
Di dalam mobil Axelle, baik Evelyn maupun ia sendiri saling berdiam diri. Evelyn memasang tampang datar walau dalam hati ia sudah berbunga-bunga sedangkan Axelle memang sudah datar dari sananya. Axelle yang fokus menyetir pada dasarnya ia sedang berperang dengan pikirannya sendiri. Ia sendiri tadi yang memutuskan untuk bertunangan dengan Evelyn. Penolakan Evelyn tadi seakan mencoreng wajah Axelle.
Selama ini, Axelle adalah sang penolak dan kini ia untuk kedua kalinya ditolak oleh wanita. Yang satu adalah cintanya dan yang satu adalah wanita yang dijodohkan dengannya. Axelle tentu tidak menerima semua itu dan mungkin saja dengan menerima Evelyn maka ia bisa bebas dari cintanya terhadap Nurul. Axelle butuh seseorang yang bisa membantunya melepas rasa cinta itu karena itu hanya akan menyakiti dirinya sendiri.
Sesekali Axelle mencuri pandang pada Evelyn. Ia merasa wanita ini sedang memperhatikannya tetapi ketika ia melirik sekilas, ia justru melihat Evelyn sedang sibuk dengan ponselnya.
Apakah hanya perasaanku saja?
Evelyn menyembunyikan tawanya, ia memang sedari tadi terus mencuri pandang pada Axelle tetapi dengan cepat ia bisa menghindar saat Axelle menoleh ke arahnya. Menatap Axelle dalam diam kini sudah menjadi hobi baru Evelyn. Wajah tampan Axelle, sifat dingin dan juga wajah datar itu sudah menari-nari dalam pikiran dan hati Evelyn. Ia sangat tidak sabar menanti hari dimana ia dan Axelle akan menjadi pasangan yang sah.
"Apakah kita akan langsung ke bandara?" tanya Axelle membuka pembicaraan. Ia kemudian melirik ke arah jam tangan mahal yang menghiasi pergelangan tangannya. "Aku punya rapat penting satu jam lagi. Aku bisa mengantarmu sebagai calon suami yang baik," lanjut Axelle, ia kemudian menatap Evelyn dengan tatapan menggoda. Entah mengapa ia merasa wanita ini hanya sedang berpura-pura saja menolaknya tetapi ia tidak bisa membuktikan hal tersebut karena Evelyn sejak awal sudah menampilkan ketidaktertarikannya.
"Aku harus ke rumah sepupuku dulu sebelum pulang karena aku selama ini bersamanya. Kau tolong antar aku saja ke rumahnya, nanti aku beri tahu alamatnya," jawab Evelyn. Orang secerdas Evelyn tentu saja bisa melintas jika perubahan sikap mendadak Axelle tentu ada maksud terselubungnya.
Cih, dia pikir bisa membodohiku. Sayang sekali tuan Daniyal Axelle Farezta, gue udah tergila-gila sama lu jadi lu nggak usah berusaha untuk membodohi gue karena selalu gue jatuh cinta sama lu, mendadak gue jadi semakin pintar.
Axelle tersenyum tipis dan terlihat kecut, rupanya untuk mengetahui apakah Evelyn selama ini benar-benar kesal padanya dan menolak atau hanya sebuah cara agar Axelle masuk dalam permainannya hingga tidak bisa memilih selain mengatakan iya.
Andai saja Axelle bisa membuktikannya maka ia pasti akan membalas Evelyn. Jika saja Axelle bertanya pada para reader maka ia pasti akan menemukan jawaban yang ia cari 🙈
"Oh baiklah," jawab Axelle datar.
.
.
Nurul dan Danish keluar dari mobil yang sama dan masuk ke dalam kantor mereka. Sejak tadi keduanya mengamati apakah ada seseorang yang mengikuti mereka atau tidak, tetapi kali ini memang tidak ada siapapun. Padahal kemarin Nurul masih sempat melihat orang itu, mungkin saat ini pria itu memiliki urusan lain. Atau mungkin karena Nurul terus saja bersama Danish maka pria itu tidak mendekatinya lagi atau mungkin mengambil jarak cukup jauh darinya.
"Kalau ada sesuatu cepat kabari kakak," ucap Danish sebelum keduanya berpisah karena memang ruangan kerja mereka berbeda. Nurul berada di bagian staf sedangkan Danish adalah direkturnya.
"Tentu kak. Selamat bekerja," ucap Nurul dan Danish mengangguk.
Seperti biasa, Nurul selalu bersemangat jika sudah bertemu dengan rekan kerjanya dan juga pekerjaannya. Ia sangat menyukai memecahkan kasus juga mengurus kasus orang lain dan memberikan mereka bantuan. Nurul terlibat sangat bersemangat.
"Eh? Kenapa berkas ini masuk lagi? Bukankah Kriss sudah menerima jika kak Danish menolak kerja samanya? Dan itu sudah cukup lama lho," gumam Nurul ketika melihat sebuah berkas yang katanya kasus baru.
Disana tertera nomor telepon Kriss dan dengan segera Nurul menghubunginya.
Di kantornya, Kriss yang sedang memimpin rapat mewakili Axelle yang sangat jarang menapakkan kakinya di kantor ini menatap ponselnya yang sedang bergetar dan IDnya tentu saja membuat Kriss tercengang.
Namun karena ia harus profesional, ia tentu mengabaikan panggilan tersebut. Sejak lama, sudah sejak lama Kriss menyimpan nomor ponsel Nurul namun ia tidak pernah berani menghubunginya. Apalagi setelah tahu Nurul bersama Axelle, harapan Kriss menjadi semakin tipis.
Untung saja rapat kali ini berjalan lancar sehingga Kriss bisa segera menghubungi Nurul kembali setelah semua peserta rapat keluar dari ruangan.
"Halo ... maaf ini dengan siapa ya?" tanya Kriss berpura-pura tahu, bisa gawat jika ia langsung menyapa Nurul, wanita yang masih ia sukai itu pasti akan langsung curiga.
Nurul yang tadinya sudah melepas ponselnya dan melanjutkan membaca berkas yang lain dan mendapat panggilan kembali dari Kriss langsung menjawabnya.
"Halo, apa saya berbicara dengan tuan Kriss Griffin?" tanya Nurul.
Kriss tersenyum tipis, mendengar Nurul menyebut namanya selengkap itu membuat bibir pria tampan itu membentuk lengkungan.
"Iya benar dengan saya sendiri," jawab Kriss. Ingin sekali ia menyapa Nurul tetapi ia menggigit bibirnya agar tidak sampai kelepasan berbicara.
"Oh hai Kriss, ini gue Nurul Aina. Kita boleh bertemu sebentar nggak? Kalau lu nggak sibuk. Eh tapi lu dimana?" tanya Nurul, ia menghindari berbicara secara formal karena ia belum ingin membahas ke inti pekerjaan.
"Oh lu ya Nurul. Gue kira siapa. Ada apa? Bisa kok, kebetulan gue emang lagi di kota lu saat ini," jawab Kriss. Ia senang luar biasa karena mendadak tidak ada angin tidak ada hujan tahu-tahu Nurul mengajaknya bertemu.
"Baik, gue tunggu lu di kafe A ya saat makan siang," ucap Nurul.
Setelah Kriss mengiyakan keinginan Nurul, panggilan pun berakhir. Kriss langsung bersorak, kali ini ia merasa bahwa kesempatan untuk mendekati Nurul itu akan selalu ada selagi janur kuning belum melengkung. Bukankah jika seperti itu Kriss masih memiliki kesempatan untuk menikung?
Waktu terasa begitu lambat hingga Kriss yang sudah berada di kafe tempat ia dan Nurul janjian sejak setengah jam yang lalu tidak berhenti menatap jam tangannya. Ia kadang terkekeh sendiri karena terlalu bersemangat untuk bertemu Nurul hingga ia datang lebih awal. Oh tidak, ini bahkan sangat awal.
Tepat di jam yang mereka sepakati, Kriss melihat wanita cantik dan selalu cantik itu mendekatinya sambil tersenyum. Di tangan Nurul terdapat berkas yang Kriss tidak paham mengapa Nurul hendak bertemu dengannya justru membawa berkas pekerjaan.
Nurul menarik kursi dan duduk di hadapan Kriss sambil tersenyum. "Apakah sudah lama?" tanya Nurul.
Kriss menggeleng, "Baru aja kok, belum ada semenit. Lu mau pesan apa? Sekalian kita makan siang, 'kan? Jangan bilang kalau lu udah makan ya," kekeh Kriss.
Nurul hanya tersenyum menanggapi candaan Kriss, ia kemudian mengatakan bahwa ia belum makan dan Kriss pun langsung memanggil pelayan untuk meminta buku menu dan memesan makanan mereka.
Setelah memilih menu makanan, Nurul pun mulai membuka pembicaraan mereka. Mulai dari bertanya kabar, kesibukan hingga membahas beberapa hal kurang penting. Nurul hanya ingin berbicara santai saja dulu, ia tidak bisa langsung ke intinya.
"Oh ya, bagaimana kasus lu dulu setelah kak Danish menolak. Lu udah dapat pengacara baru?" tanya Nurul.
Kriss menggeleng, "Gue nggak tahu sih. Bokap yang ngurus," jawab Kriss, ia hanya sibuk menatapi wajah cantik Nurul saja sejak tadi.
Nurul mengernyitkan keningnya, merasa percaya tidak percaya dengan jawaban Kriss.
"Oh ya? Tapi di kantor kami baru saja masuk berkas lu," ujar Nurul dan itu membuat Kriss kaget.
"Masa sih?" tanya Kriss heran.
Nurul pun memperlihatkan berkas tersebut dan Kriss tentu saja terkejut melihatnya.
Nurul memperhatikan raut wajah terkejut Kriss. Ia mencoba menelisik apakah itu sungguhan atau hanya kepura-puraan Kriss semata.
"Eh iya. Tapi sumpah gue nggak masukin berkas gue lagi. Tapi kok bisa?" ucap Kriss lagi setelah ia membaca dokumen yang diberikan Nurul.
Nurul semakin bingung, Kriss mengaku tidak memasukkan berkas sedangkan berkas itu baru ia dapatkan.
"Sebenarnya gue udah nggak mau ngurus ini karena-"
Byuuurrr ...
Kriss dan Nurul terjungkit, kaget karena tiba-tiba seseorang menuangkan air ke atas kepala Nurul dan air minum itu adalah minuman yang Nurul pesan.
"Itu untuk wanita tidak tahu diri sepertimu. Berani sekali kau mendekati anakku lagi dan mengajaknya bertemu di taman malam-malam sedangkan kau sendiri adalah wanita murahan. Jauhi Axelle! Dia akan segera menikah dan kau jangan harap bisa menjadi menantu keluarga Farezta. Apakah kau ingin menjerat Axelle dengan tidur bersamamu lalu dia menikahimu? Jangan mimpi!"
Seluruh pandangan pengunjung kafe langsung menatap pada keributan yang dibuat oleh mommy Axelle. Tak sedikit yang mengabadikan kejadian itu dan merkamnya.
"Kalian lihat wanita ini baik-baik, dia adalah perempuan beranak satu tanpa menikah dan sengaja menggoda putraku yang kaya raya untuk bisa menjadi istrinya. Axelle bahkan menolak perjodohan dan memusuhi aku sebagai mommynya dan kami semua keluarganya hanya karena kau! Aku tidak peduli kau adalah anak siapa, karena aku peduli pada masa depan anakku. Jauhi Axelle, atau kau akan dapat yang lebih dari ini!"
Tubuh Nurul terdiam kaku, selama ini ia memang pernah dipermalukan tapi tidak separah ini. Bahkan ia tidak sanggup menatap sekeliling karena ia yakin para pengunjung kafe pasti sedang membicarakan dirinya.
Kriss yang melihat Nurul terpojokkan langsung berdiri dan membawa Nurul ke belakangnya. Ia menatap marah pada nyonya Farezta seraya berkata, "Anda keterlaluan Nyonya. Nurul bukan wanita seperti itu. Mungkin anak anda memang jatuh cinta dengannya dan tidak ada yang salah dengan itu. Wanita ini cantik dan baik, sangat wajar jika anak anda jatuh cinta padanya."
Nyonya Farezta alias mommy Axelle ini berdecih, "Kau jangan ikut campur. Atau kau juga adalah sasaran dia selanjutnya?" ejek nyonya Farezta.
Hampir saja Kriss melayangkan jarinya ke wajah nyonya Farezta jika saja Nurul tidak mencegatnya.
"Maaf Nyonya, mungkin anda keliru. Saya dan Axelle sama sekali tidak memiliki hubungan apapun. Yang terjadi pada waktu itu hanyalah sebuah kerja sama. Anak anda menolak dibodohkan sehingga meminta saya untuk menjadi kekasih pura-pura saja. Saya mohon maaf karena kesalahan itu membuat keluarga anda dan Axelle menjadi jauh. Tapi sekali lagi, kami tidak memiliki hubungan apapun."
Nyonya Farezta terkejut, mendadak ia merasa malu dengan perbuatannya tetapi teringat akan putranya yang sudah jatuh cinta pada Nurul kembali menyulut emosinya.
"Cih! Jangan pikir aku tidak tahu kalau itu hanya sebuah trik agar kau bisa menjerat Axelle. Dasar wanita mura--"
Tangan nyonya Farezta yang ingin menampar Nurul berhenti di udara saat tangannya mendadak dicengkeram oleh seseorang.
"Mommy stop!"