
Mobil Alvaro terparkir di depan studio dimana Hesti sudah berdiri menunggunya. Alvaro dan Ikram langsung menghampirinya. Hesti nampak sangat kacau, belum lagi para kru yang bertugas juga berkumpul bergosip tentang yang terjadi pada Miranda.
"Bagaimana bisa?" tanya Alvaro.
Hesti menggeleng. Air matanya kembali jatuh.
Walaupun ragu, Ikram nekat berbisik pada Alvaro dan suaranya bahkan terdengar oleh Hesti, "Lu yakin dia diculik? Bukan akal-akalan dia doang 'kan buat bikin lu sama dia direstui?"
Alvaro dan Hesti sama-sama terbelalak mendengar ucapan Ikram. Jika Alvaro mempertimbangkan kemungkinan yang dikatakan Ikram ada benarnya, lain lagi dengan Hesti. Gadis itu sangat marah.
"Anda pikir ini bercanda?! Untuk apa Miranda melakukan itu, membahayakan dirinya dan kariernya? Apa hanya karena tidak direstui lalu berniat diculik oleh penculik yang disewa sendiri? Pikiran anda dimana? Saya menyaksikan sendiri Miranda diculik dan saya tidak bisa berbuat apa-apa!" teriak Hesti membentak.
"Gini deh, lu mikir aja. Giman caranya Miranda diculik di tempat yang seramai ini. Nggak mungkin mereka nggak bantuin Miranda apalagi dia itu model internasional. Nggak mudah buat bawa dia ke negara ini dan kalian malah nggak ngasih penjagaan. 'Kan aneh kalau dia bisa diculik. Gue sih realistis aja," ujar Ikram yang membuat Hesti terdiam.
Alvaro menatap Ikram tak percaya jika sahabatnya itu bisa membaca situasi.
"Ada benarnya juga sih. Nggak mungkin kalian cuma lihat-lihat doang waktu Miranda dibawa kabur orang," timpal Alvaro.
"Kalian! Dan kau Alvaro, harusnya kau paling peduli. Kau adalah kekasihnya dan kau malah tidak terlihat peduli sama sekali. Jika saja Steve ada maka dia pasti akan langsung mencari dan menemukan Miranda!"
"Steve?"
Miranda yang mendengar Alvaro dan Ikram menyebut nama Steve langsung diam seribu bahasa.
Oh gawat!
"Lu diam, gue bisa nyimpulin sendiri," gertak Alvaro.
"Siapa Steve dan apa hubungannya dengan Miranda? Dan kenapa lu mendadak diam? Jelaskan atau lu juga bakalan diculik beneran bahkan lu bisa saja kehilangan nyawa lu kalau berani bicara bohong sama gue," ancam Ikram yang membuat Hesti merinding.
Tatapannya bisa bunuh gue. Sial kenapa gue harus kecoplosan.
"Oke oke. Steve adalah orang yang selama ini menyukai Miranda walaupun ditolak mentah-mentah tetapi dia tetap setia menunggu Miranda menerimanya. Selama ini Steve yang selalu ada untuk Miranda dan selalu menolongnya dalam hal apapun. Hanya saja Miranda tidak pernah melihatnya dan hanya memikirkan tentang Alvaro. Dan lihat dirimu, kau bahkan tidak peduli padanya. Dasar brengsek!"
Entah mengapa gue nggak percaya.
Alvaro terus menatap Hesti. Ia ingin percaya tapi ia meragu.
"Nona Hesti, mobil yang membawa nona Miranda sudah ditemukan dan sekarang berada di sebuah gedung tua bekas pabrik," teriak salah satu kru yang datang dengan tergesa-gesa.
"What?! Ya udah anterin saya sekarang ke sana. Minta mereka yang mengikuti mobil itu untuk tetap waspada agar Miranda tetap dalam keadaan aman," pinta Hesti.
Hesti pun berjalan mengikuti pria yang tadi datang memberi kabar namun langkahnya dicegah oleh Alvaro.
"Lu ikut kita di mobil gue."
Hesti melirik sinis kepada Alvaro sebelum akhirnya ia dipaksa untuk ikut lewat tatapan Ikram yang mematikan itu.
Di dalam mobil, Hesti yang duduk di belakang hanya bisa berdoa dalam hati untuk Miranda. Ia begitu gelisah memikirkan Miranda. Ia melihat sendiri kejadian tadi dan itu sebabnya ia sangat khawatir.
"Ceritakan ke gue apa yang terjadi," ucap Alvaro.
Hesti diam tak bergeming. Ia cukup kecewa dengan sikap Alvaro tadi.
"Lu mau cerita atau enggak? Atau –"
"Oke gue cerita. Kalian nggak perlu ngancam gue," pekik Hesti yang kesal karena Ikram terus saja mendominasi.
Hesti menarik napas sebelum mulai bercerita.
"Tadi kita baru sampai dan begitu turun dari mobil, tiga orang berbadan besar datang langsung menarik tangan Miranda. Miranda melawan dan gue juga ikut melawan tapi salah satu dari mereka langsung menampar gue. Dua orang dari mereka memegang tangan Miranda. Gue berusaha minta tolong dan karena sopir mobil kami sudah pergi memarkir mobil maka disana nggak ada siapapun kecuali kami berdua.
"Miranda kembali coba melawan tapi kalah tenaga dan ia ditampar lagi sampai pingsan dan gue nggak bisa apa-apa karena gue juga ditahan. Setelah itu gue kena tampar lagi dan didorong sampai jatuh terjerembab dan mereka kabur naik mobil. Untung aja saat itu ada dua orang kru yang baru datang dan nolongin gue. Gue minta mereka untuk ikutin mobil yang tadi bawa Miranda. Gue nggak tahu mereka siapa dan ada motif apa. Gue hanya khawatir Miranda kenapa-napa."
Ikram dan Alvaro menghela napas. Tak ada siapapun yang bisa mereka curigai mengingat Miranda tidak memiliki musuh disini.
Alvaro menoleh ke belakang, heran dengan ucapan Hesti barusan. Ia tidak percaya jika tuan Brianto melakukan hal semacam ini pada putri satu-satunya.
"Lu kalau ngomong jangan ngasal. Nggak mungkin orang tua Miranda ngelakuin ini. Mungkin aja ada fans atau orang yang nggak suka sama dia," sanggah Alvaro.
"Gue nggak ngasal ya. Emang benar kok kalau mama tirinya itu nggak suka sama Miranda. Lu aja yang nggak tahu gimana sifat asli mama tirinya kalau lagi nggak ada om Brian," bantah Hesti.
Alvaro tak lagi berniat menjawab ucapan Hesti dan kini mereka sudah berada di alamat tempat Miranda disekap.
Suasana di sekitar gedung tua itu nampak sunyi. Tidak ada mobil lain selain milik mereka dan kru yang tadi mengikuti Miranda.
"Harusnya kalau emang beneran diculik pasti ada pengamanan di tempat ini. Tapi ini sama sekali nggak ada apapun," gumam Ikram.
Alvaro, Hesti dan Ikram berjalan perlahan menuju ke gedung tua tersebut. Tak ada yang mencurigakan dan langkah mereka sama sekali tidak ada yang menghalangi. Alvaro meminta agar dua kru tersebut berjaga di luar saja karena jika terjadi apa-apa mereka bisa segera mencari bantuan.
Ini Miranda mau main petak umpet atau apaan sih? Kalau diculik pasti minta tebusan. Kalau mau dibunuh pun pasti ada yang jaga di luar biar nggak ada yang curiga. Ini malah gue yang jadi curiga kalau ini cuma tipuan.
"Kayaknya nggak ada disini deh. Mungkin di lantai dua," ucap Alvaro.
Mereka perlahan menaiki tangga dan sampai di lantai dua. Di lantai tersebut sangat luas dan hanya ada dua ruangan tertutup yang diduga bekas kantor. Tempat tersebut hanya dipenuhi dengan kardus-kardus dan beberapa peralatan kantor yang sudah tidak terpakai.
Mereka berjalan perlahan dan mendekati dua ruangan yang tertutup itu, samar-samar mereka mendengar suara aneh.
"Ah sayang lebih cepat. Ah … kau memang paling hebat."
Ketiganya yang mendengar suara persis seperti suara Miranda yang tengah mendesah penuh kenikmatan itu terdiam.
"Kau juga sama. Goyanganmu memang selalu membuatku puas. Aaaahhh … "
Tangan Alvaro terkepal kuat, ia ingin melangkah masuk namun Ikram mencegahnya. Ikram menggelengkan kepala tanda agar Alvaro jangan gegabah sedangkan Hesti, gadis itu menutup mulutnya dengan tangannya.
"Terima kasih honey, kau memang selalu memuaskanku. Oh ya, harusnya Alvaro sudah sampai ke tempat ini. Tapi kenapa belum ada tanda-tanda dia datang? Atau emang dia nggak datang dan asisten lu itu nggak ngasih kabar ke dia?"
Alvaro menaikkan sebelah alisnya mendengar namanya disebut. Sedangkan Ikram masih menunggu pembicaraan mereka selanjutnya.
"Biarkan saja. Lagi pula sebentar lagi gue bakalan balik dan lu juga nggak bakalan bisa mantap-mantap sama gue. Gue yakin Hesti pasti hubungi Alvaro. Dia udah cemas gitu tadi. Mana lu pakai nyuruh orang lu buat nampar dia. Kasihan tahu, tapi biarin aja deh. Habis gue kesal karena Steve ternyata ngedeketin gue cuma buat cari simpatik Hesti. Gue yang model dan cantik gini eh dia malah ngelirik pesuruh gue. Aneh!"
Kali ini giliran Hesti yang terbengang. Marah? Tentu saja.
"Lu emang selalu the best lah. Nggak sia-sia gue ngajakin lu kerja sama."
"Tentu saja. Thanks karena selama ini lu udah bantu gue buat jadi model terkenal. Kalau bukan karena bantuan lu, gue mana bisa mencapai kesuksesan seperti ini. Lagian, apa sih yang lu cari dari kerja sama ini. Kalau lu cuma mau tidur sama gue, udah banyak kali malah. Tapi lu belum puas juga."
"Gue hanya ingin ngelihat Alvaro hancur. Itu aja."
"What? Lu bukannya sahabatan sama dia?"
"Emang. Tapi lu tahu dulu gue cinta sama lu tapi lu malah milih Alvaro. Terus gue bantuin lu jadi model internasional baru lu mau tidur sama gue. Tapi thanks karena lu udah ngasih gue darah perawan lu. Bukan Alvaro. Gue cuma nggak suka aja karena dia selalu dapat yang dia mau dan sialnya itu juga yang gue mau. Gue suka sama Nurul tapi malah Alvaro yang dapat."
"Nurul?"
"Cewek yang jadi bahan taruhan Alvaro. Gue kira dia cuma iseng doang. Tapi nggak tahunya dia main hati ke Nurul. Dan brengseknya lagi, Nurul itu benar-benar cinta sama Alvaro hanya saja dia nggak berani bilang. Dan yang paling nggak gue suka, Nandi sama Ikram ternyata punya niat buat ngejodohin mereka. Gue diam aja dan pura-pura ngedukung sambil mikirin cara buat dapatin Nurul lebih dulu. Eh, Alvaro malah udah nyuri start dari gue. Sampai nidurin Nurul segala. Gue benci banget sama dia."
"What?! Alvaro tidur sama cewek lain? Kenapa dia nggak mau sama gue? Malam itu juga gue pikir dia bakalan mau tidur sama gue. Eh malah lu yang gue minta buat datang karena Alvaro nggak mau nyentuh gue."
"Karena dia sama Nurul pakai hati. Udah empat tahun gue naksir Nurul dan dia selalu nolak gue. Tapi gue tetap mendekatinya dengan baik-baik. Gue sebenarnya setuju awal Nandi ngusulin Nurul buat jadi bahan taruhan. Gue yakin Nurul bakalan nolak apalagi kalau dia sampai tahu dia cuma jadi bahan bercandaan. Eh ternyata dua cecunguk itu justru bikin Alvaro dan Nurul sama-sama main hati. Dan sekarang Nurul hilang entah kemana. Gue nggak tahu harus cari dia kemana lagi. Gue udah nyuruh teman kerja Nurul buat bilang ke Alvaro kalau Nurul pergi ke Surabaya. Tapi nyatanya, Alvaro emang feeling kalau Nurul nggak kesana."
Braaakkk
Pintu terbuka karena ditendang dengan keras.
"Oh jadi lu otak dibalik semuanya. Hebat! Lu emang pemain yang hebat Kriss!"