GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
It's too late


Kecanggungan terjadi di dalam ruangan, khususnya antara Alvaro dan Nurul. Haruskah ia berterima kasih atau malah menyalahkan Clarinta saat ini yang karenanya ia dipertemukan dengan Nurul namun dengan keadaan dan situasi yang tidak pernah ia bayangkan.


Alvaro selalu berharap ia bertemu dengan Nurul langsung membawa sang pemilik hati ini pergi menjauh walaupun ia telah terikat dengan siapapun. Tapi hari ini, Nurul datang disaat ia mencoba membuka hati dan memberikan harapan untuk Clarinta.


Di saat ia mulai mengikhlaskan hatinya karena mulai menyadari ada perempuan yang selalu ada untuknya namun terabaikan eh out of the blue Nurul berdiri di depannya dan diperkenalkan sebagai calon istri seorang Daniyal Axelle Farezta--partener bisnisnya--pria terkaya nomor satu--sangat sempurna untuk Nurul.


Sedangkan ia lelaki brengsek yang sudah merusak perempuan yang ia cintai dengan sebuah taruhan konyol yang justru ternyata ia sendiri mempertaruhkan cintanya. Ia sendiri yang terjebak dalam taruhan tersebut dan hatinya terjerat cinta hingga detik ini ia tidak bisa lepas dari jerat cinta Nurul Aina.


It's too good to be true.


Apabila ia mengabaikan taruhan itu dan bermain tulus dengan hatinya, tidak akan ada yang terluka dan tidak akan ada yang sakit hati dalam merindu. Tidak ada yang hidup dalam pesakitan karena terlalu merindu namun tidak bisa bersama.


It's too late.


Semua seperti sudah begitu terlambat untuk keduanya bersama. Alvaro bisa saja merebut Nurul tapi bagaimana dengan Clarinta yang baru saja ia beri harapan ini? Apakah ia harus kembali menyakiti hati seseorang karena memilih cinta masa lalunya?


Dulu ia memilih Miranda dan meninggalkan Nurul. Lalu apakah sekarang ia meninggalkan Clarinta demi untuk bersama Nurul? Orang-orang akan mempertanyakan kewarasannya dalam hal ini.


Alvaro dilema.


Nurul sendiri, ia diam seribu bahasa. Ia memang ingin bertemu dengan Alvaro tapi tidak dalam situasi seperti ini. Ia ingin bicara empat mata, dari hati ke hati. Tidak ada Axelle maupun Clarinta, hanya ada mereka berdua. Tapi pengakuan Alvaro pada Clarinta tadi sukses merontokkan seluruh tulang dalam tubuh Nurul.


Beribu tanda tanya pun muncul dibenaknya. Jika Alvaro memilih Clarinta lalu bagaimana dengan Miranda? Bukankah Kriss mengatakan mereka bahagia dan memiliki seorang anak. Sebenarnya kisah sesungguhnya ini bagaimana? Kenapa begitu rumit?!


"Oh ya, honey kamu kenalan dulu sama rekan kerjaku," ucap Axelle memutus kontak batin antara Nurul dan Alvaro.


Nurul gugup bukan main saat tatapan Alvaro menguncinya, ia salah tingkah dan takut jika tidak bisa menahan diri. Nurul juga berharap agar Alvaro maupun Axelle tidak mendengar debaran jantungnya yang begitu kencang.


Alvaro mendekat ke arah Nurul, ia tersenyum kaku namun who knows kalau saat ini baik Nurul maupun Alvaro sama-sama menahan air mata mereka.


"Halo nona, kenalkan saya Alvaro Genta Prayoga," ucap Alvaro mencoba melawan kegugupannya sambil mengulurkan tangannya.


Dengan tangan gemetar Nurul menyambut tangan Alvaro. Bisa Alvaro rasakan telapak tangan itu begitu dingin. "Halo, s..saya Ain--Nurul," balas Nurul terbata.


Alvaro andai lu tahu gue pingin banget meluk lu.


Aina, Aina gue. Andai lu tahu gue pingin banget peluk lu.


Deheman Axelle membuat tangan mereka terlepas. Axelle sedikit heran melihat keduanya yang bertatapan penuh makna namun sarat akan kesedihan. Diam-diam Axelle mulai memperhatikan gerak-gerik keduanya, ia curiga.


Clarinta sendiri masih fokus pada Nurul yang dikenalkan sebagai adik Danish Emrick. Ia memang sedikit melihat kemiripan antara Nurul dan Bu Dianti--mantan calon ibu mertuanya yang sangat menyayanginya hingga saat ini.


"Kamu adiknya Kak Danish?" tanya Clarinta.


Nurul mengalihkan tatapannya pada Clarinta kemudian ia tersenyum mengangguk. "Iya. Kebetulan sekali saya menemukan keluarga saya setelah puluhan tahun terpisah," jawab Nurul.


Clarinta ber-oh dia karena memang selama ini yang ia ketahui kalau Danish itu anak tunggal. Ia memang pernah mendengar kisah adik Danish yang hilang saat bayi dan ia bersyukur karena kini mereka telah bertemu kembali.


Dari arah pintu masuk pasangan suami istri yang saling bergandengan tangan dan terlihat begitu mesra walaupun usia mereka sudah tidak muda lagi.


Bu Yani terkejut karena melihat keberadaan Nurul di ruangan ini. Ia menerka-nerka apa yang sudah terjadi di ruangan ini diantara Alvaro, Nurul dan Clarinta.


Sumpah demi Tuhan ingin rasanya Alvaro bertanya pada maminya bagaimana bisa ia mengetahui Aina. Apakah selama ini mereka tahu keberadaan Nurul tapi menyembunyikannya darinya.


"Halo Bu, kebetulan saya memang akan menjenguk Clarinta. Anda baik-baik saja?" balas Nurul dengan senyum masih menghiasi bibirnya.


Bu Yani mengangguk, "Pi, ini lho yang tadi mami ceritain yang nolongin mami di dekat kantin tadi. Nah, sekarang yang lagi di atas ranjang itu juga yang nolongin mami di kantor Varo. Kebetulan banget, 'kan? Hari ini mami ditolong dua gadis cantik," ucap Bu Yani bercerita, ia tahu maksud tatapan Alvaro sehingga ia langsung menjelaskan seluk beluk bagaimana ia bisa mengetahui Aina-nya Alvaro.


Mata Alvaro menatap Nurul dengan penuh damba. Wanitanya ini sudah menyelamatkan maminya dan wanita yang baru saja ia beri janji ini juga menyelamatkan maminya. Entah Alvaro harus apa saat ini dan kedepannya.


"Kamu baik-baik saja Clarinta? Masih ada yang sakit?" tanya Bu Yani.


"Nyonya, anda mengenal bos Alvaro?" Bukannya menjawab, Clarinta malah balik bertanya namun pertanyaannya hanya dijawab dengan senyuman kecil.


Siapa yang tahu jika pertanyaan Clarinta itu pula mewakili pertanyaan dalam benak Nurul.


"Oh iya, tadi saya belum sempat bertanya, kenapa Aina meluk ibu sambil nangis-nangis? Katanya juga kamu melihat saya seperti melihat seseorang yang sangat kamu rindukan, memang siapa?"


Bu Yani jelas tahu alasan Nurul yang sebenarnya, ia hanya ingin mengetes saja. Sedangkan Nurul langsung salah tingkah. Dan Alvaro, kebingungannya semakin membuatnya bingung namun ia pasang telinga baik-baik. Tapi satu hal yang ia tahu pasti, Nurul juga merindukannya. Bolehkah Alvaro merasa senang saat ini?


Nurul tidak mungkin menjawab pertanyaan itu, entah mengapa saat ini ia merasa harus menjaga perasaan Axelle. Padahal niatnya datang ke Jakarta untuk memberitahukan Alvaro tentang Aluna. Tapi mendadak ia merasa jika mengatakan tentang Aluna dengan status Alvaro yang memiliki keluarga sendiri, ia takut anaknya itu akan diambil paksa apalagi ia kini menyadari wajah Aina benar-benar mirip dengan wanita yang ia tolong ini.


Jangan-jangan ....


Axelle sendiri penasaran menanti jawaban Nurul. Namun wanita yang mulai mencuri hatinya ini hanya menjawab dengan senyuman tanpa berani mengeluarkan kata-kata.


"Saya pikir kamu merindukan seseorang itu ya anak saya Alvaro Genta Prayoga, mungkin saja kalian pernah kenal. Anak saya ini sangat jahat dan brengsek bukan main, mungkin kamu pernah jadi salah satu korbannya. Tapi semoga itu tidak mungkin," celetuk Bu Yani yang sukses membuat Alvaro dan Nurul berpandangan.


"Mami!" sentak Alvaro.


Bu Yani tertawa, "Maaf bercanda," kilahnya. Padahal ia sendiri sudah menemukan jawabannya saat mendapati Alvaro dan Nurul bertatapan penuh makna. Ia tahu, wanita ini adalah cinta Alvaro dan ia berharap keduanya bisa berbicara empat mata untuk menyelesaikan urusan mereka yang belum selesai.


"Oh ya, Varo kamu tolong bawa Aina ini ke dokter karena tadi tangannya tergores pisau saat nolongin mami. Boleh ya, tadi mami belum sempat bawa dia untuk pertolongan pertama," ucap Bu Yani yang totalitas dalam memainkan drama.


Nurul terkejut, bagaimana bisa mami Alvaro ini berbohong. Padahal ia sudah mendapatkan pertolongan tadi. Sedangkan Alvaro, sepertinya ia cepat tanggap dan dapat mengerti maksud terselubung dari permintaan maminya.


"Nurul kamu terluka? Kalau begitu biar aku saja yang membawamu," serga Axelle, ia takut kalau terjadi sesuatu dengan Nurul, hatinya gusar.


"Maaf tuan Daniyal, saya ada yang ingin dibahas dengan anda. Boleh?" cegat tuan Genta yang kini paham tujuan sang istri. Dasar pasangan sehati!


"Ya udah, Aina lu ikut gue," ucap Alvaro.


Nurul membulatkan matanya, hatinya berdesir dan jantungnya berdebar-debar begitu mendengar Alvaro memanggil nama kesayangan itu. Bahasa yang ia gunakan juga kembali seperti empat tahun yang lalu dan Nurul saat ini merasa galau.


.


.


"Lu apa kabar? Senang ya udah bikin gue patah hati bertahun-tahun."