
Alvaro mengusap wajahnya frustrasi, istrinya yang sedang hamil muda itu hilang entah kemana begitupun dengan Tara yang membuat Ikram hampir menangis mencari sang istri.
Mereka sudah mengecek CCTV tetapi tidak ada yang terlihat sama sekali di CCTV tersebut, sepertinya sudah ada yang berhasil meretas atau mengutak-atik CCTV hotel tersebut.
Beberapa bodyguard pun melaporkan bahwa mereka tidak menemukan jejak Nurul dan Tara hingga membuat Alvaro dan Ikram menghajar mereka sebagai pelampiasan.
Tidak ada jejak dan tanda-tanda, membuat Alvaro dan Ikram tidak tahu harus mencari kemana lagi. Semua terjadi begitu cepat dan bahkan mereka hanya sekali berkedip dan sekali tarikan napas istri mereka tiba-tiba saja sudah menghilang.
Saat keduanya baru saja menumbangkan beberapa bodyguard, ponsel Alvaro berdering dan ia melihat Axelle lah yang meneleponnya.
"Kalian datang ke alamat yang akan aku kirimkan. Aku sudah menemukan posisi mereka," ucap Axelle dan tanpa menunggu sahutan dari Alvaro ia pun menutup panggilannya.
Alvaro menyimpan ponselnya ke dalam saku celana setelah ia mendapat kabar dan membaca alamat yang dikirimkan oleh Axelle.
Pukk ...
Alvaro menepuk pundak Ikram, "Bro, barusan Axelle ngirim lokasi mereka. Ayo kita kesana," ucap Alvaro yang membuat Ikram sedikit merasa lega.
Keduanya pun bergegas menuju ke mobil, alamat yang ditunjukkan Axelle cukup jauh dan untung saja Axelle sudah berada di lokasi itu lebih dulu.
Ikram mengemudikan mobil dengan begitu gila. Bahkan ia beberapa kali menyalip kendaraan karena ingin memangkas waktu mereka untuk bisa segera sampai di lokasi tersebut.
Alvaro sendiri sebenarnya merasa heran kenapa bisa Axelle menemukan Nurul dan Tara padahal tadi mereka sama-sama keluar untuk mencari keberadaan mereka.
Kembali Axelle menghubungi Alvaro dan menanyakan keberadaannya dan Alvaro mengatakan bahwa ia sudah akan segera sampai.
Di lokasi tersebut, Axelle dan Danish yang datang bersama untuk menyelamatkan Nurul dan Tara pun mulai mengendap-ngendap untuk masuk. Sebuah bangunan yang sepetinya adalah bekas pabrik yang sudah tidak terurus lagi. Ada banyak yang berjaga sehingga kedua pria itu berusaha untuk tidak terlihat oleh mereka.
"Tuan besar pasti senang karena kita berhasil menangkap dua menantu dari kedua musuhnya," ucap salah satu dari pria yang sedang berjaga.
"Ya, kau benar. Kita pasti akan mendapatkan bonus besar," timpal temannya.
"Katanya bos akan datang dalam tiga puluh menit," timpal yang lainnya.
Danish dan Axelle berusaha melihat ke sekeliling penjaga tersebut tetapi mereka tidak menemukan keberadaan Nurul dan Tara. Kemungkinan keduanya di amankan di tempat berbeda.
Celaka bagi keduanya, ponsel Danish berdering dan ia lupa mengganti mode hp menjadi silent. Pabrik yang begitu lenggang tanpa kebisingan selain suara jangkrik itu membuat dering ponsel Danish menggema di seluruh ruangan.
"Siapa disana?" teriak salah satu dari penjaga yang menculik Nurul dan Tara.
Axelle menatap memelas kepada Danish sedangkan yang ditatap hanya menampilkan senyumannya.
"Ya udah, hadapi aja. Mereka cuma berlima," ucap Danish dan Axelle pun mengiyakan saja.
Ketika dua orang yang diminta untuk mengecek sumber suara ponsel berjalan mendekat, Axelle dan Danish bersiap untuk menyergap mereka.
Begitu pun dengan Axelle yang langsung memberi kuncian di leher dan memiting leher tersebut hingga pria itu pingsan dan Axelle melemparnya begitu saja ke lantai.
Mereka berusaha menyerang tanpa menimbulkan keributan agar tidak semakin banyak yang datang untuk menyerang mereka. Lebih baik menghabisi satu per satu menurut Danish.
"Jo ... Tejo, gimana udah ketemu belum sama penyusupnya?" teriak pria berbadan gempal yang sepertinya pemimpin mereka.
Hening ...
Merasa heran karena tidak ada sahutan, ia kembali menyuruh salah satu anggotanya untuk kembali mengecek dan seperti yang tadi mereka lakukan, Danish dan Axelle kembali membekuk satu anggota pria gempal itu.
"Sepertinya hanya akan membuang waktu jika seperti ini. Sebaiknya kita tidak perlu menunggu Alvaro dan Ikram. Gue takut mereka diapa-apakan apalagi mereka berdua sama-sama lagi hamil muda," ucap Danish yang sudah merasa gelisah memikirkan adiknya yang entah diamankan di sebelah mana.
Axelle mengangguk, "Kalau begitu ayo kita hadapi dua orang itu lagi dan kita paksa untuk memberitahukan dimana Nurul dan Tara," timpal Axelle.
Dengan langkah pasti keduanya pun mendekati dua pria yang tersisa. Kaget dengan kedatangan Axelle dan Danish, dua pria itu langsung bersiap-siap menyerang. Tak lupa pria berbadan gempal itu memberi kode, hingga kini bermunculan rekan-rekannya yang berjumlah lebih dari dua puluh orang.
Axelle dan Danish saling memandang, rupanya mereka sudah salah perhitungan. Danish menganggukkan kepalanya, keduanya pun mulai menyerang para penjaga yang berjumlah banyak itu.
Sementara itu di aula resepsi yang saat ini sudah begitu kacau, Aluna terus menangis mencari bundanya hingga Dianti dan Yani memutuskan untuk membawanya ke kamar hotel untuk ditidurkan. Safira pun ikut bersama mereka karena Ben berpesan agar ia tidak berjalan sendirian. Beberapa pengawal menjaga ketat, atas perintah Genta Prayoga dan juga Ben Elard.
Para tamu undangan khususnya keluarga dekat pun diminta untuk beristirahat di kamar hotel yang disediakan untuk pesta malam ini.
Di aula tinggallah Genta, Ben, Ezio, Deen dan Nandi yang berjaga. Ponsel Ben tiba-tiba berdering, sebuah notifikasi pesan masuk dimana seseorang mengirim gambar.
Ben mengumpat kesal begitu melihat isi pesan gambar dimana ada beberapa foto menantunya dan Nurul yang sedang duduk di lantai dan keduanya saling menempelkan punggung dengan tali mengikat seluruh tubuh mereka dan mulut mereka yang dibekap dengan lakban hitam.
Melihat reaksi Ben, hal itu mengundang perhatian mereka dan Ben pun menunjukkan foto tersebut hingga para pria yang bersamanya mengerang marah, terutama Deen yang tidak terima melihat putri kesayangannya itu kembali mengalami penculikan.
"Apa kalian tidak bisa mendapatkan identitas orang dibalik kejadian yang menimpa kalian selama ini?" tanya Deen murka.
Ben dan Genta hanya bisa menggeleng lemah.
"Dasar lamban! Lu itu terkenal sadis Ben, tapi kenapa lu hanya untuk mendapatkan identitas pelakunya pun nggak bisa. Dan lu Genta, lu itu cerdas dan paling cekatan tetapi lu juga lalai. Dan lu Ezio, bukannya lu punya usaha penyedia bodyguard dan juga detektif, kenapa tidak bisa menemukan pelakunya?" omel Deen pada mereka satu per satu.
"Itu semua karena Kriss dan Ruri yang selama ini menjadi pelaku utama tetapi bukan mereka otaknya. Maaf," cicit Ezio merasa bersalah karena gagal mendapatkan informasi tentang musuh mereka yang sebenarnya.
"Oke. Tapi gue tahu siapa dalang dari semua kejadian ini," ucap Deen yang membuat mata mereka semua tertuju padanya.
"Siapa?" tanya mereka kompak dan sangat penasaran.
Deen menyeringai, "Brandon Elard!"