GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
185


Seorang anak muda yang tampan terlihat sedang memelankan laju motornya di depan gerbang menjulang tinggi di hadapannya. Ia kemudian turun dari motornya dan membuka helmnya lalu menghampiri petugas keamanan di posnya.


Dengan memasang senyuman manis ia pun bertanya, "Permisi Pak, apakah saya bisa masuk? Oh ya, saya Leon teman sekolah Aluna. Saya dan dia sudah memiliki janji untuk belajar bersama sehingga saya datang ke rumah ini," ucapnya dengan begitu sopan agar lebih meyakinkan. Tak lupa tas sekolah yang ia bawa di punggungnya. Ia juga memperlihatkan kartu pelajar miliknya sebab yang ia ketahui dari Keenan, untuk bisa masuk ke dalam rumah keluarga Prayoga itu sangat ketat apalagi teman sekolah berjenis kelamin pria.


Sebenarnya tidak seperti itu, keluarga Prayoga sangat terbuka pada tamu. Hanya saja peraturan itu ditetapkan sendiri oleh Frey karena ia tidak ingin pujaan hatinya itu ditemui oleh lelaki lain selain dirinya. Dan hal itu tentu saja tidak diketahui oleh Aluna. Frey sudah memasang perisai di depan gerbang agar para pria yang menyukai Aluna mundur teratur.


Semua harus menunjukkan identitas mereka dan tujuan harus belajar. Frey juga mengatakan jika wajah mereka terlihat gugup maka patut dicurigai sedangkan Leon datang dengan wajah santai.


Dua pria tersebut langsung mengangguk dan salah satu dari mereka langsung membukakan gerbang. Semua peraturan yang Frey tetapkan sudah Leon penuhi sehingga ia dibebaskan untuk masuk. Kedua satpam itu hanya tahu jika Frey melakukan semua itu karena memang penjagaan oleh nona muda Prayoga yang harus ketat.


"Woah, memang benar-benar kaya raya. Rumah mereka sangat besar dan penjagaannya sangat ketat. Oh lihatlah mobil-mobil yang berjejer rapi di garasi. Keluargaku ternyata masih kalah jauh tapi tidak masalah, aku masih sanggup menafkahi Aluna. Eh?"


Leon langsung menepis pemikirannya tersebut kemudian ia berjalan ke arah pintu masuk utama. Disana ia bisa melihat seorang wanita yang sedang berbincang dengan tamu yang tidak terlihat wajahnya sebab membelakanginya.


"Assalamu'alaikum, selamat sore, permisi!" ucap Leon dengan percaya diri.


Nurul, Evelyn dan Axelle beralih menatap ke arah pintu dimana ada seorang anak muda seumuran Aluna berdiri disana. Nurul pun berdiri untuk menghampiri tamu tersebut yang ia yakin adalah teman dari Aluna dan Frey.


"Wa'alaikum salam. Ada yang bisa saya bantu? Oh temannya Aluna atau Frey? Ayo masuk dulu," ajak Nurul dengan ramah.


Wajahnya tidak terlihat mirip dengan Aluna ataupun Frey atau Naufal. Tapi kecantikannya ini benar-benar membius, seperti Aluna. Fix, ini calon mamah mertua gue.


Leon mengulurkan tangannya dan Nurul yang paham dengan maksud anak muda ini pun memberikan tangannya untuk disalimi oleh Leon.


"Saya Leon, Tante. Teman Aluna dan rencananya akan menjadi calon papah dari anak-anaknya kelak," jawab Leon dengan percaya diri tinggi.


Mata Nurul terbelalak, begitupun dengan Evelyn dan Axelle. Nurul mengerjap beberapa kali kemudian ia segera mengusai diri dan mengajak Leon untuk segera ikut duduk bersama Evelyn dan Axelle.


Mata elang Axelle mengawasi Leon hingga membuat lelaki itu merasa sedang diintimidasi. Ia kesulitan menelan salivanya apalagi saat ini ia hanya seorang diri dan wanita yang ia yakini adalah ibu Aluna itu sedang pergi entah kemana.


"Jadi kamu teman atau kekasih Aluna?" tanya Axelle penasaran. Jelas saja, semua keluarga tahu jika Aluna adalah calon istri dari Frey.


"Untuk saat ini masih jadi teman, tapi secepatnya akan jadi kekasih. Doain ya, Om, Tante," jawab Leon sambil melempar senyuman tampannya.


Evelyn dan Axelle terperangah. Sepertinya mereka menemukan duplikat Alvaro pada Leon. Akan sangat cocok jika berhadapan dengan Alvaro langsung. Axelle sendiri sangat malas karena ia tidak sanggup menghadapi tiga sekaligus, Alvaro, Evelyn dan kali ini Leon. Dalam hati Axelle berharap semoga Aluna bersama Frey saja karena ia akui karakter Frey sama persis seperti dirinya.


"Jangan asal ngomong lu!" teriak Aluna dari tangga, ia mendengar ucapan Leon barusan dan tentu ia sangat kesal.


Sedangkan Leon yang melihat Aluna turun dari tangga justru terpana karena calon target yang akan ia patahkan hatinya itu terlihat sangat cantik dengan pakaian rumahan.


Dia cantik banget, anjir! Kenapa justru gue yang terpana dan tertarik sih? Nggak, nggak boleh. Harus dia yang jatuh cinta sama gue. Ingat misi Leon, ingat Keenan. Dan ingat gadis ini cantik tapi beracun. Sudah banyak yang jadi korban ghostingnya. Lu disini untuk membalas sakit hati mereka, bukan bermain hati dengan Aluna.


"Luna, jangan gitu ngomongnya," tegur Nurul.


Tidak menanggapi ucapan bundanya, Aluna justru menatap sengit ke arah Leon. "Mending lu pulang deh. Kita nggak ada urusan. Kita nggak berteman dan yang pasti nggak bakalan jadi kekasih! Jangan mimpi Leon, pulang sana."


"Danissa Aluna Guzelim Emrick Prayoga!"


Aluna langsung terdiam karena kali ini bundanya sudah menyebut nama lengkapnya dan itu tandanya peringatan keras. Mau tidak mau Aluna duduk di sofa namun matanya tetap menatap tajam ke arah Leon. Andaikan ada Frey, Leon pasti tidak akan berani datang ke rumah ini dan merusak mood Aluna.


Tidak ingin terlibat dalam urusan panjang ini, Axelle dan Evelyn berpamitan. Mereka akan pergi ke kediaman Mahesa, Aluna pun mengatakan pada Axelle jika nanti malam ia ingin bertemu lagi sebab ada yang ingin ia bicarakan dan Axelle pun menyetujuinya.


Leon memperhatikan rumah tersebut, ada beberapa pajangan photo dan ia bisa melihat disana ada wajah Aluna, Frey dan Naufal.


Frey dan Aluna kembar ya?


Leon bertanya dalam hati, ia juga berharap tidak akan bertemu dengan singa itu di rumah ini. Ia berharap Frey sedang keluar dan nanti saja pulangnya setelah ia selesai bertamu.


"Bunda tinggal dulu. Kalau sama teman itu bicaranya yang sopan," ucap Nurul kemudian ia bergegas pergi dan menuju ke dapur untuk meminta asisten rumah tangga menyediakan minuman untuk Leon.


Di ruang tamu tersebut tinggallah Aluna dan Leon. Cowok tampan itu terus saja tersenyum pada Aluna sedangkan Aluna menatap sengit padanya.


"Ngapain sih ke rumah gue?" tanya Aluna dengan suara pelan tetapi tetap saja penuh dengan penekanan.


"Gue khawatir sama lu. Gue datang cuma buat mastiin keadaan lu doang. Saudara lu nggak ngapa-ngapain lu, 'kan? Dia nggak mukul lu 'kan? Kasih tahu sama gue mana yang sakit," cecar Leon yang membuat Aluna melongo.


Tanpa sadar gadis itu tersipu, Leon sangat perhatian padanya. Berbeda dengan Frey yang datar seperti tembok dan suka melakukan sesuatu seenaknya saja. Namun buru-buru ia tepis pemikirannya tersebut, ia tidak ingin memikirkan Leon atau lelaki lainnya karena ia akan fokus belajar lalu lulus sekolah dan kuliah di luar negeri hingga mendapatkan calon suami bule.


Mengenai Frey, Aluna sudah pesimis padanya. Frey sangat suka mempermainkan hatinya dan Aluna kini sedang belajar melepas perasaannya.


"Apaan sih lu. Nggak lah," jawab Aluna.


"Yang benar?" tanya Leon dengan mendekatkan wajahnya menatap Aluna sedangkan Aluna refleks memundurkan wajahnya dan mengangguk dengan gugup.


Jantung Aluna berdebar-debar, entah mengapa ia menjadi grogi mendengar ucapan Leon barusan.


I-ini barusan gue diperhatiin sama Leon? Kenapa gue merasa dia manis banget. So sweet. Tapi … ah jangan baper! Ingat Aluna jangan baper!


Leon dengan refleks mengacak rambut Aluna saat ia berdiri hendak pulang. Hal tersebut tentu dilihat oleh seorang pria yang berdiri di pintu dengan tangan terkepal di dalam saku celananya.


"Aluna!"


Aluna dan Leon sontak menatap ke arah pintu.


"Frey!" pekik halus Leon dan Aluna bersamaan.


Langkah besar Frey menghampiri keduanya. Aluna sangat terpana melihat penampilan Frey dengan pakaian semi formarlnya. Begitupun dengan Leon, ia gugup dan juga kagum melihat penampilan Frey.


Satu tangan Frey kini sudah mencengkram jaket Leon. Aluna menjadi panik sedangkan Leon bersikap biasa saja. Ia tahu ini adalah bagian dari sifat protektif seorang saudara.


"Frey jangan gitu," lerai Aluna.


"Ini yang pertama dan terakhir lu datang ke rumah ini. Sekarang lu angkat kaki dan jangan balik lagi ke rumah ini. Jangan dekati Aluna lagi!" ucap Frey dengan penuh penekanan dan wajahnya terlihat begitu dingin hingga membuat Leon sedikit merinding.


"Oke-oke!" ucap Leon sambil mengangkat kedua tangannya ke atas dan Frey langsung melepaskan cengkeramannya.


Leon langsung bergegas pergi sedangkan Aluna menyusulnya. Ia merasa sangat tidak enak pada Leon karena sikap kasar Frey. Selama ini tidak ada temannya yang datang bertamu kecuali Cici dan kini ada Leon yang datang dengan membawa perhatian lebih justru diamuk oleh Frey.


"Luna lu mau kemana?" teriak Frey saat Aluna menyusul Leon.


Aluna tidak berbalik, ia menemani Leon sampai di pintu dan ia juga meminta maaf atas sikap Frey.


"Nggak masalah, mending lu masuk deh. Nanti macan itu ngamuk lagi," kekeh Leon dan Aluna sekali lagi dibuat terpana.


Frey menarik tangan Aluna masuk dan langsung naik ke tangga tanpa peduli Leon yang baru saja menstater motornya. Sesampainya di depan pintu kamar Aluna, Frey melepaskan genggamannya.


"Kenapa sih Frey?" gerutu Aluna.


"Mending sekarang lu masuk, mandi dan keramas. Kalau perlu satu botol shampo lu tuangin ke kepala lu. Sekarang Aluna," perintah Frey.


Aluna melotot tak percaya, ia kemudian membantah dengan mengatakan jika ia sudah mandi dan tidak ingin mandi lagi apalagi keramas. Nurul yang berada di dalam kamar pun keluar karena mendengar perdebatan kedua anaknya tersebut.


"Ada apa ini?" tanya Nurul sambil menatap dua anaknya bergantian.


"Itu Bun, Frey kumat gilanya. Dia nyuruh Luna mandi terus keramas pakai satu botol shampo. Gila!" adu Aluna, ia kemudian melempar tatapan sengit ke arah Frey.


Nurul mengernyit, ia juga merasa cukup aneh. "Ada apa Frey?" tanya Nurul.


Frey menghela napas, "Barusan Leon nyentuh rambut Aluna. Dia harus mandi dan membersihkan bekas sentuhan Leon. Sekarang Aluna!" perintah Frey lagi, ia tidak melihat wajah terkejut Nurul dan Aluna karena yang ia inginkan sekarang Aluna segera masuk dan mandi.


"Memangnya kenapa kalau Leon nyentuh rambut gue? Nggak ada yang salah dengan itu. Nggak harus keramas dengan satu botol shampo!" pekik Aluna mulai kesal.


Nurul hanya menjadi penonton yang baik.


"Ya gue nggak suka dia nyentuh lu sembarangan gitu!" balas Frey.


Nurul menghela napas, ia sangat mengerti situasi ini. Frey saat ini sedang cemburu dan Aluna tidak sadar dengan hal tersebut. Ia juga bisa melihat ada gengsi yang besar yang coba di tahan oleh Frey, ia jadi teringat akan Alvaro pada masa lalu. Ia tidak ingin Frey bernasib sama seperti Alvaro yang menahan gengsinya.


"Sekarang Aluna!" ulang Frey geram.


"Beri gue satu alasan yang tepat!" tantang Aluna.


"Ya gue nggak suka aja lu disentuh orang asing!" jawab Frey kemudian memalingkan wajahnya.


"Kenapa nggak suka?"


"Dasar berisik. Keras kepala. Lu masuk buat mandi sekarang atau gue yang mandiin lu?" ancam Frey.


Mata Aluna dan Nurul terbelalak, Aluna lalu berkata dengan kesalnya, "Frey! Lu udah gila ya. Gue nggak mau dan kenapa lu suka sekali ngatur gue. Lu nggak berhak buat ngat–"


"Karena gue cinta sama lu, Aluna. Harusnya lu ngerti kalau gue nggak suka milik gue disentuh sama orang lain. Sekarang mandi! Keramas!"


Bruukk ….


"Aluna!!" pekik Nurul saat melihat anaknya itu jatuh pingsan.