GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Deep Talk


Hari semakin sore, kedua orang tua Alvaro berpamitan untuk pulang dan menyisakan Alvaro dan Clarinta di dalam ruangan tersebut. Keduanya saling menatap canggung, Clarinta sebenarnya ingin menanyakan pernyataan Alvaro tadi. Jujur ia merasa senang, tapi ia belum bisa mempercayainya mengingat bagaimana Alvaro begitu mencintai seorang perempuan hingga dengan mata kepalanya sendiri melihat Alvaro pingsan karena patah hati. Jelas saja Clarinta meragu, tidak mungkin dalam sekejap Alvaro langsung memberikan hatinya, mustahil!


Clarinta memang mencintai Alvaro, tapi bukan berarti ia memanfaatkan kesempatan ini untuk menjerat pria ini. Ia sudah pernah begitu cinta pada seseorang tetapi tetap juga patah hati. Dan Clarinta tidak ingin itu terjadi lagi, ia harus lebih menjaga hatinya agar tidak sembarangan berharap. Ia tahu jika Alvaro mengatakan itu karena sudah menyelamatkan maminya, jika tidak pasti sampai detik ini Alvaro masih bersikap sinis padanya.


"Bos, eh tuan muda, boleh tidak saya bertanya?" panggil Clarinta saat melihat Alvaro menyimpan ponselnya ke dalam saku.


Alvaro menoleh, ia menatap tajam pada Clarinta yang kini sedang senyam-senyum menatapnya. "Nggak usah sok formal gitu. Kita lagi di luar kantor. Lu santai aja ngomongnya," ujar Alvaro. Ia yang duduk di sofa langsung mendekat ke arah Clarinta. "Ada yang sakit atau lu butuh sesuatu?" tanya Alvaro begitu ia sudah duduk di kursi yang ada di samping ranjang Clarinta.


Wanita gila–julukan Alvaro untuk Clarinta ini menggelengkan kepalanya. Ia menunduk, ragu untuk bertanya karena ia takut mendengar hal-hal yang akan membuatnya sakit hati.


"Lu manggil gue cuma buat lihat lu nunduk doang? Ayo ngomong, gue masih banyak urusan ini!" sentak Alvaro.


Tuh 'kan, gue bilang juga apa. Dia itu lupa ucapannya yang tadi. Untung gue nggak begitu gembira, coba kalau gue udah senang duluan pasti sekarang gue patah hati berat nih. Dasar Alvaro arogan!


Melihat Clarinta yang hanya menunduk, Alvaro menghela napas. Ia merasa dirinya sudah bersikap kasar pada Clarinta padahal ia jelas ingat jika tadi ia sudah mengatakan hal manis dan menjanjikan akan membuka hatinya untuk Clarinta. Namun sesuatu yang tidak terduga terjadi, Nurul datang tepat di hadapannya saat ia ingin membuka lembaran baru. Otomatis Alvaro menjadi dilema lagi. Ia bukannya lupa pada Clarinta, tapi ia masih berada di dunia masa lalunya bersama Nurul. Ia harus menyelesaikan masalahnya dulu, jangan sampai ia menyakiti hati Clarinta dengan berjanji manis tapi nyatanya hati dan pikirannya berada di tempat lain.


"Sorry, lu pasti mikir gue ini cowok brengsek setelah mengatakan akan membuka hati tapi malah tetap bersikap sinis sama lu. Oke gue akui tadi sebenarnya itu karena gue refleks aja setelah lu nolongin mami gue dan cinta gue bertepuk sebelah tangan makanya gue ngomong gitu ke elu. Gue tahu itu jahat, tapi lu harus tahu gue nggak bakalan lirik perempuan lain setelah masalah gue sama cinta masa lalu gue kelar. Andai kata gue sama dia nggak bakalan bisa bersatu, lu mau 'kan bantuin gue buat lupain dia? Tapi, lu jangan berharap banget sama gue, lu tahu sendiri gue bahkan susah move on bahkan lu ngejek gue karena gue pingsan akibat patah hati. Maaf Clar, tapi lebih baik gue jujur," ucap Alvaro panjang lebar menjelaskan. Ia tetap memperhatikan raut wajah Clarinta tapi ia heran karena wanita ini tidak melakukan apapun selain tersenyum menatapnya.


"Gue tahu, kok. Lu tenang aja, gue nggak berharap lebih juga dari lu. Gue memang cinta sama lu tapi gue juga sadar kalau cinta itu nggak bisa dipaksain. Gue juga nggak bakalan lirik cowok lain sambil nunggu lu. Tapi … gimana kalau misalnya lu akhirnya bersatu sama dia? Gue gimana? Patah hati dong gue," tanya Clarinta.


Alvaro membuang muka, ia belum memiliki jawaban atas pertanyaan Clarinta ini. Awalnya jika ia tahu bukan Daniyal Axelle Farezta yang bersama Nurul, maka ia yakin akan bisa kembali bersama Aina-nya. Tapi saat ini, Alvaro pesimis. Saingannya terlalu berat dan ia bisa lihat sendiri jika Axelle begitu mencintai Nurul hanya dari sorot mata dan bahasa tubuhnya Alvaro bisa menilai jika ada cinta untuk Nurul di hati Axelle walaupun Nurul mengakui cinta di hatinya hanya untuk Alvaro.


Tapi siapa yang akan tahu nantinya, dengan cinta yang tulus dari pria yang nyaris sempurna tanpa skandal seperti Axelle, mudah saja bagi Nurul jatuh cinta padanya. Axelle pasti bisa membuat Nurul jatuh cinta bahkan melebihi cinta Nurul untuknya. Membayangkan hal itu saja sudah membuat hati Alvaro ngilu.


"Seandainya ya … gue nggak tahu juga karena yang gue hadapi kedepannya belum bisa gue prediksi. Tapi gue mau nanya, lu gimana kalau seandainya gue sama dia bersama lagi?" tanya Alvaro balik.


Clarinta mengernyit, "Kok lu nanya balik sih?"


Alvaro terkekeh, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya gue mau tahu aja, gimana sama lu nantinya. Lu bakalan ngapain? Lu gimana nantinya hanya lu yang tahu dan gue mau tahu!" ujar Alvaro.


Clarinta menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum ia menjawab pertanyaan Alvaro yang ia sendiri belum punya jawabannya. Ia mungkin cukup mengatakan apa yang ada di hatinya saat ini, apa yang ia rasakan dan apa yang ia pikirkan.


"Pertama gue mungkin bakalan patah hati berat, secara sudah hampir empat tahun gue ngincar lu tapi akhirnya semua sia-sia. Yang kedua ya, gue pasti bakalan marah sama lu, secara lu udah bikin gue berharap tapi malah lu patahin hati gue, ya sakit dong hati gue. Dan yang ketiga, hmmm … gue ini 'kan cantik jadi gue yakin diluar sana gue masih bisa nemuin cowok lain yang bakalan sembuhin hati gue. Pasti ada dan gue yakin Tuhan menciptakan hati gue bukan cuma sekadar dipatahin, dia pasti sudah menyiapkan obat penawarnya juga. Lu tenang aja, gue ini kuat dan tahan banting," jawab Clarinta dengan wajah dibuat sesantai mungkin padahal hatinya saat ini benar-benar sakit.


Alvaro tersenyum miris, ia tahu Clarinta sedang berusaha menyembunyikan kesedihannya saat ini. Ini salah satu yang membuat Alvaro menyimpan kekaguman pada wanita ini, ia selalu bisa menguasai dirinya dalam situasi apapun kecuali jika gilanya kumat maka Alvaro akan sakit kepala dibuatnya.


Clarinta tertawa kecil, ucapan Alvaro sukses membuatnya tersanjung juga bersedih. Ia tersanjung karena pujian Alvaro terlihat dan terdengar tulus. Yang membuat ia sedih, ia kembali teringat akan Danish Ganendra Emrick yang sudah selingkuh darinya, itu menandakan ia bukanlah gadis yang bisa disebut beruntung. Ia tetap saja dikalahkan oleh perempuan lain.


"Emang gitu ya? Tapi kenapa kak Danish selingkuhan gue? Dia nggak beruntung dong karena pacaran sama gue," lirih Clarinta, biar saja dia curhat pada Alvaro karena ia memang butuh teman berbagi kisah patah hatinya.


"Danish? Mantan lu?" tanya Alvaro.


Clarinta mengangguk, "Danish Ganendra Emrick, kakaknya calon kakak ipar gue tadi," jawab Clarinta. Ia tidak tahu saja begitu ia menyebut Nurul sebagai calon kakak iparnya, dada Alvaro bergemuruh.


Sialan!


"Dulu gue secinta itu sama dia dan gue yakin dia juga cinta sama gue, kita pacaran lama banget tapi akhirnya dia selingkuh. Gue nggak tahu gue salah apa sama dia, kenapa dia sampai tega duain gue. Kalau harus jujur, sampai detik ini gue juga masih punya cinta buat dia. Gue nunggu dia, gue nunggu penjelasan sejelas-jelasnya kenapa coba dia khianatin gue. Ya gue tahu dulu gue emang bodoh karena menghilang tanpa kabar dan gue bahkan lanjutin studi di Amerika tanpa ngasih tahu dia, gue nyesal tapi itu semua karena gue patah hati berat. Hahh … harusnya tuh kita udah nikah ya, tapi mau gimana lagi kalau gue sama dia nggak jodoh!"


Alvaro tersenyum, ia yakin ada hal yang belum selesai antara Clarinta dan Danish. Ia berpikir akan membantu Clarinta menyelesaikan cintanya di masa lalu ini, mungkin saja ada harapan. Ia memang ingin menyelamatkan kisah cintanya bersama Nurul, tapi sebelum itu ia juga harus memastikan Clarinta mendapatkan pria yang lebih baik darinya. Ia tidak masalah jika nantinya tidak bisa mendapatkan salah satu dari kedua wanita ini, asalkan keduanya bahagia dengan kehidupan mereka, biarlah Alvaro menjadi figuran dalam hidup mereka. Bukan masalah untuknya.


"Kalau gue bantu lu buat ketemu sama dia dan minta penjelasannya lu mau nggak?" tanya Alvaro yang sudah menyimpan niat terselubung.


Clarinta pasti tahu rumah Aina.


"Beneran?" tanya Clarinta antusias.


Alvaro mengangguk, "Kebetulan gue mau ke Kalimantan, ada proyek gue disana dan malam ini gue bakalan berangkat. Lu kasih deh gue alamat si Danish, gue mau nanya dulu ke dia dan setelah itu gue bakalan bawa di ke hadapan lu. Gimana?" usul Alvaro.


Bilang iya please Clar, gue nunggu.


Clarinta berpikir sejenak. Sebenarnya ia ingin ikut dengan Alvaro tapi kondisinya saat ini tidak memungkinkan. "Nanti gue kirimin alamatnya kalau lu udah ke Kalimantan. Eh, kenapa lu bisa tahu kalau kak Danish tinggal di Kalimantan?" tanya Clarinta heran.


Alvaro langsung mentoyor kepala Clarinta, gemas juga dia, "Lu Lupa gue sama Daniyal kakak lu itu punya kerja sama. Gue tahu dia tinggalnya disana dan tadi dia datang sama adiknya Danish, ya tentu aja gue tahu dia tinggal di sana. Lu itu lulusan s-2 di Amerika dan universitas ternama Clarinta Wistara, kenapa lu tetap aja bego sih?" gerutu Alvaro.


Clarinta cengengesan, ia tidak ingat akan hal itu.


Tuh 'kan, emang bakat alami dia suka ngehina dan ngatain orang. Alvaro nggak cocok jadi cowok lembut, cocoknya jadi cowok pemarah. Karakter antagonis mah dia.