GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Normal-normal Saja


Mata Miranda terbelalak, yang benar saja itu dibilang penawaran murah. Tentu saja Miranda tidak mau hal itu sampai terjadi. Dia memilih meninggalkan pekerjaannya dan memilih Alvaro karena Alvaro memiliki segalanya.


Tidak bisa, Miranda tidak bisa kehilangan segalanya.


Pikiran Miranda saat ini begitu kacau. Rasanya saat ini ia sedang dipermainkan oleh keluarga Prayoga.


Yani dan Genta yang melihat ekspresi Miranda diam-diam tersenyum miring meremehkan. Mereka sudah yakin akan ekspresi Miranda yang seperti ini.


"Bagaimana?" tanya Yani.


Miranda menatap Yani yang sedang tersenyum. Senyuman yang indah namun terlihat mengejek di mata Miranda.


Come on Miranda, lu harus mikir jalan terbaik. Tapi kalau menurut gue, gue yakin Alvaro nggak bakalan dicoret dari daftar keluarga Prayoga. Dia satu-satunya ahli waris. Mereka pasti cuma mau nguji gue doang sampai dimana gue mampu mempertahankan hubungan ini. Oke Miranda, lu semangat dan jangan mau kalah.


Miranda berdehem kemudian ia melirik Alvaro lalu kembali menatap pasangan suami istri di hadapannya ini dengan tenang.


"Maaf tuan dan nyonya, saya mencintai Alvaro tanpa alasan. Jadi, kaya ataupun miskin dirinya, saya tetap mencintainya. Saya akan mendampinginya dalam suka dan suka. Walau dia miskin sekalipun asalkan kami tetap saling menyayangi maka itu bukan menjadi masalah untuk saya," jawab Miranda mantap.


Genta tersenyum kecut. Yani terbengang sedangkan Alvaro hanya menaikkan sebelah sudut alisnya. Ia yakin ini tidak sesederhana yang ia dengar.


Wah rubah ini mulai menunjukkan aksinya rupanya.


Genta tak habis akal, ia jika Miranda punya wajah setebal bata, maka ia pun punya beribu cara untuk menghempas Miranda.


"Wah, sungguh saya sangat tersanjung karena anak saya dicinta dengan begitu besar olehmu," ucap Genta dengan menampilkan wajah bahagia. Miranda jelas saja terbang dibuatnya.


"Baiklah, besok kalian akan bertunangan dan hari ini kita akan ke kantor pengacara keluarga Prayoga untuk memindahkan ahli waris pada Reyhan anaknya Aleesha, cucu papi. Dia yang akan menjadi penerus Prayoga. Sekaligus mengeluarkan Alvaro dari daftar keluarga Prayoga. Kami akan mempersiapkan pesta pertunangan kalian dengan megah lalu setelah itu silahkan angkat kaki dari rumah ini dan serahkan segela fasilitas milik keluarga Prayoga."


"What?!"


Alvaro dan Miranda sama-sama memekik. Mereka terkejut dengan keputusan Genta. Jadi benar-benar seserius itu ucapan tuan Prayoga ini.


Miranda kesal bukan main. Benar-benar dipermainkan oleh keluarga Prayoga dan sialnya lagi Alvaro bahkan tidak berniat membelanya.


"Pi, jangan kayak gini dong. Varo ini anak mami dan papi," protes Alvaro.


"Papi 'kan sudah memberikan opsi. Jika kalian memilih lanjut ya silahkan dan jika kalian putus maka kau akan tetap jadi anak kami. Ah sudahlah, papi sudah terlalu banyak bertele-tele. Jadi intinya saja kami tidak setuju dengan hubungan kalian. Pembicaraan hari ini selesai. Pikirkan baik-baik apa yang akan kalian pilih. Ayo Mi, temani papi ke kamar."


Genta dan Yani meninggalkan Alvaro dan Miranda yang sedang bersitegang. Alvaro sebenarnya tahu secara tidak langsung papi dan maminya membantu dirinya lepas dari Miranda. Ia tidak mungkin langsung menampilkan wajah senangnya. Ia perlu sedikit bersandiwara untuk berempati pada Miranda.


Gue udah belajar banyak soal bersandiwara. So, mari kita mainkan drama ini sayang.


Alvaro menatap Miranda kemudian ia menggenggam tangannya. Wajah Alvaro nampak sangat sedih. Namun senyumannya terlihat begitu hangat untuk Miranda.


"Randa, kamu serius mau hidup susah sama aku? Kalau iya, mari kita datang ke mami dan papi untuk merencanakan pertunangan kita besok. Aku sudah tidak sabar," ucap Alvaro dengan mata berbinar-binar.


Miranda tersenyum kaku, ia bingung harus menjawab apa.


Tunangan sama lu sih gue mau, tapi kalau untuk hidup susah … mending gue balik ke Daddy. Gue nggak bisa! Gue emang cinta sama Alvaro, tapi masa iya hidup cuma makan cinta doang. Gaya hidup gue saat ini udah beda dan gue adalah seorang model internasional. Gue nggak mau jadi tulang punggung buat Alvaro. 


Alvaro menangkap raut wajah gusar disertai penolakan Miranda. Ia tersenyum kecut. Mengumpat dalam hati dan menyayangkan sikap Miranda. Padahal ia bisa saja menjadikan Miranda istrinya jika akhirnya ia tidak menemukan Nurul.


Gue kira lu emang beneran tulus sama gue. Baru digertak dengan harta aja lu udah siap-siap kabur. Ck, gue yakin kalau yang ditanya kayak gitu adalah Aina, pasti dia bakalan iyain dengan senang hati. Dia nggak mandang harta gue. Dan gue bakalan berjuang buat dia.


"Kamu kok diam aja?" tanya Alvaro.


Miranda gelagapan, "Nggak gitu Varo. Aku lagi mikir aja kenapa orang tua kamu sekejam itu sama kita," jawab asal Miranda.


Cih!


Alvaro mangut-mangut, "Itu tandanya kita diminta untuk mandiri. Kamu tenang aja, aku pasti sanggup untuk menghidupi kamu. Aku ini seorang sarjana, pasti gampang lah mencari pekerjaan," ucap Alvaro.


Miranda tersenyum kecil dan nampak sekali senyuman itu dipaksakan.


"Emang kamu mau kerja apa?" selidik Miranda. Paling tidak lu bisa dapat pekerjaan yang menjanjikan maka gue bakalan stay buat lu. Lanjutnya dalam hati.


Jelas saja ia begitu senang mengungkapkan keinginannya. Ia mengutarakan keinginannya untuk dirinya dan Nurul, bukan tentang ia dan Miranda.


What?! Gue bahkan nggak pernah bercita-cita punya rumah tangga kayak gitu. Gue nggak mau cuma jadi ibu rumah tangga biasa yang harus masak, nyuci, bersih-bersih ataupun ngurus anak. Gue nggak mau dong dinikahi cuma buat jadi babu. Gue nggak bisa!


"Iya, sangat bahagia ya," timpal Miranda berusaha menampilkan wajah antusias padahal wajahnya sudah jelas terbaca seperti orang yang tengah ditindas.


"Jadi, apa kita akan bicarakan dengan orang tuaku sekarang kalau kita memilih untuk bertunangan?" tanya Alvaro.


Miranda ragu-ragu namun ia tidak mau jika ia diam saja maka Alvaro akan menganggapnya setuju.


"Aku sih sangat ingin hidup dengan kamu. Tapi jika nanti hubungan kita nggak direstui dan kamu diusir dari sini terus aku berhenti jadi model, siapa yang mau bantu aku buat bayar penalti? Gimana kalau kita nunggu beberapa bulan lagi? Kontrak aku bakalan selesai," usul Miranda.


Dan setelah kontrak gue selesai maka gue bakalan ambil kontrak baru. Biar kita nggak usah tunangan dan kalau perlu nggak ketemu lagi.


"Ouhh … begitu kah? Hmmm, jujur aku kecewa tapi memang kayaknya itu yang terbaik. Kamu harus segera kembali setelah masa kontrakmu berakhir. Aku selalu menunggumu disini," ucap Alvaro dengan penuh rasa kecewa yang dibuat-buat tentu saja.


Miranda memasang wajah sedihnya, "Jangan gitu dong sayang. Mending mulai sekarang kamu cari kerja biar nanti kalau aku balik lagi kamu udah punya pekerjaan dan kita bisa membina rumah tangga kita nanti seperti yang kamu inginkan. Aku nggak akan lama lagi disana. Pastikan semuanya siap saat aku balik ya," ucap Miranda dengan suara yang begitu lembut menenangkan jiwa namun bagi Alvaro itu tidak lebih dari omong kosong.


"Oh ya, aku harus balik. Aku mau siap-siap. Kamu mau 'kan anterin aku ke bandara?" 


Alvaro mengangguk pelan dan Miranda tersenyum.


"Aku pulang ya," pamitnya.


"Biar aku antar kamu," cegat Alvaro dan Miranda hanya mengangguk patuh.


Lumayanlah daripada harus mesan taksi lagi.


.


.


Seorang pria tampan mengendap-endap memasuki rumah berlantai dua namun terlihat sangat sederhana. Ia tidak ingin ketahuan sang pemilik rumah jika ia baru saja memasuki rumah mereka. Namun sayang langkahnya harus terhenti karena sang pemilik rumah sudah mendapatinya.


"Kau mengambil rute berbeda lagi dari rombonganmu, Danish Ganendra Emrick?"


Yaah … ketahuan lagi.


Danish menoleh ke arah sumber suara kemudian ia mendekatinya.


"Maaf Pa. Papa juga tahu selama ini aku selalu begitu dan papa yang paling tahu apa tujuanku melakukan itu," ucap Danish seraya memeluk papanya, Deen Emrick.


Deen Emrick menghela napas, "Kau masih berusaha mencarinya?" 


Danish mengangguk, "Tentu saja, aku akan selalu mencarinya walaupun aku tidak tahu anak nakal itu berada dimana dan entah seperti apa dirinya saat ini. Aku hanya ingin mengembalikan senyum mamaku," jawab Danish terus terang.


"Ssttt … jangan sampai mamamu tahu hal ini. Kau masuk lah dan istirahat," ucap Deen.


Danish mengangguk patuh namun baru saja ia melangkah, ia teringat akan seseorang.


"Pa, di kapal aku bertemu seorang gadis. Dia membuatku nyaman tapi bukan berarti aku jatuh cinta karena jantungku normal-normal saja saat bertemu dengannya. Sorot matanya seolah memintaku untuk melindunginya. Dan dia baru saja pindah dan butuh pekerjaan. Dia lulusan hukum tapi belum sempat mengambil ijazah. Apa bisa kita membantunya?" 


"Kau atur saja. Tapi kau harus kenal baik dengan orangnya karena perusahaan kita tidak sembarangan menerima karyawan," ucap Deen.


Danish berbalik memeluk papanya dan mengucapkan kata terima kasih berulang kali. Ia kemudian pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


"Katanya tidak jatuh cinta tapi tingkahnya bahkan melebihi orang yang sedang dimabuk cinta. Dasar aneh!" Gumam Deen, bibirnya tersenyum tipis melihat punggung Danish yang mulai menjauh.


Mendadak sorot matanya berubah sendu.


"Danissa, kamu dimana Nak? Ini sudah cukup lama dan kamu belum juga pulang. Apakah kau masih ingin menghukum kami seperti ini? Pulanglah, istriku sangat merindukanmu."