
"Grandma harap kalian bisa secepatnya memutuskan untuk bertunangan ngan. Axelle, usiamu sudah cukup untuk menikah, Nak. Apa kau tidak melihat Dava, adikmu bahkan sudah menikah lebih dulu darimu. Adikmu Clarinta pun akan segera menyusul. Kau akan tertinggal padahal kau yang paling tua dari semua cucu grandma," ucap grandma Delila dengan suara lembutnya.
Evelyn menahan tawanya hingga ia yang baru saja meneguk minuman langsung terbatuk. Axelle menatap sengit ke arah wanita cantik itu, ia yakin sekali Evelyn batuk karena ingin menertawakannya. Terbukti dari wajahnya yang memerah dan ujung matanya yang berair.
Evelyn lalu melempar senyuman manis, di depan calon nenek mertua ia akan memasang tampang wanita elegan dan calon cucu menantu yang baik agar langkah menuju sah semakin mudah.
"Ev, kau tidak apa-apa, Nak?" tanya grandma Delila.
Evelyn mengangguk, "Aku tidak apa-apa grandma, hanya saja tadi aku terlalu bersemangat untuk menghabiskan makanan ini sehingga aku sedikit tersedak. Tapi I'm okay!" jawab Evelyn seraya tersenyum manis pada grandma Delila.
Jika grandma tersenyum pada Evelyn maka berbanding terbalik dengan Axelle yang justru menatap datar kepadanya. Evelyn sama sekali tidak peduli dengan sikap dingin atau arogan Axelle karena ia yakin pria sempurna ini adalah jodohnya. Jika bukan lewat tangan Tuhan maka lewat tangan grandma Delila.
Pesona Axelle memang sudah membuatnya jatuh cinta sehingga Evelyn selalu tertantang untuk bisa menaklukkan hati pria dingin ini. Selama ini Evelyn memang memiliki circle teman dengan banyaknya pria tampan dan mapan, juga banyak yang hendak melamarnya tetapi Evelyn selalu menghindar. Ia sama sekali tidak tertarik dengan mereka dan ketika ia bertemu dengan Axelle untuk pertama kalinya di kantor keluarga Farezta, ia langsung terpesona dan berniat menjadikan pria ini sebagai jodohnya.
Apalagi setelah Axelle berhasil mengambil first kiss darinya, Evelyn semakin bertekad untuk menjadikan Axelle suaminya. Dalam hidup Evelyn, ia berprinsip bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah pria yang pertama kali mengambil ciumannya dan itu adalah Axelle, pria yang ia sukai.
Hidup di kota besar dan belajar bertahun-tahun di luar negeri , Evelyn tetap mampu menjaga dirinya hingga akhirnya Axelle berhasil menyentuh bibirnya juga hatinya.
Awalnya Evelyn hendak menolak ketika maminya mengatakan jika dirinya akan dijodohkan dengan putra dari keluarga Farezta. Ia menolak saat itu karena untuk menikah ia belum siap. Bahkan ia sudah mempersiapkan diri untuk mengambil pendidikan S-3 di Eropa. Tapi setelah ia dipaksa untuk menemui pria yang dijodohkan dengannya, jantung Evelyn langsung berdetak kencang, bahkan ia hampir hilang fokus saat menatap wajah pria tampan itu dan menyentuh tangannya ketika mereka berkenalan.
Untung saja ketika itu ia masih mampu mengendalikan diri. Ia bisa membaca bahwa Axelle sama sekali tidak tertarik dengan perjodohan ini. Evelyn merasa tertantang karena selama ini ia yang selalu menolak dan kali ini justru ia yang ditolak. Bukan soal ambisi atau obsesi, Evelyn memang jatuh cinta pada pria yang katanya jomblo ngenes ini.
"Bagaimana Axelle? Apakah kau siap bertunangan dengan Evelyn?" tanya grandma membuyarkan lamunan Evelyn.
Jawab iya please!
Axelle menatap grandma Delila dengan tatapan sulit diartikan. Ada penolakan dan juga rasa tidak tega di wajahnya. Jika menolak maka ia takut membuat grandma kecewa. Tapi jika ia setuju, apa ia bisa menjalani hidup dengan Evelyn–perempuan yang tidak ada di hatinya dan selalu membuatnya kesal?
Axelle terdiam berpikir keras, ia sesekali memandang Evelyn.
Wajahnya sangat cantik walau aku lebih suka wajah imut Nurul. Dia terlihat elegan walau aku lebih suka melihat Nurul yang terlihat apa adanya. Apalagi sikap menuebalkannya, apa aku sanggup? Aku tidak akan mengalami penuaan di usia dini, 'kan?
"Axelle, apakah kau memikirkan Nurul kekasihmu itu?" tanya grandma yang langsung membuat Axelle tersentak sedangkan Evelyn kaget luar biasa.
Evelyn memang tahu jika Axelle memiliki kekasih tetapi jika itu Nurul, apakah Nurul yang sama dengan kekasih Alvaro?
"Grandma, mengapa membawa Nurul dalam masalah ini?" ujar Axelle dengan nada suara yang dipelankan.
Grandma hanya tersenyum tipis, ia tahu benar begitu ia menyebut nama Nurul, sorot mata Axelle langsung berubah. Ia tahu cucunya ini masih mencintai Nurul dan ia juga tahu hanya wanita itu yang ada di hati Axelle. Tapi semenjak kejadian di rumah sakit, grandma tidak pernah lagi melihat Axelle menggandeng Nurul. Lebih tepatnya Axelle yang sudah jarang menginap di rumah utama.
"Kau tidak bisa dengannya, Axelle. Kau seorang pria single, harusnya kau mencari wanita untuk jadi istri seperti Evelyn. Apa kurangnya dia? Cantik, berpendidikan tinggi, keluarga terpandang dan yang pasti dia masih single. Sedangkan Nurul, dia memang wanita single tetapi dia punya anak diluar nikah. Grandma tidak mau kau menjadikan wanita itu istri dan merusak reputasi keluarga kita!" ucap grandma yang akhirnya mengeluarkan isi hatinya selama ini yang selalu ia pendam terhadap Axelle.
"Grandma!" sentak Axelle hingga grandma Delila dan Evelyn tersentak.
"Maaf, tapi grandma jangan berbicara seperti itu. Bagaimana pun sebentar lagi kita akan berbesanan dengan keluarga Emrick. Clarinta dan Danish akan segera menikah dan bulan depan mereka akan bertunangan. Tolong jangan seperti itu grandma," ujar Axelle, ia sebenarnya merasa bersalah karena sudah membentak grandma Delila.
Axelle akan selalu begitu, entah mengapa ia paling tidak suka mendengar seseorang mengatakan hal tidak baik tentang Nurul. Hati Axelle sakit, seperti dirinya yang tengah mendapatkan perlakuan buruk jika itu menyangkut Nurul.
"Cukup. Pembicaraan kita sudah berakhir. Grandma menantikan tanggal pertunangan kalian. Jika bisa setelah Clarinta menikah maka kalian pun menikah. Grandma tidak menerima penolakan!" tegas wanita tua yang masih terlihat cantik itu.
Evelyn beridir dari kursinya. Axelle dan grandma menatap heran pada wanita yang sedari tadi diam tenang itu kini terlihat wajahnya memerah padam.
"Maaf grandma, aku tidak bermaksud bersikap kasar pada grandma. Tapi sedari tadi aku hanya diam menyimak disini, apa tidak ada yang mau meminta pendapatku. Aku Evelyn Mahesa, tidak bisakah kalian melihat dan memikirkan perasaanku? Aku juga berhak bersuara bukan? Dan aku pun menolak perjodohan ini! Aku tidak bisa bersama dengan pria yang tidak menginginkan aku. Lagi pula aku ini tidak buruk dan sangat laris di pasaran. Banyak pria kaya dan tampan pun berbaris teratur melamarku. Dan aku tidak mungkin menyia-nyiakan waktuku seumur hidup untuk bersama dia-" Tunjuk Evelyn pada Axelle,- "Aku juga menolak! Aku tidak ingin menikah dengan pria yang tidak menginginkanku. Kalian pikir aku ini tidak laku dan hilang pesona sehingga kalian bersikap seperti ini?"
"Dan kau tuan Daniyal Axelle Farezta, jangan mengira kau itu pria sempurna. Jangan juga berpikir kalau aku ini adalah pengemis cintamu. Bukan! Aku Evelyn Prayoga Mahesa, pria sepertimu bisa kudapatkan dimana saja. Saya rasa pembicaraan kita cukup sekian dan terima kasih untuk penghinaan ini tuan dan nyonya Farezta. Saya permisi dan perjodohan ini dibatalkan!"
Axelle dan grandma Delila terkesiap mendengar penuturan Evelyn barusan. Keduanya sama sekali tidak menyangka jika Evelyn akan menolak dan berkata seperti itu, sungguh sindiran yang ironi.
"Evelyn, jangan bicara seperti itu Nak. Maafkan kami, grandma tidak bermaksud–"
"Tidak apa grandma. Jangan khawatir, aku tidak marah dan tidak patah hati. Yang ada, cucu arogan grandma ini yang nantinya akan menyesal karena menolak seorang Evelyn Prayoga Mahesa! Saya permisi, saya harus segera kembali ke Jakarta," ucap Evelyn.
Dengan elegan Evelyn berjalan menjauh dari meja makan yang ada di kediaman keluarga Farezta. Bukan di ruang makan, melainkan di rumah kaca tempat dimana banyak tanaman indah, langka dan mahal milik grandma dan mommy Axelle. Grandma sengaja meminta asisten rumah tangga untuk menyiapkan sarapan mereka disini agar suasana lebih nyaman dan romantis.
"Evelyn tunggu. Aku minta maaf dan mari kita membicarakan tentang pertunangan kita. Kapan kau akan siap untuk aku lamar?" ujar Axelle dengan segera. Mendadak ia merasa gelisah ketika Evelyn menolaknya.
Yess … hahaha, emang strategi gue yang sok jual mahal dan menolak itu adalah ide terbaik. Gue udah yakin cara ini pasti berhasil. And see, dia mau lamar gue. Huaaa … gue senang banget. Otw jadi istri pujaan hati gue nih. How lucky I am!