GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Bikin Bego


Alvaro mencoba mengejar Flora namun Nandi dan Kriss datang menghampirinya. Langkahnya terhenti dan mau tidak mau ia mengurungkan niatnya untuk mengejar Flora.


"Ini nih Nan, yang menang taruhan. Udah jadian aja dia sama Nurul. Traktirannya dong," ledek Kriss yang membuat Alvaro menatap tajam padanya.


"Wettsss … santai bro," ucap Kriss.


"Jadi lu udah ketemu sama Miranda? Kata Kriss Miranda udah balik?" tanya Dandi.


Alvaro mengangguk pelan. Saat ini ia tidak fokus karena pikirannya sibuk menerka maksud dari ucapan Flora tadi.


"Lu kenapa? Kayaknya gue lihat lu nggak senang deh. Lu ditolak Miranda atau diputusin Nurul?" tanya Kriss yang memang memperhatikan raut wajah Alvaro sedari tadi.


"Mana mungkin," sahut Alvaro. "Ayo masuk," ajaknya.


Gue yakin Aina ada di dalam. Dia nggak mungkin ninggalin wisuda hanya karena kejadian kemarin sore. Ya, gue yakin dia ada di dalam dan Flora cuma mau ngerjain gue.


"Tunggu! Ikram belum datang," ucap Nandi karena memang ia belum melihat kedatangan sahabatnya itu.


"Lu jangan coba-coba nyebut nama pengkhianat itu," ucap Alvaro dengan nada penuh penekanan dan langsung pergi meninggalkan kedua sahabatnya.


Nandi dan Kriss saling berpandangan. Nandi mengangkat dagunya isyarat bertanya dan Kriss menggelengkan kepalanya tanda ia tidak tahu. Lalu keduanya sama-sama mengangkat bahu mereka dan berjalan menyusul Alvaro.


Alvaro berdiri di depan pintu setelah mengisi buku absen sambil celingak-celinguk mencari sosok Nurul. Ia melihat Flora sudah duduk namun kursi Nurul masih kosong. Ia terus mengulang mencari ke arah kumpulan mahasiswa Fakultas Hukum namun ia tidak melihat Nurul.


Seingat gue, Aina duduk di kursi itu waktu gladi. Kenapa dia nggak ada?


Alvaro kembali memandangi para peserta wisuda dan tak sengaja pandangannya bertemu dengan Ikram. Ia langsung membuang muka, masih kecewa pada sahabatnya itu. Begitu pun dengan Ikram.


Karena sudah banyak peserta wisuda yang ingin masuk dan Alvaro menghalangi jalan, akhirnya cowok tampan itu berjalan menuju ke kursinya yang sialnya berdekatan dengan Ikram.


"Mau lu cari sampai lu bego sekalipun dia nggak bakalan datang. Dan gue yakin lu tahu semua karena siapa," sindir Ikram yang sedari tadi melihat gelagat Alvaro.


Alvaro langsung menatap Ikram dengan tajam. Ia bingung kenapa ucapan Flora sama dengan yang diucapkan Ikram saat ini.


"Maksud lu apa brengsek?!" tanya Alvaro dengan nada penuh penekanan namun suaranya ia kecilkan agar tidak mengundang perhatian yang lain.


Ikram tersenyum miring kemudian ia diam dan mengalihkan pandangannya tanpa mempedulikan Alvaro yang terus menatapnya. Biarlah ia menganggap Alvaro sebagai makhluk transparan. Namun itu justru menyulut emosi Alvaro. Ia menarik baru Ikram dan hendak melayangkan pukulan namun dicegah oleh Nandi.


"Kalian ini kenapa?" tanya Nandi.


Alvaro menarik tangannya yang dipegang oleh Nandi dan melirik kesal ke arah Ikram.


"Lu tanya aja sama sahabat lu itu. Gue malas," sahut Alvaro yang langsung mengeluarkan ponselnya dan langsung memainkan gamenya.


"Kram, sebenarnya kalian kenapa?" tanya Nandi namun Ikram seakan menulikan telinganya dan ia langsung sibuk dengan ponselnya.


Nandi menghela napas kemudian ia duduk di kursinya yang berada di tengah antara Ikram dan Alvaro sedangkan Kriss berada di sebelah kiri Ikram.


^^^Bro Nandi^^^


^^^Lu tahu nggak ada apa dengan mereka? Yang gue lihat kayaknya mereka ada masalah cukup besar. Nggak mungkin mereka kayak gini. Ini pertama kali gue lihat mereka kayak gini.^^^


Kriss menatap Nandi yang baru saja mengirim pesan padanya.


^^^Bro Kriss^^^


^^^Gue nggak tahu. Tapi seingat gue kemarin Alvaro sempat nyebutin nama Ikram waktu gue nanya Nurul terima dia atau enggak, katanya kalau gue nggak percaya gue boleh nanya tuh ke Ikram.^^^


Nandi yang membaca pesan dari Kriss mencoba memikirkan benang merah dari situasi ini.  Ia melirik Alvaro lalu melirik Ikram. Kondisi dia berada di tengah dua pria yang tengah bersitegang itu membuatnya pusing. Ia yang paling dewasa dalam bersikap diantara ketiga sahabatnya itu harus bisa mendamaikan dua sahabatnya itu.


"Kram, lu tahu kalau Alvaro udah jadian sama Nurul?" tanya Nandi.


Alvaro yang mendengar pertanyaan Nandi pada Ikram melirik dengan ekor matanya sedangkan bibirnya tersenyum miring. Sedangkan Ikram, ia hanya mengangkat bahunya tanpa melirik Nandi dan itu membuat Nandi kembali menghela napas.


"Lu nanya dia? Jelas aja dia tahu, dia ada disana waktu gue jadian sama Nurul," celetuk Alvaro tanpa melepas tatapannya dari ponselnya.


Kriss dan Nandi sontak melirik ke arah Ikram dan yang ditatap enggan menatap balik.


"Kenapa kita nggak ada? Kalian ganti tempat ya? Gue sama Nandi nungguin disana sampai jam tiga tapi kalian nggak datang," ucap Kriss mengingat kemarin memang mereka tidak muncul di tempat yang mereka persiapkan.


Tidak ada sahutan dan itu membuat Nandi memikirkan hal lain. Ia mencurigai sesuatu.


"Lu nanya siapa calonnya? Nggak ada! Nggak bakalan ada karena orang yang dia naksir itu cewek gue. Dasar brengsek lu! Pengkhianat! " ucap Alvaro yang langsung membuat Kriss dan Nandi kaget.


Bukan cuma kedua sahabatnya, tetap seisi ruangan juga dibuat kaget dengan teriakan Alvaro. Mami dan papinya bahkan mengelus dada mendengar suara Alvaro.


"Pi, itu Alvaro kenapa?" tanya Yani resah.


"Udah mi, diam aja. Jangan tambah suasana jadi runyam," ucap Genta namun ia jelas dengar yang tadi diucapkan oleh Alvaro.


Siapa yang sedang mereka perebutkan? Miranda? Atau Aina?


Genta mencoba memikirkannya namun ia berat ke gadis yang bernama Aina karena ia tahu perangai Ikram yang tidak mungkin suka pada Miranda bahkan cowok itu terkesan tidak suka pada Miranda.


Se-spesial apa gadis itu?


Genta Prayoga tersenyum namun senyumnya langsung pudar saat melihat Alvaro tengah ditarik telinganya oleh Sudarman, dosen Alvaro sekaligus kawan lamanya.


"Aww … ya sakit dong Pak," keluh Alvaro saat telinganya di jewer.


"Makanya kamu jangan buat keributan. Acara wisuda sudah dimulai dan kamu memulai acaramu sendiri disini," ucap Pak Sudirman yang langsung membuat Alvaro cengengesan.


"Kamu ya, untung kamu –"


"Untung saya ganteng 'kan Pak," sambar Alvaro yang langsung ditatap tajam oleh Pak Sudirman dan ia pun melenggang pergi. Berdebat dengan Alvaro tidak akan ada habisnya.


Acara demi acara sudah terlewati dan kini adalah acara penyematan bagi mahasiswa lulusan terbaik tiap fakultas. 


Tiap-tiap nama perwakilan dari fakultasnya sudah maju namun lulusan terbaik dari fakultas hukum belum juga hadir.


"Sekali lagi atas nama Nurul Aina Sarjana Hukum," panggil MC namun yang dipanggil tidak menampakkan batang hidungnya.


Flora hanya bisa menatap sedih pada kursi Nurul.


Harusnya ini hari bahagia lu, Nur. Hari ini lu berhasil membuktikan kalau lu layak masuk kampus ini karena lu cerdas. Tapi lu nggak disini dan lu ninggalin semua ini. Ini semua karena cowok brengsek itu!


Alvaro yang mendengar nama Nurul dipanggil namun tidak kunjung datang sontak berdiri dan mencari sosok itu. Ia tidak peduli tatapan heran dari seluruh hadirin di ruangan itu.


"Aina lu nggak dengar nama lu dipanggil?!!" teriak Alvaro tanpa peduli situasinya saat ini.


Kedua orang tua Alvaro semakin malu dibuatnya. Namun akhirnya mereka tahu siapa kekasih anaknya itu. Sebuah senyum terbit di bibir Genta namun ia menyembunyikannya lagi karena teringat ulah anaknya.


"Alvaro Genta Prayoga!"


Suara lantang dan tegas itu langsung membuat Alvaro duduk. Ia tersadar kalau tindakannya barusan sudah membuat ia dan keluarganya malu.


"Ck … nggak nyangka cinta udah bikin seseorang jadi bego," cibir Ikram yang langsung membuat Alvaro menatapnya sengit.


Karena tidak ingin membuat kedua orang tuanya malu, Alvaro mencoba menahan amarahnya. 


Tunggu setelah acara ini selesai, lu bakalan abis sama gue.


"Pi, sepertinya gadis itu sudah membuat Alvaro tergila-gila padanya. Lihat aja tuh kelakuannya, bikin malu. Nggak mandang tempat, dia bertingkah seenaknya," bisik Yani yang diangguki oleh Genta.


Aku makin penasaran pada gadis ini. Dan kenapa dia tidak hadir untuk wisuda?


Genta hanya bisa membatin sambil menunggu informasi dari orangnya.


Sedangkan Alvaro semakin gelisah. Nurul benar-benar tidak ada di kampus dan tidak datang untuk wisuda yang parahnya tanpa memberi kabar. Ia langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Nurul namun masih sama seperti tadi, masih operator yang menjawabnya.


Aina lu kemana? Lu dimana? Lu pergi ninggalin gue? Lu marah sama gue? Gue minta maaf, please jangan tinggalin gue.  Gue cin —


Alvaro tersentak. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali. Ia berusaha menepis pikirannya tadi.


Nggak! Nggak mungkin. Hahaha, gue cuma mau Miranda dan mau Aina pergi ya pergi aja. Toh gue juga udah dapatin dia. Bodoamat sama dia.


Setelah meyakinkan dirinya, Alvaro tetap saja merasa lain dengan perasaannya.


"Gue rasa gue udah gila," gumam Alvaro.