
Frey langsung mengangkat tubuh Aluna dan membaringkannya di atas tempat tidur. Ia juga sama paniknya dengan Nurul karena mendadak gadis ini pingsan setelah ia mengatakan perasaannya. Dalam hati Frey berharap semoga saja tadi Aluna sempat mendengar ungkapan cintanya agar ia tidak meragu lagi dan bahkan berniat untuk mencari pria lain sebagai kekasih.
"Bun, ini Aluna kenapa bisa pingsan ya?" tanya Frey sambil terus menggenggam tangan Aluna.
Nurul menggeleng, ia tidak tahu apa sebabnya hanya saja ia menduga putri cantiknya ini pingsan karena terlalu syok mendengar Frey mengatakan cinta atau karena lelah berdebat. Ia kemudian mendekatkan minyak angin untuk membantu Aluna segera sadar dari pingsannya.
Mata Aluna perlahan mengerjap, Frey meminta bundanya untuk keluar saja sebab ia ingin berbicara berdua dengan Aluna. Nurul pun menurut dan ia tahu kedua anaknya ini memiliki hal yang harus mereka bicarakan.
"Lu udah siuman," ucap lirih Frey saat Aluna memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing.
Aluna tidak langsung menjawab, ia mencoba mengingat hal yang membuatnya sampai jatuh pingsan.
Tunggu deh, bukannya tadi Frey bilang dia cinta gue? Apa itu benar? Dia nggak sedang matahin ekspektasi gue lagi 'kan?
"Kenapa melamun, hemm?" tanya Frey mulai cemas karena Aluna sama sekali tidak bicara dan tatapannya juga terlihat kosong.
Aluna tersentak setelah mendengar ucapan Frey, ia baru sadar kalau cowok tampan itu ada di dekatnya dan duduk di atas tempat tidurnya dengan menyandar di headboard sambil menatapnya.
"Frey! Lu disini?" pekik halus Aluna. Ia dengan cepat langsung duduk dan menarik selimut hingga menutupi lehernya.
Frey terkekeh, "Lu pikir gue mau perkosa lu. Lihat tubuh lu aja gue nggak doyan," ledek Frey.
Wajah Aluna kembali pias, ia sadar jika tadi dirinya hanya salah mendengar dan untung saja ia tidak langsung melakukan selebrasi hingga membuatnya malu nantinya.
Melihat reaksi Aluna yang langsung datar, Frey kembali tersenyum dan ia langsung menarik Aluna ke dalam pelukannya.
"Iya, gue cinta sama lu," ucap Frey kemudian ia mengecup puncak kepala Aluna.
Jantung Aluna berdebar-debar kencang mendengar ucapan Frey barusan. Dua kali sudah hari ini ia mendengar pernyataan cinta dari Frey dan apabila itu tiga kali maka ia akan langsung mencium Frey.
Frey sendiri tahu jika Aluna tidak yakin dengannya sebab selama ini ia terkesan selalu menarik ulur perasaannya terhadap Aluna hingga gadis itu tidak bisa mempercayai ucapannya begitu saja. Ia pun mengurai pelukannya dan menatap Aluna dengan lekat.
"Na, lu tahu nggak sebenarnya selain gue jago Fisika, gue juga pintar lho soal Geografi," celetuk Frey yang membuat Aluna merasa heran.
Tidak ada sahutan dari Aluna, tapi tatapannya tentu penuh tanya dan Frey menyadari itu. Ia pun tersenyum dan melanjutkan ucapannya.
"Lu tahu nggak di Indonesia itu memiliki lebih dari tujuh belas ribu pulau, seribu tiga ratus empat puluh suku budaya, tujuh ratus dua puluh keberagaman bahasa, terdiri dari tiga puluh delapan provinsi dan ...."
"Dan apa?" tanya Aluna menyimak, walaupun ia tidak penasaran tapi mendadak penasaran jika Frey yang berbicara.
"Dan satu makhluk manis sepertimu!" jawab Frey yang langsung membuat pipi Aluna bersemu merah.
Frey terkekeh saat Aluna memalingkan wajahnya sambil menggigit bibir bawahnya. Ia saja tidak menyangka akan memberikan gombalan receh ala pelajar pada Aluna.
"Jangan memalingkan muka, lu emang nggak suka lihat gue?" tanya Frey, ia sebenarnya berniat menggoda Aluna. Wajah calon istrinya itu sangat menggemaskan saat sedang tersipu malu.
"Itu juga bibir jangan digigit. Nanti gue khilaf malah gue yang gigit," tambah Frey.
Aluna langsung menatap saudara merangkap calon suaminya itu dengan tatapan datar. Entah sejak kapan Frey mulai berbicara aneh seperti ini dan sialnya Aluna sangat menyukainya. Ia suka Frey dalam versi ini tetapi tidak bisa dipungkiri jika ia juga menyukai Frey yang biasanya terlihat kaku, datar dan dingin. Ah tidak, Aluna memang menyukai Frey dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
"Sejak kapan lu mulai oleng kayak gini? Lu jadi aneh. Lu sehat, 'kan?" cecar Aluna.
Padahal, padahal dalam hati gadis itu, ia sangat berbunga-bunga dengan gombalan receh ala Frey. Apalagi cowok tampan ini terkenal dingin dan tak tersentuh lalu mendadak mengeluarkan kata-kata romantis, tentu saja ada perasaan membuncah di hati Aluna.
"Sejak negara api menyerang," jawab Frey asal yang langsung mendapat cubitan dari Aluna.
Frey tertawa dan baru kali ini Aluna melihat tawa Frey yang begitu lepas selama mereka tumbuh bersama. Ingin rasanya Aluna mengabadikannya hanya saja ia khawatir Frey akan kesal dan menarik kembali kata-kata cintanya.
Begini saja Aluna sudah cukup senang bahkan sangat senang.
"Gue nanya serius! Emang sejak kapan lu mulai oleng dan sejak kapan lu suka sama gue? Udah berapa lama lu cinta sama gue?" cecar Aluna lagi.
Frey kemudian mengacak-acak rambut Aluna namun mendadak wajahnya langsung datar kembali dan Aluna segera memasang siaga satu, takut Frey kembali berubah pikiran.
"Mending sekarang lu mandi dan keramas. Jangan ngebantah!" ucap Frey.
Aluna langsung tahu apa yang membuat Frey mendadak berubah menjadi datar. Dalam hati ia bersyukur karena Frey tidak membanting hadapannya lagi. Ia sudah takut setengah mati tadi.
"Gue bakalan mandi tapi jawab dulu pernyataan gue tadi. Dan gue mau lu jawab jujur!" ucap Aluna lagi, ia sangat penasaran sejak kapan ia menjadi gadis yang dicintai oleh Frey sedangkan selama ini Frey selalu saja bersikap datar padanya dan tidak bisa terbaca sama sekali.
"Lu nanya sejak kapan? Lu tahu berapa lama Belanda jajah negara kita?" Bukannya menjawab, Frey malah balik bertanya pada Aluna.
"Tiga setengah abad. Tapi apa hubungannya?" jawab Aluna kesal.
"Kalau Belanda butuh waktu selama itu untuk menjajah negara kita, maka lu cuma butuh waktu lima menit buat naklukin gue. Sejak lima menit pertama kita bertemu dan sejak itu pula gue udah suka sama lu," jawab Frey yang semakin membuat Aluna meleleh seperti karamel.
"Frey!" pekik Aluna dengan pipi memerah.
Frey kembali tertawa, ia sangat suka melihat wajah Aluna yang bersemu merah. Sebenarnya ia semalam tidak sengaja menonton video di salah satu sosial media yang ia pikir adalah sebuah pelajaran sekolah namun ternyata ia salah menanggapi sehingga ia bisa mendapatkan gombalan-gombalan receh seperti ini.
Frey pun menyuruh Aluna untuk bergegas mandi. Ia mengatakan jika ia punya urusan penting dan akan kembali menemui Aluna lagi nanti.
Gadis cantik itu pun menurut saja karena saat ini ia sudah sangat senang. Bahkan Frey menyuruhnya untuk lari mengitari halaman rumah ini pun Aluna siap. Baginya mendapatkan hati Frey adalah sebuah prestasi yang lebih membanggakan daripada membawa nama sekolah menjuarai olimpiade Fisika dan juga tenis lapangan.
.
.
Di salah satu rumah yang terlihat megah, dua orang pria muda sedang berbicara dengan serius di dalam kamar. Nampak salah satunya terlihat emosi sedangkan yang satunya lagi hanya menatap datar pada yang sedang berbicara.
"Gue nggak mau tahu Leon, secepatnya lu bikin tuh cewek jatuh cinta terus lu tinggalin. Atau jangan langsung ditinggalin, kita nikmati saja dulu tubuhnya karena dia itu sangat cantik dan sangat menggoda. Anggap saja sebagai balasan atas sakit hati dari banyak cowok yang udah dia permainkan," ucap Keenan dengan kesal.
Leon menatap datar pada Keenan. Padahal sepupunya ini masih bisa move on dan mencari gadis lain yang jauh lebih cantik dari Aluna. Akan tetapi dendamnya memang sudah mendarah daging apalagi setelah ia tahu jika dirinya hanyalah bahan taruhan dengan harga lima juta uang merupakan recehan jajan dari Keenan.
"Lu tenang aja, gue pasti bakalan taklukin tuh cewek. Hanya saja gue butuh waktu, saudaranya galak banget, sumpah!" ucap Leon yang teringat akan sikap Frey.
Sebenarnya Leon bisa saja melawan Frey, ia terbiasa berkelahi namun ia tidak mungkin melakukannya mengingat Frey adalah saudara Aluna dan entah sejak kapan ia merasa bahwa ia sudah mulai main hati pada gadis itu.
"Emang! Gue juga merinding kalau berhadapan sama Frey. Gue udah pernah dibuat babak belur sama dia," timpal Keenan.
Keenan ingat betul bagaimana dulu ia yang sedang dekat dengan Aluna langsung mendapat peringatan keras dari Frey. Tidak ada negosiasi, Frey langsung menghajarnya hingga pingsan.
Lama keduanya berpikir, hingga akhirnya Leon menyeringai. Ia mendapatkan sebuah ide.
"Gue udah tahu rencana apa yang bisa bikin Aluna datang sendiri ke gue," ucap Leon dengan seringai mengerikan.