
Alvaro bersama Frey sampai di depan rumah namun baru saja mereka hendak masuk ke dalam rumah, di sama sudah ada Naufal yang menghalang di pintu. Naufal menatap tak suka pada papinya lalu ia menatap datar pada kakak iparnya. Sebenarnya Naufal tidak marah pada Frey, justru ia bersyukur karena secara tidak sengaja Frey sudah membantu memecahkan masalah yang terjadi dalam keluarganya, alias membuka rahasia papinya. Akan tetapi karena menyembunyikan hal ini, Naufal harus memberikan sanksi yang tegas pada mereka berdua.
Alvaro mencoba untuk bernegosiasi dengan Naufal dan memintanya untuk mempertemukan dengan bundanya, akan tetapi Naufal bahkan tidak memberikan kesempatan untuk mempertemukan mereka.
"Bunda nggak ada, udah aku suruh pergi dari sini biar nggak bertemu dengan lelaki busuk seperti Papi," ucap Naufal dengan ketus membuat Alvaro meradang.
"Naufal jangan begitu, aku ini papimu dan bundamu masih jadi istriku. Semua tentangnya dan tentangku adalah urusan kamu dan kamu tidak berhak mencampuri!" ujar Alvaro menahan kesalnya, walau bagaimanapun Naufal adalah putra kebanggaannya.
"Aku sangat berhak, dia adalah bundaku aku berkewajiban membuatnya bahagia dan menjauhkan dia dari pria pengkhianat seperti Papi! Bunda aku juga butuh bahagia. Aku bisa membawanya pergi dari rumah ini dan mencari kebahagiaannya. Lagi pula bundaku sangat cantik, pasti sangat laris di pasaran," ucap Naufal tak mau kalah dari Alvaro.
Mata Alvaro melotot lebar begitu mendengar ucapan anaknya yang seakan memanas-manasi dirinya. Bagaimana bisa darah dagingnya ini mengatakan bahwa ibunya sangat laris di pasaran sedangkan Alvaro sendiri sangat sulit untuk mendapatkannya. Dia tidak akan membiarkan Nurul pergi dari rumah ini, apalagi sampai berpisah dengannya.
Frey tidak ingin ikut campur. Ia tahu memang ini kesalahannya tetapi akan lebih baik jika semuanya ini diketahui lebih cepat daripada menunggu dan menunggu waktu yang tepat, padahal waktu yang ditunggu adalah sekarang. Jika terus ditunda, mungkin saja bundanya akan semakin curiga dan akan semakin sakit hati.
"Tapi bundamu itu adalah milikku. Awas Naufal, papi mau masuk dan ketemu sama Bunda," ucap Alvaro yang kali ini sudah bersikap dingin. Bagaimana ia tidak akan bersikap tegas jika sang kekasih hati, pujaan hati, pelipur lara, serta cinta sejatinya akan dipisahkan darinya. Ia tentu tidak akan bisa tinggal diam.
"Udah dibilangin Bunda nggak ada di dalam. Aku pasti bisa bikin bundaku bahagia tanpamu. Silakan Papi pergi ke rumah anak ketiga Papi itu, lupain kami!" Ucap Naufal tak kalah dinginnya dan dia memilih masuk kemudian ia menutup pintu dengan kencang di hadapan Alvaro dan Frey.
Alvaro dan Frey terkejut, tiba-tiba berubah menjadi singa yang begitu garang. Mendadak cowok sad boy — mengutip dari panggilan Alvaro untuk Naufal itu menjadi lelaki yang sangat tegas dan dingin serta tidak terbantahkan. Alvaro sendiri menjadi takut jika benar Naufal akan memisahkan ia dengan Nurul.
Alvaro tidak tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi. Nurul adalah miliknya dan tidak akan pernah ia bagi dengan yang lainnya. Apalagi sampai ia biarkan terlepas dari genggamannya.
Alvaro kemudian mencari jalan lain untuk bisa masuk. Alvaro yang sudah lahir dan besar di rumah ini dan hampir menuai rumah ini, tentu ia akan tahu bagaimana cara-cara agar bisa masuk ke dalam rumah tanpa masuk dari pintu utama ataupun dari pintu samping.
Frey hanya bisa melihat Alvaro yang entah akan melakukan apa. Frey menjadi bingung dengan apa yang sedang dipikirkan papinya itu, tetapi ia hanya ingin ikut saja melihatnya.
Alvaro kemudian berjalan mengitari halaman samping rumah, kemudian dia mengambil tangga yang biasa digunakan untuk memanjat pohon mangga atau memangkas dahan yang sudah mulai rindang.
Frey melotot begitu melihat papinya ternyata menyandarkan tangga itu tepat di balkon kamar milik bundanya.
Wah gila, papi bakalan manjat? Udah tua gini masih aja suka manjat-manjat tangga. Kalau jatuh entar encok tu! gumam Frey dalam hati, akan tetapi ia juga penasaran apa sih yang akan dilakukan papinya nanti di dalam kamar.
Frey mencoba untuk menghubungi Aluna akan tetapi ia mencoba untuk mengirim pesan lewat chat WhatsApp, akan tetapi ia menemukan fakta bahwa dirinya sudah diblokir oleh sang istri tercinta.
Semua karena Papi, karena rahasia Papi gue juga kena imbasnya. Aduh gue harus gimana nih? Mana tahan gue bermusuhan dengan Aluna, bisa-bisa malam nggak bisa kalau nggak nina-ninu dulu sama dia. Aah sial! Jihan sialan!
Alvaro sudah berhasil masuk ke dalam kamar sedangkan Frey masih mengumpat di luar. Aluna bahkan seakan menulikan telinganya dan sepertinya para asisten rumah tangga pun sudah kompak dengan mereka di dalam rumah. Dan tak ada satu pun yang datang untuk membantu membukakan pintu padahal Frey sudah berteriak-teriak dari luar seperti orang gila.
Di dalam kamar Alvaro mendapati Ainanya sedang duduk termenung di atas tempat tidur. Istrinya itu entah tahu kedatangannya atau memang sedang melamun sehingga tidak tahu dia datang atau tidak.
Hati Alvaro langsung meradang, bagaimana bisa istri tercinta yang sudah menemaninya belasan tahun ini mendadak ingin jauh darinya. Alvaro tidak akan bisa dan tidak akan sanggup.
"Jangan gini dong Yang, aku mana sanggup jauh dari kamu, Yang," bujuk Alvaro dengan wajah yang terlihat sangat mengenaskan dan sangat memprihatinkan.
"Gak bisa jauh ya ... tapi semalam kamu bisa jauh dari aku tu. Mengakunya ada urusan pekerjaan dan lagi kumpul-kumpul sama teman, tapi ternyata kamu lagi di rumah anak kamu ya, bagus Varo, bagus. Aku nggak nyangka kamu bakalan sembunyiin rahasia sebesar ini dari aku. Kamu udah nggak anggap aku ada ya? Atau kamu meragukan aku? Atau mungkin kamu emang udah nggak cinta sama aku?" cecar Nurul.
Dengan cepat Alvaro bersujud di kaki Nurul, ia tidak sanggup mendengar setiap tutur kata dari istrinya yang baginya sangat tidak benar dan sangat bertentangan dengan perasaannya.
"Aku tahu aku salah sayang, tapi jangan pernah meragukan perasaanku terhadapmu. Aku cinta kamu. Aku cinta mati sama kamu, aku sudah pernah berjanji bukan untuk hidup menua bersamamu? Tidak akan ada cinta yang lainnya! Aku hanya cinta sama kamu, maaf karena sudah menyembunyikan masalah ini. Aku hanya tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya terhadapmu."
Nurul menggelengkan kepalanya, matanya terasa panas dan akhirnya air mata itu berhasil membobol bendungan pertahanan Nurul. Alvaro bisa melihat sang istri menangis, dari sekian lama mereka bersama ini pertama kalinya Nurul menangis karena dirinya membuat sebuah kesalahan. Selama ini Alvaro selalu berusaha untuk membuatnya bahagia dan tersenyum, tapi kali ini ia berhasil meloloskan air mata istrinya, air mata penuh kekecewaan.
Alvaro bangkit dan membawa Nurul ke dalam pelukannya. Nurul diam tak bergerak. Ia juga tak membalas pelukan Alvaro. Hatinya terasa begitu sakit mengetahui fakta bahwa suaminya memiliki anak di luar nikah selain Aluna.
"Yang aku mohon jangan nangis, please. Hati aku sakit lihat kamu nangis kayak gini. Aku tahu aku salah, kamu boleh marah sama aku, tampar aku, pukul aku, jampaklah aku sesukamu, tapi jangan mengeluarkan air matamu itu. Aku salah Yang, aku salah, maafin aku," pinta Alvaro namun Nurul tetap sama, dia masih diam dan enggan untuk membuka suaranya.
"Jangan dengerin kata Papi, Bun. Biasanya para lelaki buaya itu akan memiliki banyak jurus dan rayuan untuk membuat wanitanya percaya."
Alvaro tersedak ingusnya sendiri begitu mendengar suara Naufal dari luar yang berteriak dengan kencang, sedangkan Nurul berusaha mati-matian untuk menahan tawanya karena ucapan Naufal tersebut. Bagi Nurul, ucapan putranya itu terasa menggelitik di hatinya.
Dengan cepat Alvaro berdiri kemudian ia membuka pintu dan ternyata di depan pintu sudah ada Naufal, Aluna dan Frey yang entah sejak kapan bisa masuk ke dalam rumah. Mungkin ia mengikuti cara papi Alvaro dengan memanjat balkon kamarnya.
"Dasar anak durhaka kamu Naufal. Harusnya kamu bantuin Papi buat bujukin Bunda, bukan malah sebaliknya panas-panasin bundamu. Bisa-bisa bundamu terprovokasi dan dia bisa saja ninggalin papi," tegur Alvaro karena tidak suka dengan perbuatan Naufal barusan.
"Ya bagus dong, biar bundaku bahagia dan tidak terikat dengan hubungan toxic dengan Papi kayak gini," sambar Naufal yang membuat Alvaro mengepalkan tangannya.
Hampir saja Alvaro memukul Naufal jika tidak mendengar suara Nurul dari dalam. "Sampai kamu berani menyentuh anakku, detik ini juga aku akan mengurus surat perceraian kita di kantor pengadilan agama. Aku yang mengandungnya selama sembilan bulan dan melahirkannya dengan bertaruh nyawa lalu kamu seenaknya ingin memukulinya ... cari mati!"
Alvaro terdiam, ia bagaikan tersangka yang sedang disidang oleh banyaknya hakim dan juga saksi yang terus menyerangnya. Lari ke kirinya juga kena, lari ke kanan pun ia akan menabrak, entah ke depan atau ke belakang, ia selalu menemukan jalan buntu.
Untung saja di rumah itu tidak ada kedua orang tuanya. Mereka sedang pergi ke rumah kerabat mereka dan akan kembali mungkin nanti malam. Jika saja ada pasti papi Genta akan terus memanas-manasi keadaan.
"Kenapa kalian semua menyerang papi sih? Apa nggak ada kesempatan buat Papi untuk menjelaskan dan meminta maaf kepada Bunda?" tanya Alvaro dengan suara yang terdengar begitu mengenaskan dan wajahnya pun sama, benar-benar terlihat frustrasi.
"Enggak!" jawab Naufal, Aluna dan Frey bersamaan.