GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Hanya Sebuah Obsesi


Jihan berjalan menuju ke rumah Lexi, setelah Ia turun dari taksi dan ia sudah sampai di depan rumah sahabatnya itu. Ia ingin mengadukan soal Frey yang mengancamnya. Ia ingin kabur karena ia khawatir jika benar ada orang Frey yang akan mengawasi dan menjemputnya. Jihan terlalu takut untuk itu. Dia tidak pernah sebelumnya memperhitungkan soal Frey yang mungkin memiliki sisi lain yang sama menakutkannya dengan Alvaro.


"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Lexi begitu melihat raut wajah ketakutan Jihan.


Tanpa menjawab Jihan segera menutup pintu rumah Lexi dan ia tidak mau sampai ketahuan siapapun berada di sini. Sudah susah payah ia kabur dari rumah apalagi setelah mengetahui orang yang bekerja di rumahnya itu ternyata bekerja sama dengan Frey, Jihan semakin ketakutan. Ia tidak mengira mencari masalah di keluarga Prayoga itu akan sangat menakutkan. Ia terancam keselamatannya dan ternyata tidak semudah menjadi orang ketiga dalam serial tv ataupun cerita novel yang ia baca.


"Lu benar Lex, keluarga Prayoga itu sangat berbahaya dan gue baru aja diancam akan dijadikan wanita malam oleh salah satu anaknya jika berani mengganggu ayah Alvaro. Tapi gue harus bagaimana? Gue udah jatuh cinta sama tuan Alvaro. Gue berharap bisa memiliki dia," curhat Jihan yang didengarkan oleh Lexi dengan hati yang patah.


Lexi juga punya cinta yang besar untuk Jihan meskipun ia tidak mengungkapkannya. Ia tidak berani karena ia tahu Jihan tidak menyukainya. Andai saja Jihan mau membuka sedikit hati untuknya, tentu saja ia akan begitu bahagia.


'Mungkin karena gue nggak sekaya keluarga Prayoga sehingga Jihan tidak mau natap gue sebagai seorang pria yang jatuh cinta padanya,' gumam Lexi dalam hati.


Jihan yang sudah bercerita panjang lebar dibuat terkejut karena ia mendapati Lexi ternyata hanya sedang menatapnya saja sambil melamun. Jihan sedikit bingung sampai akhirnya ia berniat mengejutkan Lexi.


"Lexi lu mikirin apa?" tanya Jihan dengan suara yang agak dibesarkan.


"Ya gue cinta sama lu!" pekik Lexi yang tidak sadar sudah mengeluarkan apa yang sedang ia pikirkan dan rasakan.


Mata Jihan membulat sempurna, ia begitu terkejut mengetahui fakta bahwa sahabatnya ini ternyata memiliki rasa untuknya. Entah sejak kapan tetapi Lexi sangat pandai menyimpan semua ini.


"Lu cinta sama gue?" tanya Jihan dengan suara bergetar.


'Sial! Kenapa harus kecoplosan sih?'


Lexi mengutuk dirinya dalam hati yang tidak bisa menjaga ucapannya hingga akhirnya ia kecoplosan mengatakan tentang apa yang ia rasakan terhadap Jihan. Ingin mundur tapi sudah terlanjur. Ingin maju rasanya ia tidak akan mampu. Lexi bingung bagaimana caranya ia untuk bisa meluruskan hal ini pada Jihan.


"Lexi jawab gue, lu cinta sama gue?" desak Jihan dan akhirnya Lexi mengangguk sembari tersenyum masam.


Mata Jihan membulat sempurna, ia tidak menyangka sahabatnya ini benar-benar memiliki cinta untuknya. Membuat dunia Jihan yang tadinya sudah jungkir balik semakin terjungkir-jungkir.


"Sejak kapan?" tanya Jihan lagi, dadanya berdebar-debar dan jantungnya terus saja berdegup kencang.


Lexi menghela napas, ia menatap Jihan dengan lekat dan mau tidak mau ia harus menjelaskan semuanya sejelas-jelasnya. Sudah kepalang tanggung, lebih baik ia sekalian saja menyatakan perasaannya. Walaupun ia tahu perasaannya tidak bersambut, setidaknya ia sudah mengungkapkannya dan ia merasa lega.


"Maaf Jia, gue memang jatuh cinta sama lu. Selama ini gue menyimpan rasa ini sangat rapat karena gue nggak mau karena rasa sialan ini membuat lu menjauh dari gue dan nggak mau berteman lagi sama gue. Dan sejak kapan rasa ini mulai hadir, gue pun nggak tahu pasti. Mungkin sejak kita masih duduk di bangku SMP dan ketika itu lu sering memberikan gue contekan Pr, ulangan dan beberapa tugas evaluasi. Gue udah cinta sama lu sejak kita masih belia. Maaf ya Jia," ungkap Lexi.


Satu detik, dua detik bahkan sampai satu menit Jihan terdiam setelah Lexi mengungkapkan perasaannya. Ia sangat syok mengetahui hal tersebut sedangkan Lexi sudah harap-harap cemas karena ia yakin setelah ini Jihan pasti akan meninggalkannya.


"Hikksss ... kenapa Lex, kenapa lu jahat banget sama gue?"


Lexi menjadi bingung ketika Jihan justru menangis setelah mendengar pernyataan cintanya yang seharusnya sudah beberapa tahun lalu ia ungkapkan. Dalam hati ia bertanya apakah ungkapan perasaannya itu adalah sebuah tindakan kriminal hingga Jihan mengatakan ia adalah seseorang yang jahat?


"Jia sorry, gue nggak maksud buat lu nangis. Ya udah, lu mending lupain deh ucapan gue tadi daripada bikin lu nangis kayak gini. Maaf ya Jia, lu jangan nangis lagi. Gue salah, gue jahat, maafin gue," ucap Lexi yang sangat khawatir jika ia akan kehilangan Jihan.


Lexi lebih memilih menjadi sahabat dari Jihan daripada ia harus kehilangan gadis yang sangat ia cintai ini sejak lama. Biarlah cintanya ia kubur dalam-dalam dan melupakannya asalkan ia bisa bersama dengan Jihan walau hanya sebatas bersahabat saja.


"Kenapa Lexi? Kenapa harus selama ini gue nunggu lu buat ngucapin kata ini?"


"Hah?"


Lexi menjadi bingung dengan ucapan Jihan yang semakin tidak karuan menurutnya. Ia benar-benar menyesali keputusannya yang sudah membuka rahasia tentang perasaannya terhadap Jihan yang ujung-ujungnya membuat sahabatnya sekaligus cintanya ini terluka.


"Apa lu nggak tahu kalau selama bertahun-tahun gue memikul beban mencintai lu dalam diam sedangkan gue mengira lu hanya anggap gue sebagai teman karena lu nggak pernah ungkapin perasaan lu ke gue? Sakit tahu Lex nungguin lu bilang cinta ke gue. Gue udah nunggu Lex, nungguin lu yang ternyata sepengecut itu hanya untuk ungkapin apa yang lu rasain terhadap gue. Gue juga cinta tahu sama lu, gue cinta!"


Kini giliran Lexi yang terdiam mendengar penuturan Jihan barusan. Ia terlampau syok mendengar pengakuan cinta dari Jihan, sebab tadi dia datang dengan membawa cerita bahwa ia mencintai tuan Alvaro Genta Prayoga.


"Jia, lu?"


Bughhhhh ...


Jihan langsung menghambur memeluk Lexi dan menangis di dalam pelukannya. Lexi sendiri kini tersadar bahwa apa yang tadi ia dengar dari mulut Jihan adalah sebuah kebenaran. Dengan cepat Lexi membalas pelukan Jihan dengan perasaan yang begitu bahagia.


"Lu benar cinta sama gue?" tanya Lexi memastikan.


Jihan mengangguk kemudian ia memeluk Lexi dengan erat. "Gue cinta sama lu. Aku cinta kamu Lexi," ucap Jihan dan Lexi semakin melebarkan senyumannya.


Keduanya menangis haru karena cinta yang lama terpendam dalam hati mereka masing-masing kini telah berhasil diungkapkan dan bersemi. Pelukan hangat tersebut membuat Jihan semakin sadar akan obsesinya terhadap Alvaro. Ia pun melepaskan pelukannya.


"Lu mau nggak temani gue ke suatu tempat? Gue pingin ketemu seseorang," tanya Jihan dan ia sangat berharap Lexi mau menemaninya.


Lexi mengangguk. Saking senangnya ia bahkan tidak menyadari sebuah seringai yang terbit di bibir Jihan begitu ia menuruti keinginan Jihan yang entah pergi kemana. Ia sedang dimabuk cinta dan apapun keinginan Jihan akan ia kabulkan.


Jihan tersenyum tipis melihat Lexi yang begitu antusias mengantarnya ke tempat yang ia maksud. Lexi sendiri baru sadar ketika mereka sudah memasuki kawasan perumahan elit dan Jihan memintanya untuk berhenti di depan sebuah bangunan rumah yang paling megah dari semua rumah yang ada di sekitarnya.


"Jihan, kita dimana? Rumah siapa ini?" tanya Lexi heran.


"What?!" Lexi memekik kaget karena ternyata Jihan membawanya datang ke rumah keluarga Prayoga. Jika saja tahu begini maka Lexi tidak akan menuruti keinginan Jihan. Ia merasa sudah dijebak oleh gadis yang ia cintai ini.


'Apakah Jihan memanfaatkan gue yang jaruh cinta sama dia dan berpura-pura membalas cinta gue? Kok hati gue mendadak sakit ya?'


Jihan kembali membuka pintu mobil dan mengajak Lexi untuk turun. Jihan sendiri sudah tahu jika Alvaro tidak pergi ke luar negeri melainkan hanya alasan untuk menghindarinya saja. Ia sudah mendengar pembicaraan asisten di rumahnya dan itulah sebabnya Jihan bertekad mengajak Lexi datang ke rumah ini.


Setelah melalui pemeriksaan oleh satpam rumah keluarga Prayoga, akhirnya mereka diperbolehkan untuk masuk. Lexi sangat gugup karena ia tidak berani memasuki rumah keluarga yang terkenal kaya raya dan juga tak tersentuh ini. Ia khawatir jika ia datang menemani Jihan untuk mengusik keluarga ini, maka bisnis keluarganya akan terancam. Tetapi jika Lexi mundur, ia pun tidak tahu apa yang akan Jihan lakukan nanti di dalam sana.


Seorang asisten rumah tangga menyambut kedatangan mereka dan Jihan langsung mengutarakan maksud kedatangannya. Dia diminta untuk duduk di kursi teras bersama Lexi kemudian ART tersebut masuk ke dalam rumah dan mencari tuannya lalu menyampaikan ada tamu yang bernama Jihan datang.


Nurul, Alvaro dan Aluna yang sedang bersantai bersama di ruang nonton dibuat terkejut. Bagaimana Jihan bisa sampai di rumah ini sedangkan gadis itu tahunya Alvaro sedang berada di luar negeri. Waktunya bertepatan pula dengan ia mengambil cuti untuk memanjakan Aluna dan Nurul di rumah, lalu gadis itu pun juga datang.


Benar-benar merusak suasana, pikir Alvaro.


"Pi, apalagi maksud kedatangannya ke sini?" tanya Aluna tidak senang.


"Sayang sebaiknya kita melihat dulu dia di depan, mungkin ada hal yang ingin disampaikan dan itu sangat penting. Ayo perbaiki raut wajahnya, berikan dia wajah yang ramah sebagai penyambutan. Jangan membuat dia merasa tertekan masuk ke rumah ini," ucap Nurul kemudian yang lebih dulu berdiri dan menerima Jihan masuk ke rumahnya.


Alvaro dan Aluna saling menatap, keduanya berbicara lewat tatapan mata kemudian ikut berdiri menyusul Nurul yang sudah berjalan lebih dahulu dan menemui Jihan di teras bersama Lexi.


Jihan terkejut karena yang menyambut kedatangannya adalah Nurul — wanita yang sangat tidak dia sukai dulu karena menurutnya wanita ini adalah orang yang sudah menghancurkan hidup ibunya.


"Hai Jihan, apa kabarmu, Nak? Kamu datang dengan siapa ini? Ayo masuk dulu," ajak Nurul dengan begitu ramah, penyambutannya pun begitu hangat.


Jihan menatap Lexi kemudian ia menggenggam tangannya lalu ia pun mengajak Lexi untuk ikut masuk bersama Nurul dan kini mereka sudah duduk di ruang tamu.


Di sana pula sudah ada Alvaro dan Aluna yang menatap Jihan dengan datar, sangat gagal memenuhi keinginan bundanya yang meminta keduanya untuk menyambut Jihan dengan wajah yang ramah.


Jihan menatap Alvaro penuh kerinduan, sudah beberapa hari ini ia tidak melihat pria itu. Apalagi merasakan kasih sayangnya, sudah tidak pernah lagi selain menikmati apa yang sudah Alvaro fasilitaskan untuknya.


"Ayah ... eh maksudnya Tuan Alvaro apa kabar?" tanya Jihan kemudian ia tersenyum kecut melihat Alvaro yang tidak lagi menatapnya dengan tatapan yang hangat dan lembut.


"Kabarku baik, bagaimana denganmu?" tanya Alvaro walaupun suaranya begitu datar, tetapi Jihan merasa bersyukur karena pria itu mau membalas pertanyaannya.


"Aku baik-baik saja, terima kasih untuk bantuannya," ucap Jihan kemudian ia menatap Aluna yang terlihat begitu santai lalu ia menatap Nurul yang juga terlihat begitu hangatnya.


Jihan mencari-cari sosok Frey yang mungkin masih berada di kampus saat ini. Ia sangat khawatir jika di sini ada Frey, dia sudah ketakutan dibuat oleh cowok itu dan ia belum siap untuk bertemu dengan Frey saat ini.


"Maaf mengganggu, kedatangan saya kemari hanya untuk meminta sekali lagi kepada Anda Tuan Alvaro Genta Prayoga, maukah Anda menjadi ayahku walau hanya sekadar Ayah angkat? Dan Anda nyonya Nurul, apakah Anda mau menjadikan saya anak angkat Anda?" tanya Jihan yang membuat mereka semua terkejut.


"Saya benar-benar menyesali semua yang sudah saya lakukan. Apa yang terjadi pada saya hanya sekadar obsesi dan saya sudah menyadarinya. Maafkan saya telah bersikap seburuk itu kepada kalian, saya sebenarnya hanyalah seorang anak yang haus akan kasih sayang orang tua. Saya begitu iri kepada Aluna dan Naufal yang mendapatkan cinta kasih begitu besar dari kalian, sedangkan saya ... saya sama sekali tidak bisa merasakan hal seperti itu. Dan itu yang membuat saya berambisi untuk mendapatkan Tuan Alvaro sebagai Ayah saya, hingga akhirnya seseorang membuat saya tersadar bahwa apa yang sudah saya ambil adalah langkah yang sangat salah. Maafkan saya."


Jihan menangis tersedu-sedu, ia sudah mengungkapkan isi hatinya, ia tidak tahu apakah Alvaro akan menerimanya atau tidak, namun hal yang tak terduga ia dapatkan adalah Nurul yang langsung menghampiri dan memeluknya. Jihan pun membalas pelukan Nurul dengan erat.


"Maafkan saya Tante, maafkan saya Nyonya, saya tidak bermaksud merusak keluarga Anda. Saya hanya merasa begitu bahagia pada saat mendapatkan Tuan Alvaro sebagai Ayah saya. Dia sangat lembut dan penuh dengan kasih sayang, saya sangat ingin memiliki dia sebagai ayah saya, maafkan saya."


Nurul yang pernah merasakan ada di posisi Jihan pun turut menitikkan air matanya. Dia juga pernah haus akan kasih sayang dan mendamba sosok orang tua yang mampu memberikannya kasih sayang. Walaupun sentuhan kasih dari Bu Uswab sudah sangat cukup untuknya, tetapi merindukan orang tua kandung adalah suatu hal yang sangat wajar.


"Sudah, jangan menangis lagi. Aku siap menjadikanmu sebagai anak angkatku, kebetulan aku hanya memiliki satu putri dan dua putra. Kamu akan menjadi anakku, bersikaplah dengan baik agar mereka mau menerimamu."


Keputusan Nurul tersebut membuat Alvaro dan Aluna terkejut. Mereka tidak menyangka wanita yang paling dibenci oleh Jihan ini justru yang paling pertama mengulurkan tangan saat gasis ini terlihat begitu sedih. Namun kembali lagi, Alvaro dan Alunan menyadari betapa lembutnya hati wanita ini.


"Terima kasih Nyonya, terima kasih. Maafkan saya selama ini telah menaruh curiga kepada Anda dan telah berniat buruk terhadap keluarga Anda."


Nurul pun menganggukkan kepalanya, ia meminta Alvaro dan Aluna untuk turut menyambut kehadiran Jihan. Keduanya pun dengan sukarela melakukan perintah dari Nyonya rumah. Jihan begitu merasa sangat bahagia. Ia sangat senang bisa memiliki keluarga yang utuh walaupun hanya keluarga angkat saja.


Nurul mengajaknya untuk berbincang-bincang, begitupun dengan Aluna dan Alvaro. Tidak ada lagi batasan untuk mereka dan Alvaro mulai sedikit membuka diri untuk Jihan begitu pula dengan Aluna.


"Oh iya Bunda, saya lupa memperkenalkan Lexi. Dia sahabat saya, sekaligus orang paling spesial di dalam hidup saya. Jika boleh, apakah kalian mau merestui hubungan kami? Saya sangat mencintainya sejak kami masih belia, begitupun sebaliknya. Karena kalian sekarang sudah mengangkat saya sebagai anak, untuk menjalin hubungan dengan Lexi, saya membutuhkan restu kalian," ucap Jihan sambil menatap bergantian semua yang ada di ruang tamu.


"Jia lu —"


"Lex harusnya lu yang ngomong gini sama orang tua gue. Ngomong dong kalau lu cinta sama gue, kalau perlu sekalian kawinin gue aja sekarang. Udah lama banget tahu kita sama-sama, mending nikah 'kan? Nanti lu keburu pergi dari hidup gue. Gue takut kehilangan lu Lex,"


"Jia, gue ..." Lexi langsung memeluk Jihan saking senangnya karena tadi ia sempat meragukan perasaan Jihan terhadapnya.


"Ekhhmmm ..." Dehaman keras membuat Lexi dan Jihan yang sedang berpelukan dan dimabuk cinta itu terkejut.


"Ayah ..."


"Om ..."


"Asyik ya pelukan di depan orang tua. Kalau begitu minta segera orang tuamu untuk melamar Jihan. Aku menunggu, jangan sampai kalian kebablasan," ucap Alvaro tegas.