
Lampu di ruang operasi meredup dan padam bersamaan dengan datangnya nyonya Prayoga dengan raut wajah penuh tanya. Dilihatnya sosok suami sedang duduk bersandar sambil memijat pelipisnya. Ia belum tahu mengapa ia diajak ke rumah sakit dan ia heran juga karena suaminya tidak dalam keadaan dirawat.
Yani mendekati Genta yang langsung menariknya dengan lembut agar duduk di sampingnya. Genta merebahkan kepalanya di bahu Yani. Istrinya itu langsung paham jika ada hal yang membuat suaminya serapuh ini. Ia sibuk menerka apakah gerangan yang terjadi. Kata mungkin dan mungkin terus menggema di benaknya tetapi ia tidak bisa menyimpulkan jawabannya.
"Anak kita di dalam. Sedang berjuang hidup dan mati."
Penuturan Genta langsung membuat tubuh Yani membeku. Ia tidak mampu berucap apapun, hanya air mata saja yang menemaninya. Genta tahu istrinya itu tidak dalam baik-baik saja. Ia segerah merengkuhnya dan menyandarkan kepala Yani ke dada bidangnya.
Ia tahu istrinya masih bisa menguasai diri tetapi ia juga sangat tahu kalau saat ini istrinya sangat ingin meraung-raung. Genta pasang badan untuk menjadi tameng istrinya ini.
"Mami yang tenang, Alvaro kita pasti akan baik-baik saja. Dia hanya sedang membuat kita panik saja. Mami tahu dia anak yang kuat, mami tolong doakan anak nakal itu," tutur lembut Genta sambil mengusap rambut istrinya.
Yani semakin mendekap erat tubuh Genta. Ia memukul punggung suaminya untuk menyalurkan kesakitannya. Tidak pernah terbayangkan jika anaknya itu akan berada di dalam ruang operasi. Dari raut wajah Genta yang terlihat tenang justru ia semakin merasakan kesakitan. Semakin tenang suaminya, maka ia tahu keadaan sangatlah tidak baik-baik saja.
Yani sangat ingin bertanya apa sebab putranya itu hingga berada di dalam ruangan, hanya saja ia tidak sanggup mendengar sesuatu yang lebih buruk. Mendapati putranya berada di ruang operasi saja itu merupakan berita buruk, apalagi jika ia sampai tahu penyebabnya.
Pintu ruang operasi terbuka. Dokter dan beberapa perawat keluar dari ruangan tersebut. Dengan cepat Genta dan Yani mendekati dokter tersebut dan wajah mereka nampak sangat tegang.
"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" tanya Genta.
Dokter tersebut tersenyum sambil menatap bergantian ketiga orang yang berada di depannya.
"Peluru yang bersarang di perutnya sudah berhasil kami angkat dan syukurlah karena peluru itu tidak mengenai organ vitalnya. Kondisinya setelah operasi juga mulai stabil. Kemungkinan pasien akan segera sadar dalam beberapa jam kemudian. Untung saja bapak dengan cepat memberikan transfusi darah. Kalau begitu saya permisi dulu," jelas dokter tersebut.
Tubuh Yani luruh ke lantai begitu mendengar ternyata putranya itu tertembak. Ia seakan kehilangan tenaga membayangkan peluru itu menembus perut anaknya. Ia saja tidak pernah memukuli Alvaro sejak kecil, bagaimana bisa seseorang sampai menembak putra kesayangannya yang selama ini ia besarkan dengan penuh kelembutan. Yani tidak terima hal ini.
Genta yang baru saja bernapas lega langsung membantu Yani untuk kembali duduk. Ia mendekap tubuh istrinya sambil mengusap punggungnya. Menyalurkan kekuatan lewat kehangatan kasih sayangnya agar sang istri tetap merasa kuat dan tidak terlihat rapuh seperti ini. Ia sangat benci melihat kerapuhan istrinya. Rasanya Genta ingin membantai habis orang yang sudah membuat istri dan anaknya seperti ini.
Yani melepaskan pelukannya, tatapannya beralih ke arah Felix. Pria itu cukup tersentak melihat wajah nyonya Prayoga lain dari biasanya. Ada aura kemarahan yang kuat dari sorot matanya.
"Katakan padaku Felix, siapa yang sudah membuat anakku seperti ini?" ucapnya dengan suara yang dingin.
Genta tersentak, sosok dingin istrinya yang sudah lama tidak ia lihat kini terpampang jelas di matanya. Dimana ia sangat tahu seperti apa perangai istrinya saat dulu ia mengejar cintanya. Ia takut sosok itu akan kembali lagi, ia tidak mau kehilangan sosok Handayani yang hangat dan lemah lembut.
Felix sedikit menunduk, aura ini lebih menusuk dari tatapan tuan Genta. Ia bingung harus berkata apa, mendadak ia menciut.
"Mi, kami tidak tahu bagaimana kejadiannya. Saat itu kami sedang berada di kantor dan Nandi menelepon mengabarkan jika ia menemukan Ikram dan Alvaro di sebuah gedung tua. Nandi mendapati keduanya tak sadarkan diri dengan perut mereka yang mengeluarkan darah," sambar Genta. Ia tidak mau istrinya mendengar penjelasan dari orang lain.
Kepala Yani terangkat dan menatap suaminya dengan lekat, "Ikram juga?"
Genta mengangguk pelan. Ia kemudian menceritakan bagaimana Nandi yang mendapat kiriman lokasi dari Alvaro dan Nandi yang menemukan keduanya di gedung tua lalu menghubungi mereka. Genta menceritakan bagaimana kagetnya ia melihat tubuh Alvaro yang ternyata terkena luka tembakan begitu pun dengan Ikram.
Genta juga mengakui jika mereka belum menemukan siapa dalang dari kejadian ini. Hal itu membuat Yani menangis histeris sambil memukul-mukul dada Genta. Tuan Prayoga itu rela memberikan dadanya untuk pelampiasan istrinya daripada istrinya mengamuk dan kembali ke sosok yang dulu.
Handayani menghentikan tangisnya kemudian ia menatap brankar dimana para perawat tengah mendorongnya keluar dari dalam ruang operasi. Ia tersenyum miris melihat wajah pucat putra tampannya itu. Yani meminta mereka untuk berhenti sejenak. Yani mengecup kening Alvaro sambil membisikkan doa agar anaknya itu cepat siuman dan sehat kembali.
Genta, Yani dan Felix mengikuti perawat yang membawa Alvaro menuju ke ruang pemulihan pasca operasi. Ruang dimana pasien pasca operasi akan di pantau sebelum akhirnya pasien sadar dan akan dipindahkan ke ruang perawatan.
Melihat tuan dan nyonya Prayoga sudah lebih tenang dari sebelumnya, Felix pamit undur diri. Ia akan menemui Billy dan akan kembali melanjutkan pekerjaannya untuk mencari tahu kejadian yang sebenarnya.
.
.
Seperti sebuah mimpi yang nyata dimana ia melihat sebelum Alvaro jatuh, cowok brengsek itu masih sempat tersenyum dan meminta jawaban atas cintanya.
Nurul terbangun dan ia mendapati dirinya berada di dalam kamarnya dan hari mulai gelap. Ia mulai mengatur napasnya dan tak terasa kini bulir keringat itu berganti dengan air mata.
"Gue nggak tahu ini hanya firasat gue doang atau apakah itu namanya. Tapi gue khawatir banget sama lu, Alvaro. Lu baik-baik aja 'kan? Gue harap lu selalu sama baiknya setelah lu membuat hidup gue tidak baik-baik saja. Gue kangen lu, tapi gue sadar lu itu nggak seperti yang ada di pikiran gue. Kenapa lu datang dan lu hanya singgah untuk bermain? Kenapa Tuhan menciptakan hati cuma buat dipatahin dan dihancurin kayak gini? Salah gue apa?"
Nurul kembali menangis cukup lama hingga ia mendengar suara panggilan sholat dari masjid terdekat. Nurul segera membersihkan dirinya dan menunaikan ibadah.
Ia bertekad tidak ada lagi kesedihan dalam dirinya apalagi itu tentang Alvaro. Yang lalu biarlah berlalu untuk menjadi sebuah pelajaran hidup. Tidak ada gunanya meratapi dan menyesali sesuatu yang telah terjadi. Ia harus bangkit dan melangkah maju.
Nurul keluar dan mendapati makan malam sudah siap. Ia merasa tak enak karena ketiduran namun Bu Uswa tidak memarahinya malah memaklumi karena ia tahu Nurul mengalami susah tidur setelah mereka sampai di tempat ini.
Bu Uswa tahu Nurul terbebani oleh kejadian yang menimpanya. Ia tidak bisa berbuat apa selain memberi dukungan dan kasih sayang.
"Nurul, besok jadi 'kan ikut ibu ke perkebunan?" tanya Bu Uswa setelah mereka menghabiskan makan malam dan kini keduanya tengah membersihkan peralatan makan.
Nurul mengangguk antusias, "Jadi dong Bu. Malahan Nurul udah siap nih buat kerja," jawabnya.
Bu Uswa merasa senang karena anaknya yang selalu ceria dan penuh semangat itu kini kembali ia lihat. Ia mengajak Nurul ke kamar untuk membicarakan beberapa hal dan Nurul menurutinya.
Di dalam kamar Bu Uswa terlihat ragu namun ia tetap ingin membahas hal ini dengan Nurul.
"Nak, apa kamu masih terus mengingat kejadian itu?" tanya Bu Uswa pelan.
Nurul tersentak dalam beberapa saat barulah ia mengangguk pelan. "Semuanya masih begitu membekas, Bu."
Bu Uswa tersenyum getir mendengar jawaban Nurul. Ia sudah menduga hal inilah yang sudah membuat anaknya itu kesulitan tidur dan kadang ia mendapatinya tengah melamun.
"Nurul, ibu tidak mau jika kamu menyimpan semuanya sendiri. Jika ada hal yang mengganjal di hatimu maka ceritakanlah pada ibu. Kita akan mencari jalan keluarnya bersama," ucap Bu Uswa.
Nurul tersenyum lalu mengangguk, "Nurul sudah baik-baik saja, Bu. Hanya terkadang masih teringat. Tapi jika Nurul sudah sibuk bekerja, Nurul pastikan pelan-pelan bayangan kelam itu akan hilang dengan sendirinya. Hanya karena masih diam di rumah saja sehingga Nurul kadang mengingatnya."
Bu Uswa tersenyum hangat kemudian ia memeluk Nurul. "Tetaplah menjadi anak ibu yang ceria," ucapnya.
Nurul mengangguk namun kemudian ia kembali terlihat bimbang.
"Ada hal lain yang mengganggu pikiranmu, Nak?" tanya Bu Uswa.
Nurul hanya mengangguk pelan.
"Bu, bagaimana jika kejadian malam itu membuahkan hasil? Apa yang harus Nurul lakukan jika seandainya itu terjadi? Bu, bagaimana jika ternyata Nurul hamil?"
Degg ...