
Waktu terus berlalu, hari berganti hari dan Minggu berganti bulan. Nurul sibuk dengan keluarga barunya dan juga dengan kandungannya. Sedangkan Alvaro sibuk merindukan Nurul dan Clarinta sibuk mengejar cinta Alvaro yang sampai saat ini belum mendapatkan respon apapun dari Alvaro. Sungguh miris, seseorang yang dicinta Alvaro sedang berjuang melupakannya sedangkan ia sedang berjuang dalam rindunya dan Clarinta berjuang untuk Alvaro.
Seperti biasanya, Clarinta tidak pernah absen untuk menegur Alvaro walaupun lebih sering Alvaro menganggapnya makhluk tak kasat mata. Clarinta tidak menyerah. Ia bahkan bertingkah konyol hanya untuk dilirik oleh Alvaro. Tapi Clarinta sama sekali tidak pernah merendahkan dirinya pada Alvaro. Ia memang jatuh cinta tapi tidak berpikir untuk melakukan hal gila dengan terjun ke atas ranjang panas Alvaro. Hal itu tidak ada dalam kamus hidup Clarinta.
Alvaro sendiri sering mengabaikannya tetapi mulai terbiasa dengan kehadiran wanita berisik ini. Wanita gila yang ia namai khusus untuk Clarinta. Dan apakah Clarinta marah, tentu saja tidak. Bahkan ia sangat senang karena Alvaro memiliki panggilan khusus untuknya. Alvaro sampai harus menyiapkan banyak kesabaran selama berada di dekat Clarinta. Belajar dari pengalamannya yang menyakiti Nurul, ia berjanji akan lebih menghargai wanita. Tetapi bukan berarti dia memberi ruang atau harapan, tidak sama sekali.
Dan apakah Clarinta menyerah, tentu saja tidak. Ia sudah bertekad jika namanya kelak bukan hanya Clarinta Wistara melainkan akan berubah menjadi Clarinta Alvaro Prayoga. Ia bahkan sudah menulis di list rencana hidupnya dimana di salah satu daftar tertera ia ingin menjadi nyonya Clarinta Alvaro Prayoga. Sungguh lucu niatnya dan sungguh mengenaskan karena impiannya itu bahkan sangat sulit untuk ia raih. Tapi ia adalah wanita yang penuh dengan semangat. Ia akan terus berjuang sampai dimana Alvaro mengantarkan undangan pernikahan dengan wanita lain padanya.
"Gue udah punya pacar. Lu mending jangan deketin gue. Gue nggak mau lu sakit hati," keluh Alvaro.
Clarinta berdecak, "Baru juga pacar. Lu pikir gue takut? Kalau undangan pernikahan lu udah sampai di tangan gue, baru gue menyerah. Tapi gue rasa undangan itu emang bakalan sampai ke gue dengan segera karena di undangan itu akan berisi nama Clarinta Wistara dan Alvaro Genta Prayoga," ucapnya dengan percaya diri tinggi.
Antara kesal dan lucu, Alvaro menoyor kepala Clarinta lalu meninggalkan wanita itu yang sedang menahan napas sambil memegang kepalanya yang baru saja disentuh oleh Alvaro.
"Dasar wanita gila!" gumam Alvaro kemudian ia segera keluar dari kelas karena mata kuliah sudah selesai.
Sedangkan Clarinta masih terdiam di tempatnya berdiri saat ini. Jantungnya masih berdebar kencang, ia tersenyum dan berteriak tanpa mempedulikan orang-orang yang melihatnya dan mengatainya gila.
Dan apakah Clarinta peduli, tentu saja ia tidak peduli. Ia keluar sambil menggandeng Sheila yang sedang menahan rasa malunya karena ulah sahabatnya ini. Ingin rasanya ia memasukkan Clarinta ke dalam lubang semut saat ini.
"Lu emang udah gila, Alvaro nggak salah julukin lu gadis gila. Untung aja kita pakai bahasa Indonesia, kalau enggak lu udah jadi bahan tertawaan," kesal Sheila.
Clarinta berpura-pura tidak mendengar dan ia malah terus tertawa kecil teringat Alvaro yang menyentuh kepalanya walaupun dengan kasar dan tanpa ada perasaan sayang sama sekali.
"Lu tenang aja, gue nggak gila. Hari ini dia noyor kepala gue, gue pastiin besok dia bakalan cium jidat gue," ucap Clarinta yang mendapat hadiah cubitan di lengannya dari Sheila. "Ya sakit dong Shei," keluhnya.
"Makanya lu nggak usah mimpi," sentak Sheila.
"Bodo!"
Di tempat yang jauh disana, Nurul sedang mempersiapkan kebutuhan persalinannya. Hari perkiraan lahirnya tinggal seminggu lagi dan saat ini ia tengah asyik berbelanja ditemani Bu Dianti dan Bu Uswa. Nurul tidak ingin membedakan kedua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya. Mamanya sendiri--Bu Dianti, tidak keberatan dengan keinginan Nurul karena ia tahu benar jika yang membesarkan putrinya ini adalah Bu Uswa.
Berbeda dengan para wanita, kedua pria Emrick justru sedang sibuk mencari tahu siapa ayah dari bayi dalam kandungan Nurul. Sedikit banyak Danish dan pak Deen sudah paham jika ada risiko ketika Nurul melahirkan nanti dengan keadaan dimana bayinya memiliki Rhesus berbeda dengannya. Mereka ingin agar pria itu ada disamping Nurul dan jika memang diperlukan maka pria itu adalah orang yang akan mendonorkan darah untuk bayi mereka.
"Gimana Danish? Udah dapat infonya?" tanya pak Deen.
Danish menggeleng, "Nurul sama sekali tidak memiliki kekasih di kampusnya bahkan di lingkungan sekitarnya. Katanya pernah dekat dengan anak kampusnya tapi Nurul selalu menolak dan tidak berakhir bahagia. Danish sebenarnya sangat ingin menemui sahabat Nurul yang bernama Flora karena Danish yakin dia pasti tahu sesuatu tapi melihat Nurul yang nggak mau diusik masa lalunya bikin Danish bimbang. Apakah harus, Pa? Dari yang Danish lihat, Nurul itu tengah berusaha melupakan masa lalunya. Apakah jika kita membawa pria itu Nurul akan bahagia atau justru hanya akan menambah lukanya dan membasahi luka lamanya?"
Pak Deen memikirkan ucapan Danish. Memang benar dua pertanyaan Danish tersebut. Mereka juga tidak ingin ambil risiko. Mereka pun sudah memutuskan untuk memanggil Nurul dengan namanya saat ini karena nama Danissa Guzelim Emrick akan mereka sematkan pada bayi dalam kandungan Nurul jika yang lahir nanti adalah seorang perempuan.
Nurul bersikeras untuk tidak mencaritahu jenis kelamin bayinya dan biarkan jadi kejutan saat kelahirannya nanti.
Danish menganggukkan kepalanya, "Untuk saat ini, cara ini mungkin lebih baik, Pa. Kasihan Nurul jika harus bersedih jika luka lamanya kita basahi kembali. Lagi pula Nurul yang memilih pergi dari pria itu dan kita tidak tahu apakah pria itu menyesali perbuatannya dan mencari Nurul atau tidak. Nurul menutup akses untuk kita mengetahui siapa pria yang sudah menghamilinya. Besar kemungkinan Nurul memang tidak mau lagi berurusan dengan pria itu. Dan kita jangan sampai melakukan tindakan yang gegabah."
Pak Deen menyetujui usul Danish, mereka saat ini mempunyai misi untuk membuat Nurul terus bahagia dan menebus semua waktu yang terbang dan terlewati dengan memberikannya cinta kasih serta memastikan kebahagiaannya.
"Apa menurutmu adikmu itu bahagia dengan kehidupannya saat ini atau tidak?" tanya pak Deen bukan tanpa alasan. Ia sering mendapati anaknya itu melamun dan bahkan ia merasa jika Nurul sering berpura-pura bahagia.
Danish menghela napas panjang lalu menatap papanya yang kini tengah menanti jawabannya. "Dia sangat mencintai pria itu, Pa. Mana mungkin dia bisa bahagia jika separuh jiwanya entah kemana. Dia memang bahagia tetapi sisi lain hatinya tidak seperti itu. Dia sebenarnya merindukan pria itu tapi dia sepertinya masih trauma dengan kejadian itu. Danish yakin Nurul sebenarnya mengharapkan kehadiran pria itu tetapi ia mendoktrin dirinya dengan mengatakan jika pria itu tidak mungkin mencarinya."
"Dari mana kau bisa berasumsi begitu?"
"Aku sering mengajaknya bercerita dan dapat menarik kesimpulan jika adikku itu memang melakukannya. Dia meyakinkan dirinya jika pria itu sama sekali tidak mencintainya dan hanya menjadikan dirinya bahan mainan saja," ucap Danish.
Keduanya sama-sama menghela napas, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Memikirkan bagaimana solusi untuk Nurul dan bayinya nanti.
Dalam keheningan, ponsel Danish berdering dan yang menelponnya adalah sang mama.
"Danish cepat, adikmu mau melahirkan hari ini. Beritahu papamu dan segeralah menyusul ke rumah sakit. Kami juga sudah dalam perjalanan. Cepat dan singgah dulu di rumah untuk mengambil perlengkapan persalinan Nurul. Kami tidak bisa karena jaraknya cukup jauh. Kau yang paling dekat dari rumah jadi tolong cepatlah."
"Hallo, Ma?"
Danish mendengus begitu panggilan dimatikan oleh mamanya. Ia mendadak jadi panik teringat akan adik yang akan melahirkan.
"Ada apa?" tanya pak Deen.
"Itu Pa, Nurul mau melahirkan dan mama minta kita ambil perlengkapan persalinan di rumah," jawab Danish.
"Lalu kenapa kita masih berdiam diri disini. Ayo cepat kita pulang lalu menyusul ke rumah sakit," ujar pak Deen yang langsung berlari keluar dari ruangannya.
Danish sendiri masih bingung kenapa papanya berlari, ia sebenarnya tidak begitu memikirkan ucapan mamanya karena sibuk memikirkan pria Nurul.
"Yaakk ... kau kakak lucknut cepat keluar dan kita akan menusuk adikmu yang mau melahirkan!" teriak pak Deen.
"Apa? Nurul mau lahiran? Kenapa tidak bilang dari tadi Pa?" pekik Danish.
Ingin rasanya pak Deen membenturkan kepala Danish ke dinding karena begitu kesal dengan sikap Danish barusan. Belum sempat ia melakukannya justru kini Danish yang meneriakinya karena anak itu sudah berada jauh dari papanya.
"Pa, cepatlah. Adikku mau melahirkan. Kenapa papa diam saja disana. Jangan sampai papa jadi kakek lucknut!" teriak Danish.
Ck ....