GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Nggak Akan Sama Lagi


"Udah belum Frey?"


Frey tak bersuara saat Aluna bertanya apakah hukumannya sudah selesai atau belum. Tangannya sudah sangat pegal karena hampir dua jam ia terus membantu Frey untuk mencapai pelepasan tetapi bukan dengan berhubungan badan.


Frey terlalu takut membuat istrinya itu kelelahan karena ia yang begitu candu akan Aluna sudah pasti tidak cukup hanya dengan melakukan satu kali ronde bercinta sedangkan ia harus menjaga kandungan Aluna yang masih begitu rentan.


"Sedikit lagi sayang," jawab Frey dengan suara seraknya.


"Dari tadi sedikit lagi sedikit lagi. Ini udah lama banget tahu nggak. Tangan aku udah pegal banget, kamu main aja sendiri. Itu 'kan punya kamu, bukan punya aku. Ini mah namanya enak di kamu nggak enak di aku," omel Aluna, ia melepaskan cengkeramannya dari benda itu dan memilih membasuh tangannya dengan niat meninggalkan Frey saja di dalam kamar mandi.


Frey terkekeh, ini adalah hukuman yang selalu ia berikan kepada Aluna karena seringkali meminta Leon menyuapinya sedangkan pria itu pasti akan mendapatkan sedikit banyak sindiran dari Frey di kafe atau di restoran jika mereka bertemu.


Aluna membasuh tangannya di wastafel sambil sesekali melirik Frey yang melanjutkan tugasnya dan beberapa saat kemudian terdengar erangan dari Frey yang menandakan ia telah mencapainya. Aluna hanya bisa tersenyum, sebenarnya ia sangat ingin memberikan hak Frey sebagai suami, akan tetapi suaminya itu sendiri yang menolak dengan alasan tidak ingin calon bayi mereka kenapa-napa.


Pasangan pengantin remaja itu kini sudah berbaring di tempat tidur sambil berpelukan. Hari hampir sore tetapi keduanya masih asyik bersama di atas tempat tidur. Frey hanya mengontrol pekerjaan dari rumah saja dan ia akan terjun langsung dan mengurus sendiri usaha keluarga Griffin tersebut mulai besok.


"Sayang, kita akan pergi ke acara ulang tahun Cici?" tanya Aluna sambil memainkan jari-jarinya di dada Frey yang tertutup kaos.


Frey terdiam, ia sedang memikirkan jawaban dari pertanyaan Aluna barusan. Sejujurnya ia berat hati mengizinkan Aluna pergi walaupun itu bersamanya. Frey merasa ada yang tidak benar dengan sikap Cici tadi dan ia memiliki firasat tidak baik terhadap acara ulang tahun tersebut.


"Frey, Cici itu sahabat aku lho. Dia emang sempat jahat tapi bisa aja 'kan dia udah berubah. Apalagi kita udah bakalan pisah arah karena dia mau ke luar negeri. Kita harus tetap datang Frey," ucap tegas Aluna, ia cukup kesal karena Frey seakan menolak hadir padahal tadi Cici sudah meminta maaf.


Frey mengacak-acak rambut Aluna. "Otak polos kamu ini yang bikin kamu ketipu hampir enam tahun lho selama ini. Cici udah nipu kamu bertahun-tahun dan kamu nggak nyadar. Terus tiba-tiba dia datang dengan berderai air mata dan bilang kalau dia menyesal. Itu nggak semudah membalikkan telapak tangan, Nyonya Griffin!" tandas Frey.


Aluna terdiam mencerna ucapan Frey barusan dan sebenarnya ia mengakui itu bisa saja benar adanya. Frey selama ini sering memberikan prediksi yang tepat dan Aluna selalu percaya apapun yang di katakan oleh Frey. Akan tetapi, ia juga berharap bisa berkumpul dengan teman-temannya sebelum mereka berpisah.


"Kalau emang dia menyesal, udah dari dulu. Dari semenjak kamu berikan dia ketulusan sebagai seorang sahabat, harusnya dia sadar kalau kamu itu orang yang baik. Nggak nanti sekarang, saat semua kebusukannya terbongkar dan kalian saling membenci. Semua nggak akan lagi sama, Aluna. Bisa saja dia merencanakan hal buruk nantinya," tegas Frey lagi, ia berusaha memberikan pengetian kepada Aluna.


Aluna mengeratkan pelukannya di tubuh Frey. Ia begitu bahagia karena bisa merasakan kasih sayang dan cinta kasih dari Frey dengan begitu nyata, hal yang dulunya hanya ada dalam angan dan ia sempat frustrasi berjuang dan pesimis akan takdir cintanya bersama Frey Abirsham Griffin.


"Tapi 'kan ada kamu yang selalu melindungi aku. Selagi ada kamu, aku yakin bahaya akan takut untuk mendekati aku dan calon anak kita," ucap Aluna dengan sungguh-sungguh sedangkan Frey kini tersipu malu.


....


Alvaro, Ikram dan Nandi saat ini sedang membaca informasi lengkap dari detektif milik Nandi yang dipekerjakan untuk menyelidiki keluarga Brandon Elard. Dan benar saja, dari hasil yang mereka dapatkan terbukti bahwa mereka sudah melakukan pencucian uang, membunuh Farah Anastasya Darwin dan yang lebih buruk lagi mereka memiliki bisnis gelap dalam memperjual belikan organ manusia.


"Sepertinya gue harus menghubungi rekan bisnis gue. Dia seorang mafia kelas kakap dan kita bisa meminta bantuannya untuk menangkap dan membuat Brandon dan Bastian tidak bisa berbuat apa-apa," ucap Alvaro dengan tangan yang masih terkepal.


"Lu punya rekan bisnis mafia?" tanya Ikram sedikit kaget.


Alvaro mengangguk, ia mengatakan bahwa awalnya ia tidak tahu jika rekan bisnisnya itu seorang mafia, akan tetapi tanpa sengaja mereka menjadi begitu akrab karena sering terlibat kerja sama, pria itu menceritakan tentang siapa dirinya dan saat itu memang jelas sekali jika ia sedang menanggung beban kesedihan yang mendalam.


"Gue ada tahu beberapa mafia di kota ini, tapi sepertinya kenalan lu itu lebih hebat. Gue cuma tahu Albert, dia itu sangat terkenal dan cukup berbahaya di kalangan dunia bawah," ujar Nandi.


Alvaro menggeleng seraya bibirnya menyeringai. "Gavriel Mazeen. Gue rasa kalian pernah mendengar nama itu," ucap Alvaro.


Ikram dan Nandi terbelalak kaget, mereka tentu tahu pengusaha sukses tersebut. Tetapi mereka tidak tahu ada identitas lain dari pria itu. Sungguh sangat mencengangkan karena mereka cukup tahu Gavriel Mazeen adalah salah satu pengusaha sukses dan namanya sempat menduduki peringkat sepuluh besar dari pebisnis terkaya di dunia. Ia juga dikabarkan akan menjadi menantu di keluarga Dameer yang menduduki tiga besar pengusaha sukses di dunia.


"Dan ya, gue bakalan minta tolong dia. Dengan bantuan Gavriel gue rasa masalah ini akan semakin mudah. Gue mau masalah ini selesai hingga ke akar-akarnya biar anak cucu kita nanti nggak bakalan nanggung dendam turun temurun," imbuh Alvaro.


Alvaro memikirkan nasib calon cucunya yang tentu tidak akan lepas dari bayang-bayang dendam masa lalu apalagi Aluna dan Frey adalah dua orang yang masuk dalam list target masa lalu tersebut.


"Gue rasa itu benar banget. Lu harus bisa membuat Gavriel Mazeen bantuin kita. Lebih cepat lebih baik. Gue juga mau hidup aman dan kasihan Harris, dia hidup dalam tekanan dan bayang-bayang menakutkan sampai detik ini ..." ucap Ikram setuju. "Dan sampai sekarang gue masih bingung entah gue harus manggil dia adik atau keponakan," imbuhnya yang membuat Nandi dan Ikram tertawa.


....


Cici menatap penampilannya yang sangat sempurna di depan cermin. Ia tersenyum sangat manis menatap seseorang yang baru saja masuk ke kamarnya dan tersenyum seringai dari balik cermin.


"Udah siap?" tanya orang tersebut, ia kemudian berjalan dan duduk di tepi ranjang sambil menatap Cici yang masih sibuk memuji penampilannya di depan cermin.


"Sangat siap dan lu harus pastikan besok pagi gue menemukan lu di kamar ini dengan dia. Dan itu harus!" titah Cici dan orang tersebut mengangguk pasti.


...****************...


Sambil nungguin update, mampir yuk guys ke karyaku yang judulnya "Kekasih Kontrakku Mata Duitan" 😅😅


Novelnya ikutan event soalnya 😁