
Semua mata yang ada di ruang UKS kini tertuju kepada Aluna dan juga Frey. Bagaimana tidak, ketika dokter Samantha mengatakan bahwa Aluna hamil, Frey dengan cepat langsung berlari ke arah istrinya tersebut dan duduk di sampingnya sambil menunggui kapan Aluna bangun. Frey merasakan perasaan yang begitu aneh saat ini: bahagia, terharu, deg-degan dan juga masih banyak lagi perasaan bercampur aduk yang ia rasakan.
Melihat Frey yang terlihat seperti sedang menangis, guru-guru dan juga dokter Samantha merasa kasihan, mereka berpikir pasti saat ini Frey sedang merasa terpuruk ketika mengetahui saudaranya sendiri tengah mengandung sedangkan usianya masih sangat muda.
Kepala sekolah pun langsung menghubungi pihak keluarga. Ia menelpon Alvaro yang saat ini sedang melakukan meeting bersama para staf di perusahaannya.
Mendapat panggilan dari sekolah tanpa diberitahu ada masalah apa, membuat Alvaro menghentikan rapat tersebut dan meminta Billy untuk melanjutkannya. Billy sendiri saat ini sudah berkeluarga dan memiliki anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia ikut bersama dengan keluarga Prayoga setelah ayahnya pensiun menjadi asisten dari tuan Genta Prayoga dan dulu. Ia sempat menjadi kaki tangan kepercayaan tuan Genta Prayoga hingga akhirnya menurun pada Alvaro.
Alvaro tak lupa menjemput Nurul di butik dan ketika sampai di sana Nurul yang sudah diberitahu lebih dulu oleh Alvaro pun sudah bersiap-siap dan mereka langsung bergegas menuju ke sekolah.
"Yang, Aluna dan Frey kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu dipanggil ke sekolah?" tanya Nurul beruntun yang mulai panik.
Frey dan Aluna tidak pernah membuat masalah di sekolah, biasanya mereka berdua datang untuk menerima perhargaan dari prestasi kedua anak mereka tersebut. Dan kali ini kepala sekolah justru mengabarkan ada masalah, jelas saja Nurul langsung panik dan khawatir pada mereka.
"Aku juga nggak tahu, Yang. Tapi tadi kepala sekolah meminta kita untuk segera datang dan katanya ini adalah masalah yang sangat penting," jawab Alvaro. Ia lantas mengemudikan mobil tersebut dengan cukup kencang karena perasaannya sangat tidak enak.
Tak sampai dua puluh menit, Alvaro sudah memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah. Ia dan Nurul bergegas menuju ke ruang UKS dimana kepala sekolah mengatakan bahwa mereka menunggu kedatangan wali murid di sana. Di depan ruangan tersebut sudah ada Pak Nadir yang menunggu kedatangan Alvaro dan juga Nurul. Ia ditugaskan untuk menyambut kedatangan mereka.
Setelah Alvaro dan Nurul masuk, pemandangan yang pertama kali mereka lihat adalah di sofa tersebut sudah ada Aluna dan Frey yang duduk berdampingan dengan Aluna yang terus menundukkan kepalanya. Sedangkan di samping Frey ada dokter Samantha dan di kursi lain ada Bu Laras dan juga Pak Suwondo sebagai kepala sekolah.
Pak Nadir mempersilahkan Alvaro dan Nurul untuk duduk berhadapan dengan Frey dan juga Aluna.
"Ada apa ini, apa yang terjadi dengan anak-anak saya?" tanya Alvaro yang tidak ingin berbasa-basi lagi, sebab ia bisa melihat wajah putrinya tidak baik-baik saja. Aluna terlihat begitu pucat dan juga tubuhnya terlihat sangat lemas.
"Pi, Aluna ..."
Kepala sekolah meminta Frey untuk diam karena dia sendiri yang akan menjelaskan duduk perkaranya. Kasus ini merupakan masalah yang terjadi di sekolah sehingga Pak Suwondo merasa bahwa ini adalah tugas dan tanggung jawab dari pihak sekolah untuk memberitahukan langsung kepada wali murid tentang apa yang terjadi pada anak mereka.
"Mohon maaf tuan Alvaro Genta Prayoga, kami meminta Anda dan juga Nyonya Prayoga untuk datang ke sekolah karena ada masalah yang sangat menggemparkan kami sebagai guru di sekolah. Tadi Aluna pingsan dan dokter Samantha sudah memeriksa keadaannya ..." Pak Suwondo merasa berat untuk melanjutkan kalimatnya, apalagi hal ini masih sangat sulit ia percaya.
Melihat kepala sekolah yang sepertinya enggan memberitahukan keadaan Aluna, Nurul dan Alvaro menjadi sangat khawatir. Namum melihat reaksi Frey yang terlihat biasa-biasa saja, Alvaro menahan diri untuk tidak mencecar keduanya. Ia membiarkan kepala sekolah untuk menjelaskan semuanya.
"Anak saya kenapa, Pak? Apakah Aluna terkena sebuah penyakit? Tolong jangan membuat saya panik, Pak!" ucap Nurul yang sudah ketar-ketir, ia sangat khawatir terjadi sesuatu pada putrinya tersebut.
Pak Suwondo menggeleng. "Mohon maaf Bu, saya harus mengatakan ini ... Aluna saat ini tidak sedang sakit akan tetapi dia sedang hamil dan usia kandungannya sudah menginjak empat Minggu ..."
"Apa, hamil?" pekik Nurul dan juga Alvaro bersamaan.
Nurul dan Alvaro bergegas berdiri, mereka langsung menghampiri Aluna dan juga Frey. Dokter Samantha langsung memberikan tempat kepada mereka. Nurul terlihat menangis, ia memeluk Aluna erat sedangkan Alvaro terdiam.
"Nak, apa kamu benar-benar hamil?" tanya Nurul dengan mata yang berkaca-kaca.
Aluna menggeleng juga mengangguk. Ia sebenarnya masih bingung ketika diberitahu oleh Frey jika saat ini ia sedang mengandung. Ada rasa bahagia dan juga rasa takut di hati Aluna mengingat ia masih begitu muda dan akan segera menjadi seorang ibu.
Nurul langsung membawa Aluna kedalam dekapannya, ia tidak sedih melainkan sangat terharu karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang nenek.
"Dan mohon maaf Pak, kami dengan berat hati harus mengeluarkan Aluna dari sekolah karena sesuai dengan peraturan yang berlaku bahwa siswa-siswi yang kedapatan hamil maka tidak ada toleransi dari pihak sekolah. Ini akan berdampak buruk bagi nama baik sekolah dan juga para siswa-siswi yang nantinya akan merundung Aluna, lebih parah mereka akan meniru perbuatan Aluna," ucap pak Nadir.
Frey, Alvaro, Nurul, Bu Laras dan juga Pak Suwondo langsung menatap ke arah Pak Nadir yang tanpa izin siapapun malah langsung mengambil keputusan. Padahal kepala sekolah belum memberikan keputusan apapun dan ia masih mempertimbangkan lagi nasib Aluna di sekolah ini.
"Bagaimana bisa dikeluarkan, Pak? Sebentar lagi mereka akan melangsungkan ujian kelulusan dan akan sangat keterlaluan jika anak saya dikeluarkan hanya karena dia hamil. Tidak ada yang salah dengannya dan kami hanya meminta waktu sampai ujian kelulusan selesai," ucap Nurul merasa geram dengan keputusan yang diambil oleh pak Nadir.
"Mohon maaf, Bu. Tapi apa Anda tidak salah dengan mengatakan bahwa Aluna tidak bersalah jika dia hamil. Anak ibu sudah terlibat pergaulan bebas dan **** bebas hingga akhirnya kebablasan dan kini mengandung benih di usia sekolah. Peraturan tetap peraturan," tegas pak Nadir.
Tidak suka dengan ucapan Pak Nadir, Frey langsung berdiri dan hendak memberikan pukulan kepada gurunya tersebut akan tetapi Alvaro langsung mencegahnya. Frey menatap bingung, mengapa papi Alvaro justru mencegah saat ia hendak memberikan pelajaran pada orang yang sudah menghina Aluna. Frey tidak terima.
Frey berdecak. "Baiklah, aku akan menghubungi nenek Safira dan biar dia yang akan menentukan," ucap Frey menyelipkan ancaman.
Pak Nadir tertawa sarkas. "Hahaha ... dasar orang kaya, beraninya melapor dan mengancam. Sudah tahu bersalah tapi masih meminta keadilan. Harusnya sebagai orang tua kalian merasa malu, yang satu mengatakan tidak ada yang salah, yang satu hanya diam menyimak dan yang satunya lagi ingin melaporkan. Pantas saja putrinya mura --"
Bugghh ...
Satu pukulan Frey layangkan di wajah pak Nadir, habis sudah kesabaran Frey. Ia tidak sanggup mendengar lebih banyak lagi cacian dari guru ini. Sesuatu yang sangat tidak pantas.
"Sekali lagi lu berani ngatain keluarga gue seperti itu, maka gue bakalan pastiin lu habis di tangan gue. Aluna itu is --"
"Cukup Frey!"
Alvaro kemudian berdiri, ia berjalan mendekat ke arah Pak Nadir. Melihat wajah Alvaro yang begitu datar dan dingin membuat pak Nadir memundurkan langkahnya namun Alvaro semakin maju mendekat hingga membuat punggungpak Nadir membentur dinding.
Alvaro menyeringai. "Apa hak Anda memojokkan keluarga saya? Jangan menceramahi kami jika Anda tidak tahu apa-apa mengenai keluarga saya. Dan mengetahui putri saya hamil tentu saja saya sangat bahagia karena sebentar lagi saya akan mendapatkan seorang cucu. Dan satu hal ... anak saya tidak hamil anak yang tidak sah. Dia saya nikahkan baik-baik, dan sekali lagi mencoba merundung anak saya, maka kau akan tahu seperti apa rasanya berada di ujung maut!"
Ucapan Alvaro yang penuh dengan penekanan tersebut membuat semua yang mendengarkannya merinding. Tatapan tajam Alvaro yang sudah lama tidak dilihat oleh Nurul kini kembali ia perlihatkan dan Nurul langsung bergegas mendekati suaminya dan memeluk lengannya dengan posesif. Ia harus bisa menenangkan Alvaro sebelum guru ini dihabisi olehnya.
"Sayang sudah, mereka tidak tahu tentang hal ini. Sebaiknya kita bawa Aluna pulang dan mintalah pada pihak sekolah untuk mengizinkan Aluna bersekolah sampai ujian selesai," bujuk Nurul.
Berulang kali Alvaro menghela napas berat mencoba untuk menstabilkan perasaannya. Hanya Nurul yang mampu meredam amarahnya tersebut dan kali ini ucapan istrinya memang benar.
Alvaro kemudian kembali duduk dan sebelum itu ia sempat memberikan tatapan membunuh pada pak Nadir yang terlihat ketakutan.
"Bagaimana Pak Kepala Sekolah, apa keputusan Anda?" tanya Alvaro dingin.
Mendengar suara Alvaro yang cukup mendominasi suasana di ruangan ini, pak Suwondo langsung menganggukkan kepalanya. "Baiklah Pak, karena ujian kelulusan sudah dekat maka Aluna bisa bersekolah hingga lulus. Selagi hanya kami yang mengetahui hal ini, maka semua akan aman. Tapi ... apa benar Aluna sudah menikah?" tanya Pak Suwondo penasaran.
Alvaro tersenyum kemudian ia melirik ke arah Frey. Alvaro pun berdiri dan mendekat ke arah Pak Suwondo seraya berbisik, "Suaminya ada disini. Frey itu menantu saya dan tolong rahasiakan hal ini dengan baik."
Pak Suwondo merasa lehernya seakan tercekat setelah mengetahui fakta tersebut dan lebih tercekat lagi karena Alvaro baru saja mengancamnya. Sungguh sial nasibnya hari ini karena berurusan dengan Alvaro Genta Prayoga.