GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Sah! Kok bisa?


Kriss meremas erat gelas yang sedang dipegangnya, ia benar-benar marah dengan kejadian yang tadi ia lihat di mana Axelle yang seharusnya menjadi harapannya untuk bisa menghancurkan hati Alvaro melalui Nurul ternyata memilih mengalah juga. Mau tidak mau Kriss harus memikirkan cara lain untuk bisa menghancurkan Alvaro, dendamnya terhadap mantan sahabatnya itu masih sangat besar karena sampai detik ini ia pun masih menginginkan Nurul walaupun tanpa melakukan pendekatan.


Bisa saja Kris melakukan pendekatan, tetapi ia sadar jika orang yang sedang ia hadapi ini tidak mudah. Ada Danish Ganendra Emrick yang selalu melindungi adiknya, ada pula Daniyal Axelle Farezta yang selain pria itu adalah pria terkaya nomor satu di negara ini, pria itu juga merupakan orang yang memberikan Krisis pekerjaan, yang membuat hidup Kriss menjadi maju seperti saat ini.


"Sial!" erang Kriss bahkan gelas yang ia pegang kini pecah dan tangannya berdarah.


Kriss kemudian mengambil ponselnya, lalu ia menelepon Miranda. Tak butuh waktu lama untuk Miranda mengangkat teleponnya, Kriss langsung mengatakan bahwa ia ingin agar Miranda segera melancarkan aksinya. Jika Alvaro belum bisa ia sentuh maka ia akan menyentuh yang lainnya. 


Oleh sebab itu ia meminta Miranda untuk melancarkan misi yang sudah mereka rencanakan sebelumnya.


"Tentu sayang, aku akan segera melakukannya. Kau tenanglah," ucap Miranda sebelum mengakhiri panggilan tersebut.


Di tempat lain, Miranda yang baru saja menerima telepon dari Kriss langsung bergegas pergi menemui seseorang. Miranda menitipkan anaknya pada asisten rumah tangga yang memang tinggal di apartemennya untuk mengurus rumah dan menjaga Frey.


Miranda menelepon seseorang setelah mobilnya terparkir di tempat tujuan. Tak lama kemudian gadis yang ia cari pun datang menghampirinya. Miranda memintanya masuk ke dalam mobil karena ia tidak ingin dilihat seseorang saat mereka sedang membahas rencana tersebut.


"Bagaimana, apa kau sudah siap membantuku?" tanya Miranda pada Tara.


Tara terdiam sejenak, ia bingung karena ia tidak tahu harus melakukan apa. Dia tahu bosnya sangat baik, ia tidak tega untuk menyakiti bosnya tersebut apalagi bosnya saat ini selalu terlihat seperti menginginkannya dan sudah dua kali terhitung oleh Tara bosnya itu memintanya untuk menjadi seorang istri.


"Jawab Tara, jika tidak maka gue mau besok pagi uang gue sudah harus ada. Gue nggak mau tahu, lu bayar hutang lu atau lu hancurkan Ikram untuk gue," ancam Miranda.


"Ta-tapi bos Ikram terlalu baik nyonya. Dia sangat baik kepadaku. Aku tidak tega untuk menyakitinya," ucap Tara tergagap, ia takut dengan sosok Miranda yang selalu membuatnya terintimidasi.


"Oh, kalau seperti itu maka besok gue menunggu lu ngembaliin uang gue. Ingat Tara 150 juta dan besok pagi harus sudah ada. Paling lambat gue akan menunggunya pukul 10.00 pagi, tapi kalau lu bersedia maka besok jam 10.00 pagi temui gue di tempat yang nanti bakalan gue kasih tahu ke lu dan gue akan memberitahukan seperti apa rencana yang sudah gue siapkan untuk menghancurkan bos lu itu. Gue ngak pernah main-main Tara, camkan itu!"


Tara menghela napas, ia semakin bingung dengan situasi ini. Di satu sisi ia tidak memiliki uang untuk membayar hutangnya terhadap Miranda, dan di sisi lain Ia juga tidak sanggup menyakiti bosnya yang begitu baik terhadapnya. Entah terus melakukan apa, jika pun ia ingin membunuh dirinya maka siapa yang akan bertugas untuk menjaga ibunya.


"Ingat Tara, semua keputusan ada di tangan lu. Kembalikan uangku atau lakukan rencanaku. Sekarang lu turun karena gue ingin pergi. Lu harus berpikir malam ini juga dan gue menunggu jawabannya besok pagi."


Tara pun keluar dari mobil Miranda, wanita itu pun langsung melesatkan mobilnya pergi meninggalkan tempat itu. Tara jalan gontai menuju ke kontrakannya, Ia seperti tidak memiliki tulang berulang dalam tubuhnya, energi dalam tubuhnya seolah tersedot semuanya setelah mendengar ancaman Miranda.


Di dalam kamarnya, Tara memandang langit-langit kamar sambil rebahan. Ia bingung harus apa. 


Apakah harus melakukan rencana Miranda? 


Apakah ia harus membayar hutangnya, tapi ia tidak memiliki uang dan tidak mungkin meminjam pada bosnya itu?


Atau apakah ia harus meminjam pada rentenir dan mencicilnya dengan gajinya?


Semua opsi itu sangat berat untuk Tara, apalagi jika ia harus meminjam pada rentenir. Tetapi jika harus melakukan dua opsi sebelumnya, maka Tara yakin ia tidak akan sanggup.


"Sebaiknya aku tidur, mungkin saja besok pagi saat aku terbangun aku sudah menemukan ratusan juta uang di kamarku," ucap Tara yang memilih menyerah berpikir karena dengan berpikir saja uang tidak akan langsung muncul.


.


.


Pagi kembali datang, Tara bangun dengan lemas karena harapannya berjumpa segepok uang di tempat tidurnya sebelum tidur ternyata tidak benar-benar menjadi nyata. Semua hanya mimpi yang semalam ketika ia bangun ia melihat di tempat tidur yang ada sekoper uang. Awalnya ia merasa senang, tetapi ternyata itu hanyalah sebuah mimpi.


Tara harus bergegas, ia harus pergi bekerja dan pada pukul 10.00 pagi nanti ia harus bertemu dengan Miranda di tempat yang akan mereka sepakati bersama. Tara harus segera menyelesaikan pekerjaannya di kantor Ikram atau hari ini ia harus izin tidak masuk untuk mencari uang. Mungkin saja di jalan ia akan menemukan uang yang tak sengaja terjatuh dari koper orang kaya.


"Hahaha, mengapa aku malah berpikir seperti ini? Aku jadi gila karena bermimpi di pagi-pagi begini. Huhuu … kenapa hidupku sial sekali sih?!" gerutu Tara ketika ia sedang menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ia sudah mandi, hendak bersiap pergi kerja tetapi pikiran tentang mengganti uang Miranda itu terus saja terbayang yang di kepalanya hingga Tara memutuskan untuk tidak pergi bekerja.


Tara tidak tahu saja, di kantor saat ini seorang pria tampan dengan setelan jas mahalnya terus saja mondar-mandir di dapur kantornya, untuk mencari sosok yang selalu ia rindukan–yang pipinya selalu bersemu merah ketika ia menggodanya.


"Mbak Mola, Tara dimana?" tanya Ikram gelisah karena sudah pukul dua siang tetapi bawahannya itu tidak juga datang. Cleaning service sang penakluk hati bos dingin itu tidak menampakkan batang hidungnya.


"Saya tidak tahu tuan, dia juga tidak mengabarkan kepada kami," jawab Mbak Mola yang melihat bingung ke arah Ikram karena bosnya itu terus saja mencari cleaning service yang bernama Tara yang ia ketahui baru bekerja sekitar 2 bulan di kantor ini.


Ikram mendesah pelan, ia kemudian meninggalkan dapur kantor tersebut dan langsung menuju ke mobilnya. Ikram tidak ingin membuang waktu, sejak tadi ia merasa gelisah. Ia sudah lama tidak bertemu dengan Tara–lama yang dimaksud Ikram adalah baru sehari dan perasaannya begitu tidak enak saat ini sehingga Ia langsung memutuskan untuk pergi mencari gadis itu di rumahnya.


Ikram tidak ambil pusing hingga yang terpampang di depannya justru membuatnya geram. Di depan rumah kontrakan Tara kini terlihat banyak orang berkumpul. Ada tenda yang terpasang walau seadanya juga beberapa kursi. 


Ini tidak terlihat seperti kedukaan melainkan seperti seseorang yang akan …


Dengan cepat Ikram menerobos masuk ke dalam rumah itu.


"Saya terima nikahnya Tara Wulandari binti Darwin dengan mahar tersebut tu–"


"Hentikan!"


Suara keras Ikram membuat semua atensi beralih padanya. Wajah pria itu merah padam dan dengan gerakan cepat ia langsung menarik Tara menjauh dari pria yang baru saja hampir selesai mengucap ijab qobul untung gadisnya.


"Hei anak muda, apa-apaan lu? Mengacau di pernikahan gue. Bosan hidup lu?!" sentak pria yang menjadi calon suami Tara. Ikram tersenyum miring melihat pria yang seumuran ayahnya itu dengan wajah tak tampan juga tubuhnya yang gempal.


Oh sial! Bagaimana Tara memilih menikah dengannya dan mengabaikan aku yang jelas begini tampan! Tapi … mengapa Tara menikah?


Ikram menatap Tara namun ini belum saatnya ia menanyakan kenapa Tara bisa hampir menikah dengan pria bangkotan ini. Ikram beralih pada pria yang sedang mengancamnya itu.


"Dia kekasih saya dan anda tidak berhak menikahinya. Hanya saya yang akan menjadi suaminya," ucap Ikram dengan suara dingin, auranya cukup menakutkan.


Mendengar nama Tara disebut dalam akad membuat Ikram geram, ia mengepalkan kedua tangannya karena terlalu marah pada pria ini.


"Dia itu calon istri saya. Enak sekali kau menyabotase pernikahan saya. Lagi pula dia berhutang ratusan juta pada saya dan sebagai gantinya maka dia akan menjadi istri saya! Boleh saja kalau kau ingin mengambilnya, tetapi kembalikan uangku dulu sekarang juga," ucapnya sambil menyeringai.


Ikram menatap Tara dengan tatapan tak terbaca hingga membuat gadis itu merinding lalu menundukkan kepalanya.


"Berapa?" tanya Ikram dengan datar.


"Dua ratus juta!"


Tara mengangkat kepalanya karena terkejut. Bagaimana bisa rentenir ini langsung menambah jumlahnya dengan cepat. Ia hanya meminta seratus lima puluh juta dan sekarang ia mengatakan dua ratus juta.


Ikram berdecih, ia kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia meminta pria itu untuk menuliskan nomer rekeningnya.


"See, gue kirim dua ratus lima puluh juta dan sekarang lu mendingan pergi dari sini!" ucap Ikram sambil menatap sengit pada pria itu.


Sambil tertawa pria itu mengajak orang-orangnya untuk pergi dari kontrakan itu. Tara masih menunduk malu, ia bahkan tidak menyangka bahwa hari ini bosnya mengeluarkan begitu banyak uang hanya untuk dirinya. Ikram menggenggam tangan Tara, kemudian ia mengajak Tara untuk duduk di tempat tadi yang disediakan untuk akad nikah.


"Pak penghulu, lanjutkan pernikahannya!" ucap Ikram sambil tersenyum manis.


Bukan hanya Pak penghulu, Tara serta yang lainnya pun terkejut apalagi maminya.


Gue bisa bilang ini blessing in disguise


"Bos Ikram, anda ingin–"


"Bukankah sudah pernah gue bilang bahwa gue yang akan menjadi suami lu dan gue ingin menjadikan lu istri gue. Sudah, lebih baik pak penghulu sekarang lanjutkan ijab kabulnya," titah Ikram tanpa rasa bersalah atau beban sedikitpun pada Tara yang menatap tak percaya padanya.


Tidak bisa berkata-kata, penghulu tersebut langsung melakukan apa yang diinginkan oleh Ikram.


"Saya terima nikahnya Tara Wulandari binti Darwin dengan mahar tersebut tunai!"


Sah


Jika Ikram tersenyum senang karena sudah berhasil menikahi Tara lebih cepat dari yang ia duga, maka gadis itu sekarang justru kebingungan begitu kata sah terdengar, ia merasa sedang bermimpi tapi ini bukan mimpi.


Apa aku sekarang menjadi istri bos Ikram? Kok bisa?