
Alvaro membuka perlahan matanya dan samar-samar ia melihat pencahayaan. Ia menyapu pandangannya dan menemukan dirinya berada di ruangan yang bercat putih serta aroma khas obat-obatan menusuk indera penciumannya. Ia memegangi kepalanya yang terasa sedikit sakit. Mencoba mengingat kejadian apa yang terjadi sebelumnya hingga ia berakhir di rumah sakit.
"Wah akhirnya lu bangun juga ya. Gue nggak nyangka cowok kulkas sok keren dan sok segalanya kayak lu bisa pingsan juga karena patah hati."
Alvaro membulatkan matanya. Ia sangat mengenali suara wanita yang sedang mengejeknya ini. Wanita yang bertahun-tahun mengejarnya tetapi selalu ia hindari. Merasa bersalah, tentu saja tidak. Namun Alvaro tidak berniat menanggapinya, Alvaro lebih memilih memikirkan kejadian di bandara tadi.
Ingatannya kembali pada sosok Nurul yang tadi berjalan bersama pria dan seorang anak kecil yang sempat berpapasan dengannya. Ingin rasanya ia menangis, meraung-raung menumpahkan segala sesak dan sakit yang ia rasakan. Namun karena ada Clarinta di dekatnya, ia tidak mungkin memperlihatkan sisi lemahnya.
"Lu ngapain disini? Sana pergi!" usir Alvaro sarkas.
Clarinta menghela napas, sudah menjadi hal biasa dan bahkan ia sudah terbiasa dengan sikap Alvaro seperti ini. Clarinta bukannya pergi, ia malah duduk santai sambil memperhatikan wajah tampan Alvaro.
Secantik apa sih cewek itu sampai lu yang sesempurna ini nyaris mati dibuatnya. Beruntung banget dia.
Clarinta menggumam dalam hati, ia tidak berani bertanya secara langsung takutnya akan menyinggung perasaan Alvaro. Biarlah ia diam saja dan menemani Alvaro meskipun tidak diinginkan.
"Ngapain lu masih disini?" sentak Alvaro. Ia saat ini benar-benar ingin sendiri.
Kemana dua cecunguk itu? Bisa-bisanya mereka ninggalin gue sama wanita gila ini. Bukannya gue tenang tapi malah semakin stres.
"Gue nggak bakalan pergi dari sini. Lu mau nangis ya nangis aja. Gue nggak bakalan viralin lu juga. Gue 'kan pengagum garis keras lu, mana mungkin gue sebarin aib lu. Udah nggak usah ditahan, nangis aja."
Demi Tuhan ingin rasanya Alvaro menggeplak mulut rombeng Clarinta. Ia yang tadinya ingin menangis, menangisi keadaannya justru dibuat kesal oleh wanita gila yang dengan blak-blakan menjatuhkan harga dirinya.
"Gue mau tidur dan gue nggak mau ada lu disini. Takut gue kalau tiba-tiba lu perkosa gue. Sana lu!"
Clarinta membulatkan matanya mendengar tuduhan tak manusiawi Alvaro padanya. Jika saja bisa memang ingin ia lakukan sejak lama. Membayangkan bercinta dengan Alvaro tentu saja pernah ia lakukan.
"Kalau udah sah juga, gue pasti bakalan perkosa lu. Tapi sorry ya, kesucian gue mahal dan hanya akan diberikan sama cowok yang halalin gue. Walaupun bercinta dengan lu pernah masuk daftar kehalu-an gue, tapi nggak mungkinlah gue lakukan itu. Lu ijab qobul baru kita making love. Setuju?"
Kali ini giliran Alvaro yang terbengang dengan ucapan Clarinta. Begitu mudah wanita ini mengatakan jika ia pernah berhalu bercinta dengannya. Alvaro menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa kewarasannya akan semakin berkurang jika Clarinta terus berada di sisinya.
Dan apa katanya, minta di sah-kan lewat ijab qobul? Alvaro rasanya ingin tertawa juga menangis. Mengapa ia bernasib sial bertemu dengan wanita yang percaya dirinya terlalu tinggi dan sialnya selalu menempel padanya padahal berulang kali selalu ia hempas. Jika saja lelaki, pasti sudah Alvaro hajar sampai berpindah alam.
Daripada meladeni Clarinta, Alvaro memilih membalikkan badannya memunggungi wanita gila ini. Jika dia meladeni ucapan-ucapan Clarinta, Alvaro jamin ia akan dibuat pingsan kembali karena tidak kuat menahan emosi.
Clarinta yang melihat Alvaro memunggunginya hanya terkekeh. Ia tidak mau beranjak tetapi juga tidak mau mengganggu. Lebih baik Alvaro diam daripada ia harus meninggalkannya.
Clarinta bahkan sudah memohon pada kedua sahabat Alvaro agar ia yang menemaninya. Dengan penuh drama akhirnya ia berhasil berada di kamar ini. Walaupun tidak diterima dengan baik oleh Alvaro, ia tetap sabar. Karena dengan kesabaran ia berharap bisa meluluhkan hati Alvaro.
Keduanya larut dalam keheningan. Alvaro tidak benar-benar tidur melainkan hanya berusaha mengalihkan diri dari Clarinta. Hatinya saat ini belum siap menerima siapapun. Ia akui kegigihan Clarinta selama hampir empat tahun ini, tapi untuk membuka hati ia belum siap.
Alvaro masih ingin mencari tahu kebenaran dan walaupun itu pahit, ia ingin mendengar langsung dari mulut Nurul apakah wanita itu mencintainya atau tidak. Setidaknya Alvaro bisa ikhlas jika sudah menemukan jawaban yang ia cari selama ini.
"Lu pernah patah hati?"
Clarinta yang tengah sibuk dengan game di ponselnya menoleh pada Alvaro yang bertanya padanya tanpa berbalik badan.
Clarinta tersenyum, "Pernah. Bahkan patah hatinya patah banget," jawab Clarinta dengan wajah mengenaskan.
Alvaro mendengus, ia malah mengeluh pada dirinya yang kini mengajak wanita ini berbicara.
"Dulu gue pernah pacaran sama cowok yang pertama kali bikin gue jatuh cinta. Kita pacaran selama tiga tahun tapi dia selingkuh dan itu terjadi di depan mata gue. Lu tahu nggak seperti apa rasa sakit yang gue rasain? Sakit banget. Bahkan gue hancur banget. Lu bayangin gue sama dia udah lama dan gue sayang banget bahkan setiap hari kita selalu bersama tapi berujung pengkhianatan. Nyesek banget, sumpah!"
Bibir Clarinta bergetar, rasanya air matanya ingin merembes keluar karena terkenang kisah cintanya yang tragis. Jika saja hal itu tidak terjadi mungkin hari ini ia sudah menikah dengan kekasihnya itu. Sayang mereka tidak ditakdirkan untuk berjodoh.
Kak Danish, ternyata Clarinta nggak sekuat itu. Sakitnya masih sama Kak.
Clarinta buru-buru menghapus air matanya agar tidak diketahui oleh Alvaro. Bisa-bisa ia akan diledekin olehnya nanti. Clarinta tidak boleh terlihat cengeng di depan Alvaro. Ia adalah gadis tangguh yang memendam kerapuhan dan pandai menyembunyikannya sehingga tidak seorang pun tahu jika dia memiliki kelemahan dalam hatinya.
"Lu lagi ngedongeng atau curhat?" ejek Alvaro.
Clarinta mendengus, sudah ia duga akan mendapat jawaban tak terduga dari Alvaro. Tapi mau bagaimana lagi, ia hatinya sudah tertawan. Sepahit apapun ucapan Alvaro, ia akan tetap menerimanya dengan lapang dada.
Gue pernah kehilangan orang yang gue cinta tapi kali ini gue nggak mau kehilangan lagi. Mungkin dulu gue nggak lebih berusaha lagi. Anggap aja apa yang terjadi dulu adalah pengalaman. Apa yang gue genggam, nggak akan gue lepasin kecuali takdir yang melakukannya. Semangat Clar, lu pasti bisa.
.
.
Alvaro sudah kembali ke rumahnya setelah semalam ia menginap di rumah sakit. Sebenarnya ia bisa saja pulang tetapi jika di rumah, ia tidak mau mendengarkan ceramah panjang kali lebar dari mami dan papi nya. Ia juga sudah meminta Ikram dan Nandi merahasiakan keberadaannya. Dan untuk Clarinta, Alvaro tidak tahu tentang wanita itu. Ia tidak mau pusing dan bukan urusannya juga.
Alvaro kembali bekerja seperti biasa di kantor. CEO yang terkenal dingin dan berlidah pahit ini membuat para karyawan yang melihatnya langsung menundukkan kepalanya. Auranya begitu kuat dan mendominasi sehingga bahkan Lalat pun tidak berani terbang di sekitarnya.
Alvaro mendengar jelas beberapa karyawan mengatakan jika dirinya lebih menakutkan dari hari sebelumnya. Alvaro mengakui itu karena berkat Nurul yang sukses membuatnya patah hati, ia semakin menjadi pria dingin saja.
Di dalam ruangannya, ia menelepon Ikram dan menanyakan sampai dimana ia berhasil melacak keberadaan Nurul. Ia meminta Ikram untuk mencari data penerbangan kemarin, ia yakin ia akan segera menemukan Nurul.
"Nurul melakukan penerbangan ke Kalimantan. Lebih tepatnya pesawatnya landing di bandara Tanjung Bara, di kabupaten Kutai Timur. Dia kayaknya di Sanggatta Bro."
Setelah mendengar jawaban dari Ikram, Alvaro langsung memutus panggilannya. Ia menyeringai, pencarian Nurul akan semakin di persempit lagi. Satu kota yang akan ia tuju dan kebetulan sekali sang kakak tinggal di daerah itu. Akan lebih mudah baginya untuk mencari tahu.
"Lu tunggu aja kedatangan gue. Kalau lu bilang lu cinta sama gue, apapun bakalan gue lakuin termasuk membuat lu jadi janda. Toh gue juga yang pertama unboxing lu. Nggak ada masalah buat gue," ucap Alvaro.
Tokk ... tokk ... tokk ....
"Masuk!"
Billy membuka pintu dan masuk ke ruangan Alvaro. Wajahnya terlihat tenang tetapi saking tenangnya Alvaro yakin jika ada hal yang tidak baik-baik saja.
"Katakan!"
"Tuan muda, pabrik tekstil dan garmen di daerah Bandung mengalami masalah. Klien dari Swedia mengirim kembali produk kita karena kualitasnya berbeda dengan yang sebelumnya. Mereka juga menyatakan begitu kecewa dan merugi karena insiden ini," ucap Billy.
Wajah Alvaro menegang, selama ini tidak pernah timbul masalah seperti ini. Bahkan produk mereka selalu mengutamakan kualitasnya.
"Fick Company mengharapkan kedatangan anda kesana untuk menyelesaikan masalah ini. Mereka adalah klien tetap kita sejak lama bahkan sudah puluhan tahun. Mereka tidak langsung memutus kerja sama karena mereka percaya ada yang salah dengan pengiriman kali ini. Mereka mengharapkan kedatangan anda untuk menjelaskan secara langsung," lanjut Billy.
"Baik. Persiapkan keberangkatanku dan sebelum itu, cari tahu penyebab masalahnya. Ini tidak mungkin hanya masalah sepele karena selama ini produk kita tidak pernah gagal."
"Baik tuan muda. Saya permisi."
Setelah Billy pergi, Alvaro menghela napasnya dengan berat.
"Kenapa waktu selalu saja salah. Di saat gue ingin mengejarnya kenapa justru ada lagi yang mengahalangi. Apakah ini pertanda jika memang alam semesta menentang kita? Jika saja kau bisa mengatakan cinta padaku, maka aku akan segera menyelesaikan masalahku dan datang padamu segera. Please bisikkan kata itu walau hanya dalam mimpi."
Entah tertidur atau tidak, Alvaro yang memejamkan matanya itu terkejut begitu mendengar bisikan yang begitu halus dan itu adalah bisikan cinta dari kita romantis di dunia..
"Alvaro Genta Prayoga, Je T'aime."