
Frey menatap tajam ke arah Leon lalu tanpa kata ia segera membawa Aluna pergi tanpa peduli Leon yang terus mengekori mereka. Frey membawa Aluna dengan paksa masuk ke dalam mobil lalu ia berputar arah dan masuk ke dalam mobil.
Tidak peduli dengan Leon yang berusaha menghalangi jalan mereka, Frey tetap melajukan mobilnya hingga mau tidak mau Leon segera menghindar.
Cowok tampan itu lalu menatap mobil yang sudah meninggalkan area sekolah dengan perasaan aneh.
"Kenapa gue sampai senekat ini? Apakah ini masih bagian dari misi atau sudah mulai main hati?" gumam Leon.
Sementara itu di dalam mobil Aluna sama sekali tidak mau menatap Frey, ia memilih memalingkan wajahnya ke jendela. Ada banyak tanya dalam benaknya namun ia memilih menyimpannya sendiri dan menerka jawabannya sendiri.
Siapa yang tidak akan merasa besar kepala saat orang yang dicintai mengatakan status hubungan mereka di depan banyak orang walau tidak menjelaskan dengan rinci? Aluna tentu sangat senang namun kembali ia menahan dirinya sebab Frey adalah orang yang tidak terduga dan tidak bisa ditebak jalan pikirannya.
Jika Aluna merasa senang namun ternyata Frey kembali membanting ekspektasinya, bukankah ia lagi yang akan hancur hatinya? Akan lebih baik ia menahan dirinya sendiri saat ini agar semuanya tidak begitu sakit saat tahu tadi Frey hanya semata-mata berpura-pura agar Riani tidak lagi mengejarnya.
"Kenapa diam?" tanya Frey karena Aluna yang biasanya cerewet mendadak jadi pendiam.
Aluna enggan menatap Frey, ia berharap tanpa menjawab pun Frey akan tahu jika ia sedang tidak ingin bicara.
Frey tersenyum, "Gue nggak mau bikin bunda sama papi khawatir kalau lu pulang sama yang lain. Bagaimanapun lu tetap tanggung jawab gue, Na. Lu saudara gue dan gue--"
"Udah nggak usah diterusin. Gue paham dan mending lu sekarang diam aja!" potong Aluna, kali ini hatinya kembali sakit namun tidak sesakit biasanya karena ia sudah mengantisipasi lebih dulu.
Frey menghela napas, ini memang bukan jawaban yang harus ia berikan pada Aluna. Bukan sulit untuk mengungkap cinta, akan tetapi masih ada yang menghambat. Ia tidak ingin sampai menjalin hubungan dengan Aluna dan justru ternyata ucapan-ucapan menyakitkan dari grandpa dan juga uncle yang ia sebut itu benar adanya. Akan sangat menyakitkan bagi Frey mencintai seseorang yang harusnya ia benci.
Akan tetapi sampai sejauh ini Frey tidak pernah meragukan kasih sayang keluarga Prayoga, hanya saja setelah pertemuannya dengan dua orang itu, langsung membuat Frey mengubah cara pandangnya.
Mobil Frey berhenti di depan rumah megah milik keluarga Prayoga, rumah yang belasan tahun menjadi tempatnya bernaung.
Aluna hendak turun akan tetapi Frey masih mengunci pintu mobil. Cowok tampan itu mendekat ke arah Aluna, ia ingin meninggalkan jejak cintanya sebelum mereka berpisah lagi.
Mata Aluna membulat sempurna saat wajah Frey begitu dekat dengannya. Aluna menahan napas karena sebentar lagi Frey pasti akan menciumnya. Teringat akan ia yang sedang patah hati, Aluna langsung memalingkan wajahnya hingga ciuman Frey justru jatuh di pipi Aluna.
Mata Aluna kembali terbelalak begitu merasakan ciuman Frey di pipinya sedangkan cowok tampan dan sok dingin itu justru tertawa dalam hati saat ciumannya salah mendarat sebab Aluna langsung memalingkan wajahnya.
Frey mengusap pipi Aluna dengan lembut dimana ada bekas ciumannya disana. Bibirnya menyunggingkan senyuman, ia kemudian membuka pintu mobil.
"Masuk dan istirahat. Gue nggak mampir karena harus ke restoran," ucap Frey dan Aluna langsung bergegas turun dari mobil.
Begitu Aluna sudah masuk ke dalam rumah, Frey pun bergegas meninggalkan halaman rumah tersebut. Ia bergegas pergi ke restoran karena setelah ini ia memiliki rencana lain.
Sesampainya di restoran, Frey segera menuju ke ruangannya dan mengganti pakaiannya. Ia mengenakan pakaian kerja yang sudah disiapkan oleh Ikram sebelumnya.
Frey nampak begitu tampan dan ia segera keluar dari ruangnya dan menyapa para pekerja juga pengunjung restoran ditemani oleh manager yang sudah ditugaskan untuk menemani Frey semasa magangnya.
Banyak yang berdecak kagum dengan ketampanannya terutama para kaum wanita yang sedang menikmati makanan mereka.
Namun karena Frey memiliki rencana lainnya, ia segera berpamitan pada Pak Osman. Frey juga tak lupa memesan satu makanan yang nantinya akan ia bawa.
Kaki Frey seolah terpaku di bumi. Ia seolah tak sanggup melangkah masuk apalagi saat ini sudah bukan jam besuk. Namun ia akan menggunakan kekuatan serta kekuasaan dari keluarga Prayoga dan juga Elard. Ia yakin dirinya pasti akan bisa masuk dengan mudah ke dalam.
Frey masih mengenakan pakaian kerjanya tadi agar para sipir yakin dengan penampilannya.
"Permisi Pak, saya dari keluarga Prayoga ingin mengantarkan titipan untuk tahanan atas nama Kriss Griffin," ucap Frey dengan bibir bergetar saat menyebut nama papinya yang selama belasan tahun ini tidak pernah ia lihat wajahnya.
"Saya tahu ini sudah bukan jam besuk. Tadi saya masih punya banyak urusan sehingga saya terlambat datang," ucap Frey lagi kemudian ia memberikan kartu pengenal khusus anggota keluarga Prayoga.
"Ya, memang ini sudah bukan jam besuk. Tapi baiklah, hanya lima belas menit," ucapnya dan langsung mengajak Frey ke ruangan khusus pengunjung.
Dada Frey berdebar-debar, ia sangat gugup akan bertemu dengan papinya. Rasa rindu, kesal dan juga segudang tanya di benak Frey membuat jalannya semakin melambat.
Frey duduk sambil menunggu salah satu sipir membawa papinya datang. Makanan yang ia bawa sudah ia letakkan di atas meja. Ia mengamati sekeliling hingga bola matanya terpusat pada seorang pria bertubuh kurus dan juga masih tampan walau tidak lagi terawat.
Pria itu terkejut saat ia melihat orang yang menjenguknya. Sipir sudah meninggalkan ruangan tersebut dan kini tinggal mereka berdua.
Kriss, ia hendak melarikan diri karena ia tahu benar anak lelaki yang sedang berdiri di hadapannya ini adalah darah dagingnya yang belasan tahun ia tinggalkan dan ia sama sekali tidak membuka akses agar Frey bisa bertemu dengannya.
"Papi, Frey mohon jangan pergi!" teriak Frey begitu Kriss berbalik badan.
Tubuh Kriss menegang, hatinya berdesir mendengar anaknya memanggilnya dengan sebutan 'papi', sebutan yang selama ini hanya bisa ia impikan. Ia bahkan tidak sadar jika saat ini Frey sudah tepat berdiri di belakangnya dengan pipi yangs dua dibasahi oleh air mata.
"Pi, apa papi nggak merindukan aku? Apakah aku ini anak yang nakal hingga papi tidak mau melihatku dan bertemu denganku? Setiap hari dan setiap waktu aku selalu berharap bisa bertemu dengan papi, orang tua satu-satunya yang masih aku miliki. Kenapa Pi, kenapa tidak mau bertemu denganku? Apakah aku tidak berhak mendapat kasih sayang darimu? Apakah aku ini bukan anak yang kau inginkan dan--"
Greepp
Kriss langsung berbalik dan ia memeluk erat putranya yang ia ketahui bertumbuh dengan baik di tangan Nurul dan Alvaro. Ia memeluk erat tubuh putra kesayangannya itu dan menciumi wajahnya karena tinggi mereka saat ini pun bahkan sudah setara.
"Jangan berkata seperti itu. Selamanya kau akan tetap menjadi anak kebanggan papi. Maafkan papi jika selama ini tidak pernah ingin dijenguk olehmu. Papi hanya tidak ingin kau merasa malu punya orang tua seorang narapidana," jawab Kriss kemudian ia membingkai wajah anaknya dengan kedua tangannya. Bibirnya tersenyum bahagia karena benar saja Frey memang bertumbuh dengan baik.
"Kau sangat tampan Bak, jauh lebih tampan dari foto-foto yang selalu diberikan Alvaro pada papi. Papi sayang sekali sama Frey, maafkan papi yang tidak bisa jadi orang tua yang baik untukmu," ucap Kriss lagi dengan isak tangisnya.
Frey menggeleng, ia tidak pernah menghakimi sang ayah. Ia tahu semua ini sudah menjadi jalan hidupnya dan memang harus ia jalani.
"Tidak Pi. Justru Frey sangat beruntung karena papi pun tidak membiarkan Frey hidup sengsara diluar sana. Papi menitipkan Frey pada keluarga yang sangat baik Pi. Emm ... bagaimana kalau kita duduk dulu karena Frey sudah menawarkan papi makanan. Kita akan makan siang bersama," ucap Frey sambil menarik perlahan tangan papinya. Ia sangat bahagia saat ini.
Kedua ayah dan anak itu saling menyuapi makanan dan terlihat jelas rona bahagia dari wajah keduanya.
"Pi, aku ingin bertanya. Emm ... beberapa waktu yang lalu ah lebih tepatnya setahun yang lalu aku bertemu dengan grandpa Brandon dan dia mengatakan banyak hal padaku," ucap Frey disela-sela makannya.
Uhukk ....
Kriss tersedak begitu Frey menyebutkan nama orang tersebut. "Kapan kau bertemu dengannya? Apa yang dia katakan padamu?"
Kenapa keparat itu menemui putraku? Aku pikir dia sudah mati lima belas tahun yang lalu? Kurang ajar!