GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
163


Semua mata tertuju pada sosok yang baru saja masuk sambil memegang senjatanya. Ben Elard, ia melepaskan satu timah panas ke arah Kriss dan akhirnya justru terkena Miranda.


"Cepat bawa menantu ayah ke rumah sakit. Mobil ada di samping dan biarkan sisanya ayah yang urus," ucap Ben dengan suara yang terdengar begitu dingin.


Ikram dengan cepat menggendong Tara, air matanya terus tumpah sambil menatap wajah Tara yang terlihat memucat. Tak lama kemudian masuk Genta dan Deen. Genta meminta agar Kriss membawa Miranda segera ke rumah sakit dan Nurul segera berlari ke arah Alvaro.


Kali ini situasi diambil alih oleh para orang tua dan juga anak buah mereka yang ikut serta berjumlah puluhan orang. Dengan pengamanan ketat mereka menuntun anak-anak mereka keluar dari pabrik. Genta yang mengingat akan Rama sahabatnya tentu saja tidak bisa membiarkan Miranda begitu saja.


Dan kini di dalam gedung, Ben yang membawa hampir semua anak buahnya sedang menghadapi Brandon dan juga anak buahnya. Meskipun tidak muda lagi tetapi Ben masih sanggup untuk menghadapi sang adik.


"Halo adikku sayang, dendammu padaku bukan? Kalau begitu ayo hadapi aku," ucap Ben sambil menatap sengit pada Brandon.


Brandon sendiri membalas tatapan sang kakak sambil tersenyum miring. "Ya, mari kita selesaikan semuanya kakak!"


Sementara itu di rumah sakit saat ini Kriss dan Ikram sedang berada di depan ruang operasi dengan Miranda dan Tara yang sedang ditangani sekaligus. Sebenarnya tidak dibenarkan untuk melakukan operasi dua sekaligus tapi karena ini adalah keadaan darurat maka dua ahli bedah sekaligus membagi tugas mereka untuk membantu dua pasien.


Ikram nampak mondar-mandir di depan pintu sedangkan Kriss berdiri bersandar di dinding. Alvaro memilih untuk membawa Nurul ke ruang perawatan agar istirnya itu bisa beristirahat mengingat Nurul sedang hamil muda.


Danish dan Axelle memilih kembali ke hotel untuk mengecek keluarga mereka karena disana hanya ada Nandi saja yang berjaga.


Ikram menatap Kriss yang terlihat menyedihkan sama seperti dirinya. Ia kemudian menghampirinya dan menarik kerah kemejanya.


"Semua karena lu brengsek! Lu ada masalah apa sama gue dan sama istri gue? Lu mau nembak gue? Kenapa Kriss, kenapa?" teriak Ikram mencoba menyalurkan rasa sakit hatinya.


"Sumpah gue nggak nembak siapapun! Gue nggak nembak lu ataupun Tara. Gue nggak nembak!" bantah Kriss berusaha melepaskan cengkraman Ikram.


"Tidak usah mengelak. Jelas-jelas lu yang megang pistol dan lu yang nembak!" bentak Ikram.


Tangan Kriss yang sedang berusaha untuk melepaskan tangan Ikram kemudian beralih pada saku celananya. Ia mengambil pistol yang tadi ia pegang lalu memperlihatkannya pada Ikram.


"Lu lihat pistol ini, pelurunya masih ada. Gue nggak sempat narik pelatuknya bro. Bukan gue yang nembak Tara, bukan gue!" balas Kriss membentak. "Gue bahkan nggak tahu kalau tuan Brandon Elard bakalan ada rencana buat nembak," imbuh Kriss.


Mata Ikram memicing, "Brandon Elard? Kenapa namanya --"


"Dia adik bokap lu. Selama ini gue dan keluarga gue berada di bawah perintahnya karena kami berhutang padanya dan dia punya dendam pribadi sama om Ben dan juga om Genta. Gue nggak tahu apa dendamnya dan apa masalah mereka, gue hanya dimanfaatin karena gue punya hutang. Dan asal lu tahu, orang tua gue udah dibunuh dengan sadis sama adik bokap lu dan gue juga hampir mati karena gue berniat nyari perlindungan dari bokap lu. Gue udah capek Ikram, gue capek dan buntutnya gue dan keluarga gue menderita!"


Namun demikian Ikram tentu saja tidak bisa menerima. Ia bahkan melihat Kriss memperlihatkan pistol tersebut. Rasanya sangat janggal jika bukan Kriss yang melepaskan tembakan, lalu siapa lagi? Apa mungkin Brandon Elard? Atau siapa?


Ikram hanya bisa menerka-nerka, ia tidak tahu harus melakukan apa pada Kriss terlebih setelah ia tahu jika kedua orang tua Kriss sudah tewas di tangan pamannya. Ikram adalah sosok yang selalu berpikir dengan kepala dingin dan tidak tergesa-gesa mengambil keputusan. Yang harus ia lakukan sekarang adalah berdoa agar Tara dan kandungannya baik-baik saja.


"Bukan Kriss yang nembak Tara!"


Ikram dan Kriss yang sudah sama-sama diam langsung menoleh ke sumber suara. Disana ada Nurul yang duduk di kursi roda sedang di dorong oleh Alvaro. Nurul sebenarnya bisa jalan akan tetapi Alvaro yang tidak ingin istrinya kelelahan maka ia memaksa untuk duduk di kursi roda. Sempat terjadi perdebatan karena Nurul menolak dan Alvaro memberikan opsi jika ia akan menggendong Nurul jika tidak ingin duduk di kursi roda dan alhasil Nurul mengalah.


Ikram menatap Nurul begitupun dengan Kriss. Saat ini Nurul sudah berada tepat di hadapan mereka sedangkan Alvaro pun penasaran dengan ucapan Nurul barusan sebab sejak tadi istrinya tidak pernah membahas masalah penembakan. Nurul hanya terus mengingat Aluna saja.


"Gue lihat sendiri seseorang ngarahin tembakan ke arah Ikram. Mulut gue yang ditutup lakban nggak bisa bilang ke kalian. Gue juga nggak nyangka kalau Tara bakalan ngelakuin aksi nekat itu, orang itu memang tepat berada di depan kami. Dan dia juga yang menembak Kriss tetapi Miranda menyelamatkannya," cerita Nurul sambil mengingat jelas kejadian tadi.


Kriss bernapas lega setidaknya ada saksi mata di kejadian tersebut hingga ia tidak akan dituding buruk oleh kedua sahabatnya.


Ikram sendiri menatap Nurul, ia ingin tidak percaya tetapi Nurul justru membalas tatapannya dan wanita yang sedang hamil muda itu menganggukkan kepalanya. Ikram hanya menatap sesaat pada Kriss yang saat ini menatapnya penuh rasa bersalah.


"Maafin gue karena udah membuat hidup kalian terusik. Gue benar-benar nggak maksud karena gue juga berada di bawah tekanan. Harusnya waktu itu gue udah ngomong sama lu, Varo. Tapi kalau gue sampai nekat juga, gue takut anak sama istri gue dalam bahaya. Walaupun emang setiap detik dalam hidup kami selalu berada di dalam bahaya," ucap Kriss lagi.


Saat mereka sedang serius berbincang, pintu ruangan operasi pun terbuka. Salah seorang dokter keluarga dan dokter itu diketahui adalah dokter yang mengoperasi Tara.


"Dengan keluarnya pasien atas nama Tara?" tanya dokter tersebut.


Ikram segera mendekat, ia sangat gugup karena takut jika terjadi sesuatu yang buruk dengan istri dan anaknya.


"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Ikram resah.


"Alhamdulillah, keadaannya baik-baik saja dan peluru tembakan tadi hanya mengenai lapisan ototnya saja. Akan tetapi, kandungan nyonya Tara saat ini terbilang lemah dan bahkan hampir tidak bisa diselamatkan jika saja terlambat mendapatkan penanganan. Saran saya, setelah Nyonya Tara sudah dipindahkan, ia harus melakukan bed rest untuk sebulan atau setidaknya sampai kandungan nyonya Tara benar-benar kuat. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan setelah beliau siuman. Saya permisi dulu," ucap dokter tersebut dan Ikram langsung merasa tubuhnya lemas tetapi ia sangat bahagia dan bersyukur.


Alhamdulillah, terima kasih ya Allah karena Engkau masih memberikan perlindungan pada anak dan istri hamba.


Sementara itu, penanganan untuk Miranda masih berlanjut sedangkan Kriss sedari tadi sudah begitu resah. Ia bahkan lupa dengan sang anak.


"Bro, gue harus kembali ke pabrik tadi. Anak gue dalam tawanan mereka. Tolong jagain Miranda buat gue," ucap Kriss yang semakin khawatir mengingat Frey yang ia tinggalkan karena panik dengan kondisi Miranda tadi.