
Ikram menatap tiga remaja yang sedang duduk di depannya. Ia baru saja bersiap untuk pulang ke rumah setelah banyaknya pekerjaan yang ia tangani hari ini tetapi langkahnya harus terhenti karena kedatangan tamu tak diundang tetapi bukan berarti ia tidak senang dikunjungi oleh para keponakannya.
"Ada apa? Tumben datang ke kantor paman," tanya Ikram, saat ini ketiganya sudah duduk di sofa dan menatap Ikram dengan tegang.
Menyadari raut wajah tidak baik-baik saja dari tiga remaja itu membuat Ikram paham kalau terjadi sesuatu pada mereka. Karena Alvaro dan Nurul tidak berada di rumah, mungkin saja mereka mendapatkan masalah besar dan harus mencari wali unutk mereka.
"Hei, coba katakan ada masalah apa. Naufal, apa yang terjadi? Apakah Frey melakukan kekerasan pada Aluna? Atau Frey berbuat jahat padanya?" cecar Ikram.
Naufal menatap dua kakaknya yang duduk bersebelahan dengannya. Wajah Naufal langsung masam kemudian ia mendengus.
"Iya paman, semalam mereka melakukan kejahatan hingga membuatku tidak tidur mendengar suara lucknut mereka. Mana kamar aku bersebelahan dengan kak Frey. Huhh, suara lucknut itu membuat telinga suciku ini ternodai. Ter-no-dai!"
Namun hal tersebut hanya Naufal katakan dalam hati. Ia tidak mungkin membicarakan masalah ranjang kakaknya pada orang lain dan cukup ia pendam saja dalam hati karena Naufal sadar keduanya adalah pasangan halal.
"Ada hal penting paman," ucap Frey mewakili. "Semalam Aluna dan Naufal bertemu dengan uncle Bastian Elard!"
Ucapan Frey langsung membuat kedua bola mata Ikram hendak melompat keluar saking terkejutnya. Pikiran Ikram mulai tidak tenang karena jika dua keturunan Prayoga ini sudah didatangi maka akan sangat mungkin mereka akan mulai menyerang.
"Bukan seperti yang paman pikirkan. Mereka berada di acara ulang tahun teman semalam, tetapi ternyata teman mereka itu adalah anak dari uncle Bastian. Selama ini kami mengenal Keenan tetapi kami sama sekali tidak tahu jika dia adalah cucu dari grandpa Brandon Elard!" ucap Frey yang mengerti dengan kecemasan Ikram.
Kembali Ikram dibuat terkejut karena baru mengetahui jika Bastian sepupunya itu sudah memiliki anak dan berada di kota yang sama dengan mereka.
"Bagaimana bisa informasi ini terlewatkan!" gumam Ikram, tangannya terkepal kuat. "Kalian jaga jarak dari mereka. Jangan sampai mereka berbuat jahat kepada kalian," titah Ikram.
Aluna dan Naufal sama sekali tidak mengerti dengan maksud Ikram sedangkan Frey sendiri sudah memahaminya.
Tadi saat Aluna bangun tidur, ia menceritakan kejadian semalam dan juga ditimpali oleh Naufal. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk menemui Ikram di kantornya. Aluna dan Naufal merasa bahwa harus mencari penjelasan dari Ikram sebab mereka tidak mengenal jika ternyata Zyan. dan Ziya memiliki sepupu lainnya.
"Maksudnya apa ya paman? Bukannya bagus kalau ternyata Ziya dan Zyan punya saudara. Saudara mereka ya saudara kita juga," tanya Aluna.
Ikram menatap Aluna dan Naufal lalu ia menatap Frey dan lewat tatap matanya ia meminta agar Frey tidak mengatakan apapun.
Ikram tersenyum hangat walau dalam hatinya saat ini sudah mulai memanas. Ia tidak mungkin menceritakan masalah besar ini kepada Aluna dan Naufal. Mungkin pada Naufal boleh-boleh saja, tetapi pada Aluna belum saatnya dan jika boleh Aluna tidak perlu tahu masalah ini. Akan sangat besar risikonya, tetapi jika tidak diberitahu maka Aluna mungkin akan salah paham dan bisa jadi akan menjadi korban Bastian dan Brandon nantinya.
Ikram pun menjelaskan jika masalah pertemuan mereka dengan Bastian Elard akan dibahas bersama keluarga besar dan ia meminta agar mereka berhati-hati. Ikram hanya menjelaskan sedikit garis besarnya jika Bastian Elard tidak memiliki hubungan yang baik dengan mereka. Ada perselisihan dan itulah sebabnya Aluna dan Naufal tidak boleh berdekatan dulu sebelum masalah terselesaikan.
"Begini saja, nanti kalau kedua orang tua kalian sudah kembali maka kita akan membicarakan hal ini bersama-sama," ucap Ikram diplomatis. Ia tidak ingin salah bicara dan belum bisa mengambil keputusan sepihak.
.
.
Setelah panggilan diakhiri, Bastian langsung menemui ayahnya yang tidak lain adalah Brandon di kamarnya.
"Ayah, aku punya kabar bagus," ucap Bastian saat ia duduk di sofa di dalam kamar Brandon.
Brandon yang sedang duduk sambil menyesap minuman beralkohol itu langsung meletakkan gelasnya di atas meja dan menatap putra kebanggaannya tersebut. Paham jika ayahnya meminta agar ia menjelaskan maka dengan cepat Bastian menceritakan tentang pertemuannya dengan Aluna dan Naufal malam itu.
"Ternyata cucumu sangat menyukai Aluna, Ayah. Apakah kali ini kita mengganti rencana? Leon dan Keenan sepertinya bisa diandalkan untuk melakukan pembalasan. Kita memang tidak akan menyerangnya orang dewasa tetapi kita bisa menghancurkan lewat anak-anak. Pastinya akan lebih menyakitkan lagi," ujar Bastian.
Brandon tersenyum seringai sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia kembali mengambil gelasnya dan menyesap minumannya hingga habis tak tersisa lalu dengan tanggap Bastian menuangkan lagi minuman dari botolnya.
"Bukan ide yang buruk. Buat Keenan menghancurkan Aluna dengan begitu keluarga Prayoga akan sangat hancur. Perintahkan Leon untuk menyerang mental Frey. Ayah merasa jika Leon adalah pion yang sangat bisa diandalkan. Dia akan melakukan hal yang kau perintahkan dengan benar dan tanamkan kebencian di hati keduanya agar semakin besar keinginan mereka untuk membalas dendam.
"Kita hanya akan menjadi penonton dan pengarah saja. Biarkan dua anak muda itu memerankannya dengan sempurna. Jangan lupa jika ada dua cucu Ben yang harus dimasukkan dalam list yang harus dibuat menderita. Aku akan mengirim Harris untuk masuk ke sekolah cucu Ben dan akan mengacaukan dua anak kembar itu."
Brandon tertawa dan suara tawanya itu menggelegar di dalam kamar. Rencana pembalasan lewat anak-anak memang jauh lebih menyenangkan dan lebih menyakitkan. Jika semua hal buruk ditimpakan pada anak-anak maka orang dewasa pun akan lebih menderita, pikir Brandon.
Bastian tersenyum miring, ia membenarkan rencana ayahnya tersebut dan baginya itu adalah rencana yang sangat briliant. Ia kemudian berpamitan menuju ke kamarnya dan ia akan meminta Keenan untuk melakukan rencananya.
.
.
Dua sepeda motor berhenti tepat di depan mobil yang dikemudikan oleh Frey. Tepat di parkiran sekolah dua motor itu langsung menyelinap hingga membuat Frey kaget dan menginjak rem mendadak. Untung saja ia dan Aluna tidak terkena benturan karena mengenakan sabuk pengaman.
Frey menatap dua siswa yang terlihat ugal-ugalan dan kini mereka tengah membuka helmnya. Jelas saja Frey langsung tersulut karena ia langsung mengenali mereka yang tidak lain adalah Keenan dan Leon. Frey langsung tanggap kalau semua ini pasti bagian dari rencana uncle Bastian.
Rupanya mereka sudah mulai melakukan pergerakan. Lebih cepat dari yang diperkirakan. Baiklah, gue juga harus bersiap karena mereka berdua pasti sudah di-setting oleh uncle Bastian dan grandpa Brandon. Haiihh ... ternyata masa SMA gue bakalan ditutup dengan skandal lama. Tapi, nggak masalah. Mari kita bermain.
Frey mengajak Aluna untuk turun, ia menggandeng tangan Aluna dengan posesif. Ia yakin dia pria itu pasti akan mengacau hidup mereka. Ia sudah diberitahu Naufal jika mereka memberi Leon obat pelemah ingatan tetapi itu semua percuma karena pasti Keenan sudah memberitahukan Leon semuanya.
Di belakang mereka Leon dan Keenan berjalan bersama. Keduanya juga sudah siap untuk memberi mimpi buruk pada hidup Frey dan Aluna.
Tentang cinta, tentu Leon masih cinta Aluna. Berbeda dengan Keenan yang kini dalam hatinya hanya ada dendam mengingat apa yang sudah diceritakan oleh ayahnya semalam. Ia berambisi menghancurkan hidup Frey dan Aluna hingga mereka mengetahui rasa sakitnya seperti yang grandpanya rasakan.
Dia bukan saudara gue! Lagi pula dia itu Griffin bukan Elard. Zyan dan Ziya itu baru saudara gue. Sah-sah saja kalau gue mau bunuh Frey! Keenan membatin.
"Selamat pagi Aluna cantik," sapa Leon yang sudah berada di samping Aluna. "Ah ya, selamat pagi tunangan Aluna yang berkedok saudara. Ck! ternyata gue salah selama ini, musuh utama gue bukan Keenan yang jatuh cinta pad Aluna tetapi saudaranya sendiri. Upss ... salah, bukan saudara tetapi calon suami. Apa kabar kalau satu sekolah tahu tentang hubungan kalian? Sepertinya bakalan jadi trending topic. Tapi tenang, karena gue cinta lu Aluna, gue nggak bakalan kok bikin lu jadi bahan bullying. Tapi lu harus jadi cewek gue biar lu terhindar dari semua itu. Gimana, deal?"