
Suasana panti asuhan saat ini terlihat begitu ramai. Banyak yang datang untuk mengucapkan salam perpisahan dan juga membantu membereskan beberapa barang. Beberapa diantara mereka adalah anak panti yang sudah tidak lagi tinggal disana karena memilih mandiri ataupun yang sudah menikah.
Dengan semangat namun hati perih mereka bergotong royong membersihkan rumah yang sudah menjadi tempat berlindung mereka selama ini. Ada rasa berat melepaskan namun tidak berdaya mempertahankan.
Nurul bertugas untuk memberitahukan adik-adik jika dua hari lagi mereka akan pindah. Rumah baru sudah siap dan sekolah baru pun sudah menanti. Besok adik-adiknya itu ia minta untuk mengucapkan salam perpisahan pada teman-teman mereka.
"Nanti di tempat baru gimana Kak?" tanya Pian yang sudah duduk di bangku kelas empat SD.
"Iya Kak, gimana? Nila takut nggak punya teman disana," timpal Nila yang duduk di kelas lima SD.
"Dengerin kak Nurul ya, disana memang akan menjadi tempat baru bagi kita. Tapi, nantinya kita pasti akan terbiasa. Bukankah kalian anak yang mudah bergaul, tentunya kalian akan mudah memiliki teman," ucap Nurul dengan lembut.
"Kak Nurul benar juga," ucap Pian dan Nila bersamaan.
Dua hari lagi gue wisuda dan setelah acara wisuda selesai gue langsung pindah. Besok Alvaro mau jawabannya dari gue. Tapi gue rasa hari ini waktu yang tepat buat gue ngasih tahu dia jawabannya. Gue nggak mau egois, setidaknya sebelum gue menghilang dari hidupnya, gue pingin punya kenangan kalau gue pernah pacaran sama Alvaro. Walau hanya sehari yang penting perasaan gue sudah tersampaikan..
Nurul sudah memutuskan untuk menemui Alvaro hari ini. Ia akan menghubunginya dan meminta kesediaan Alvaro untuk menemuinya. Ia tidak ingin mengatakan bahwa ia akan pindah karena untuk mengucapkan selamat tinggal Nurul sungguh tidak sanggup.
Apa gue ke Alvaro dulu baru ke Flora ya? Itu anak 'kan pingin habisin waktu dengan gue sebelum gue pindah. Flora, gue nggak bakalan lupain lu. Lu adalah sahabat terbaik gue. Hari ini gue akan ketemu Alvaro dulu deh nanti besok ketemu Flora.
Setelah membantu adik-adiknya mengemas pakaian, Nurul pun bergegas ke kamarnya. Ia mencari ponselnya dan ia menemukan sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
^^^+62822********^^^
^^^Lu jangan tanya gue siapa yang pasti gue cuma mau lu selamat. Lu datang ke alamat xxx dan lu bakalan nemuin jawabannya.^^^
Meskipun bingung dengan isi pesan tersebut, Nurul sudah merasa penasaran.
"Tapi … jangan sampai ini jebakan. Gue takut ini orang iseng. Apa gue ajak Flora aja?" gumam Nurul.
^^^+62822********^^^
^^^Lu datang sendirian. Gue bukan orang iseng dan gue bakalan jamin keselamatan lu. Lu datang sekarang atau lu bakalan nyesal karena mengabaikan pesan gue.^^^
"Kenapa dia bisa tahu kalau gue barusan mengatakan itu? Dia sebenarnya siapa? Tapi gue juga penasaran. Apakah gue harus datang?" Nurul kebingungan mencari jawaban untuk pertanyaannya sendiri.
Tokk … tokk … tokk …
Pintu kamar Nurul diketuk dan Nurul yang memang masih berdiri langsung berjalan ke arah pintu.
"Eh Dessy, masuk Des," ajak Nurul.
"Nggak usah, aku cuma mau pamit. Aku titip ibu dan adik-adik ya. Aku yakin kamu pasti bisa jagain mereka. Aku nggak bisa karena aku udah berkeluarga. Jangan lupa sering ngabarin ya Nur," ucap Dessy memeluk Nurul, saudara pantinya yang dulu sekamar dengannya.
"Aku selalu berusaha untuk itu, Des. Oh iya, kamu pulang bareng siapa?" tanya Nurul yang memang tidak melihat suami Dessy.
"Aku naik taksi. Mas Bian masih di kantor," jawab Dessy.
"Aku temani mau? Nggak enak perasaanku melihat bumil sendirian. Apalagi usia kandunganmu sudah delapan bulan. Takut kamu kenapa-napa di jalan," ucap Nurul.
Apa sekalian gue bisa ke tempat itu. Alamat Dessy searah dengan tempat itu.
"Beneran? Aku senang banget!" Pekik Dessy.
"Yuk pamit sama ibu," ajak Nurul.
. . .
Mobil taksi berhenti di sebuah rumah sederhana yang halamannya begitu asri. Rumah Dessy dan suaminya Bian. Bian seorang karyawan di perusahaan swasta dan hanya tinggal bersama ibunya.
"Nggak mampir Nur?" tanya Dessy yang hendak turun.
"Maaf Des, aku lagi ada urusan. Barusan dapat kabar dari teman. Dua hari lagi 'kan wisuda. Mungkin ada keperluan lain yang aku nggak tahu," jawab Nurul berkilah.
"Ya udah, aku turun dan kamu hati-hati," ucap Dessy.
^^^+62822********^^^
"Jalan Pak. Kita ke alamat xxx," ucap Nurul.
Nurul tak menggubris pesan tersebut. Ia hanya fokus agar segera sampai di tempat tujuan.
Tak berselang lama, ia sudah sampai di tempat itu. Dan ternyata alamat tersebut adalah sebuah kafe yang begitu ramai dengan pengunjung.
Ngapain gue disuruh ke kafe?
^^^+62822********^^^
^^^Thanks karena lu udah datang. Masuklah dan usahakan nggak ada yang ngenalin lu di dalam kecuali gue.^^^
Aneh!
Nurul tidak paham dan bahkan bingung dengan situasi ini. Diminta masuk ke dalam dan jangan sampai dikenali, memang dia siapa yang akan dikenali oleh banyak orang. Dan lagi orang ini mengatakan bahwa hanya ia yang mengenali Nurul, oh Tuhan! Nurul bahkan tidak mengetahui siapa pengirim pesan ini.
Terus gue ngapain disini? Ya kali gue masuk kafe nggak mesan apapun. Gue nggak mungkin masuk kafe cuma buat minum air putih.
Nurul menggerutu dalam hati. Ia ingin menghubungi sang pengirim pesan namun entah mereka memiliki kekuatan untuk bertelepati, orang itu kembali mengirim pesan.
^^^+62822********^^^
^^^Lu masuk dan duduk di meja 27. Gue udah pesanin lu makanan dan minuman. Lu sekarang masuk. Ngapain cuma berdiri doang. Nggak capek lu?^^^
Setelah membaca pesan tersebut Nurul pun mengedarkan pandangannya mencoba mencari sosok yang ternyata sedang memantaunya entah dari sudut mana.
Tak ingin berlama-lama Nurul pun segera masuk. Ia duduk di tempat yang diminta oleh sang pengirim pesan dan benar saja, begitu ia duduk pelayan langsung membawakannya sepiring kentang goreng dan juga jus alpukat.
"Sebenarnya ini kerjaan siapa sih? Flora atau kak Riswan? Atau Alvaro? Tapi gue punya nomor ponsel mereka. Nggak mungkin mereka. Terus ini siapa coba? Iseng banget," gumam Nurul.
Nurul mengedarkan pandangannya dan matanya menatap seseorang yang sedang asyik bercengkrama bersama teman-temannya dan bahkan ia bisa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas.
Alvaro? Dia ada disini. Apa dia yang mengirim pesan ini? Gue samperin atau enggak ya?
Nurul memilih memperhatikan mereka dan ia mulai menikmati hidangan yang ada di mejanya. Mumpung gratis.
Di tempat Alvaro Cs, mereka tengah asyik mengobrol. Tidak ketinggalan Kriss dan Nandi membawa beberapa teman cewek mereka agar suasananya 'makin meriah' kata mereka.
"Kriss, teman lu kayaknya nggak tertarik deh sama gue," keluh Mona yang sedari tadi mengganggu Ikram.
Yang disindir hanya asyik dengan ponselnya.
"Lu mending nggak usah godain dia. Dia mah nggak normal," ledek Kriss yang asyik bermesraan dengan pacarnya, Tesa.
Hal biasa bagi Ikram dikatai seperti itu oleh sahabatnya dan jadilah ia memasang tampang 'bodoamat' daripada harus menanggapi.
"Lu dari tadi gue perhatiin betah benar lu sama hp. Chatting-an sama siapa sih lu?" tanya Nandi penasaran.
"Kepo!" sahut Ikram.
Nandi dan Kriss mengalihkan perhatian mereka pada Alvaro yang hanya diam saja sedari tadi.
"Lu kenapa diam aja? Sakit gigi?" tanya Nandi.
Alvaro menatap tajam pada Nandi. Yang ditatap langsung keki.
"Alvaro kita tuh lagi gugup. Lu nggak ingat kalau besok dia bakalan dapat jawaban dari Nurul. Seandainya Nurul menjawab iya maka kita siap-siap buat kalah dan kalau Nurul nolak dia maka kita harus segera menyiapkan tempat di garasi kita buat nampung motor sport keluaran terbaru dari Alvaro," ujar Ikram yang mengundang gelak tawa dari mereka.
"Semoga Nurul nolak deh. Biar kita dapat motor baru dari sultan kita," ucap Kriss bersemangat.
"Gue aamiinin doa lu, Kriss. Tapi yang gue lihat Nurul mulai suka deh sama Alvaro. Kayaknya dia bakalan bilang iya deh," timpal Nandi.
"Kita lihat saja besok, apakah Alvaro akan memenangkan taruhan kita ini atau enggak. Kasihan juga sih kalau Nurul sampai ada hati ke Alvaro, padahal dia itu 'kan cuma gadis taruhan Alvaro doang. Gue keingat Dinda kalau kayak gini," ucap Ikram dengan wajah dibuat sedih.
Deggg ….