GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
138


Deen membuka pintu kamar Nurul, nampak di sana pasangan yang akan segera menjadi suami istri itu sedang berpelukan. Di belakangnya ada Dianti yang sedang menggendong Aluna bersama Danish pun turut masuk ke dalam kamar itu.


Alvaro mengurai pelukannya, Nurul sendiri merasa heran, bagaimana bisa seluruh keluarganya berada di dalam kamar ini? Ia menduga jika mereka sedari tadi menguping pembicaraannya bersama Alvaro. Terlihat dari raut wajah mereka, dimana mata mamanya terlihat seperti baru saja meneteskan air mata, begitu pula dengan sang papa.


"Selamat ya Nak, kamu sudah menemukan pria yang paling pantas untuk menjadi pendamping hidupmu. Alvaro, mulai sekarang mama titip Nurul sama kamu ya. Tolong jaga anak mama dengan baik, sayangi dan cintai dia walaupun kami belum lama bersamanya dan harus melepasnya lagi. Tapi kami lega jika itu bersamamu, semoga kamu akan terus mengingat pesanku ini."


Dianti kemudian memeluk Nurul untuk melepaskan rasa harunya, kemudian ia melepaskan pelukannya itu dan berbalik memeluk Alvaro.


Alvaro tentu saja menyambut pelukan hangat tersebut dengan sukacita, ini berarti keluarga Nurul sudah begitu terbuka dan merestui hubungan mereka. Alvaro masih tidak menyangka saja jika hari ini akan tiba juga, secepat ini dan secara tiba-tiba.


Tak lupa Deen juga melakukan hal yang sama terhadap Nurul dan Alvaro. Ia tidak banyak berpesan, tetapi dari sorot matanya ia menggantungkan harapan yang cukup besar terhadap Alvaro.


Danish pun merangkul Alvaro, baginya lelaki yang paling pantas adalah Alvaro untuk mendampingi adiknya. Awalnya Danish memang begitu marah pada Alvaro, tetapi melihat kegigihan dan kesungguhan pria ini Danish tahu kalau Alvaro tidak akan mengulang kesalahannya lagi di masa mendatang.


Sedangkan Aluna hanya mengamati sesekali karena Ia sibuk dengan ponselnya.


Nurul yang sedari tadi hanya memperhatikan perilaku kedua orang tuanya juga kakaknya -- yang selalu tidak akur dengan Alvaro ini, mulai menerka-nerka sebenarnya apa yang terjadi hingga mereka berujung berkumpul di kamar ini.


"Ada yang bisa jelasin sama aku kenapa bisa begini? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Nurul penasaran.


"Seperti yang sudah kami janjikan pada Alvaro, jika seandainya kau menerima lamarannya tadi maka malam ini kalian akan menikah," jawab Deen yang langsung membuat Nurul syok.


"Me-menikah? Malam ini?" tanya Nurul terbata. Tentu saja ia sangat terkejut karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya jika ia akan menikah malam ini. Tidak ada angin tidak ada hujan mendadak mereka akan menikah, sungguh konyol menurut Nurul.


Semua yang ada di ruangan itu kompak mengangguk membuat Nurul me-melototkan matanya juga mulutnya terbuka lebar saking tidak percayanya dengan apa yang baru saja ia lihat dan dengar.


"Ja-jadi benar kalau aku dan Alvaro akan menikah malam ini?" tanya Nurul sekali lagi, ia mencoba mencari jawaban yang benar-benar pasti dan kembali Ia mendapat anggukan dari seluruh anggota keluarganya hingga Ia hanya bisa menghela napas lalu ia menatap Alvaro saat ini yang sedang senyum senyum sendiri.


Tentu saja dia senyum-senyum bukannya ini yang paling dia tunggu.


Jika Nurul sedang menggerutu dalam hati melihat sikap Alvaro, lain halnya dengan Alvaro yang saat ini sedang senyum-senyum sendiri sambil menatap Nurul. Tatapan dan senyuman itu membuat Nurul bergidik ngeri.


Sangat jelas terlihat tatapan Alvaro itu memiliki maksud tertentu padanya. Mendadak Nurul merasa ingin menjauh atau bersembunyi saja, ia tidak ingin menikah dengan Alvaro karena ia tahu sebentar lagi hidupnya akan menderita. Bukan menderita karena KDRT atau diselingkuhi, melainkan harinya akan menderita karena Alvaro pasti akan selalu mengajaknya berpetualang di atas ranjang.


Nurul sudah tahu sepak terjang Alvaro, dan sekarang pria itu sudah menampilkan wajah dan senyum mesumnya saat ini.


Keduanya seolah berbicara lewat telepati, dimana Alvaro mengatakan bahwa Nurul harus bersiap untuk melayaninya di tempat tidur malam ini, sedangkan Nurul lewat tatapannya ia seolah mengatakan bahwa ia tidak ingin menikah dengan Alvaro saat ini.


Tetapi sudah terlanjur, seluruh keluarga sudah merestui dan yang membuat mereka semakin kaget adalah ketika papa Deen membuka suara.


"Oh ya, papa tadi sudah menghubungi kenalan papa di Kantor Urusan Agama untuk menyaksikan pernikahan kalian malam ini. Acaranya sederhana saja ya, karena ini memang dadakan. Nanti untuk resepsinya akan kita adakan secara besar-besaran. Tetapi setelah Danish dan Clarinta menikah."


"Jadi benar malam ini, kok bisa?"


Lagi dan lagi Nurul terus bertanya akan hal tersebut.


"Ya bisa dong Ayang! Gue cinta sama lu nah lu juga cinta sama gue. Gue lamar lu terus lu terima, lalu kita nikah. Simpel 'kan!"


Jawaban Alvaro langsung mendapatkan balasan berupa cubitan di pinggangnya oleh Nurul hingga pria tengah itu meringis kesakitan. Namun sesaat kemudian Nurul yang dibuat terdiam begitu Alvaro mengecup pipinya di depan seluruh keluarganya.


Seketika tubuh Nurul menegang, mendadak ia begitu takut berada di dekat Alvaro. Reaksi Nurul tersebut terlihat oleh Danish dan juga Deen Emrick.


"Hei, apa yang kau katakan pada adikku, mengapa dia mendadak takut padamu? Apa kau baru saja mengancamnya?" tegur Danish yang membuat semua yang ada di ruangan tersebut menghadap ke arah Alvaro.


Alvaro mengangkat kedua tangannya, "Aku tidak! Aku hanya sedang mengatakan padanya betapa aku mencintainya," jawab Alvaro berkilah sedangkan Nurul semakin geram dibuatnya.


Danish mendengus, ia bukan pria bodoh dan bukan anak kecil lagi, ia tahu jika tadi Alvaro pasti membisikkan sesuatu yang berbau vulgar pada adiknya sehingga reaksi Nurul seperti itu. Hanya saja, jika harus berdebat dengan Alvaro, ia sudah tidak memiliki tenaga. Lebih baik ia membantu mengurus pernikahan mereka yang dadakan malam ini agar semuanya lancar.


Danish berpamitan, sebelum maghrib tiba ia sudah harus mengabarkan kepada aparatur setempat seperti Pak RT, Pak RW dan lain-lainnya untuk datang menyaksikan pernikahan Nurul dan Alvaro sebagai saksi nikah.


Saat Danish keluar, tak sengaja ia melihat mobil Axelle yang berada di dekat rumahnya sedang terparkir. Ia yakin sekali Axelle berada di dalam dan sedang memantau keadaan kediaman mereka. Walaupun masih marah, Danish melangkah ke sana menemui Axelle dengan gerakan enggan.


Danish yang tadinya hanya ingin berjalan kaki menuju ke rumah-rumah tetangga untuk mengundang mereka, iaa harus menunda niatnya untuk sementara karena ia ingin berbicara empat mata dengan Axelle.


Dari dalam mobil Axelle bisa melihat kedatangan Danish ke arahnya. Ada rasa gugup menyelinap di hati Axelle begitu melihat tatapan Danish yang begitu menghunus. Axelle yakin Danish pasti sudah tahu tentang kejadian di kafe tadi walaupun Nurul tidak menceritakannya.


Axelle turun dari mobil, ia menatap Danish yang sudah berdiri di depan mobilnya. Dengan gerakan tangannya, Danish meminta agar Axelle masuk karena ia juga ingin masuk ke dalam mobil.


Suasana canggung dan tegang terjadi di dalam mobil di mana Danish menatap Axelle dengan begitu tajam sedangkan Axelle berusaha untuk menghindari tatapan mata Danish tersebut.


"Aku minta maaf," ujar Axelle membuka pembicaraan.


Danish tersenyum miring, "Oh rupanya kau sudah tahu maksud kedatanganku kemari. Dan untuk apa kau mengintai di sekitar rumahku? Apakah kau sudah tahu jika malam ini Nurul akan menikah?"


Duaaarrr ...


Seakan ada sebuah ledakan dahsyat begitu Axelle mendengar perkataan Danish jika Nurul malam ini akan menikah. Ingin tidak percaya tetapi selama ini Danish tidak pernah berkata omong kosong.


"Nu-nurul menikah? Ma-malam ini?" tanya Axelle terbata dengan suaranya yang terdengar begitu lirih.


Danis tersenyum miring kemudian ia mengangguk. "Ya Nurul malam ini akan menikah, jika kau punya waktu maka datanglah. Aku berharap kau bisa datang merestui pernikahan Nurul. Bukankah kau salah satu orang yang ingin melihat adikku itu bahagia?"


Axelle kesulitan menelan salivanya, tentu saja lehernya terasa begitu sakit juga rasanya begitu pahit. Dadanya bergemuruh, jantungnya seolah sedang diremas dengan kuat mendengar fakta bahwa wanita yang ia cintai akan segera menikah.


Padahal Axelle berharap dirinyalah yang menikah lebih dulu agar ia tidak terlalu sakit ketika melihat Nurul bersanding dengan pria lain di atas pelaminan. Tetapi semua justru berbeda, Nurul yang akhirnya menikah lebih dulu dan ia tahu dengan pasti siapa pria yang akan menikahi Nurul.


Tentu saja Alvaro Genta Prayoga, siapa lagi, pikir Axelle.


Padahal baru beberapa jam yang lalu ia bertemu dengan Nurul dan ia masih menyentuh kepala itu dengan penuh kasih sayang. Tetapi Axelle tidak menyangka ternyata sentuhannya itu adalah sentuhan terakhir. Sebentar lagi Nurul akan dimiliki oleh pria lain. Setelah ini ia tidak akan bisa bebas untuk menyentuh wanita yang sampai detik ini masih menempati relung hatinya.


"Oh ya aku mau aku ucapkan terima kasih kepadamu. Terima kasih juga kepada nyonya Carla Farezta karena berkatnya Nurul bisa menikah lebih cepat bahkan dari yang aku bayangkan. Jika saja dia tidak melakukan hal itu pada Nurul, mungkin adikku itu belum akan menikah. Tetapi berkat kerja kerasnya itu, kini sudah membuahkan hasil hingga akhirnya Nurul sebentar lagi akan menikah," ucap Danish memberi sindiran halus pada Axelle.


"Oh ya, aku tidak punya banyak waktu karena aku masih harus mengundang banyak tetangga. Jangan lupa datang ya malam ini jam 08.00. Aku menantikanmu. aku yakin Nurul pasti senang jika kau bisa menghadiri pernikahan mereka. Aku pergi dulu."


Axelle melihat punggung Danish yang mulai menjauh. Nibirnya tersenyum, pipinya sudah mulai basah dengan air mata.


"Dan inilah akhir dari perjuanganku, inilah akhir dari cinta yang selalu aku perjuangkan. Mengapa begitu sakit? Ternyata perjalananku berakhir di sini ya?Kau sudah menentukan jalan yang kau ambil sedangkan aku masih tertinggal di antara persimpangan. Selamat malam menempuh hidup baru Nurul, aku akan selalu mengenangmu sebagai wanita yang pernah membuatku jatuh cinta dan patah hati di waktu yang bersamaan."