nurul dan Alvaro. Apalagi ketika Alvaro menampilkan sikap posesifnya dan ia merangkul Nurul erat, Danish bisa melintas Axelle membuang muka dan wajahnya terlihat tidak baik-baik saja.


Clarinta menatap bingung pada tiga orang yang sudah berdiri di depan mereka. "Tunggu dulu, kenapa calon kakak ipar gue eh calon adik ipar juga bisa datang bareng elu bos? Kak Axelle, kenapa calon istri kakak justru datang dengan bos Alvaro?" tanya Clarinta yang membuat Nurul dan Axelle saling menatap sesaat.


Ada yang perih di hati Nurul saat ia bersitatap dengan Axelle. Ia bisa melihat mata itu masih memancarkan cinta dan tatapan teduh yang dulu selalu Axelle berikan padanya.


Alvaro yang mendengar pertanyaan Clarinta itu langsung mengecup puncak kepala Nurul, "Lu salah, dia itu calon adik ipar lu karena dia itu istri gue," jawab Alvaro tanpa rasa bersalah dan juga tanpa memikirkan perasaan Axelle.


Mata Clarinta terbelalak dengan mulutnya yang menganga lebar. "I-istri?" tanya Clarinta tidak percaya. "Kapan nikahnya? Terus kak Axelle, kapan putusnya sama Nurul?" imbuh Clarinta, ia terus menatap tiga orang di depannya ini secara bergantian.


Danish yang melihat situasi dan kondisi sudah tidak kondusif, ia langsung mengajak Clarinta untuk segera masuk ke dalam rumah.


Meskipun masih penasaran, Clarinta hanya bisa menuruti ajakan Danish. Sedangkan di belakang mereka, Axelle hanya bisa menatap sambil melempar senyuman tetapi pada Nurul saja. Melihat hal tersebut, Alvaro langsung memasang siaga satu dan ia mengeratkan pelukannya seakan sedang mengatakan pada Axelle kalau Nurul adalah miliknya.


Nurul yang melihat kelakuan Alvaro tersebut langsung mencubit pinggang Alvaro hingga suaminya itu meringis. "Jangan rese deh!" tegur Nurul yang merasa tidak enak hati pada Axelle.