
Aina.
Satu nama itu langsung terlintas di benak Alvaro. Ia yakin benar jika Nurul yang mengandung anaknya karena terakhir kali dirinya hanya menyentuh Nurul. Dalam hati ia mengaamiini ucapan dokter Paul. Akan tetapi karena berita itu, ia ingin segera pulang dan mencari wanitanya.
"Kau jangan senang dulu. Ini belum pasti karena kau jadi seperti ini karena terlalu lelah dan kurang makan. Apa uangmu habis sehingga kau tidak bisa membeli makanan? Apa belajar itu sangat melelahkan seperti ini?"
Ucapan sarkas Genta langsung membuyarkan lamunan indah Alvaro yang sedang membayangkan dirinya memiliki anak bersama Nurul dan keluarga mereka hidup bahagia bersama dengan keluarga kecil mereka. Sungguh sangat bahagia walaupun hanya dalam bayangan saja.
Alvaro tidak mengindahkan pertanyaan-pertanyaan papinya tadi. Ia lebih fokus memikirkan Nurul. Genta yang melihatnya justru kembali melamun langsung membentaknya.
"Alvaro Genta Prayoga!"
Yani terkejut mendengar suara melengking suaminya. Begitupun dengan Alvaro. Ia lupa jika papinya sangat tidak suka diabaikan. Sambil memasang wajah bersalah Alvaro menatap papinya. Membuat Genta berdecih.
"Aku tidak kekurangan uang. Kalau papi mau tahu aku kenapa bisa sampai kurang makan itu karena aku tidak berselera dan kenapa aku kelelahan karena hati dan pikiranku lelah memikirkan wanitaku yang entah kemana. Aku sangat merindukannya dan sangat berharap bisa mendapatkan maaf darinya dan membuka lembaran baru di hidup kami. Itu alasannya Pi. Cuma itu."
Alvaro mengeluh frustrasi. Ia selalu mengatakan hal ini tapi mengapa papinya seolah tidak pernah mendengar keluhannya.
Sedangkan Genta, ia hanya memasang tampang datar. Ia sebenarnya tahu, hanya saja ia tidak mau semua ini merusak kehidupan anaknya itu. Wanita itu pergi dengan keinginannya sendiri. Ia bukan membenarkan perbuatan Alvaro atau tidak menyukai Nurul, hanya saja anaknya itu sudah berusaha mencari untuk bertanggung jawab tapi wanitanya yang memilih pergi tanpa meninggalkan pesan apapun.
Anaknya sudah berusaha untuk menebus kesalahannya bahkan sampai sakit seperti ini. Hidupnya dipenuhi kabut penyesalan. Kacau dan tak ada semangat hidup. Ini bukan anaknya. Ia lebih suka Alvaro yang tengil yang suka berpetualang ranjang atau mengerjai wanita daripada menjadi pria frustrasi dan tak bergairah dalam hidup. Ini bukan anaknya yang ia kenal.
Alvaro memang salah karena sudah menghancurkan hidup wanitanya. Tapi dia bertanggung jawab. Dia tidak lari dari masalahnya dan bahkan sampai detik ini Genta tahu kalau Alvaro menyuruh orang untuk mencari Nurul. Tapi wanita itu yang tidak ingin ditemukan oleh Alvaro. Bukan salah mereka jika mereka mulai tidak peduli. Jika saja wanita itu peduli akan diri dan masa depannya, ia pasti akan memberi kabar pada Alvaro. Bukan memilih pergi dan bersembunyi.
Genta akan berdiri di baris terdepan jika suatu saat nanti ada yang datang menuntut atas nama wanita itu. Kenapa nanti menuntutnya, bukan kemarin atau saat ini sebelum terlambat. Ia juga bersumpah dalam hatinya jika seandainya wanita itu memang hamil anak Alvaro maka dengan cara apapun ia akan merampasnya.
"Jika kau ingin bertemu dengannya maka selesaikan urusanmu disini dan hiduplah dengan baik. Papi yang akan mencarinya. Tetapi jika sampai setahun ini dia tidak ditemukan maka papi minta lupakanlah. Papi tidak mau kau hidup dalam penyesalan. Kau memang salah tapi wanita itu lebih salah karena pergi tanpa menuntut apapun. Kau sudah berusaha dan kita sama-sama berusaha. Jika dia memang mau dan ingin bersamamu maka dia akan datang. Tapi jika dia tidak datang, kau tentu tahu alasannya."
Alvaro hendak membantah namun lebih dulu Yani menimpali ucapan suaminya.
"Papimu benar. Kau pikirkan baik-baik ucapan papimu. Dia yang memilih pergi bukan kau yang memintanya. Kau mau bertanggungjawab tapi dia yang lari, bukan? Jadi, hiduplah seperti biasanya, Nak. Mami mohon Alvaro jangan seperti ini. Jika kalian berjodoh maka akan ada cara indah nanti yang sudah diatur sang Pengatur untuk mempertemukan kalian nanti. Percayalah."
Alvaro terdiam, ia mencerna ucapan kedua orang tuanya dan mengingat kembali kekacauan dalam dirinya yang ia lakukan sendiri untuk menghukum kelakuannya. Ia sudah banyak melewatkan hal karena sibuk menghukum dirinya sendiri dalam penyesalan.
Tapi, mengingat dirinya yang bersalah pada cintanya dan terlambat menyadari itulah yang menjadi penyumbat semangatnya. Ia tidak berhenti menyalahkan dirinya atas apa yang ia lakukan pada wanita yang ia cintai. Belum lagi rindu yang terus menggerogoti jiwanya. Tak ada waktu sedetikpun tanpa memikirkan Nurul.
"Sudah saatnya kau bangkit. Percayalah, jodoh sudah ada yang mengatur. Jika kau berjanji akan menyelesaikan studimu disini dengan baik maka papi juga berjanji akan menemukan wanitamu bahkan sampai ke kutub Utara pun akan papi cari untukmu," ucap Genta memberi semangat pada Alvaro.
Alvaro menatap papinya dengan intens, mencari kebenaran dan kesungguhan dari ucapannya barusan.
"Papi bersungguh-sungguh kalau kau mau tahu," lanjut Genta yang melihat tatapan tak percaya Alvaro.
"Deal!"
Genta dan Yani tersenyum lega, mereka senang karena akhirnya Alvaro setuju. Inilah putra mereka yang sesungguhnya. Dalam hati Genta dan Yani berdoa agar selama berada di tempat ini Alvaro bisa melupakan bayang-bayang Nurul dan bisa menemukan cinta yang baru.
Bukan ia tidak mau mencari wanita itu, tetapi ia lebih memilih putranya bersama wanita lain yang benar-benar menginginkannya. Kepergian Nurul tanpa pesan dan tanpa memberitahu apapun itu membuat Genta tersinggung. Ia merasa jika Nurul tidak menginginkan putranya. Disini Genta berpikir jika Nurul mencampakkan Alvaro, bukan sebaliknya.
Jika ada yang ingin menghakimi pemikiran Genta, ia tidak peduli karena cukup baginya berusaha. Ia berprinsip jika ia berusaha dan yang ia usahakan itu pun mau berjuang bersama, maka tidak akan ada kata menyerah. Tetapi jika ia berusaha mati-matian tetapi tujuannya itu menolak berjuang bersama, maka meninggalkannya adalah sebuah keharusan.
.
.
"Apa? Jangan bercanda sama ibu, Nak?" pekik Bu Uswa begitu Nurul mengatakan yang sejujurnya.
Bagai disambar petir di siang bolong, setelah satu bulan Nurul bekerja bersama keluarga Emrick, ia datang dan membawa kabar jika dirinya tengah mengandung.
Nurul memang sudah memutuskan untuk tinggal terpisah karena kecemasannya akan stigma masyarakat. Ia diberikan tempat tinggal di dalam butik milik Bu Dianti yang memang memiliki kamar untuk istirahat dan juga memiliki dapur lengkap. Nurul tidak perlu membayar sewa dan tinggal dengan nyaman disana.
"Kenapa baru sekarang mengatakannya?" lirih Bu Uswa. Ia ternyata salah, dugaannya salah dan lelaki itu memang benar-benar meninggalkan benihnya di rahim Nurul.
"Nurul tidak mau membuat ibu sedih. Tetapi dengan terus menutupinya nantinya akan semakin membuat ibu sedih dan kecewa. Nurul minta maaf, Bu. Walau permintaan maaf ini tiada artinya lagi, Nurul tetap memintanya. Maafkan anakmu yang sudah membuatmu kecewa dengan tidak bisa menjaga diri ini, hikss ...."
Bu Uswa meraih Nurul ke dalam dekapannya. Tangannya meraba perut Nurul yang sudah nampak menonjol. Ia perkirakan usianya sudah memasuki empat bulan. Ia teringat akan lelaki yang mencari Nurul ke rumah Dessy. Bu Uswa harus mengubunginya dan meminta pertanggung jawaban sebelum Nurul melahirkan tanpa suami.
Ia ingin memperbaiki kesalahannya dan ia ingin menebus semuanya. Ia yang salah karena meminta semuanya menyembunyikan tempat tinggal mereka. Jika saja ia tidak egois maka saat ini Nurul pasti sudah menikah dan suaminya akan bertanggung jawab dengan bayi dalam kandungan Nurul.
Dengan berbekal keyakinan karena pria itu sudah mencari Nurul sampai ke tempat Dessy, ia menghubungi Dessy untuk memintanya mencari lelaki yang sudah menghamili Nurul. Ia yakin lelaki itu akan bertanggung jawab.
"Ada apa Bu?" tanya Nurul begitu menyadari Bu Uswa tengah melamun.
"Tidak, ibu hanya memikirkan keadaanmu saja. Apa kau tidak mengalami ngidam atau mual-mual?" kilah Bu Uswa.
Nurul tersenyum dan dengan bangganya ia berkata, "Anakku sangat baik. Dia tidak rewel dan tidak pernah membuatku susah," ucapnya.
Bu Uswa tersenyum lega. Ia pikir Nurul mengalami kesulitan selama ini. "Kalau begitu tinggallah bersama ibu. Ibu bisa merawatmu dan menjagamu dengan baik," pintanya.
Nurul langsung menggeleng," Nurul tidak bisa, Bu. Nurul tidak mau menjadi beban dan sumber masalah. Biarkan seperti ini dulu. Jika sudah lahir baru kami akan tinggal disini. Nurul janji. Ibu bisa berkunjung ketika waktu senggang," ucapnya dengan halus.
Meskipun keberatan, nyatanya Bu Uswa tidak bisa menolak. Ia tahu benar apa maksud Nurul. Ia hanya berdoa agar Nurul dan bayinya tetap dalam lindungan Yang Maha Kuasa.
Keduanya pun akhirnya berbincang-bincang tentang kehamilan Nurul dan tentang pekerjaannya. Ia juga menanyakan tentang Danish dan Nurul hanya menjawab biasa saja karena memang antara dirinya dan Danish tidak ada hubungan apa-apa. Apalagi Danish tahu jika dirinya saat ini tengah mengandung, mana mungkin pria itu mau meliriknya. Nurul sadar diri.
Mereka sudah begitu baik dengan menerima wanita hamil tanpa suami bekerja bersama mereka itu sebuah kesyukuran bagi Nurul. Ia tidak ingin berandai-andai dan berangan-angan.
Sudah cukup!
Bu Uswa merasa tenang karena Nurul bisa mengontrol dirinya dan mawas diri. Ia juga bersyukur karena Nurul saat ini tidak terlihat murung dan wajahnya selalu berseri.
Nanti malam aku akan menghubungi Dessy dan memintanya untuk memberikanku nomor telepon kekasih Nurul. Sudah saatnya mereka bertemu dan memulai hidup baru.