GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
189


Mobil Frey sudah terparkir sempurna di parkiran sekolah, ia kemudian bergegas turun bersama dengan Aluna namun sebelumnya ia sempat mencuri satu kecupan di pipi Aluna sebelum keduanya sama-sama turun. Dan tentu saja gadis itu bukannya berontak tetapi ia sangat senang luar biasa mendapat perlakuan manis dari calon suaminya itu.


Di belakang mereka sudah ada Leon yang mengikuti setelah ia memarkirkan motornya. Sebenarnya sejak tadi Leon sudah mengikuti mereka dan ia sempat terheran karena mobil Frey berhenti cukup lama di pinggir jalan dan entah apa yang mereka bahas dengan Aluna. Hati kecilnya berkata bahwa tadi ada kejadian yang tidak baik-baik saja dan mungkin saja di dalam mobil Frey sedang memarahi Aluna sebab Ia sering melihat Frey dan Aluna saling bertatapan sengit dan juga terlihat tidak akur.


Begitupun dari cerita yang ia dengar melalui Keenan dan teman-teman barunya di sekolah ini, mereka sering mengatakan jika Frey sering marah-marah terhadap Aluna apalagi jika gadis itu didekati oleh pria lain, maka pasti Aluna akan menjadi sasaran kemarahan.


Overprotectif brother!


Seperti itulah tanggapan Leon pada sikap Frey terhadap Aluna. Dengan langkah besar ia kemudian masuk di tengah-tengah Aluna dan Frey yang sedang berjalan menuju ke kelas.


Wajah pria yang tadinya begitu sedap dipandang kini berubah datar, ia menghentikan langkahnya lalu menatap Leon yang dengan tanpa izin sudah menyerobot masuk di tengah-tengah ia dan Aluna. Jika saja bukan di sekolah maka Leon sudah pasti akan babak belur di tangan Frey saat ini.


Aluna sendiri pun merasa bingung kenapa Leon tiba-tiba datang dan merusak suasana bahagianya bersama Frey. Ia sangat tidak suka waktunya diganggu bersama cowok favoritnya ini, akan tetapi si pengganggu ini mendadak datang dan langsung mengubah mood Frey.


"Selamat pagi calon kekasih, selamat pagi calon saudara ipar, gimana kabar kalian hari ini apakah sangat baik?" tanya Leon, Ia kemudian menampilkan cengirannya yang membuat dia terlihat sangat tampan.


Sebenarnya ia tahu baik Aluna maupun Frey sama-sama menatap tidak suka padanya, akan tetapi dia adalah Leon, pantang menyerah sebelum niatnya tersampaikan.


"Bukankah kemarin sudah gue bilang jangan dekat-dekat dengan Aluna! Gue rasa pendengaran lu masih berfungsi dengan baik atau sebenarnya lu pengen pendengaran lu rusak? Kalau iya, bakalan gue kabulin!" sarkas Frey dengan suara dingin dan tatapan yang begitu tajam kepada Leon sehingga Aluna sendiri yang melihat wajah menakutkan pria itu langsung bergidik ngeri.


Leon mengangkat kedua tangannya ke atas kemudian ia tertawa. "Ya ampun Aluna, lu beruntung banget sih punya saudara seperti Frey. Dia sangat menjaga lu dengan baik, sangat cocok buat jadi saudara ipar. Dan Frey, lu tenang aja karena nasib Aluna nggak bakalan buruk kalau sama gue. Harta gue punya, cinta yang besar udah ada, visual gue oke dan sangat meyakinkan untuk memberikan keturunan dengan bibit unggul. Masalah keamanan lu tenang aja, gue jago bela diri," celetuk Leon dengan begitu santainya dan bahkan ia sangat menjiwai perannya dalam menaklukkan hati Aluna.


Rasanya tangan Frey ingin segera memberikan pukulan di mulut tidak sopan Leon. Akan tetapi ia ingat bahwa mereka berada di sekolah dan Frey lebih memilih pergi dengan membawa serta Aluna menjauh dari Leon.


Tatapan Leon berubah datar begitu Aluna pergi. "Gue jadi curiga sama mereka berdua. Kalau mereka kembar pasti ada mirip-miripnya. Nama Frey dan Aluna pun berbeda. Aluna adalah seorang Emrick dan Prayoga sedangkan Frey adalah Griffin dan Smith. Ah, gue jadi pusing. Masalah ini biar nanti gue cari tahu deh," gumamnya kemudian ia bergegas ke kelasnya.


Di belakang Leon, ada Riani yang sudah dari tadi memperhatikan kejadian antara ketiganya. Dia juga mendengar apa yang digumamkan oleh Leon barusan sehingga otak kecilnya itu mulai berfungsi dan turut menerka-nerka seperti apa yang sedang dipikirkan oleh Leon.


"Kalau dipikir-pikir apa yang dibilang tuh anak baru emang betul sih. Dari marga keduanya saja sudah sangat berbeda, akan tetapi mengapa mereka bisa di satu keluarga? Aluna dan Frey juga berbeda kelahiran, itu artinya mereka bukan saudara kembar. Lalu sebenarnya hubungan mereka itu apa?" gumam Riani, ia kemudian menyusul Aluna dan Frey yang mungkin sudah sampai di kelasnya.


Di depan kelas, Aluna saat ini sedang menatap Frey yang tidak turut masuk padahal bel sudah berbunyi. Ia bahkan terkejut karena Frey memang bersungguh-sungguh mengatakan jika ia akan pindah kelas. Tentu saja Aluna melayangkan protes akan tetapi Frey bisa menjelaskan dengan baik agar Aluna mengerti dengan situasinya.


Frey mengusap rambut Aluna, "Nanti jam istirahat jangan kemana-mana dan awas aja kalau sampai gue lihat lu dekat-dekat sama manusia berjenis kelamin laki-laki. Gue cium lu di depan satu sekolahan," ucap Frey yang membuat Aluna melebarkan matanya.


"Siapa takut," tantang Aluna namun kemudian ia segera pergi ke kelasnya karena khawatir Frey akan melakukan apa yang tadi ia ucapkan karena Frey adalah orang yang selalu membuktikan ucapannya.


Frey tersenyum tampan, ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal kemudian ia bergegas kembali ke kelas yang sudah ia lewati sebelumnya karena di situlah mulai saat ini ia akan belajar.


Riani melangkah tergesah, ia masuk ke dalam kelas dan mendapati Aluna yang sedang mengobrol dengan Cici. Sangat tepat sekali karena Cici pun bertanya tentang alasan kenapa Frey pindah kelas.


"Aluna, kenapa bisa Frey pindah kelas? Kok gitu sih? Semangat hidup gue dan motivasi belajar gue mendadak hilang, Luna," rengek Riani sambil menggoyang-goyangkan lengan Aluna.


Aluna menahan napas untuk sesaat, kemudian ia menghembuskannya secara perlahan. Ditatapnya dua gadis yang sedang bertanya dengan pertanyaan yang sama padanya.


"Dia kesal. Gue nggak tahu kenapa tapi dia emang udah rencana mau pindah kelas karena sering berantem sama gue. Yah, salah dia sendiri orang mau pacaran malah dilarang-larang," ujar Aluna dengan alasan yang paling logis dan rasional.


Jawaban Aluna tersebut langsung diterima oleh kedua gadis ini karena memang benar adanya selama ini yang mereka lihat Frey selalu saja kesal dan marah pada Aluna.


"Kalian berdua itu kayak Tom and Jerry tahu nggak. Tapi kalau dari kacamata gue nih ya, kalian itu lebih terlihat sebagai pasangan kekasih yang sering berantem daripada saudara," ucap Riani dengan polosnya.


Mata Cici membulat sempurna sedangkan Aluna mendadak kehilangan kata-kata untuk menimpali ucapan Riani.


"Mereka itu saudara yang manis banget. Ah andai gue punya saudara," imbuh Riani.


Wajah Aluna memerah, ia merasa malu dan juga senang bersamaan. Andai semua tahu jika ia dan Frey bukanlah saudara melainkan calon pasangan suami istri kelak.


.


.


Jam pelajaran telah berakhir dan hari ini terasa sedikit berat bagi Aluna dan Frey dimana mereka tidak berada di ruangan yang sama. Juga terasa berat bagi pemuja Frey karena siswa tampan itu pindah dari kelas favorit. Bahkan saat jam istirahat pun mereka tidak melihat keberadaannya. Itu semua karena Aluna dan Frey berada di perpustakaan -- belajar sambil berkencan.


Leon pun begitu, ia merasa resah karena seharian tidak melihat Aluna bahkan ia mencari gadis itu sampai ke kelasnya akan tetapi ia tidak menemukannya. Dan kini di depan kelas Aluna ia berharap bisa mengajak gadis itu pulang bersama akan tetapi Frey lebih dulu mencegatnya.


"Berhenti mengejar Aluna atau kau akan tahu akibatnya," ucap Frey dengan suara yang terdengar begitu dingin.


Leon tersenyum seringai, "Maaf tapi itu nggak bakalan gue lakukan. Lu juga berhenti mengekang Aluna. Lu itu saudaranya dan bersikaplah layaknya seorang saudara. Jangan bersikap seolah lu itu adalah kekasihnya. Ingat, lu udah punya tunangan dan setelah lulus sekolah lu bakalan nikah!" balas Leon, ia sudah tidak mau menunjukkan rasa takutnya pada Frey yang selama ini hanya pura-pura.


Frey menyeringai, ia kemudian mendekati Leon dan berdiri tepat di sampingnya seraya berbisik, "Bagaimana kalau emang yang lu bilang itu benar? Gue bersikap layaknya seorang kekasih, karena kenyataannya gue dan Aluna adalah pasangan kekasih?"


Deggg ....