
"Alvaro Genta Prayoga!"
Mendengar seseorang memanggil namanya membuat langkah buru-buru Alvaro terhenti. Ia tahu siapa pemilik suara itu dan ia cukup kesal karena ia yakin akan sama seperti Nandi tadi--melambatkan perjalanannya.
Dengan malas Alvaro berbalik badan, ia sedikit tersentak karena melihat Ikram juga sedang menarik koper miliknya. Alvaro mengernyit, namun ia langsung paham kalau Ikram ada urusan bisnis di luar kota.
"Lu mau kemana?" tanya Ikram.
"Gue? Tentu saja ke tempat pemilik hati gue," jawab Alvaro songong.
Ikram mendengus, "Gue juga mau ke sana. Lu mending ikut sama gue," ucap Ikram.
Alvaro menaikkan sebelah sudut alisnya, "Lu ada urusan apa disana?" tanya Alvaro.
Ikram menghela napas, ia kemudian menceritakan tentang kelakuan Kriss yang ingin menuntut harta warisan dan sialnya justru nyasar pada sahabat ayahnya. Tidak ada yang ditutupi oleh Ikram pada Alvaro, semua ia menceritakan semuanya hingga Alvaro yang mendengarkan menjadi semakin geram dengan kelakuan mantan sahabat mereka itu. Padahal jika bisa Alvaro akan kembali menerima Kriss sebagai sahabatnya seperti dulu karena walau bagaimanapun mereka sudah tumbuh bersama dan melewati banyak hal bersama.
Sejahat apapun sifat Kriss dulu, Alvaro tidak bisa berbohong jika ia masih menyayangi sahabatnya itu. Ia siap menerima jika Kriss datang kembali padanya sebagai seorang sahabat. Bukan semakin menjadi musuh untuk mereka.
"Dia semakin menjadi saja. Tadi juga Nandi bilang kalau dia ketemu Miranda sama anakny di hotel. Kayaknya memang mereka serius mau menabuh genderang perang sama kita. Gua nggak tahu harus bersikap seperti apa sama dia, dia juga pernah jadi bagian dari kita dan gue masih berharap Kriss berubah," ungkap Alvaro.
Ikram terkekeh, "Lu jangan mimpi disiang bolong Ro. Gue aja saudaranya nggak dianggap apalagi lu yang udah bikin dia sakit hati dan merasa terus disaingi sama lu. Mending kita berangkat sekarang. Oh iya, kenapa lu nggak naik jet pribadi aja?"
Alvaro berdecak, "Perjalanan singkat dan gue harus ngeluarin biaya banyak dengan naik jet pribadi? Ogah!"
Keduanya pun tertawa kemudian melanjutkan perjalanan mereka.
"Nanti lu nggak usah nginap di hotel, kita nginap di rumah om Deen aja. Gue bakalan ngomong kalau gue bareng lu. Dia pasti perbolehin," usul Ikram.
"Om Deen itu sahabat bokap lu, 'kan?" tanya Alvaro memastikan dan Ikram menjawab dengan anggukan.
Hmmm ... om Deen mungkin bisa bantu gue buat cari tahu soal Aina.
"Iya, Deen Emrick itu sahabat bokap gue sejak lama. Tapi kasus ini juga bakalan gue bahas sama anaknya Danish Emrick, karena Kriss yang meminta Danish buat bantuin dia dan menjadi pengacara mereka," jelas Ikram.
Alvaro menautkan kedua alisnya.
Kenapa gue akhir-akhir ini kayak sering dengar nama Emrick?
Sambil berjalan Alvaro sambil berpikir pula hingga senyuman tersungging di bibirnya.
Deen Emrick, Danish Emrick dan Nurul Aina Emrick. Ya Tuhan, kenapa Engkau baik sekali sih. Gue yakin kali ini semesta restuin gue buat berjuang dan dapatin Aina. Mimpi apa gue semalam sampai-sampai mendapat kejutan seperti ini? Aina, lu siap-siap aja karena lu bakalan dapatin kejutan yang sangat mengejutkan dari gue. Pas, langsung mendarat di rumah calon mertua. Hahaha.
Ikram yang melihat Alvaro senyam-senyum langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak mau ikut campur tapi ia yakin kali ini Alvaro pasti sedang memikirkan Nurul.
"Tapi gue nggak bisa ikut lu nginap. Kak Aleesha bisa ngamuk kalau gue nggak ke rumah dia," ucap Alvaro yang teringat akan kakaknya itu yang juga tinggal di daerah yang sama dengan Nurul.
Ikram langsung mendesah kecewa, "Biar gue deh yang ngasih tahu kak Aleesha. Dia pasti nggak bakalan marah," bujuk Ikram. Ia sebenarnya merasa canggung jika hanya sendiri di rumah Deen Emrick yang tidak pernah ia datangi itu.
Alvaro nampak sedang berpikir padahal ia sudah sangat setuju dengan saran Ikram yang akan bicara pada kakaknya. "Oke!"
Ikram langsung senang dan merangkul Alvaro.
Ini bisa dikatakan blessing in disguise alias berkah terselubung, hehehehe. Aina, aku cinta kamu. Tunggu aku ya.
.
.
Axelle tidak peduli dengan masa lalu Nurul yang entah seperti apa karena satupun tidak ada yang mau memberitahunya. Ia bisa saja mencari tahu tapi ia tidak mau menyakiti Nurul karena tindakan itu jelas akan menyakitinya karena Axelle tidak percaya dengannya dan malah mencari tahu kisah kelamnya. Bukankah biasanya pasangan lebih baik menatap dan menata masa depan daripada mencari tahu kisah masa lalu dan meratapinya?
"Kita akan membelikan apa nih buat Aluna?" tanya Axelle begitu mereka memasuki pusat perbelanjaan.
Nurul nampak berpikir dan Axelle diam-diam menikmati wajah Nurul dan segera mengalihkan pandangan saat Nurul menatapnya.
Sial! Jangan sampai ketahuan.
Nurul sedikit aneh karena ia merasa Axelle seperti sedang menatapnya tadi. Ia buru-buru menyadarkan dirinya untuk tidak berpikiran aneh terhadap Axelle karena jujur sejak tadi ia merasa Axelle seperti memperlakukannya layaknya seorang kekasih. Nurul takut terbawa perasaan dan takut jika nanti ia bermain hati dengan pria 99% nyaris sempurna ini dan akan berujung pada patah hati.
Bukan tanpa sebab, ia adalah seorang wanita yang memiliki satu anak tanpa menikah sedangkan Axelle adalah pria lajang yang hampir sempurna. Tidak bisa dan sangat tidak cocok bersanding dengannya. Nurul harus pandai menjaga hatinya agar tidak bermain dan jatuh pada pria dengan sejuta pesona ini.
Ya Tuhan kenapa tuan muda Daniyal Axelle Farezta ini terlihat sangat mempesona hanya dengan mengenakan pakaian santai seperti ini. Sangat berbeda dengan dia yang selalu memakai setelan formal dan kenapa gue harus bandingin penampilannya. Gue harus hati-hati dengan hati gue, nggak boleh sembarang mendarat!
"Aluna itu anaknya suka segala hal, dia bukan anak yang picky jika diberikan sesuatu. Tapi kadang dia cukup susah diatur dan sangat tengil seperti--"
Nurul langsung membungkam mulutnya sendiri. Ia hampir saja menyebut nama Alvaro jika saja ia tidak langsung tersadar.
"Seperti?" tanya Axelle degdegan.
"Seperti gue lah. Dan lebih mirip seperti kak Danish yang memang seperti itu," jawab Nurul yang langsung berlari meninggalkan Axelle.
Axelle tersenyum lebar, ia seperti remaja yang tengah kasmaran. Dengan cepat ia berlari menyusul Nurul yang sudah masuk ke dalam salah satu toko yang ada di pusat perbelanjaan tersebut.
Keduanya asyik memilih berbagai barang untuk Aluna, dari pakaian hingga mainan dan yang paling antusias adalah Axelle. Nurul bahkan sudah menolak ini itu pilihan Axelle yang sangat banyak tapi Axelle dengan santainya menjawab jika ini adalah hadiah darinya dan Nurul silahkan mencari sendiri apa yang ingin dia berikan pada Aluna.
"Memang sangat sulit berdebat dengannya," gumam Nurul yang masih bisa didengar oleh Axelle.
Pria tampan dan mapan ini hanya melebarkan senyumnya, senyum penuh kemenangan karena lagi-lagi Nurul tidak bisa mendebatnya.
"Jangan terlalu banyak membeli barang buat Aluna, dia bisa saja menagihmu nanti dan meminta lagi dan lagi padamu," tegur Nurul.
"Ya nggak masalah dong, aku 'kan calon ayah yang baik buat dia," celetuk Axelle yang langsung mendapat cubitan dari Nurul.
Axelle meringis sambil tertawa karena berhasil membuat Nurul kesal lagi. Sudah menjadi kegemaran Axelle membuat Nurul kesal agar ia bisa menikmati wajah menggemaskan Nurul yang semakin cantik saat kesal.
"Sudah kukatakan padamu wahai tuan muda Daniyal Axelle Farezta yang arogan dan pemarah, jangan membuatku baper dan jangan sampai membuatku bermain hati denganmu. Aku tidak mau jadi pecundang lagi karena membencimu dikemudian hari!" tandas Nurul. Biar saja ia blak-blakan karena tidak ada gunanya jika semuanya hanya terpendam dalam hati. Apalagi pada Axelle, Nurul tidak pernah sungkan jika harus mendebat atau mengatai pria kaya ini.
"Dan sudah kukatakan padamu nona muda Nurul Aina Emrick yang in syaa Allah bakalan jadi nyonya muda Nurul Aina Farezta, mari kita bermain hati bersama. Aku siap bermain bersamamu dan kita akan memenangkannya bersama. Aku tidak akan membuatmu jadi pecundang atau pengecut saat ini dan nanti," tegas Axelle.
"Kau!" tunjuk Nurul, "Sudahlah, aku tidak punya banyak tenaga untuk berdebat denganmu. Sebaiknya kita pulang karena ini sudah semakin larut," ajak Nurul yang sudah tidak bisa lagi mengekspresikan bagaimana perasaannya saat ini. Ada rasa senang juga rasa takut dan juga rasa risih karena hatinya masih utuh untuk Alvaro.
Haruskah aku merelakan dan membagi hatiku ini?